Kamis, 21 November 2019

Tehnik Membuat Paragraf Awal

Menulis cerita pendek membutuhkan teknik khusus. Kenapa? Kembali ke definisi, cerita pendek adalah cerita yang habis dibaca dalam sekali duduk. Artinya, kita kudu membuat pembaca bisa menghabiskan cerita dalam sekali duduk tanpa beranjak ke mana pun. Arti lainnya, cerita tersebut memiliki candu yang membuat pembaca terpaku sampai selesai untuk mendapatkan kenikmatan.

Tentu, dalam menulis cerita pendek yang seperti itu, kita harus memaku pembaca sejak cerita dimulai. Membuka cerita pendek pun ada teknik khusus sehingga pembaca langsung tertarik dan ingin melanjutkan cerita tersebut. Apalagi jika cerita pendek kamu mau diikutkan ke lomba atau kirim ke koran. Berikut beberapa teknik membuka cerita di antaranya:

Bukalah dengan dialog
Tentu, dialog bukan sembarang dialog. Dialog menggambarkan karakter atau memperkuat penokohan. Dialog yang dijadikan pembukaan cerita adalah dialog yang menarik, dialog yang menyimpan konflik, dialog yang bikin pembaca penasaran.

"ALINA, tolong aku!"
"Kamu di mana sekarang?"
"Di kartu pos."
"Kartu pos?"
"Iya, aku terkurung di dalam kartu pos."
"Sontoloyo!

Bukalah dengan setting atau latar

Ketika duduk di bangku sekolah, kita tentu sering mendengar pembukaan cerita seperti Pada suatu hari, di kerajaan Antah Berantah atau penggambaran latar dengan suasana alam. Nah, cara itu sebenarnya efektif juga asal tidak klise atau melakukan perulangan atau penggunaan kalimat yang sering digunakan.

Di stasiun Koenji, aku menaiki salah satu kereta cepat jalur Chuo. Gerbong yang aku tempati kosong, dan aku satu-satunya penumpang di gerbong tersebut. Hari ini aku tidak memiliki rencana atau kegiatan apapun sehingga aku dapat pergi ke manapun dan melakukan apapun sesuka hatiku. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan karena sekarang adalah musim panas, udara di sekitarku terasa sangat menyengat.


Suatu pagi yang cerah di bulan April, di pinggiran jalan sempit di Harajuku, sebuah area perbelanjaan di Tokyo, aku berjalan melewati seorang gadis yang 100% sempurna.


Bukalah dengan Konflik atau Tegangan

Cara membuka cerita seperti ini membutuhkan intensitas yang tinggi dari seorang pengarang. Kalau di film, Avengers :The Infinity War bisa dijadikan contoh ketika penonton sudah dibuat tegang di awal ketika Thanos menginvasi kapal yang dinaiki Thor.

Biasanya, setiap cerita pembunuhan akan dimulai dengan ditemukannya mayat korban. Lalu dimulailah penyelidikan oleh seorang inspektur polisi, meneliti satu per satu misteri sampai ditemukan motif dan bukti-bukti yang mengarahkan kebenaran siapa pelaku pembunuhan. Tetapi, saya tidak akan bercerita dengan metode kuno seperti itu. Saya akan mulai dengan sebuah pengakuan, sayalah yang telah melakukan pembunuhan dengan memukulkan benda keras ke kepala, berkali-kali (saya akan berhenti kalau sudah merasa puas), sampai berdarah-darah dan sang korban sudah tak lagi menghembuskan napas. Kemudian, akan saya tinggalkan sebuah jam dinding di samping mayat korban. Jam dinding yang jarum-jarumnya sudah saya atur sesuai urutan dan waktu pembunuhan.

Bukalah dengan Kalimat atau Pernyataan yang Menarik 
Kalimat yang menarik bisa jadi kalimat yang puitis, pepatah atau kutipan tertentu, atau pernyataan-pernyataan yang tidak diduga pembaca sehingga pembaca bertanya-tanya, apa sih maksudnya? apa sih relevansinya terhadap cerita?
Tiga kali tiga sama dengan enam, dan aku dibilang tak lebih berotak ayam.

(Dalam Otak Ayam)

Malabar. Aku padamu bagai embun di pucuk daun teh yang lenyap dimakan cahaya. Berapa menit waktu telah melenyapkan aku dari kedua matamu ketika duduk di kafe itu, kau memesan Coupe la Braga, aku tak memesan apa pun kecuali segala rasa cemburumu yang diam-diam kupadatkan di dalam pikiran.

(Dalam MALABAR)


Bukalah dengan garis besar bercerita

Dengan cara ini, pembaca bisa mengidentifikasi garis besar cerita hanya dengan membaca paragraf pertama. Namun hati-hati menggunakan jenis pembukaaan ini. Menampilkan seluruh garis besar cerita sama saja menyuruh pembaca pergi. Karena itu, jenis pembukaan ini sengaja menahan informasi penting mengenai motif karakter (alasan mengapa kisah terjadi).

Wanita itu kesulitan mengingat namanya sendiri. Biasanya masalah ini terjadi saat ada orang yang tiba-tiba menanyakan namanya. Di butik, misalnya. Saat hendak mengukur jahitan untuk gaunnya, pramuniagawati akan bertanya, "Nama Anda, Bu?" lalu sekejap pikirannya buyar. Ia mengakalinya dengan mengeluarkan surat izin mengemudi, lalu perlahan membaca tulisan yang tertera pada kolom nama---yang tentu agak aneh buat lawan bicaranya. Jika kejadian macam ini berlangsung di telepon, tanpa sadar ia menciptakan kecanggungan, harus merogoh dompetnya dulu hingga membuat orang lain bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di ujung sana.


Lima cara di atas bukanlah cara baku. Masih banyak cara lain yang bisa dilakukan. Sekali lagi, pilihan untuk membuka cerita adalah sebuah selera. Tidak ada aturan baku dalam menulis.
Saya pribadi menyukai cara membuka cerita dengan dialog dan pernyataan yang menarik. Hal itu dikarenakan saya meyakini bahwa kunci sentral dari sebuah cerita adalah karakter atau penokohan Sehingga segala sesuatunya harus mendukung penciptaan karakter tersebut. Dengan adanya dialog yang kuat di awal cerita, pembaca langsung bisa membayangkan karakter seperti apa yang ada di dalam cerita.
Kemenarikan pernyataan pun bukan sekadar dilihat dari struktur maupun impresi kalimat, melainkan keberadaannya di dalam cerita memang penting. Biasanya sebagai foreshadow atau pertanda terhadap baik itu gagasan atau konflik penceritaan.
Nah, bagaimana dengan kamu? Mau coba cara yang mana?

