Fotomu ning kamarku, ning atiku... kaya kowe ning sandingku, ngene rasane yen kangen kowe (Fotomu di kamarku, di hatiku... sepertinya kamu di dekatku, begini rasanya kalau rindu kamu)
Lagu itu terdengar seperti melukiskan kerinduan, dari seseorang yang sedang memandangi foto seseorang. Aku tersenyum jahat, berfikir bahwa... mungkin si pencipta lagu, tidak memiliki hapa android. Sehingga, jika dia rindu seseorang yang dirindukannya... dia hanya mampu memandangi sebuah foto, karena tidak bisa telefon atau video call. Akhirnya aku juga tersenyum kecut, bagaimana jika yang di rindukan seseorang itu sudah meninggal? Hiii... ini bakal jadi lagu paling horror.
Dan tiba-tiba, rasa kerinduanku pada kekasihku oun muncul. Aku ambil gawai kesayanganku, membuka gallery... dan memandangi fotonya yang sedang tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumnya itu. Ah, betapa aku sangat merindukannya.
Namanya Natalia, seorang gadis keturunan tionghwa. Walaupun keturunan, dia dan seluruh keluarganya beragama islam. Saat ini dia berada di New York, dalam rangka meneruskan S2 disana. Cita-citanya untuk memajukan bangsa dan negaranya, membuatnya nekat pergi kesana. Untung ada donatur yang mau membiayai, selama kuliahbdi Amerika. Untuk tambahan uang jajan, dia tetpaksa menjadi pencuci piring di salah satu restoran.
Intensitas komunikasi, itu yang memang menjadi kendala hubungan kami. Hanya satu minggu sekali dia menghubungiku, atau dia hanya bisa aku hubungi seminggu sekali. Tidak bisa dengan whatsapp, bisa tapi inden... membuat percakapan menjadi kurang nyaman. Tetapi, meskipun LDR (Long Distance Relationship)... keutuhan cinta kami tetap terjaga. Hem... akhirnya aku harus memgakui, lagu yang dinyanyikan Nella Kharisma itu sangat mewakili hatiku yang rindu.
Fotomu ning kamarku ning atiku, kaya kowe ning sandingku... ngene rasane yen kangen kowe...