Selasa, 09 Juli 2019

Permohonan Bantuan TBM ODOB

TAMAN BACA MASYARAKAT “ODOB" (One Day One Book)

Sekretariat: RT 12 RW 003 Desa Talang, Kecamatan Rejoso,  Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur 64453

Telepon: 082233450641

Nomor: 01/TBM-ODOB/VII/2019

Lampiran: 1 (satu) bendel

Perihal: Permohonan Bantuan Buku dan Sarana Taman Baca

Yth. Bapak/Ibu/Saudara/i
di Tempat

Assalaamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Puji syukur kehadirat Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Semoga kita dalam lindungan-Nya. Sholawat serta salam teruntuk Rosululloh Sholallohu Wa salam. Semoga kita selalu istiqomah dalam mengikuti sunnah beliau.

Ilmu adalah kunci pembuka pintu dunia dan akhirat. Sedang buku adalah pemutus rantai kemiskinan, kebodohan, dan ketidakpedulian sosial. Sehubungan dengan kesadaran akan pentingnya ilmu, dan dalam upaya peningkatan wawasan serta pengetahuan masyarakat. Maka terbesit niat di benak kami, untuk mendirikan taman bacaan masyarakat yang diberi nama Taman Baca Masyarakat ODOB (One Day One Book). Dalam upaya tersebut, kami membutuhkan berbagai koleksi buku, dan beberapa sarana pendukung lainnya.

Oleh sebab itu, kami mengharap bantuan Bapak/Ibu untuk memberikan bantuan berupa; buku-buku bacaan, donasi uang, maupun sarana pendukung lainnya, demi berdirinya taman bacaan tersebut.

Demikian surat permohonan ini kami buat. Besar harapan kami akan terkabulnya permohonan ini. Atas perhatian dan kerjasama Bapak/Ibu/Saudara/i kami ucapkan terima kasih. Semoga amal jariyah kita mendapat balasan terbaik di dunia dan akhirat. Aamiin.

Wassalaamu'alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh

Nganjuk, Juli 2019
Koordinator,

Winarto Sabdo

LAMPIRAN:

Bismillahirohmaanirrohim,

Assalamu‘alaikum warohmatullohi wa barokatuh,

PROPOSAL PENGAJUAN BANTUAN BUKUl

A.PENDAHULUAN

Segala puji bagi Alloh, Tuhan semesta alam yang dengan karunia-Nya turunlah segala kebaikan, dengan rahmat-Nya sempurnalah segala kebaikan dan hanya dengan taufik-Nya tercapailah segala kebaikan.

Sholawat serta salam tercurah kepada Rosululloh Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wasalam. Beliaulah pembawa kabar gembira bagi hamba yang beriman, dan pemberi peringatan bagi mereka yang durhaka. Sebagai hujjah atas semua manusia untuk menyempurnakan akhlak mulia, untuk mengeluarkan umatnya dari lorong kegelapan menuju secercah cahaya dan menunjukkan mereka ke siratul mustaqin, jalan Allah yang lurus.

Semoga shalawat dan salam terlimpahkan juga kepada keluarga Rosululloh SAW, para sahabat dan orang yang istiqomah berjihad fisabilillah dalam segala bidang dan mengikutinya dengan baik sampai hari pembalasan. Allohu Akbar.

Dalam rangka ikut serta meningkatkan minat baca, dan kualitas pengetahuan masyarakat di lingkungan kami Desa Talang, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, baik fisik maupun mental. Maka kami bermaksud mendirikan sebuah taman baca sederhana, di lingkungan kami. (yang akan kami kembangkan secara mandiri).

Mengingat keterbatasan kami dalam menanggung beban dana, penyedian buku-buku, serta operasional, maka bersama ini dengan hormat kami mengajukan permohonan bantuan kepada Bapak/Ibu/Sdr/i berupa pengadaan buku, uang tunai, maupun sarana pendukung berdirinya taman baca ini.

B.LATAR BELAKANG

Desa Talang merupakan sebuah desa, yang berjarak 10 kilometer arah utara kota Kabupaten Nganjuk. Tepatnya masuk dalam wilayah Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk.

Berawal dari keprihatinan melihat anak–anak kecil usia sekolah, dan atau remaja dilingkungan sekitar kami, yang nyaris tidak pernah membaca buku di luar buku sekolah. Selain hanya dikuasai game/permainan hanphone, dan menjadi pelanggan pemancar wifi di lingkungan kami, tanpa ada kegiatan lainnya sepulang sekolaj. Maka kami berinisiatif untuk mengumpulkan buku bacaan anak–anak dan remaja. Yang kemudian akan kami sajikan secara sederhana, kepada anak–anak, dan remaja yang kami maksudkan tersebut.

Keprihatinan juga muncul, ketika melihat kenyataan; bahwa sebagian besar orang tua disini adalah petani, pedagang, atau buruh, yang asing dengan dunia pendidikan. Serta berpenghasilan di bawah pendapatan nasional rata-rata, sehingga tidak mampu mencukupi sarana pendukung pendidikan (pengadaan buku bacaan) untuk anak-anak mereka. Juga masih banyaknya anak-anak usia sekolah, yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi di lingkungan kami.

Berorientasi terhadap keadaan sosial masyarakat Desa Talang yang jarang berpendidikan tinggi, dan pola pikir masyarakat yang tidak menganggap penting pengetahuan​. ​Maupun masih banyaknya warga yang tidak mampu menyekolahkan sampai ke jenjang lebih tinggi, maka kami menganggap perlu menyajikan menu baru untuk menggugah, dan mendekatkan masyarakat dengan jendela ilmu berupa buku.

Masyarakat perlu diperhatikan dalam hal pengayaan ilmu pengetahuan, karena dengan pengetahuan setidaknya masyarakat akan mengerti dan memahami hal–hal, yang selama ini mereka abaikan, dan anggap tidak penting. Menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat, untuk memperbaiki taraf hidup mereka.