Selasa, 01 Oktober 2019

Jurus Jitu Menaklukkan Lomba Menulis

Salah satu cara mengukur progres kemampuan menulis kita adalah dengan ikut berkompetisi pada sayembara menulis yang pesertanya melibatkan penulis-penulis papan atas.

Banyak anggapan bahwa mustahil ada peluang bagi para penulis pendatang baru untuk mampu berbicara di perlombaan tersebut. Tentu saja anggapan ini salah. Terbukti pada beberapa sayembara menulis bergengsi tingkat nasional maupun internasional, beberapa pendatang baru justru tampil mengejutkan, mampu menyingkirkan nama-nama pendahulunya.

Apa saja kiat mereka? Berikut ini adalah lima jurus jitu menaklukkan sayembara menulis bagi penulis pemula.

Pelajari Profil Penyelenggara

Sebelum menulis dan mengirimkan naskah, sangat penting bagi kita untuk mengetahui profil penyelanggara lomba. Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang seluk beluk instansi, komunitas, atau penerbit yang mengadakan perlombaan. Jika perlu, kenali juga profil dan karakter juri yang menjadi penilai. Suka ataupun tidak, gaya tulisan mereka akan berpengaruh terhadap subyektivitas penilaian naskah kita.

Salah satu contoh adalah even sayembara menulis yang masuk 5 besar festival sastra sedunia versi Telegraph UK, Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Festival ini diselenggarakan oleh Yayasan Mudra Saraswati, sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang pemerhati seni, budaya, sejarah dan kearifan lokal. Sangat tidak pas kalau jenis tulisan yang kita kirim ke UWRF adalah cerpen romance pop dan cerita humor. Sebab mereka akan lebih mempertimbangkan tulisan-tulisan yang kental bergaya nyastra dengan muatan seni, budaya, sejarah, maupun kearifan lokal.

Sesuaikan Tema dan Tujuan

Beberapa panitia penyelenggara sayembara menulis biasanya telah menentukan tema perlombaan. Jangan sekali-kali mengirim tulisan di luar tema, kecuali kita menginginkan naskah akan berakhir di recycle bin komputer Dewan Juri.

Kenali juga tujuan penyelenggara. Beberapa instansi dan perusahaan akhir-akhir ini banyak yang mengadakan sayembara menulis, kebanyakan adalah nonfiksi. Meski ada beberapa yang memperlombakan puisi dan cerpen. Mereka melakukannya bukan tanpa tujuan.

Sebuah perusahaan pemilik produk tertentu, pasti tujuannya mengkampanyekan keunggulan produk tersebut. Jangan memuat kritik, apalagi cacian kepadanya. Begitu pula dengan instansi yang menyelenggarakan sayembara menulis, sosialisasi program unggulan pasti menjadi harapan mereka. Masukkan unsur gagasan kreatif dan konstruktif ke dalam tulisan kita.

Ciptakan Ide Tak Terduga

Mengangkat isu politik, konflik sosial, peristiwa aktual terkini adalah gagasan yang selalu mampu menarik simpati redaksi. Namun perlu dicatat, dalam sebuah even sayembara menulis, tidak menutup kemungkinan akan ada ratusan bahkan ribuan naskah yang sama-sama mengangkat isu seperti itu.

Lalu, bagaimana menyiasatinya?

Berikan eksekusi yang tak terduga, mengejutkan ketika mengangkat isu-isu tersebut. Lakukan ekperimen dengan memainkan alur, penciptaan karakter tokoh, dan ending di luar kebiasaan penulis pada umumnya.

Perbanyak Riset

Setelah kita menemukan sebuah gagasan yang mengejutkan, berarti satu langkah kita sudah menuju kemenangan. Langkah selanjutnya adalah mengeksekusi gagasan tersebut ke dalam tulisan yang memiliki jiwa.

Jiwa dalam sebuah tulisan yang dimaksud adalah muatan informasi dan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Di sinilah letak kunci kemenangan. Kunci itu bisa didapatkan jika tulisan kita didukung data yang kuat. Maka lakukanlah riset dengan menggali informasi sebanyak mungkin.

Jangan Menyerah

Bangkit dari kegagalan adalah motto lama yang tetap patut kita pegang. Jika naskah yang kita kirim ke sebuah even sayembara menulis belum mampu menaklukkan Dewan Juri, lakukan evaluasi kepada tulisan tersebut. Pelajari kembali, di mana letak kekurangannya? Edit lagi, riset lagi, lalu edit kembali.

Banyak even sayembara menulis yang diadakan rutin setiap tahun. Kirimkanlah naskah yang gagal sebelumnya, tentu setelah melalui proses evaluasi dan editing ulang. Jangan lelah untuk mengikuti even yang sama, meskipun berkali-kali kita gagal.

Selamat mencoba.

Heru Sang Amurwabumipenasehat Komunitas Menulis ODOP, finalis 6 besar Sayembara Sastra Bunga Tunjung Biru 2019, penulis emerging terpilih di Ubud Writers & Readers Festival 2019.

Rabu, 18 September 2019

Sekilas Tentang Kesenian Wayang Kulit

Wayang Kulit (untuk selanjutnya disebut wayang) dikenal sejak zaman prasejarah, yaitu sekitar 1500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Nusantara (Indonesia) pada saat itu memeluk kepercayaan, berupa pemujaan roh nenek moyang; yang disebut Hyang atau Dhanghyang (danghyang/danyang) yang diwujudkan dalam bentuk upacara dan kebudayaan.

Wayang merupakan seni tradisional yang terutama berkembang di pulau Jawa, tetapi juga dikenal di tempat lainnya diseluruh dunia. Pertunjukan Wayang Kulit Infonesia telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Pertunjukan wayang disetiap masing-masing negara, memiliki teknik dan gayanya sendiri. Dengan demikian, wayang Indonesia merupakan buatan orang Indonesia asli yang memiliki cerita, gaya, dan dalang yang luar biasa. Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum, yang dikenal sebagai Wayang Orang (sandiwara), dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka (wayang golek) yang dimainkan oleh seorang Dalang. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang, biasanya berasal dari kisah Mahabharata dan Ramayana.

Kesenian wayang sendiri awalnya sangat kental dengan ajaran Hindu, dengan epik Ramayana dan Mahabarata. Tapi seiring masuknya Islam yang dibawa oleh saudagar dari Arab, Gujarat, dan Cina, telah banyak perubahan yang terjadi pada pewayangan. Perubahan dalam sistem pewayangan Jawa secara baku, terutama dilakukan oleh para Walisongo. Hal ini dikarenakan; wayang (pada saat itu) dijadikan sebagai media dakwah, dalam menyebarkan ajaran agama Islam.

