Selasa, 19 Februari 2019

Seakan Menjadi Turis (Bagian 1)

Pernah tidak kalian menemukan (baca: baru mengetahui), sebuah tempat yang sebenarnya sangat dekat dengan tempat kalian... tetapi selama ini kalian tidak mengetahuinya?. Inilah awal ceritaku tentang sebuah tempat bernama Dusun Tukdadap, Desa Sukoharjo, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk. Kalian tahu tempat ini?

Sebenarnya ini adalah dalam rangka 3T (tolong tolong teman) sih, sehingga Belalang Tempur (nama sepeda motorku)  bisa sampai kesana. Seorang teman semasa SMP-ku mendapat order memasang gawang pintu dan kusen jendela, dari temannya yang bukan temanku. Order dia terima dengan baik, karena dia berprinsip ora nolak rejeki. Permasalahannya, memasang gawang pintu dan kusen jendela itu tidak bisa ditangani sendiri. Harus dengan dua orang untuk galfalum, dan butuh tiga orang untuk yang berbahan kayu jati. Sialnya, dia terima order tanpa tahu siapa teman yang akan membantunya.

Suatu pagi Bambang (nama temanku itu) menelepon, bukan panggilan WA atau Mesenger, dari hape jadulnya.

"Ayo, kerja!" katanya, setelah berbalas salam selama satu menit lebih sedikit. Dia masih mengira aku pengangguran, padahal aku ini selektif pada pekerjaan. Bukan tidak bekerja.

"Dalam apa luar?" jawabku dalam pertanyaan bersandi, hanya akj dan Bambang yang tahu sandi ini. Dalam artinya kerjanya tidak terkena sinar matahari, atau dalam naungan atap. Luar, ya semua pekerjaan sawah, tandur, ndaut, matun, icir, ndhangir, nglempak, macul, nggganco, panen, dll. Yang tetakhir ini yang selalu kutolak, setelah mencoba ikut matun dan pingsan di tengah sawah.

"Oke, posisi?" tanyaku lagi

"Tukdadap!"

"Tuk Dalang?!"

"Budeg! Tuk Dadap!"

Haddeuwh, aku mengeluh dalam hati karena sama sekali tidak mengenali tempat yang disebutkannya itu.

"Mana itu, Mbang?"

"Jodhipati terus... " dan terputus, mungkin lowbatt hape jadulnya yang dapat nemu di jok bis tahun 2002 itu. Jodhipati adalah nama Stasiun Radio yang pernah bermarkas di Dusun Basri Desa Ngadiboyo, sebelum akirnya pindah menuju keramaian Kota Nganjuk. Dan sampai dengan hari ini, tempat disekitar komplek Stasiun Radio Jodhipati FM itu masih disebut dengan Jodhipati.

Ya sudah, akirnya aku buka Google Maps dan mengetik Tukdadap. Dan GM segera menampilkan rute perjalanan yang kumaksaud, belalang tempur mungkin merasa ragu akan mengunjungi kawasan baru. Karena sudah sepuluh kali voba kuslenger, dia tidak juga mau menyala. Ah ternyata, aku belum mengaktifkan system contact mode (baca: belum dikontak). Memang aku sengaja.

Sementara dengan kemayu terdengar suara dari GM, dari nada bicaranya mungkin si embak itu orang Papua.

"Seratus meter lagi belok ke kanan, melewati jalan Raya Talang Rejoso!"

Aku sengaja menggodanya, motor kustandard tengah dan pura-pura mengendarainya. Eh si embaknya tahu, dia bilang begini.

"Anda masih di posisi awal, seratus meter lagi belok kanan melewati jalan Raya Talang Rejoso. Awas kalau tidak segera jalan, aku tinggal ngopi nih!" katanya dengan ketus, bayangin gadis Papua lagi marah gimana coba?

(beraambung)


Minggu, 17 Februari 2019

Tangis Malam

harum aroma harum arak mengepul ke udara
berbaur pekat kepul asap sigaret
diiring gegap gempita musik memancing jiwa
bersama mereka mencoba mencari jalan menuju surga

wajah-wajah yang berkilat diterpa sinar berkelip
berminyak bahkan menyekanya pun tidak
menguasai suasana malam syaitona dengan gelak tawa
peluh dan keringat mengalir bagai dituang

teriakan menguasai malam
meletakkan kewarasan di ujung sandal jepit
yang tergeletak di depan pintu bertumpang tindih sesama
siapa yang peduli jika ada yang terguling tergeletak
karena arak lah menggenangi otak

malam menyelimuti dalam tangis
gulita mematuk mata mereka terbelalak
nafasnya tersedak di tenggorokan
mereka tak dapat menghenti kehendak esa
mati oleh minuman keras