Dengan keberadaan Taman Baca Mandiri ini, kami berharap bisa memberi warna baru, dan tambahan pengetahuan di lingkungan masyarakat desa kami; yang masih banyak membutuhkan pembinaan di segala bidang. Terutama pada anak–anak, dan remaja yang lebih senang bermain gawai, dari pada membaca. Sehingga, dengan keberadaan taman baca ini bisa memberikan nuansa baru, dan berwisata pengetahuan lebih jauh serta bermutu melalui buku.

Melalui pembudayaan baca, masyarakat akan meningkat pengetahuannya, meningkat kesehatannya, meningkat tatanan ekonominya. Yang mana peningkatan tersebut (diharapkan) akan mengurangi pengangguran, dan kemiskinan.

Dengan membaca pula, seseorang akan terbentuk kepribadiannya menjadi lebih baik. Kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang: baik yang jasmani, mental, rohani, emosional, maupun sosial. Semua ini telah ditata dalam cara yang khas, di bawah beraneka pengaruh dari luar.

Pola ini terwujud, dari tingkah laku dalam usahanya menjadi manusia yang (sebagaimana) dikehendakinya.
Mendidik kepribadian dapat dilakukan melalui buku, karena dengan membaca buku seseorang akan memiliki ilmu dan pengetahuan yang luas. Dari situ dia dapat membedakan mana yang baik, dan mana yang buruk. Sehingga akan terbentuk pribadi yang jauh lebih baik, dari sebelumnya.

Minat dan kebutuhan masyarakat untuk gemar membaca, memerlukan perhatian serius dari segala lapisan masyarakat; pemerintah, aktor pendidikan, dan dari pihak yang sadar serta peduli, akan arti pentingnya membaca. Bukan hanya sebagai hobi, tetapi juga pemutus rantai kemiskinan, kebodohan, dan ketidakpedulian sosial.

C.LANDASAN PEMIKIRAN

·“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Mujaadilah:11)

“Barangsiapa yang menginginkan dunia, wajib bagi dirinya dengan ilmu. Siapa yang menginginkan akhirat wajib dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan keduanya wajib baginya dengan ilmu” (H.R. Tabrani)

·Tujuan Negara yang tertuang dalam pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia aline ke 4, yaitu:

“Kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”.

D.TUJUAN

1.Mempermudah; anak–anak usia sekolah mendapatkan buku referensi sekolah

2.Menambah pengetahuan, bagi anak-anak putus sekolah

3.Memberikan anak-anak, juga remaja, kegiatan bermutu lewat membaca, dan menulis

4. Memberikan pengetahuan tentang dunia internet, dan teknologi kepada warga sekitar

5. Mendekatkan masyarakat dengan buku

6. Menumbuhkan kesadaran masyarakat, akan arti pentingnya membaca

7. Menggalakkan budaya membaca, di kalangan masyarakat

8. Meningkatkan keterampilan dan kecakapan, dalam berusaha (beternak, bertani, wirausaha), sehingga dapat meningkatkan taraf hidup perekonomian warga

9. Membuka cakrawala dunia; dengan menambah pengetahuan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa

10. Meningkatkan kualitas; baik fisik maupun mental masyarakat, sehingga berdampak kepada kehidupan yang lebih baik

11. Dan masih banyak tujuan baik dari kegiatan membaca, dan terbentuknya taman baca ini. Insya Alloh.

E.LOKASI

Rencana lokasi taman baca ini adalah di rumah pribadi Winarto Sabdo (koordinator), yang terletak di RT 12 RW 003 Desa Talang, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Kodepos 64453. Untuk sementara taman baca kami buat di teras, dan ruang tamu rumah. Tetapi, pembaca jiga dapat membawa buku bacaannya ke kebun belakang rumah (yang juga merupakan Kebun Edukasi), tentunya dengan sedikit modifikasi. Dimasa mendatang, tentunya kami berharap bisa membangun sebuah ruang sederhana di lingkungan kami sebagai tempat taman baca, agar lebih layak dan nyaman bagi pengunjung.

F.SASARAN

Sasaran pengguna fasilitas umum gratis ini, adalah semua warga masyarakat Desa Talang khususnya, dan warga masyarakat pada umumnya  (warga Negara Republik Indonesia dalam cakupan yang lebih luas). Baik dari usia anak-anak, remaja, dan dewasa atau orang tua.

G.PERMOHONAN BANTUAN

Melihat Penjelasan di atas, tentu tidak hanya rasa prihatin saja yang dibutuhkan, tetapi haruslah dijawab dengan langkah yang nyata untuk mewujudkan masyarakat yang gemar membaca. Untuk itu, dengan segelintir orang, saat ini kami sedang merintis sebuah Taman Bacaan Masyarakat sederhana untuk anak-anak, remaja hingga dewasa, dengan nama: Taman Bacaan Masyarakat ODOB, kependekan daro One Day One Book (sehari satu buku bacaan).

Visi kami: “Mengenal Dunia dan Akhirat dengan Membaca”.

Hingga saat ini, koleksi buku yang kami miliki masih sangat jauh dari harapan. Buku-buku tersebut berasal dari para donatur, yang mendapat informasi dari mulut ke mulut, maupun dari beberapa pesan media sosial, ataupun koleksi pribadi.

Namun saat ini kami masih mempunyai beberapa masalah, diantaranya; masalah keuangan pengadaan rak-rak buku, serta kurangnya bahan koleksi buku.

Sehingga melalui proposal ini: kami mohon bantuan dana, atau koleksi buku, atau majalah, atau komik edukatif, atau compactdisk pembelajaran, atau yang lainnya, yang sifatnya mendidik bagi masyarakat umum, untuk membantu demi terwujudnya taman baca termaksud.