Sebelum Walisongo menggunakan wayang sebagai media dakwah, mereka (para Wali) sempat berdebat mengenai adanya unsur-unsur yang bertentangan dengan aqidah (doktrin keesaan Tuhan dalam Islam). Selanjutnya para Wali melakukan berbagai penyesuaian, agar lebih sesuai dengan kaidah dalam ajaran Islam.

Bentuk wayangpun diubah. Yang awalnya berbentuk menyerupai manusia, menjadi bentuk yang baru. Perwajahannya dirubah menjadi tampak miring, leher dibuat memanjang, serta beberapa perubahan lainnya. Salah satu yang mendorong adanya perubahan dalam kesenian wayang adalah Raden Patah, pendiri dan Sultan pertama kerajaan Demak.

Beliau meminta para Wali, agar mengubah beberapa aturan dalam pertunjukan wayang. Atas dasar itulah, para Wali akhirnya secara gotong-royong melakukan sejumlah besar perubahan.

Wayang Beber karya Prabangkara (zaman Majapahit) yang dahulunya berbentuk seperti manusia asli, dimodifikasi sedemikian rupa dari kulit kerbau yang ditipiskan, penampilannya dibuat menyamping, tangan dipanjangkan, dan diapit dengan penguat (agar mudah dipegang) dari bahan tanduk Kerbau atau Sapi.

Perubahan lain yang dilakukan raden Patah adalah, menambahkan tokoh Gajah dan wayang Pramponan. Selain itu, Sunan Bonang menyusun strutur gramatikanya, Sunan Prawata menambahkan tokoh Buto (raksasa), Kera, dan juga menambahkan skenario cerita di dalamnya. Sedangkan Sunan Kalijaga mengubah sarana pertunjukan, yang awalnya dari kayu diganti dengan batang pisang. Ada pula penambahan Blencong (lampu penerangan), Kotak Wayang, Cempala (pengatur ritme, berupa kayu untuk memukul kotak), dan Gunungan.

Dalam hal esensi yang disampaikan dalam cerita-ceritanya, tentu disisipkan unsur-unsur moral keislaman. Dalam lakon Bima Suci misalnya, Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan menyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Tak berhenti di situ, dengan keyakinannya itu Bima mengajarkannya kepada saudaranya, Janaka, juga beberapa tokoh lainnya. Lakon ini juga berisi ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil, dan bertatakrama dengan sesama manusia.

Dalam sejarahnya, para Wali berperan besar dalam pengembangan pewayangan di Indonesia. Sunan Kalijaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Bahkan para Wali di tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian.

Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain yaitu “Mana yang Isi (Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) serta mana yang harus dicari (Wayang Golek)”.

Disamping menggunakan wayang sebagai media, para Wali juga melakukannya melalui berbagai bentuk akulturasi budaya lainnya, contohnya melalui penciptaan tembang-tembang keislaman berbahasa Jawa, Gamelan, dan lakon Islami.

Setelah penduduk tertarik, mereka diajak membaca Syahadat, diajari Wudhu’, Shalat, dan sebagainya. Sunan Kalijaga adalah salah satu Walisongo, yang tekenal dengan minatnya berdakwah melalui budaya, dan kesenian lokal. Beliau menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk, sebagai sarana dakwah. Sunan Kalijaga jugalah pencipta (perancang model) dari baju takwa, perayaan Sekaten, Grebeg Maulud, Layang Kalimasada (dalam pewayangan), sebuah lakon wayang Petruk Jadi Ratu (raja). Lanskap pusat kota berupa Kraton, Alun-alun dengan dua Beringin (kembar) serta Masjid Jami' dalam lingkupnya,  diyakini sebagai karya beliau.

(Selesai)

Diolah dari beberapa sumber baca (buku), dan tulisan lain dalam pembahasan yang sama di internet.

 

 

Kamis, 12 September 2019

Pengertian Prosa: Ciri-Ciri, Jenis, dan Contoh Prosa

Pengertian Prosa: Ciri-Ciri, Jenis, dan Contoh Prosa

Pengertian Prosa Adalah
Apa yang dimaksud dengan prosa? Pengertian Prosa adalah suatu karya sastra yang bentuknya tulisan bebas dan tidak terikat dengan berbagai aturan dalam menulis seperti rima, diksi, irama, dan lain sebagainya.

Arti tulisan di dalam prosa bersifat denotatif atau tulisan yang mengandung makna sebenarnya. Walaupun terkadang terdapat kata kiasan di dalamnya, hal tersebut hanya berfungsi sebagai ornamen untuk memperindah tulisan dalam prosa tersebut.

Secara etimologis, kata prosa diambil dari bahasa Latin “Prosa” yang artinya “terus terang”. Sehingga pengertian prosa adalah karya sastra yang digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta.

Ciri-Ciri Prosa

Kita dapat mengenal suatu karya sastra dari karakteristiknya. Adapun ciri-ciri prosa adalah sebagai berikut:

1. Bentuknya Bebas

Seperti yang dijelaskan pada pengertian prosa di atas, bentuk prosa tidak terikat oleh baris, bait, suku kata, dan irama. Umumnya bentuk prosa adalah rangkaian kalimat yang membentuk paragraf, misalnya dongeng, hikayat, dan lainnya. Prosa dapat disajikan dalam bentuk tulisan maupun secara lisan.

2. Memiliki Tema

Setiap prosa pasti memiliki tema yang menjadi dasar dalam cerita dan merupakan pokok bahasan di dalamnya.

3. Mengalami Perkembangan

Prosa selalu mengalami perkembangan karena dipengaruhi oleh perubahan yang ada di masyarakat.

4. Terdapat Urutan Peristiwa

Biasanya di dalam prosa terdapat alur cerita yang menjelaskan urutan peristiwa. Alur peristiwa tersebut ada yang berbentuk alur mundur, maju, atau campuran.

5. Terdapat Tokoh di Dalamnya

Seperti halnya karya sastra lain, di dalam prosa terdapat tokoh, baik itu manusia, hewan, ataupun tumbuhan.

6. Memiliki Latar

Di dalam prosa terdapat latar pada masing-masing kejadian, baik itu latar tempat, waktu, dan suasana.

7. Terdapat Amanat

Di dalam prosa mengandung amanat yang ingin disampaikan kepada pembaca atau pendengarnya sehingga dapat mempengaruhi mereka.

8. Pengaruh Bahasa Asing

Pada prosa bisa dipengaruhi oleh bahasa asing, misalnya bahasa Jepang, atau bisa juga tidak terpengaruh.