Sabtu, 16 Februari 2019

40 Tahun Berlalu

aku bicara tentang empatpuluh tahun berlalu hampir ganjil tujuh tahun umurku
terbangun dari lelap dengan aroma kabut menyeruak sejuk lubang hidungku
ini yang terdengar kokok si burung lupa terbang di atas genteng kandang tidurnya
serta ceruwit bersahutan si gesit sikatan dan gelatik seperti pipit
mereka kukenali sebagai pagi hari yang indah

udara hangat terasa melawan dingin yang tersisa, bekas tidurku di tikar di atas lantai tanah
hanya beberapa depa dari tungku yang menyala, baranya menghalau malas enyah dari dada
kulihat nenek sedang duduk mempersiapkan masakannya
langkahku mengunjungi pangkuannya, mendapat hidayah ciuman mesra

merengek aku begitu manja, ketika tak kulihat tubuh ibuku yang tercinta
sebelum pagi dia sudah berangkat menembus kegelapan fajar bersama tetangga
menuju pekerjaan yang telah diterimanya, sepuluh kilo jaraknya
buruh tani menanam padi di sawah sang penguasa

nenek yang menanggungkan segala keperluanku, dengan sisa tenaga yang masih tersisa di tubuh rentanya
sekepal nasi hangat berteman sambal petai cina pengganjal mulasku
sebelum aku pergi meninggalkannya menimba ilmu

jalanan begitu landai, sunyi dalam harmoni kesejukan
hanya orang yang lewat meghela lembu kerbaunya
dan mereka yang tergesa berlomba mengejar laju domba yang dilepaskannya
inilah sesungguhnya hidup kecilku di masa yang telah lama
sungguh berbeda suasana dengan sekarang yang ada

Justini Dan Dewi Gulita

justini tidak hanya menghargai malam
mereka bersahabat dalam keremangan
seorang terengah bermandikan peluh
gelap menutupnya dari pandangan hina
di bawah pohon nangka raya wanita bekerja menjual harga dirinya
dalam pelukkan laknat dewi gulita penyebar dosa

Jumat, 15 Februari 2019

Andai Anakku Tidak Kumandangkan Adzan (Bagian 1)

Nadia sudah berubah setahun belakangan ini, setelah bisnis onlineshop yang digelutinya semakin besar. Sedikit demi sedikit perannya sebagai seorang Ibu dan seorang Istri terbengkalai, hari demi hari kesibukannya adalah membaca pesan dan chat di gawai. Aku sudah pernah memprotes kegiatannya ini, tetapi aku harus bersikap bijaksana menjadi seorang pemimpin rumah tangga.

"Usahamu sekarang memang sudah bertambah maju, Ma. Tapi aku minta, jangan mengabaikan tugasmu sebagai seorang Ibu bagi Naufal dong!" tegurku suatu saat padanya. Dia memandangku sekilas, lalu melanjutkan kegiatan dengan gawainya.

"Pa, aku sama sekali tidak mengabaikan kewajibanku pada Naufal. Aku tetap mengurusinya, mengantar jemputnya sekolah, mempersiapkan peralatan sekolah dan mengajinya, aku juga menemaninya saat belajar." jawabnya pelan.

"Iya, memang kamu menemaninya belajar. Tapi kamu juga tidak berhenti dengan gawaimu, bahkan kamu tidak menjawab pertanyaan Naufal saat dia kesulitan dengan pelajarannya."

"Naufal kan hanya mengulang pelajaran yang di sekolah, Pa. Wajar kan aku selalu memintanya membaca dulu bacaan pelajarannya, sebelum dia mengerjakan pertanyaan-pertanyaannya?".

" Dan waktumu untuk melayaniku sebagai Istri, sekarang pun sudah tidak kamu prioritaskan lagi!"

Nadia memandangku dengan tatapan anehnya, kemudian pergi tanpa bersuara ke dalam kamar. Sikap beginilah yang sebenarnya kukeluhkan, istriku sudah berubah karena kesibukan olshop-nya. Semakin hari, semakin banyak saja barang yang dijualnya. Dan tentu saja, semakin bertambah pula kesibukannya. Dimulai seusai mengantar Naufal ke sekolah, hingga  seeing aku harus menghentikan kesibukanya karena hari sudah sangat malam. Suasana rumah menjadi semakin tidak menyenangkan, sering kami harus membeli makanan di luar karena Nadia tidak lagi sempat memasak saking sibuknya. Atau sekarang Nadia tidak lagi pernah mencuci serta menyeterika baju-baju kami, alasannya hanya satu 'kecapekan'. Nadia selalu memakai jasa laundry setiap hari, untuk urusan mencuci dan menyeterika pakaian. Aku sudah memintanya mencari asisten yang bisa meng-handle kegiatan bisnisnya itu, tetapi dengan angkuhnya dia selalu menolak. Jika saja bukan karena Naufal, mungkin lebih baik aku tidak pulang saja lagi ke rumah ini saja.