Adapun koleksi buku yang kami perlukan, baik buku baru, maupun bekas baca yang masih layak baca, antara lain :

1. Buku referensi sekolah, dan pendukung pendidikan

2. Buku dongeng, dan cerita bergambar

3. Novel remaja, teenlit, maupun dewasa

4. Buku pengetahuan umum

5. Buku pertanian

6. Buku perkebunan

7. Buku Peternakan

8. Buku Perikanan

9. Buku Pertukangan

10. Buku Kerajinan, dan Keterampilan

11. Buku kewirausahaan

12. Buku resep makanan

13. Buku teknologi tepat guna

14. Buku komputer, dan internet

15. Buku agama (semua Agama dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa)

16. Buku kesehatan

17. Majalah, dan tabloid

18. Buku-buku atau bacaan yang bermanfaat lainnya.

Adapun perlengkapan dan sarana pendukung yang kami butuhkan antara lain :

1. Rak buku

2. Meja

3. Kursi

4. Karpet

5. Papan tulis whiteboard

6. Seperangkat computer/laptop

7. Router, sebagai sarana koneksi internet wifi

Selain bantuan berupa buku dan sarana penunjang, kami juga menerima donasi berupa uang tunai. Adapun nantinya uang tunai tersebut juga akan digunakan untuk membeli buku dan sarana kegiatan taman baca. Laporan penggunaan uang, akan (selalu) kami kirimkan kepada Donatur secara kontinue, dan berkala.

H.PROGRAM KEGIATAN

Keberadaan Taman Baca ini, di harapkan menjadi sarana/media edukatif bagi anak-anak, remaja, maupun orang tua dalam mengembangkan diri. Dalam jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang, kami tidak hanya merencanakan taman baca ini saja untuk kegiatan membaca. Tetapi kami juga merencanakan beberapa program kegiatan antara lain :

1. Kegiatan belajar mengajar tambahan bagi siswa SD, SMP, SMA yang pengajarnya berasal dari sukarelawan yang memiliki pendidikan lebih tinggi (seperti para mahasiswa)

2. Lomba menggambar, dan mewarnai tingkat PAUD, TK maupun SD

3. Lomba menulis esai, maupun puisi, bagi siswa SD, SMP, dan SMA

4. Kegiatan belajar komputer dan internet, bagi remaja dan orangtua

5. Donor darah demi menumbuhkan kepedulian sosial

6. Kegiatan belajar tentang teknik-teknik pertanian, dan peternakan, oleh mentor yang ahli di bidangnya

7. Dan tentunya masih banyak lagi program-program yang kami rencanakan kedepan, demi terwujidnya suatu masyarakat yang madani di lingkungan kami.

I.PENGATURAN OPERASIONAL TAMAN BACA

Agar roda taman baca bisa berjalan baik dan kontinyu, maka pengelolaan untuk sementara langsung di bawah kepengurusan Winarto Sabdo, dengan dua orang lainnya. Dan untuk selanjutnya, akan dicari beberapa orang (lagi) pengurus yang sevisi untuk menjalankannya.

Untuk mekanisme (pengelolaan) taman baca akan buka setiap hari pukul 13.00 - 17.00 dan 19.00 - 21.00 WIB. Khusus untuk hari Minggu/Libur Nasional, akan buka mulai pukul 07.00 sampai 20.00 WIB. Mengingat untuk saat ini pengurus memiliki aktivitas lain, yaitu bekerja (penyesuaian pengelolaan).

J.PENUTUP

Demikian proposal ini kami buat dengan sebenar-benarnya, semoga bisa dijadikan pertimbangan bagi pihak-pihak terkait. Semoga amal jariah donatur mendapat balasan dari Robbul Izzati Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, baik di dunia maupun di akhirat. Allohuma Aamiin.

Atas doa, donasi, sumbangan, bantuan baik materil maupun immaterial, kami sampaikan terima kasih.

Wassalamu‘alaikum warohmatullohi wa barokatuh.

Nganjuk, Juli 2019

Hormat Kami

1. Koordinator: Winarto Sabdo

2. Sekretaris: Argantha Bayu Prabowo (Mahasiswa STKIP PGRI Nganjuk)

3. Bendahara: Yurike Linggarsari (Mahasiswi Universitas Negeri Surabaya/UNESA)

Nomor Rekening:

BRI UNIT REJOSO UTARA
A/N WINARTO
375601021096531

Tembusan:

1.Arsip

Jumat, 14 Juni 2019

Alasan Mengikuti NAD

Kenapa ingin ikutan Nulis Aja Dulu? Alasan khusus sesungguhnya tidak ada, tetapi memang tertarik ikutan saja. Dengan harapan, dapat mengenal lebih banyak teman-teman baru penulis-penulis potensial disini. Alasanku ikut grup sudah tersampaikan, nah sekarang kenalan boleh dong?.

Namaku: Winarto Sabdo
Umur: 47 tahun
Alamat: Nganjuk, Jawa Timur
Status: Nanti diperiksa lagi deh, maaf KTP ilang.

Nah, sebagai tantangan awal motivasi ikut Nulis Aja Dulu ini langkah bagus. Memberikan tema tulisan setiap hari, yang harus dituliskan oleh para peserta dalam 30 hari. Sebagai seorang penulis, sebenarnya sangat gampang menemukan ide untuk tema tulisan. Dan menjadi sebuah tantangan, ketika tema diberikan oleh orang lain. Juga pastinya akan menjadi boring, karena ada ketentuan mengenainya.

Bagiku, yang hampir menjalani hidup sebagai pengangguran. Atau tidak berpenghasilan tetap, atau pengandal transferan dari tulisan yang dikirimkan ke koran atau mahalah. Tantangan 30 hari menulis ini masih bisa kuikuti, walaupun sebenarnya saat ini juga dalam program Ramadhan Write Challange (tantangan menulis selama bulan puasa). Dan beberapa lagi, juga masih aktif di kegiatan WAG Group Literasi lainnya.