9. Nama Pengarang

Setiap prosa tentu ada yang mengarangnya. Namun, nama pengarang tidak selalu dipublikasikan.

Jenis-Jenis Prosa

Secara umum prosa dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu prosa lama dan prosa baru. Mengacu pada pengertian prosa, adapun jenis-jenis prosa adalah sebagai berikut:

A. Prosa Lama

Prosa lama adalah jenis prosa yang tidak atau belum dipengaruhi oleh kebudayaan luar dan biasanya disajikan secara lisan. Beberapa yang termasuk dalam prosa lama adalah:

1. Hikayat

Bentuk prosa lama yang sifatnya fiktif yang mengisahkan tentang kehidupan peri, dewi, pangeran, puteri, dan raja-raja yang mempunyai kekuatan gaib.

Contoh; Hikayat Hang Jebat, Hikayat Raja Bijak

2. Sejarah (Tambo)

Bentuk prosa lama yang menceritakan peristiwa sejarah dan sesuai fakta. Di dalamnya juga terdapat silsilah raja-raja.

Contoh; Sejarah Melayu oleh Tun Sri Lanang (1612).

3. Kisah

Bentuk prosa lama yang menceritakan mengenai perjalanan, pengalaman, atau petualangan seseorang di jaman dahulu.

Contoh; Kisah Raja Abdullah Menuju Kota Mekkah.

4. Dongeng

Bentuk prosa lama yang berisi cerita khayalan masyarakat di jaman dahulu. Dongeng memiliki beberapa bentuk, yaitu;

Mitos (myth), dongeng yang menceritakan kisah-kisah gaib. Contoh; Ratu Pantai Selatan, Batu Menangis, dan lain-lain.Legenda, dongeng yang menceritakan tentang asal-usul terjadinya suatu peristiwa atau tempat. Contoh; Legenda Danau Toba, Legenda Tangkuban Perahu, dan lainnya.Fabel, dongeng yang tokoh di dalam adalah binatang. Contoh; Si Kancil dan Buaya, dan lain-lain.Sage, dongeng yang menceritakan tentang kisah kepahlawanan, kesaktian, atau keberanian seorang tokoh. Contoh; Patih Gadjah Mada, Calon Arang, Ciung Winara, dan lainnya.Jenaka atau Pandir, dongeng yang menceritakan tentang perilaku orang bodoh, malas, cerdik, dimana penyampaiannya dengan humor. Contoh; Lebai Malang, Pak Belalang, dan lainnya.

5. Cerita Berbingkai

Bentuk prosa lama dimana cerita di dalamnya terdapat cerita lagi yang disampaikan oleh tokoh di dalamnya.

Contoh; Cerita Berbingkai Seribu Satu Malam.

B. Prosa Baru

Prosa baru adalah jenis prosa yang telah mengalami perubahan akibat pengaruh kebudayaan barat. Beberapa yang termasuk dalam prosa baru adalah:

1. Novel

Bentuk prosa baru yang di dalamnya terdapat cerita yang panjang mengenai kehidupan tokoh di dalamnya, dan bersifat fiktif atau non-fiktif.

Contoh; Novel Laskar Pelangi, Ave Maria dan lainnya.

2. Cerpen

Bentuk prosa baru yang di dalamnya terdapat kisah tokoh utamanya, konflik serta penyelesaiannya yang ditulis secara ringkas dan padat.

Contoh; Keluarga Gerilya oleh Pramoedya Ananta, Robohnya Surau Kami oleh A. A. Navis.

3. Roman

Bentuk prosa baru yang di dalamnya terdapat kisah hidup seseorang secara menyeluruh, mulai dari lahir hingga meninggal.

Contoh; Layar Terkembang oleh Sultan Takdir Ali Syahbana.

4. Riwayat

Jenis prosa baru berupa tulisan yang menceritakan mengenai kisah hidup seseorang yang menginspirasi.

5. Kritik

Jenis prosa baru berupa tulisan dimana isinya merupakan tulisan yang memberi alasan atau menilai hasil kerja orang lain.

6. Resensi

Jenis prosa baru berupa tulisan yang berisi rangkuman atau ulasan suatu karya (buku, seni, film, musik, dan lainnya). Di dalam resensi berisi pendapat dari sudut pandang penulis mengenai kelebihan dan kekurangan suatu karya.

7. Esai

Bentuk tulisan yang isinya adalah opini atau sudut pandang pribadi mengenai suatu hal yang menjadi topik utama di dalam tulisan tersebut.

Itulah penjelasan ringkas mengenai pengertian prosa, ciri-ciri prosa, jenis-jenis dan contoh prosa. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah pengetahuan kamu.

Dikutip dari berbagai sumber, berdadarkan hasil pencarian Google.

Selasa, 10 September 2019

DAMPAK MEDIA SOSIAL BAGI PERKEMBANGAN MENTAL, KEJIWAAN, SERTA INTERAKSI KEHIDUPAN REMAJA

DAMPAK MEDIA SOSIAL BAGI PERKEMBANGAN MENTAL, KEJIWAAN, SERTA INTERAKSI KEHIDUPAN REMAJA

Media sosial adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan interaksi yang terjadi antara kelompok atau individu, seperti saling berbagi, dan bertukar pikiran melalui internet, atau komunitas virtual lainnya. Jaringan sosial atau disebut juga dengan media sosial ini, ditengarai memiliki dampak yang signifikan bagi kehidupan remaja. Hal ini dikarenakan; saat ini anak-anak telah tumbuh dengan dikelilingi oleh perangkat–perangkat gadget, mobile, dan situs jeringan sosial interaktif (WhatsApp, Facebook, Instagram, dan lainnya).

Akibatnya, media sosial telah menjadi aspek yang penting bagi kehidupan mereka. Media sosial telah mengubah cara mereka berinteraksi dengan orang tua, dan teman sebayanya. Disamping itu, media sosial juga telah memberikan dampak positif dan negatif di kehidupan mereka.   

Di sisi positif, media sosial dapat bertindak sebagai alat yang sangat berharga dan bermanfaat bagi para remaja. Media sosial ini dapat membantu mereka untuk memasarkan keterampilan mereka dan mencari peluang bisnis di internet. Selain itu, situs jejaring sosial juga dapat digunakan untuk berbagi hal-hal yang positif kepada semua orang. 

Sisi negatifnya adalah, internet penuh dengan sejumlah risiko yang terkait dengan kejahatan online. Contohnya adalah cyber bullying, yaitu jenis bullying yang dilakukan dengan menggunakan teknologi elektronik. Para pelaku cyber bullying ini menggunakan situs-situs jejaring sosial, seperti Twitter dan Facebook; sebagai tempat bersembunyi, di balik anonimitas (penyamaran) yang disediakan oleh internet untuk melakukan tindakan tercela tersebut.