*****

Di kantor, aku memiliki seorang teman yang sangat menyenangkan diajak ngobrol. Teman seprofesiku di dinas kepemerintahan, yang selalu fashionable di setiap penampilannya. Seorang wanita yang sangat cantik, walaupun terkadang aku melihatnya agak lebbay. Dia sudi mendengarkan keluh kesahku, memberiku ketenangan dengan jawaban-jawabannya. Namanya Rosita Fatmawati, seorang janda tanpa anak yang juga tinggal di komplek perumahanku. Nerselang tiga blok, hanya berlainan RT saja.

Lama kelamaan obrolan kami tidak lagi membicarakan masalah rumah tangga melulu, tetapi terkadang tak terasa berganti topik tentang hubungan suami istri. Dia sangat bersemangat sekali saat obrolan membahas tentang sexualitas, mungkin karena dia sudah menjanda tiga tahun lamanya. Bagaimanapun juga Rosita adalah wanita normal, yang masih membutuhkan hubungan biologis di dalam kehidupannya. Seperti panci bertemu tutupnya, kami dipertemukan karena keadaan yang sama.

Kami pun akhirnya berselingkuh, menjalin hubungan terlarang secara diam-diam. Walaupun sebenarnya itu tidak semuanya benar, seisi kantor sudah mulai kasak-kusuk membicarakan keintiman kami ini.Sering pergi berdua ke hotel kelas melati di kota Kabupaten, atau sekedar menyewa kamar di losmen murahan dekat tempat pariwisata. Rosita tak hanya lebih muda dari Nadia, tetapi dia juga lebih pintar memanjakan pasangan saat bercinta. Terus terang, semakin hari hatiku semakin jatuh cinta padanya.

*****

Saat itu hari minggu, aku tengah santai membaca sebuah koran lokal di ruang tamu. Ketika Naufal tiba-tiba duduk disampingku, dia sebenarnya sudah siap berangkat mengaji dengan pakaian takwanya. Setelah mencium tangan kananku, dia berkata dengan lirih.

"Pa, aku sekarang ditunjuk menjadi muadzin di mushola komplek kita."

Aku terkejut mendengar perkataannyanya, sudah lama aku tidak menanyakan tentang kegiatan mengajinya di TPA.

"Benarkah? Siapa yang menunjukmu, Nak?

" Ustadz Ahmad, Pa. Beliau bilang, suaraku sangat merdu dan mempunyai nafas panjang. Oleh karena itu, sejak hari senin kemarin akulah yang mengumandangkan adzan di mushola itu."

"Papa, belum.pernah mendengarmu mengumandangkan adzan?"

"Hari ini, coba Papa dengarkan ya?"

Sebelum sempat mengiyakanya, kudengar nada notifikasi WhatsApp dari gawaiku di meja depanku. Aku pun memberi isyarat Naufal untuk segera pergi mengaji, setelah itu baru kubaca bunyi pesan dari Rosita kepadaku. Dia ingin aku ke rumahnya sekarang, karena dia sudah sangat rindu.

Nadia tidak mengetahui aku mengeluarkan sepeda dari dalam garasi, mungkin dia sedang asyik membalas pesanan pelanggan-pelanggannya. Sepeda itu kugenjot dengan santai menuju rumah Rosita, yang hanya berjarak tiga gang dari rumahku.

Sesampainya aku langsung masuk saja ke dalam rumahnya, karena kulihat pintu depannya dibiarkan terbuka. Tentu saja sebelumnya aku berhenti di ujung gang itu, mengamati suasana  apakah aman jika aku masuk ke dalam rumahnya. Ternyata wanita itu sudah menungguku duduk di sofa ruang tamu rumahnya, rambut panjang yang biasa dikerudunginya kini diurai menutup dada dan perutnya. Dia tampak begitu sexy hanya dengan pakaian tidur tipisnya, yang langsung menggelendengku masuk ke dalam kamarnya yang harum. Seperti biasanya, dengan liar dia membuatku mengikuti permainan asmaranya. Jujur, hanya dengan Rosita aku merasakan tersanjung sebagai seorang laki-laki.