Eh rasanya sudah mencapai 300 kata ini ya (maaf aku tidak punya aplikasi penghitung kata), semoga bisa sedikit menguak tentang kepribadianku.

-Selesai-

Day1

https://www.instagram.com/p/BxHI3EaA67U/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=k8isk8vuqxw4

Marijan bin Sastro Kateno

Wasih terdiam duduk di sebuah bangunan bata pembatas jembatan, dari sungai yang melingkari desa kecilnya itu. Mata kecilnya menatap ke jalanan aspal di depannya, dimana berbagai macam kendaraan bergantian melaluinya. Bukan tanpa sebab bocah kelas lima SD itu melakukan semuanya, dia sedang menunggu kedatangan ibunya dari kota Surabaya tempatnya bekerja.

Setahun sekali dia pulang sebelum puasa, sebulan berkumpul dengannya dan juga Mbahdok (neneknya), untuk menjalani puasa bersama. Mereka akan sahur dan berbuka bersama, Wasih sangat menyukai masakan orangtua yang tinggal satu-satunya itu. Kue-kue dari kota yang banyak macamnya, dalam wadah kaleng yang beraneka rupa bentuknya. Hanya setahun sekali dia dapat merasakan makanan-makanan yang lezat-lezat itu, sekembali ibunya dari bekerja di kota Surabaya.

Sehari-hari Mbahdok hanya akan memasak; sayur bening, sayur asem, atau lalapan daun mengkudu. Terkadang, Mbah juga memberinya kulup daun pepaya yang sangat pahit rasanya, meskipun begitu Wasih tidak merasa terpaksa memakan semuanya. Karena Mbahdok menasehatinya, setiap makanan itu anugrah. Rasa pahit pada sayuran atau lalapan, itu semua adalah obat bagi kesehatan.

Puasa baru akan dimulai nanti malam, Pak Guru Agama Islam berkata: malam ini sudah melaksanakan Tarawih, dan sahur yang pertama untuk puasa pertama pada pagi harinya. Tapi hati Wasih mulai gelisah, tidak seperti biasa ibunya belum datang menjelang puasa pertama seperti ini. Biasanya, seminggu sebelumnya dia sudah ada di rumah.

Bunyi klakson mobil yang hendak masuk ke jalanan menuju desanya nyaring terdengar, membuat bocah kecil yang dikuasai lamunan itu tersentak kaget. Dengan tergesa tubuh kecilnya melompat kesisi jalan, memberi kesempatan mobil itu untuk melaluinya. Tetapi mobil itu malah tidak bergerak, Wasih menduga siapapun yang di dalamnya sedang membicarakan dirinya. Wasih hanya menduga, karena pandangannya bisa menembus keburaman kaca kendaraan itu.

Seorang yang berkerudung mengenakan kacamata sedang berbicara dengan sopir mobil itu, sesekali dia menunjuk kepada dirinya. Hal ini membuat hati hati gadis kecil itu mulai meragukan keberaniannya, jangan-jangan mereka ingin berbuat jahat padanya.

Kaca kiri depan mobil itu terbuka, seorang wanita berkerudung merah turun darinya. Berjalan menuju tempat Wasih, yang mulai berdiri dengan gemetaran. Ketika tinggal dua, atau tinggal tiga langkah lagi dari wanita berkacamata hitam itu, Wasih sudah bersiap-siap melarikan dirinya sekuat tenaga. Namun sebuah suara yang teramat dirindukannya itu terdengar, dari wanita yang berkerudung merah.

"Wasih! Kesini, nak." kata wanita itu, yang bersuara sangat mirip dengan suara ibunya.

Wasih tidak menjawab, rasa bingung dan ketakutan, masih menguasai raga dan perasaannya. Tetapi dalam hatinya berangsur mengakui, wanita ini tidak mungkin berniat ingin mencelakainya. Dia ingin menjawab sapaan itu, tetapi tiba-tiba menjadi gagap, sehingga lupa caranya berkata-kata.

'Wasih, kamu tidak mengenali Ibu?" wanita itu tiba-tiba sudah berjongkok didepan tubuh gemetarnya, memegang lembut kedua bahunya. Tetapi Wasih belum juga mengenali siapa wanita itu, dan seseorang pria tiba-tiba ikut berjongkok di dekat tubuh gemetarnya.

"Kamu belum melepaskan kacamatamu, Mah!" katanya, sembari memukulkan lembut sikunya ke tubuh wanita yang tampak sangat terkejut dengan teguran itu.

"Astaghfirullah, aku lupa Pah." bersamaan dengan itu dia menggeser kacamatanya, menyesak di rambut di atas keningnya.

Wasih meskipun meragukan daya ingatnya, tetapi nalurinya sebagai anak segera tahu siapa wanita itu.

"Ibu!" jerit gadis kecil itu dengan segenap perasaan, yang segera memeluk leher wanita itu sekuat-kuatnya. Emosi yang teramat sulit diterjemahkan anak sekecil Wasih, membuatnya pingsan dalam dekap kerinduannya. Diiring jerit ibu yang memeluknya dengan erat, dan wajah ketakutan pria yang menyertainya itu.

*****
Entah berapa lama Wasih pingsan, saat dia terjaga sudah berada di bilik kecilnya. Disampingnya, ibu tercinta tampak sembab di kedua matanya. Selama Wasih pingsan, dia selalu menangis tiada hentinya.

"Ibu?" Wasih membuka suaranya, "Siapa Bapak yang bersama Ibu tadi?"

Ibunya tetsenyum, tangan kirinya menyibakkan helai rambut dari kening anaknya. Dia mencium lembut kening bocah itu, sehingga dua tetes airmata menetesi wajah anakmya.