Selain itu, para remaja juga memiliki risiko dapat terungkap informasi pribadi mereka secara tidak sengaja di internet. Mereka biasanya mengabaikan kebijakan privasi yang dimiliki oleh beberapa situs, dengan tidak membaca secara tuntas terlebih dahulu. Akibatnya, informasi-informasi pribadi, bahkan juga bisa foto-foto pribadi, bisa tersebar luas di internet.

Hal ini menjadi masalah yang serius, karena bisa meningkatkan kasus kejahatan cyber; seperti pencurian identitas, penipuan identitas, dan seterusnya. Baru-baru ini, sebuah study mengungkapkan: bahwa media sosial bisa membuat remaja menghabiskan uang mereka, dengan mengklik iklan pada internet. Iklan yang tidak sengaja terklik itu, dapat menyebabkan seseorang membeli barang tertentu secara tidak sadar.

Berdasarkan penjabaran di atas, hal ini menjadi semakin jelas bahwa media sosial telah menjadi bagian yang penting di kehidupan masyarakat. Situs jejaring sosial ini menyebabkan dampak positif bagi mereka untuk bisa menjadi lebih profesional. Namun, media sosial juga dapat memberikan efek negatif, yaitu membuat remaja malas dan tidak berkompeten.

Oleh karena itu, sebagai remaja sangat penting untuk berhati-hati dan menahan diri ketika berhadapan dengan media sosial. Disini kepedulian, pengawasan, pengontrolan orangtua terhadap anak remajanya sangat mutlak dibutuhkan. Tanpa kepedulian mereka dengan perkembangan anak remajanya, sudah bisa dipastikan kebobrokan sikap, mental, serta kejiwaan remaja-remaja kita.

(Winarto Sabdo)

Rabu, 04 September 2019

Takkan Ada Cinta Lama

Panorama gunung Pandan tampak begitu indah dari kejauhan, sekilas penampilannya seperti seorang raksasa yang sedang tertidur dengan pulasnya. Banyak legenda yang menceritakan penampakan gunung di Kecamatan Rejoso, Nganjuk itu, terutama tentang dongeng Gunung Pandan yang konon adalah kuburan Raden Hanoman (salah satu tokoh dalam epik Ramayana). Penampakannya yang terlihat seperti gundukan besar memanjang, menyerupai sebuah makam. Dan berbagai kisah mistis-mistis lain didalamnya, yang selalu mengundang rasa penasaran dalam relung kalbuku.

Entah, mengapa setelah hampir tigapuluh tahun lamanya, perasaan rindu untuk bisa kembali datang ke sana terasa begitu kuat. Dahulu, menjelajahi hutan di lerengnya menjadi kebiasaanku di masa muda. Menyusuri setapak di bawah lerengnya, diantara hamparan pohon jati yang rimbun, dimana kelebatan daunnya mampu menghalangi sinar matahari mencapai lantai hutan.

Tentu kisah ini pasti juga akan sampai kepada kisah asmara di masalaluku, dengan salah seorang gadis gunung yang sangat cantik jelita, Supeni, kembang desa Bendosewu saat itu.

Sekitar pukul sepuluh pagi, ketika motor trailku tiba di ujung desa. Di samping sebuah warung kecil kuparkirkan sepedamotor, di tempat yang terlindung dari paparan sinar mentari. Kemudian dengan perlahan kulangkahkan kaki menuju pintu warung, lalu mengucapkan salam kepada pemilik warung, dan beberapa orang yang terlihat ada di sana.

"Kulonowun!"

"Monggo!" terdengar balasan salam, dari semua yang ada di sana.

Kemudian aku beranjak untuk menjabat tangan pada dua orang tamu warung, dan kepada seorang wanita setengah baya pemiliknya.

"Ini dulu warung Mak Yati ya kan, Yu (kakak)?" tanyaku kepada pemilik warung.

"Iya, dulu ini memang warung beliau. Orangnya sudah meninggal sepuluhtahun yang lalu, saya meneruskan usahanya," jelas pemilik warung, "Sepertinya saya belum pernah melihat, atau bertemu dengan Sampeyan (bahasa Jawa halus untuk kamu), tapi sepertinya kenal betul dengan mertua saya?"

"Nama saya Kasmijan, Yu. Saya dari desa Talang, dulu saya sering datang kemari ketika Mak Yati masih ada."

"Kasmijan?! Dulu yang sering kesini, membawa bibit Lamtoro Gung (petai)?!" seorang yang sepantaran denganku, tiba-tiba menukas pembicaraan dengan ekspresi bertanya-tanya.

"Eh iya, Kang. Sampeyan siapa, ya?"

Orang itu berdiri dari tempat duduknya, kemudian memindahkan dirinya duduk disampingku.

"Aku Tarmidi, Jan! Anaknya Mbah Jodikromo, ingat?!" kata Tarmidi girang, dan saat dia tersenyum aku langsung mengingatnya.

"Ya, aku ingat kamu Di! Aku langsung teringat pada codet di bibirmu itu, saat tadi kamu tersenyum. Hahaha!" kamipun berangkulan, saling menepuk-nepuk bahu masing-masing.

"Kenapa kamu sudah tampak setua ini, Di? Hampir semua rambut di kepalamu, sudah berwarna putih."

"Jangan meledek! Rambutmu pun pasti sudah sepertiku ini, tetapi kamu menyemirnya kan?!"

"Hahaha!"

"Kalian sudah saling kenal?" tanya pemilik warung kepada heranan.

"Tentu sudah lama aku mengenalnya, Nem. Dia adalah teman baikku di masalalu, yang terbaik bahkan." jawab Tarmidi, dengan raut bangga di wajahnya.

"Nem, siapa?" tanyaku.

"Nama pemilik warung ini Sakinem, dia menantu dari almarhumah Mak Yati. Istrinya Wagiran, kamu masih ingat dia?" jawab Tarmidi, kali ini ada kesan kesedihan pada raut wajahnya.

"Wagiran Sudrun (bodoh)?" jawabku.

"Hahaha! Ternyata kamu masih mengingatnya, sudah hampir 30 tahun yang lalu."

"Kenapa Kang Wagiran dipanggil Sudrun, Kang?" tanya Yu Sakinem.

"Hahaha! Dia bukan hanya sudrun, bahkan sinting! Suatu hari dia pulang dari hutan, sambil membawa 3 ekor anak Macan Kumbang," Tarmidi menghentikan ceritanya, seperti srdang berusaha masuk ke dalam kisah kenangan itu, "malam harinya, orangtua macan itu datang mengambil paksa anak-anaknya. Rumah Wagiran diobrak-abrik, sampai hampir roboh oleh kedua macan itu. Untunglah pada malam itu, kedua orangtua dan Wagiran sedang tidak ada di rumahnya, karena sedang menghadiri acara pernikahan salah seorang kerabatnya di desa lain."