Ditengah asyiknya kami memadu kasih, tiba-tiba terdengar suara adzan menggema di seluruh ruangan itu. Aku tersentak dan terlonjak dari atas springbed, suara Naufal yang nyaring dan merdu menyeret kembali kewarasanku.

"Allaahu Akbar! Allaahu Akbaar!"

Bagai tersadar dari hipnotis, aku mengenakan kembali pakaianku yang sempat kulepaskan sebelumnya. Dengan tergesa pula aku keluar dari kamar itu, menyambar sepedaku dan mengayuhnya dengan cepat menuju rumah. Aku tidak peduli dengan suara Rosita, yang memanggil namaku dengan rasa kecewanya. Sepanjang jalan suara Naufal seperti memukuli wajahku, mengingatkan segala maksiat yang hampir setahun kujalani bersama Rosita. Setiap ayat yang disuarakannya, bagai menamparkan rasa malu dan dosa-dosaku selama ini.

"Maafkan Papa," ratapku lirih di sepanjang perjalanan,"Maafkan aku, Istriku."

*****

Sesampai di rumah, kulihat Nadia sedang mempersiapkan diri mengantar barang pesanan pelanggannya. Wajahnya tampak sangat pucat, dan sepertinya dia sedang menahan rasa sakit yang tiada terperi. Aku langsung memeluk tubuh kurusnya, seraya tak mampu lagi menahan bendungan air mataku. Dengan sesenggukan aku mengakui telah menghianatinya, yaitu telah berselingkuh dengan Rosita.

(bersambung)

Andai Anakku Tidak Kumandangkan Adzan (Bagian 2)

Sebetulnya Nadia sangat terkejut, raut wajahnya menunjukkan jiwanya sangat terpukul sekali dengan pengakuanku itu. Nadia pun meneteskan air matanya, tetapi tangisnya tak sehisteris tangisanku. Perlahan dia melepaskan diri dari pelukanku, dia tersenyum dan membuat isyarat agar aku tidak mengikutinya masuk ke dalam kamar. Dia keluar dengan secarik kertas berkop surat RSUD, dan langsung memberikannya padaku. Dia mbuat isyarat lagi dengan tangannya, mengajakku duduk di sofa.

Sebelum dengan runut aku membaca semua data yang ada di surat keterangan uji laboratorium itu, dengan suara pelan dia berkata kepadaku.

"Nikahilah Rosita, Pa! Sudah lama aku mendengar hubunganmu dengannya, aku merestui hubungan kalian itu" disaat yang sama, aku sudah membaca sampai pada tulisan yang dicetak tebal di dalamnya.

"Astaghfirullahal adziim, kamu menderita kangker kandungan Ma!" seruku sangat terkejut, setelah memastikan tulisan yang bercetak tebal itu. Kangker Kandungan.

Rosita mengangguk sambil tersenyum, lalu kedua tangannya menggenggam tangankh dengan kuat.

"Iya, Pa. Sudah stadium 4, sebenarnya aku tahu sudah menderita penyakit ini setelah melahirkan Naufal."

"Kenapa kamu merahasiakannya dariku, Ma!"

"Aku tidak ingin kamu merasa tertekan dan tersiksa, dengan penyakitku ini. Kelurgaku semua sudah mengetahui ini, tetapi aku berpesan kepada mereka agar tidak memberitahukannya kepadamu."

"Tidak, Sayang! Kamu sedang bercanda, kan? Kamu hanya ingin membuatku ketakutan saja, kan?!" aku memeluk tubuh wanita yang kurus itu dengan sangat erat, tangisku pun pecah tanpa dapat ku tahan lagi. Terasa ada beban yang menindih dadaku saat itu, seakan aku mendengar Nadia sedang berusaha berpamitan kepadaku.

"Tidak, Sayang! Kamu harus sembuh, akan aku jual apapun yang kita punya. Rumah ini, pekarangan warisan Ayahku, semua sawah milikku yang ada di desaku, semua akan aku jual secepatnya" aku sudah semakin tidak mampu mengendalikan diriku lagi, sementara setiap kulihat senyum manis dari wajah Nadia yang pucat, semakin membuat hatiku seakan diiris-iris.

"Aku akan membawamu pergi berobat ke Singapura, Sayang. Ke Jepang, atau kemanapun agar kamu bisa sembuh kembali!" teriakku semakin keras, karena kulihat wajah Nadia yang pucat semakin lemas. Aku begitu panik, saat dari hidungnya kulihat darah segar mengalir dengan derasnya.