"Dia sekarang yang akan menjadi Ayahmu. Ibu dan Om Tio sudah menikah di Surabaya, mulai sekarang dia adalah Ayahmu."

Wasih tersenyum, meskipun dia tidak mengerti ucapan ibunya. Dia hanya ingat satu hal, setahun lalu Ibunya sudah berjanji membawakannya sebotol sirop untuk berbuka puasa.

"Ibu tidak lupa membawakan kami sirop kan, Bu?"

"Tidak sayang, ibu selalu mengingat permintaanmu," Ibunya justru memandang aneh kepada Wasti, "Malah ibu yang curiga, kamu yang sudah lupa dengan nama sirop pesananmu itu?"

"Tidak, Bu. Aku selalu mengingat-ingatnya setiap hari, namanya sama dengan nama almarhum Kakek."

"Apa namanya, sayang?"

"Sirop Marijan bin Sastro Kateno, Bu."

Jawaban Wasti ternyata membuat ibunya terbahak-bahak, sehingga ayah baru, dan Mbahdok sampai berlarian masuk ke dalam kamarnya.

"Ada apa, Mah? Kenapa kamu tertawa sekeras itu?' tanya ayah barunya kaget, sambil mengguncang bahu ibunya dengan keras.

" Tidak ada apa-apa, Pah. Mamah hanya kaget, mendengar Wasih salah menyebutkan merek sirop yang diinginkannya." terang Ibu pada suaminya.

"Emang, Wasih ingin sirop apa?" tanya Om Tio, sambil memegang tangan gadis kecil itu.

"Sirop Marijan bin Sastro Kateno, Om." jawab Wasih ragu.

"Itu nama Mbah Kung (kakek), kenapa dijadikan nama sirop?" protes Mbahdok, yang disambut gelak tawa mereka semua. 

Jadi selama ini, Wasih menghafalkan nama almarhum Kakeknya, agar ingat dengan merek sirop, yang diinginkannya sejak setahun yang lalu itu. Nama kakeknya adalah Marijan bin Sastrokateno.



#Day2
#RWCOdop2019
#onedayonepost

Day3

"Kalian pasti sudah tahu yang namanya Kolak, bukan?" tanya Mbah Kidir, diantara kuliah shubuhnya pagi itu.

"Tahu, Mbah!" jawab jama'ah, yang kesemuanya adalah murid padepokan yang diasuhnya.

"Kolak, makanan satu ini mungkin sangat sederhana, tapi ia adalah yang paling terkenal saat puasa. Kolak bisa dibikin kapan pun, tapi waktu yang pas untuk menyantapnya tetap adalah ketika buka puasa," kata Kiai Sepuh itu, "Paduan kuah yang manis, serta isiannya yang mantap, membuat suasana buka puasa makin tak terlupakan."

Semua murid kecilnya mengangguk, diantaranya ada yang memahami, ada juga yang setengah mengantuk mendengarkan wejangannya.

"Kolak memang cuma penganan kecil, tapi kalau kita telusuri lebih dalam ternyata punya sisi lain."

"Sisi lain bagaimana, Mbah?" tanya Kipli, satu-satunya santri dari Papua. Mbah Kidir tersenyum, sambil memandangi bocah korban kekerasan politik di tanah kelahirannya itu.

"Ya, kolak nyatanya tak hanya enak rasanya, tetapi juga menyimpan berbagai filosofi yang sangat mendalam tentang hidup dan kehidupan."

Kipli mengangguk kecil, tetapi sesungguhnya dia merasa belum mendapat jawaban dari pertanyaannya itu. Mbah Kidir melanjutkan tausiahnya.

"Mungkin kalian tidak pernah menyangka sebelumnya, tapi inilah makna-makna terpendam dari setiap sendok kolak yang kita makan:

Kalau ditelusuri dari sisi sejarahnyanya, kolak ini akan mencatut nama para wali. Ya, beliau-beliau itu yang memperkenalkan makanan ini. Tujuannya selain menawarkan khazanah kuliner baru, juga ingin masyarakat belajar nilai dari makanan ini.

Kolak banyak yang mengatakan berasal dari kata khala yang artinya adalah kosong. Kalau diterjemahkan secara penuh, intinya adalah kita sebagai manusia harus selalu bertaubat selagi hidup agar bisa kosong, kosong akan dosa. Kematian dengan kekosongan dosa menurut para wali adalah sebaik-baiknya kematian.

Kolak ada yang mengatakan berasal dari kata Khala, ada pula yang bilang berasal dari Kholaqo. Kata-kata ini berasal dari bahasa Arab yang bisa diturunkan menjadi kata Kholiq atau Khaliq yang artinya adalah mencipta. Nah, dari sini juga bisa diambil satu makna filosofisnya.

" Artinya bagaimana, Mbah?" si Paung santri daro Batak ikutan bertanya.

"Ya, secara tersirat kolak menganjurkan penikmatnya untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, Sang Pencipta. Tak hanya itu, istilah ini juga ada yang mengartikan agar kita selalu mendoakan mereka yang telah meninggal." jawab Mbah Kidir lembut.

"Tetapi, Mbah. Di tanah kelahiranku, kami tidak memakan kolak, Mbah. Apa sajakah bahan untuk membuatnya, itu?" tanya Kipli.

'Berbicara soal bahan yang ada di dalam kolak, kita biasanya akan menemui banyak jenis makanan. Tapi, yang pasti selalu ada adalah ubi. Ubi bisa dibilang adalah yang paling identik dengan kolak. Ibarat rumah, kolak adalah pondasi. Tak bisa tidak ada. Tak hanya sebagai bagian yang selalu ada, ubi dalam kolak ini juga punya filosofinya sendiri."