"Apa?! Kang Wagiran belum pernah menceritakannya ini, selama menjadi suamiku. Tolong ceritakan tentang hal itu ya, Kang Tarmidi!"

"Akan kuceritakan, tapi jangan kamu diamkan saja tamu kita seperti ini. Buatkan secangkir kopi, atau segelas teh manis untuknya!"

Yu Sukinem tampak sangat terkejut, karena melupakan hal itu. Memandangku dengan tersenyum dan menunduk malu, seakan memintaku untuk mengatakan sesuatu padanya.

"Teh manis saja, Yu!" seruku, sambil mengangguk padanya.

Dengan cepat tubuh wanita itu menghilang ke arah ruang dapur warung, yang terpisah oleh gedheg (dinding dari anyaman bambu) itu. Tetapi sebelumnya dia meninggalkan satu permintaan ke arah Tarmidi, "berceritalah dengan agak nyaring ya, Kang!"

"Iya, iya!."

*****

Bendoasri tahun 1988, saat baru saja lulus dari SMA. Teman-teman mengajakku mengadakan camping, dan berkegiatan sosial di desa itu. Kami akan menyumbangkan beberapa dus Mi Instan, beberapa puluh bibit Ayam, dan beberapa pakaian bekas layak pakai. Dan aku bawakan mereka seratus bibit lamtoro gung, dalam wadah polybag.

Desa itu sungguh sangat terpencil, akses menuju ke sana sangatlah sulit. Sebetulnya jarak dari kota Kecamatan tidaklah terlalu jauh, tetapi karena prasarana jalan yang memprihatinkan, jadilah tempat itu seperti terkucil nun jauh di lereng perbukitan.

Kami hanya pergi bertujuh dalam rombongan itu, bersama Satir, Tarjono, Sipan, Tarimin, Kardiman, Toha, dan aku sendiri. Mereka semua adalah teman sekelasku di SMA, tapi hanya Sipan yang rumahnya sedesa denganku.

Rencana camping yang sedianya hanya dua hari, tiba-tiba molor menjadi seminggu. Ini terjadi karena beberapa hal, selain karena pertimbangan kenyamanan, juga karena beberapa orang dari kami sudah terjerat cinta lokasi dengan para gadis desa di sana. Aku juga termasuk yang memilih tinggal lebih lama, dan memutuskan untuk tidak pulang.

Hati memang seluas samudera, akann sangat sulit menemukan titik mana yang membuatku jatuh cinta. Cinta aneh yang melibatkan perasaan terdalamku, kepada seorang gadis penggembala kambing bernama Supeni.

Seperti biasa setelah melakukan aktifitas di pagi hari, mandi di sendang (telaga), mencuci baju di pancuran, akupun segera kembali ke tenda. Tidak seperti pagi itu, aku dibuat terkejut dengan kehadiran seirang gadis penggembala kambing yang tampak sedang kebingungan.

"Sedang apa, Dik?" tanyaku, setelah meletakkan cucian dan peralatan mandiku di samping tenda.

"Mencari seekor anak Kambingku, Mas." jawab gadis itu lirih, menunduk malu tanpa berusaha menatap wajahku.

"Memang dia lari ke arah sini?"

"Iya, Mas. Eh, tidak tahu. Mungkin ke sini, beberapa tempat sudah kudatangi."

"Boleh aku ikut membantu mencari kambingmu itu, Dik?"

Dia tampak terkejut, dengan tidak sadar atas keterkejutannya itu dia menatap wajahku. Barulah kusadari, gadis ini sangat cantik. Sekilas orang yang memandang kecantikannya, pasti tidak akan percaya dia hanya seorang gadis desa biasa.

"Mas?! Kenapa menatapku seperti itu?!" tanyanya tergagap, dan itu sudah cukup membuatku salah tingkah tak karuan.

"Eh, anu. Bagaimana? Boleh aku membantu, mencari anak kambingmu yang hilang?"

"Jangan, Mas. Aku tidak ingin merepotkanmu, Mas. Biarlah, aku akan mencarinya seorang diri."

"Jangan! Hutan ini sangat luas, phon-pohonnya sangat lebat, belum lagi jika nanti kamu bertemu dengan Macan Tutul, Macan Kumbang, Babi, Ular, atau hewan berbahaya lainnya!"

"Hihihi!" Supeni terbahak mendengar nada khawatirku, lalu dia membungkam mulutnya sendiri karena tak ingin terdengar gelaknya, "aku kan lahir dan besar di tempat ini, masakan aku tidak mengetahui itu semua?"

"Eh, iya." Wajahku pun memerah mendengar jawaban katanya, tak terasa akupun menirukan dia membungkam bibirku sendiri. Kami akhirnya tergelak bersama.

(Draft)

Senin, 02 September 2019

Pahlawan Alumnus 88

"Bener-bener nggak masuk akal!" kataku sambil marah-marah, di sepanjang jalan pulang sekolah menuju rumah. Keputusan yang konyol, sepanjang jalan hidupku sebagai siswa teladan (telat datang pulang duluan), menurutku.

Terus memikirkan hal itu sampai tiba di rumah, hingga di dalam hati seakan aku berdialog dengan diriku sendiri.

Padahal kalo dipikir-pikir, sebesar apa sih kesalahanku? Masih tergolong dibatas kewajaran kan? Bagiku apa yang kulakukan itu adalah hal yang benar. Membela kaum yang lemah, tertindas, dan teraniaya (baca: kaum.memprihatinkan).

Orang-orang yang seharusnya, dan sepantasnya mendapat uluran tangan dewa dariku. Soalnya aku tahu, selain termasuk golongan kurang mampu (berfikir), mereka juga bernyali tikus, tidak punya keberanian, maupun keterampilan apa-apa. Mereka hanya pelajar lemah, yang tidak berdaya, dan kurasa aku wajib menolong, karena menyangkut masa depan mereka.

Tapi jujur saja, aku juga termasuk dalam kelompok mereka. Bedanya, aku punya nyali dan mental baja, bukan orang yang mudah ditindas. Akhirnya aku mencuri daftar nilai ulangan kelas, dan membuangnya. Itu, adalah perbuatan paling mengerikan. Bagai ibutiri,  siap merebus para pelajar yang sulit memahami hitung-hitungan.

Mungkin hanya aku yang berani melakukannya di kelas ini, atau bahkan di satu sekolahan. Itu adalah sebuah rekor paling bernyali bagiku, karena aku yakin; sampai lima, atau sepuluh tahun kedepan pun belum ada yang akan bernyali mengalahkannya.

Memang selain sebagai solidaritas membantu sesama, itu juga dalam rangka penyelamatan diriku sendiri. Siapa coba yang nggak pusing, tiap latihan atau ulangan nilaiku tidak pernah lebih dari tiga. Itupun kalau aku berhasil melirik kertas jawaban bintang kelas, yang duduk berseberangan bangku denganku.

Tapi tenang, yang lemah itung-itungan di kelas ini bukan cuma aku seorang. Ada banyak teman lainnya yang dapat nilai lebih parah dariku. Sebenarnya, kelompok lemah (golongan tidak mampu itung-itungan) hampir tiga perempat dari jumlah murid di kelas ini. Jadi kalau jumlah muridnya empat puluh orang, berarti yang matematikanya jeblok... sekitar tiga puluh orang.

Makanya setiap ulangan tiba, bukan cuma aku yang susah---satu kelas pun turut gelisah. Sebab semuanya tahu, bagimana cara perhitungan nilai di rapor. Semua nilai ulangan dan latihan selama ini ditotal, terus dibagi berapa kali ulangannya.

Pokoknya kalau aku itung-itung sendiri, nilai raporku kemungkinan dua koma enam. Sebab beberapa kali ulangan dapet nol besar banget, sampai guruku biasanya bilang, "Makan tuh, telur dadar!"

Dua koma enam (2,6), pasti emakku miris mendengarnya. Anak tunggalnya yang menuntut ilmu setiap hari, pagi berangkat sekolah dibuatin sarapan, dikasih sangu (uang jajan), tiap bulan dibayari SPP, cuma dapet nilai segitu.

Aku tidak bisa membayangkan gimana malunya emakku itu, apalagi kalau ngambil rapor, dia selalu duduk di bagian paling depan. Walaupun pastinya akan dipanggil belakangan, karena huruf awal namaku adalah W.

Ah  itu masih mending, lagi. Yang lebih gawat adalah, dua koma enam masih ditambah lagi sama nilai ulangan umum terus dibagi dua. Kalau ulangannya dapet nilai tinggi, kalau dapet nol lagi? Abis deh, dua koma enam dibagi dua, jadi satu koma tiga. Ini artinya, nilai matematikaku di rapor satu koma tiga?

Emakku pasti histeris teriak-teriak.

"Gusti! Owalah Le (panggilan anak lelaki), mending kamu ngarit (menyabit rumput) saja di sawah sana. Sekolah tinggi begini, tapi gak pinter. Mendingan emakmu, ngitung apapun bisa! Kamu cuma ngitung pakai kertas saja, ora bisa!"

Yah, mungkin (kurang lebih) omelannya seperti itu, seperti yang dialami oleh anak tetanggaku, yang mengalami hal yang sama denganku tahun kemarin.

Tapi setelah kupikir-pikir, semua ini tidak seratus persen murni kesalahanku. Ada faktor lain yang melatarbelakanginya, yaitu guru tua yang udah keriput, dan nafasnya tersengal.

Guru matematikaku itu sudah tua, tiap mengajar paling suka nembang (menyanyi lagu Jawa) sendiri. Dengan lagu yang sama, nada minor dan nada mayor tidak beda. Biramanya sama tinggi, disertai rintik-rintik bau jengkol yang membasahi mukaku saat mengkritikku. Saking seringnya nembang, sampai-sampai aku hafal banget tuh lagu---ora jelas!

Murid malas!
Apa kamu tidak pernah belajar, di rumah?
Ulangan nilai nol terus, kalau  guru nerangin tidak diperhatikan!
Bagaimana mau dapet nilai bagus, kalau belajar aja gak serius?
Mau jadi apa kamu?!

Menurutku itu lagu cuma reff doang, kalau denger syair yang super dahsyat itu kepalaku pasti langsung pusing. Kayaknya itu guru waktu sekolah nggak belajar seni musik deh, soalnya kalau dia belajar, pasti dia juga ngerti ngatur alur nadanya, kapan harus tinggi kapan harus rendah, nggak semuanya tinggi.

Akhirnya pas hari itu, rencana besarku dimulai. Rencana itupun mempunyai banyak dukungan, dari berbagai penjuru sudut kelas 1C. Bukan cuma dari (halaqoh lemah otak) di kelasku, tapi kelas yang lainnya juga sama. Mungkin juga ada dukungan non partai dari sekolah PGRI, atau Tsanawiyah, kuharap itu tidak pernah terjadi.

Matematika, selalu bikin pusing para penuntut ilmu. Dan yang kepilih untuk tugas besarku ini adalah teman-teman, yang biasa nongkrong di warung pojok sekolah.

Logikanya atau hanya fikiranku saja, kalau daftar nilai milik guru itu aku buang, maka catatan nilai semua murid selama ini akan hilang. Kalau menurut pegawai sipil, ini namanya pemutihan.

Awalnya pekerjaan ini berjalan mulus, buku absensi nilai itu berhasil kucuri dari ruang staf di kantor sekolah, dan kubuang ke kali dekat belakang sekolah. Dan dengan keyakinan hakiki, sampai kiamat pun kertasnya gak bakalan dapat diketemukan. Karena sudah kusobek-sobek sampai menjadi serpihan kecil, yang jumlahnya lupa gak kuitung. Yang pasti banyak, berhamburan mengikuti aliran sungai yang deras itu.

Kupikir, perbuatan itu akan aman-aman saja. Ternyata hari Sabtu aku dipanggil ke ruang guru, di sana aku dicerca pertanyaan dari berbagai corong, yang akhirnya bermuara ke gendang telingaku.

Dari mulai cuma pertanyaan biasa, sampai luar biasa. Dari ocehan kayak yang terdengar bagai geledek di masa kemarau, yang pada akhirnya sampai kepada satu keputusan. Aku diskorsing, selama satu minggu.

Teman-temanku yang ikut dalam misi tim "The koclok" itu, harusnya ikut bertanggung jawab juga. Sebab mereka termasuk orang yang terlibat langsung, dalam pencurian dokumen itu. Mereka memang tidak turun langsung dalam pencurian buku nilai, tapi hanya mengawasi keamanan saja. Waktu aku menyelinap ke kantor guru, ketika para guru itu sedang mengadakan rapat.

*****

Tapi aku bukanlah tipe orang yang suka ngumpet di belakang, kalau ada masalah. Dengan sifat kesatria, di hadapan para hakim, jaksa, dari guru-guru itu, aku mengaku dengan tegas. Aku jelaskan proses kejadiannya, yang apa adanya itu. Termasuk juga menyampaikan alasanku, kenapa mencuri daftar nilai tersebut. Dan aku juga menyatakan, bahwa tidak ada orang lain yang ikutserta dalam misi konyol ini. Hanya aku seorang, yang menjadi pelaku tunggal.