Menurut orang Jawa, ubi masuk dalam jenis-jenis makanan Polo Pendem atau yang tumbuh di bawah tanah. Artinya, ketika kita menyantapnya, maka harus ingat jika suatu saat kita pasti akan seperti mereka. Dalam artian dikubur di dalam tanah. Para wali menganjurkan adanya pertaubatan di setiap sendok kolak yang kita makan. Pasalnya, kematian mungkin saja akan datang semudah kita menyendok kolak ke dalam mulut.

Tak cuma ubi, pisang juga bahan yang mesti ada dalam kolak. Tapi, tak semua pisang bisa pas dimasukkan sebagai salah satu bahan kolak. Dari sekian banyak, mungkin hanya jenis kepok yang paling mantap. Nah, tentang pisang satu ini, siapa sangka jika ia juga punya nilai filosofisnya sendiri.

"Semua ado pilsapinya ya, Mbah?" pertanyaan Paung sontak membuat para jamaah santri lainnya tergelak. Mbah Kidir hanya tersenyum simpul.

"Kepok pada pisang kepok merujuk kepada istilah kapok. Kapok adalah bahasa Jawa yang artinya adalah menyesal atau jera. Artinya setiap kali kita menyantapnya, harus selalu ingat untuk jera akan dosa dan tidak lagi dengan gampang melakukan hal-hal yang membuat kita berdosa."

"Kalau santan, Mbah? Sejak mondok disini, setiap ada penyajiaan Kolak pasti diberi santan kelapa. Kenapa, Mbah?" tanya Kipli lagi.

"Santan adalah bagian yang juga tak kalah penting dalam kolak. Ia adalah pelebur semua bahan-bahan karena bertugas sebagai kuah. Santan menurut orang Jawa juga mengandung sebuah makna filosofis yang sangat dalam," jawab Mbah Kidir, sambil menggeser tubuhnya bersandar ke dinding Masjid, "Santan dalam bahasa Jawa disebut santen. Jika ditelusuri, kata-kata ini adalah kependekan dari sepunten yang artinya adalah permohonan maaf. Jadi, ketika kita menyisipi kuah kolak yang manis itu, ingatlah juga akan kesalahan dan meminta maaf kepada orang yang pernah kita salahi."

Semua santri mengangguk kembali dengan penuh semangat, di arah timur ufuk mulai menghadirkan fajar pagi.

"Inilah makna filosofis dari sepiring kolak yang selalu kita santap. Siapa yang menyangka, dari makanan sesederhana itu ada makna yang begitu mendalam. Ini bukan ilmu ngawur ya, melainkan benar-benar ada filosofinya seperti apa yang sudah tertulis di atas."

Setelah selesai memberikan tausiahnya, Mbah Kidir segera mengajak semua jama'ah berdo'a: semoga puasa di tahun 1440 Hijriyah ini, dapat dilakukan dwngan tanpa halangan sesuatu apapun. Aamiin.

#Day3
#RWCOdop2019
#onedayonepost

Day4

"Sudah siap, Mbor?" tanya Robert Paijan mantap, setelah merasa yakin panggilan dari gawainya tersambung ke gawai kekasihnya.

"Sudah dari tadi, Kang." Jawab Debora Wakinem, yang dipanggil Kombor olehnya tadi.

Pemuda itu segera menutup percakapan, kemudian memasukkan kembali gawai kevilnya ke dalam saku bajunya. Lelaki 25 tahunan itu beranjak menuju sebuah cermin yang tergantung di dinding kayu ruang tamunya, menelisik setiap detil penampilannya. Setelah puas mematut diri, jebolan kelas 11 SMA El Panas itu segera pergi ke istal. Memilih seekor dari kuda tunggangannya, seekor peranakan sadel arab yang sangat gagah. Tetapi, begitu keluar dari istal ibunya sudah siap menghadang langkahnya.

"He, bocah gemblung. Kamu mau pergi kemana, sebentar lagi Maghrib!" tanya Mak Michele Paijah, sambil berkacak pinggang di hadapan putra tunggalnya itu.

'Mau pergi ngabuburit, Mak. Nanti sebelum Maghrib, aku janji sudah ada di rumah." jawab Robert Paijan, yang langsung saja melompat ke punggung kucanya yang tidak berpelana itu.

"Baiklah, awas jika kumandang adzan Maghrib terdengar, dan kamu belum siap di meja makan!"

"Baiklah, Mak. Aku janji hanya pergi sebentar saja, assalamu'alaikum!"

"Waalaikumusalaam!"

Dan kuda berwarna hitam itupun melesat, berlari meninggalkan halaman rumah dengan cepatnya. Mengarah ke barat, ke arah kota Talang City ibukota kecamatan El Panas. Pada setiap tiba bulan puasa, kota itu menjadi sangat ramai. Karena munculnya pedagang takjil dadakan, dan masakan untuk kepentingan berbuka puasa.Dan sesungguhnya, keramaian itu juga dikarenakan orang yang sedang ngabuburit. Menunggu saat adxan Maghrib berkumandang, sambil melupakan rasa lapar mereka dengan kegembiraan.

El Kilat, nama kuda blasteran arab dan sunda itu dipacu dengan sangat kencang. Melewati halaman Masjid Al Maghribiha yang megah itu, terus dipacu ke arah matahari yang akan tenggelam. Tetapi di tengah jalan, Robert Paijan menghentikan El Kilat dengan tiba-tiba. Dari kejauhan, dia melihat kuda Deborah Wakinem sedang berlari ke arahnya. Tetapi dia tidak melihat sang pemilik mengendarainya, sampai La Nyinyir si kuda putih itu berhenti berlari di samping El Kilat kuda hitamnya. Robert Paijan memandang asal si Nyinyir datang, berharap melihat bayangan Debora Wakinem... tapi tidak ditemukannya kekasihnya disana. Dan dia mulai merasa khawatir, jangan-jangan telah terjadi sesuatu yang buruk pada diri kekasihnya itu.

Tanpa berfikir panjang lagi, Paijan segera membelokkan kudanya berlari menuju arah La Nyinyir datang. Sepanjang jalan fikirannya melayang, apa yang terjadi dengan Debora Wakinem kekasihnya?.

Di pinggiran kota El Panas City, daerah yang juga tempat tinggal Deborah, Robert Paijan menghentikan langkah kudanya. Dia terpaku melihat pemandangan yang tidak pernah ada di benaknya selama ini, dia melihat Deborah Wakinem duduk sepelana dengan Steven Parjo. Yang membuat dadanya merasa sesak seketika adalah, dia melihat kedua tangan Wakinem memeluk erat pinggang anak Marshal Mukiyo penguasa El Panas City.

"Aku melihat La Nyinyir berlari sendiri ke tengah kota, aku membawanya kembali untukmu!" teriak Robert Paijan kepada Debora Wakinem, mereka berdua segera turun dari kudanya.

"Hai Paijan, apa kabar kawan?" sapa Parjo akrab, tetapi Paijan menghiraukannya. Pandangannya tertuju ke arah Deborah, yang seakan tidak mengenalinya lagi. Sikapnya seperti orang yang baru pertama kali berjumpa, kaku dan tidak ada senyuman.

"Kamu jangan salah faham dulu, Jan. Gadis yang kamu lihat bersamaku itu bukan Wakinem, tapi dia adalah Anaconda Wakijah... saudari kembar kekasihmu Deborah Wakinem. La Nyinyir baru saja menjatuhkannya dari punggungnya, untung aku melihat kejadian itu dan segera menolongnya."

"Jadi, dia bukan Wakinem?" Robert Paijan melompat turun dari punggung El Kilat, memperbaiki pandangan matanya ke arah gadis itu.

"Aku disini, Kakang!" sebuah seruan, membuatnya memalingkan wajahnya ke arah suara tersebut. Dan betapa sangat terkejut hati Paijan, disana dia melihat kekasihnya Debora Wakinem tampak begitu jelita, duduk di punggung La Nyempluk kuda yang satu lagi miliknya.

"Kombor?! Kenapa kamu tidak pernah bercerita, kalau punya saudari kembar padaku?" tanyanya, sambil meraih tangan kekasihnya itu turun dari sadel kudanya.

"Kakang tidak bertanya, lagian Wakijah juga baru sekali ini datang ke El Panas, setelah 21 tahun diasuh keluarga Pamanku Alex Saidi di kota lain." jawab Debora Wakinem.

"Sudahlah, kebetulan kalian datang. Aku pasrahkan Anaconda Wakijah kepada kalian, sementara itu aku meneruskan perjalananku ke kota." kata Parjo dengan gentlemen, Paijan menyalami dan memeluk tubuh Parjo sahabatnya di SD El Anyep dulu itu. Mengucapkan terima kasih, kemudian melambaikan tangan ke arah pemuda yang baik hati itu.

"Aku terjatuh dari punggung El Nyinyir, rupanya dia baru sadar jika bukan kamu yang mengendarainya Nem." Kata Anaconda Wakijah, ketika Debora Wakinem sedang memeriksa luka ringan di dengkul saudarinya itu.

"Tidak ada yang serius, Jah. Kamu ikut kami pergi ngabuburit, atau pulang ke rumah dengan La Nyempluk?"

"Baiklah, aku ikut kalian saja!"

"Dan untukmu, Kang! Hafalkan perbedaanku dengan Wakijah, jangan sampai keliru lagi seperti saat ini!"

"Eh iya, Mbor. Aku sudah langsung tahu dari penampilan kalian berdua, kamu lebih trendy dari Wakijah yang feminis." jawab Paijan terbata.

"Baiklah, itu masuk akal. Aku menerima jawabanmu, dan mari kita lanjutkan acara ngabuburit kita."

Ketiganya, secara berlari sedang memacu kudanya masing-masing. El Kilat merasa sangat beruntung, berlari didampingi kedua kekasih hatinya El Nyinyir dan La Nyempluk. Mungkin juga hati Robert Paijan, baru di puasa Ramadhan 1440 hijriyah ini, dia ngabuburit dengan dua orang gadis tercantik di seluruh kota El Panas Kecamatan Talang City.

#RWCOdop2019
#onedayonepost
#Day4

Day5

Keceriaan Desa Balongkenco seakan bangkit kembali, setelah seharian ini terdiam oleh suasana puasa ramadhan. Tidak seperti biasanya, pada siang hari tidak terlihat ramai penjual menjajakan dagangannya. Para petani pun hanya sebentar menengok sawahnya, mereka pergi ke sawah kemudian pulang kembali ke rumah jika dirasa semua tidak ada masalah.
Hanya para peladang di sekitaran hutan yang tetap berada di gubug mereka, menghalau rombongan Babi hutan, atau rombongan Monyet, yang akan datang menyerbu tanaman disana. Sesungguhnya mereka lebih suka berada di rumah, berkumpul dengan sanak saudara, anak istri, atau melakukan hataman di Masjid Al Kautsar satu-satunya di desa itu.

Balongkenco sudah berubah total, dahulunya desa teepencil di tepian hutan itu adalah sarang maksiat. Hampir setiap rumah mereka adalah warung remang-remang, yang menyediakan minuman beralkohol, juga wanita-wanita pemuas nafsu syahwat.

Konon, desa itu dibangun dengan dendam dan sakit hati seorang janda cantik bernama Kenconowati, yang terusir dari desanya karena fitnah perselingkuhan yang tidak pernah dilakukannya.

Bersama dengan anak perempuannya yang terpaksa juga harus menjanda karena peristiwa itu, Nyi Kenco dan Srigati anaknya pergi dari desanya. Konon sebelum pergi dari desanya dia mengucapkan sumpah, akan membuat desa itu kehilangan setiap laki-lakinya.