Kalau dipikir-pikir, aku bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini. Aku jadi tahu, bagaimana sikap orang-orang di sekitarku. Kalau sudah begini, jangankan teman (yang ikut misi kemarin), teman sekelas, bahkan tetangga kelas (yang juga ikut merasakan berkah dari hilangnya daftar nilai itu) tidak ada yang peduli. Mereka seolah tutup mata dan telinga, bahkan menutup hidung juga. Mereka tidak mau tau, dan tidak ingin berbagi merasakan kesusahan yang sedang menimpaku.

Mungkin harus berbesar hati, juga berbesar jiwa. Ada kalanya, pemeran utama harus mengalami masa suram dalam pejalanan hidupnya. Ini pelajaran yang harus aku terima, untuk menyongsong masa depan yang lebih suram (sepertinya). Mau sukses bagaimana lagi, coba? Kalau jalan untuk nuntut ilmu saja malah distop begini? Tidak diijinkan mengikuti pelajaran, selama seminggu. Pasti jadi lebih bodo, kan?

Aku pulang meninggalkan halaman sekolah dengan kepala tegak, tidak mau tertunduk lemah dan sedih. Sebab aku tahu (dari setiap jendela kelas) murid-murid yang termasuk golongan otak lemah itu, sedang mengiringi kepergianku dari kelasnya masing-masing. Berdiri memagar memadati pinggiran lapangan, dan aku lewat di depan mereka (fantasiku saja).

Aku menarik napas dan menahannya, dada lebih kubusungkan lagi ke depan. Gaya jalanku juga kubuat sewibawa mungkin. Mata lurus ke depan, rahang mengatub, kedua pipi melembung, dan mulut sedikt gue manyunin (mulutku memang manyun).

Dari arah samping kiriku kubayangkan ada seseorang bersuara, "Kepada... Pahlawan revolusioner Sekolah Menengah Pertama Negeri Rejoso... Hormaaaattttt.... grakk!!"

Aku berpikir siapa yang memberi komando super konyol itu---pasti Suhanto, atau Sumarno, mungkin juga Wardi (yang kutahu sejak awal bercita-cita menjadi tentara) merekalah yang ikut bergabung dalam modus kemarin itu.

Serempak mereka memberi aba-aba, pada anak-anak yang berbaris mengiringi kepergianku siang itu. Indiah segera memimpin murid putri, menyanyikan koor Mars Pahlawan Bangsa.

Lebih dari itu, mereka pasti akan selalu mengingat siapa pahlawan sekolah ini. Di karier, juga masa depan mereka nantinya. Siapa pahlawan yang telah menyelamatkan nilai rapor mereka, dari ocehan bapak dan ibu mereka. Siapa yang berperan penting, dalam kenaikan kelas pada akhirnya.

Hanya satu orang yang akan mereka ingat yaitu aku, Winarto.

Biarpun diskors, aku tidak akan sedih. Aku bukan orang yang menyesali nasib, duduk galau di lantai, menangis meraung-raung seperti anak kecil. Aku adalah orang yang hebat, aku pemberani, pembela kaum lemah.

Telah berjasa, penyelamat kaum telmi (telat mikir), juga setia kawan. Murid terhebat dari murid hebat lainnya, walaupun pada akhirnya dengan semua yang aku banggakan itu membuatku diskorsing!

Yang jadi permasalahanku saat itu adalah, bagaimana cara ngomong sama emakku. Perempuan yang sudah melahirkan, membesarkanku dengan kedua tangannya seorang diri. Bagaimana reaksinya, kalau mendengar aku diskors?

Jika tidak mengaku pun dia pasti juga akan curiga, kalau aku tidak berangkat sekolah pada pagi harinya. Ini juga, bukan waktu libur panjang kenaikan kelas. Pasti aku akan diberondong pertanyaan-peetanyaan, yang pasti sepanjang gerbong kereta api. Belum lagi  mendengar dakwahannya tentang sekolah SR (sekolah rakyat), yang dibanggakannya itu.

Sesungguhnya pun, aku tidak pernah betah tinghal di rumah. Karena setiap hari, setiap waktu, setiap detik, harus selalu mendengar siraman qolbu, dari seorang emak milenial di rumah ini (bava: cerewet). Bahkan setiap aku melakukan hal kesalahan yang terkecil saja, gagang sapunya pasti ikut menyertai iringan (suara khas) radio rusak yang dimilikinya.

Sepertinya, aku harus cari jalan untuk menghabiskan waktu satu mingguku. Ini sangat wajib, kalau aku mau aman dari emakku itu. Mungkin yang harus aku lakukan, refreshing buat mendinginkan otakku yang ganas, karena lingkungan belakangan ini. Tempat mana yang cocok ya? Beijing? Belanda? Atau Ndrenges, ya?

Dari beberapa pilihan yang ada, rasanya tidak ada yang cocok buatku. Maklum, kan masih pelajar. Ahh... jadi malu sendiri. Baru ingat kalau masih pelajar, sombong-sombong pakai mau ke luar negeri segala.

Jangankan ke luar negeri, berangkat sekolah yang jaraknya 1 kilometer saja aku jalan kaki, karena gak punya sepeda. Apalagi udah dua minggu ini aku gak dikasih uang jajan, gara-gara disangka merebut permen lolipop anak tetanggaku yang masih umur lima tahun.

Konyol sih kedengarannya, tapi itu hanya bagi orang yang tidak tahu permasalahan aslinya, termasuk emakku sendiri. Sebenarnya aku tidak merebut lolipop itu, tetapi anak kecil itu sendiri yang memberikannya.

Tetapi, anak kecil itu kemudian menangis sampai termehek-mehek? Karena jempol kakinya terinjak kakiku, setelah permen darinya itu kuemut-emut

Nah, orang yang lewat dan sepintas melihat kejadian, disangkanya aku merebut permen punya anak kecil itu.

Itulah kesialan beruntun yang kualami, setelah berasa menjadi pahlawan di sekolahku (31 tahun yang lalu).

Dan bagi kalian alumni SMP Negeri Rejoso tahun1988, masih ingatkah akan kejadian itu? Pasti tidak! Karena aku mengarang cerita ini.

Selesai.

Tehnik Membuat Paragraf Awal

Menulis cerita pendek membutuhkan teknik khusus. Kenapa? Kembali ke definisi, cerita pendek adalah cerita yang habis dibaca dalam sekali dud...