Nyi Kenconowati yang berparas jelita itu menunaikan sumpahnya, dari sebuah gubug bekas orang berkebun yang di tepi sebuah sungai kecil. Setiap hari dia dan anaknya selalu melakukan kegiatan hampir tanpa busana, hanya menutupi sebagian kecil auratnya dengan sobekan kain Batik Balongan yang dibaginya dengan Srigati. Mereka berladang dengan menanam ubi jalar, dan berbagai tanaman yang bisa dimakan.

Beberapa lelaki yang pergi mencari kayu bakar ke hutan, menyebarluaskan berita tentang kehidupan Nyi Kenco yang berkain balongan itu ke desa-desa sekitarnya. Sehingga sedikit demi sedikit para pria hidung belang mendatanginya, mengajaknya berasyik masyuk dengan imbalan yang telah disepakati. Kurang dari setahun, desa yang akhirnya dinamai Balongkenco (kain balongan yang dipakai Nyi Kencono) itu menjadi semakin besar. Para janda yang sakit hati karena ditinggalkan para suaminya demi wanita lain, berduyun-duyun datang berkeluh kesah kepada Nyi Balongkenco. Atas bantuan para lelaki hidung belang, mereka dibuatkan rumah kecil untuk tempat tinggal. Sehingga semakin banyak para janda yang datang ke desa itu, semakin habislah lelaki dari desa asal Nyi Balong Kenco. Setelah yakin sumpahnya terlaksana, wanita itupun meninggalkan desa dan anaknya. Pergi bertapa di lereng Gunung Lengki di sebelah utara desa, dan hilang rimba dan kabar beritanya.

*****

Balongkenco dimasa kini, setelah kedatangan seorang Ustadzah Aminah. Seorang janda konglomerat dari Surabaya, yang sangat miris hati dan jiwanya, setelah membaca kisah desa di tepian hutan itu dari surat kabar. Dia membeli sebuah pekarangan yang luas di desa itu, membangun sebuah Masjid yang sangat megah di samping rumahnya yang mewah. Dan setahun yang lalu dia memutuskan meninggali rumah barunya itu, mulai memperkenalkan ajaran Islam yang sesungguhnya di Balongkenco.

Niat tulusnya itu bukannya tanpa ada hambatan, terror dan tentangan datang silih berganti menerpanya. Terutama dari Lurah Winarno, yang merupakan juragan mebel dari kayu ilegal, dan pemasok minuman beralkohol di desa itu.

Bahkan di suatu malam yang gulita, rumah Aminah didobrak segerombolan pria. Yang kemungkinan adalah anakbuah dari Lurah Win, yang kalah berdebat di halaman masjid saat itu. Aminah yang sedang melaksanakan sholat tahajjud mereka gelandang keluar, membawanya ke tengah hutan. Disana mereka menelanjangi wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang 55 tahun, dan mereka berniat memerkosanya di tengah hutan itu. Tetapi sungguh kuasa Allah SWT berlaku malam itu, keajaiban yang akan membuat bulukuduk merinding jika diceritakan.

Aminah yang sedari diculik dari rumahnya tidak berkata atau menjerit meminta pertolongan, hanya beristighfar dengan penuh kekusyukan. Disaat para lelaki mabuk itu ingin melaksanakan niat jahatnya, barulah Aminah berkata.

"Minta ijinlah dahulu kepada Allah SWT, jika kalian ingin menikmati ciptaan-Nya. Bacalah bismillah sebelum kalian memulainya, dan serukan alhamdulillah saat kalian menyelesaikannya. Ingatlah, Gusti kuwi ora sare (Tuhan itu tidak tidur) Dia tahu apa yang sedang kalian lakukan."

Sungguh ajaib, sepuluh orang yang berniat jahat kepadanya itu langsung gemetar seluruh badannya. Hilang nafsu birahinya, terduduk lemas bagai tiada bertulang. Sebentar kemudian mereka menangisi kekhilafan mereka, dan kesemuanya tersungkur dalam sujud permintaan ampun kepada wanita yang hampir mereka celakai itu. Setelah mengenakan kembali pakaiannya, Aminah membimbing kesepuluhnya membaca dua kalimat Syahadat.

Sekembalinya ke desa, kini Aminah memiliki 10 orang yang sangat ditakuti di desa itu. Mereka rela tidur di teras rumah janda itu, untuk mengamankan ustadzah itu dari dendam orang-orang yang membencinya. Inilah sepenggal kisah tentang Desa Balongkenco, sampai saat ini kisah ini masih diceritakan dari mulut ke mulut.

Inilah hari pertama penduduk desa Balongkenco melaksanakan puasa bulan ramadhan, suasananya berubah dari setahun yang lalu, apalagi sungguh sangat bertolak belakang dengan kisah terciptanya desa ini.

Tarawih pertama di puasa pertama desa Balongkenco, hampir semua rumah tertutup rapat. Jika rumah tersebut tidak tertutup, pasti ada seorang kakek atau nenek yang tidak sanggup lagi melaksanakan sholat tarawih karena usianya.

Di rumah Hajjah Aminah, para ibu, juga para remaja putri berkumpul, mempersiapkan takjil seusai melaksanakan sholat tarawih. Dan puluhan anak kecil bermain riang disekitarnya, dengan tangan dan mulut yang penuh dengan makanan dan minuman.

Subhanallah, tarawih pertama membuat masjid itu tidak mampu menampung jama'ah yang hadir. Sehingga sampai meluber ke halaman masjid, karena banyak juga warga dari desa sekitar yang bertarawih di Masjid Al Kautsar Balongkenco.

-Tamat-

#RWCOdop2019
#onedayonepost
#Day5

Permohonan Bantuan TBM ODOB

TAMAN BACA MASYARAKAT “ODOB" (One Day One Book) Sekretariat: RT 12 RW 003 Desa Talang, Kecamatan Rejoso,  Kabupaten Nganjuk, Jawa Timu...