"Nadia! Bangun, Sayang! Nadia! Nadia! Nadiaaaa!!!" aku berteriak histeris memanggil namanya, sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya. Nadia tidak juga membuka matanya, sementara itu para tetangga yang mendengar teriakanku mulai berdatangan memenuhi ruang tamu rumahku. Dua orang memaksaku melepaskan rangkulan tanganku dari tubuh Nadia, lalu menahanku di sebuah kursi di ruangan itu. Aku masih bisa melihat dokter Winarti tetanggaku , sedang memeriksa tubuh Nadia dengan tetoskopnya. Sebentar kemudian dia berbalik menatap ke arahku, dan menyampaikan hasil pemeriksaannya.

"Ibu Nadia sudah meninggal, Pak Wijaya."

Aku berteriak memanggil nama istriku untuk yang terakhir kalinya, lalu kemudian semua menjadi gelap dan sunyi senyap.

*****

Nadia pun akhirnya meninggalkan aku dan Naufal anak semata wayang kami, setelah pemakamannya, dan beberapa tahun berikutnya aku masih menyesali diri. Apalagi setelah membaca suratnya untukku, yang terselip di halaman buku ordernya.

Dear Papa:
Mas Wijayaku
tercinta.

Teriring rasa Sayang dan Kasihku yang terdalam,
Mas Wijayaku Sayang, jika kamu menemukan surat ini, pastinya aku sudah tiada lagi di dunia ini. Karena kamu tahu sendiri, buku orderan ini selalu aku bawa kemanapun berada.

Mas Wijayaku tercinta, aku hanya ingin mengatakan padamu dengan setulus hatiku. Sesungguhnya, usaha onlineku ini hanyalah satu-satunya alasanku untuk tidak lagi bersedia 'melayani hasrat cintamu'. Aku ingin terlihat sibuk didepanmu, agar kamu menerima alasanku yang kelelahan itu. Maafkan disa-dosaku ini ya, Mas.

Selanjutnya, aku sudah mengetahui hubunganmu dengan Rosita dengan mata kepalaku sendiri. Pertama melihatmu masuk ke dalam hotel bersamanya, adalah saat mengambil drop peoduk dari kantor cabang. Aku menangis sedih setelah itu, karena semalaman kamu akhirnya tidak pulang ke rumah. Lalu yang kedua saat aku periksa kesehatan, di losmen depan RSUD itu aku melihatmu masuk bersamanya. Kamu pun tidak pulang lagi ke rumah, tetapi aku tidak menangis sedih lagi.

Aku sadar, aku sudah tidak bisa melayanimu lagi sebagai seorang istri. Aku hanya kecewa, karena kamu melakukannya dengan dosa. Sebenarnya aku sudah ingin memberitahumu tentang penyakitku ini, dan memintamu untuk menikahi Rosita. Tetapi seberapapun kuatnya keinginanku untuk bercerita, aku selalu tidak kuasa melakukannya.

Sekarang mungkin aku sudah tiada lagi, aku hanya ingin menitipkan anak kita Naufal Lutfyansyah padamu. Carilah ibu penggantiku, yang mau menyayangi Naufal seperti anak kandungnya sendiri. Sebenarnya aku ingin kamu menikahi Rosita setelah kepergianku ini, untuk menebus dosa-dosamu bersamanya. Tetapi jika ada pilihan lain yang sesuai dengan permintaanku ini, aku akan selalu merestuinya dari alam baka.

Kiranya cukup sampai ini saja penuturanku padamu Mas Wijaya Sayang, kepalaku sudah terasa sangat sakit. Seluruh tubuhku bagai terajam ribuan pisau, aku sudah tidak kuat lagi. Surat ini aku buat ketika engkau sedang tidak pulang ke rumah, mohon maaf atas segala dosa kesalahanku.

Salam sayang selalu

Nadia Dyah Saraswati
Istrimu

*****

Aku tidak pernah lagi bisa menikahi Rosita, dia meninggalkanku setelah aku dipensiunkan dini, karena dianggap tidak mempunyai kemampuan lagi mengabdi untuk negara. Aku memang mengalami depresi berat saat itu, sehingga memang benar pensiun dinilah solusi yang terbaik. Rosita kembali berselingkuh dengan teman sekerjaku, yang juga sudah mempunyai keluarga. Suatu hari mereka mengalami kecelakaan, selingkuhan Rosita meninggal di tempat kejadian. Sedangkan Rosita, meskipun selamat tetapi dia harus kehilangan kedua kaki dan lengan kanannya karena diamputasi. Sebulan setelah keluar dari masa perawatan, Rosita juga akhirnya menyusul selingkuhannya ke alam baka. Kecacatan tubuhnya membuat Rosita terguncang hebat, dia mati karena meminum racun serangga. Dan aku memilih setia kepada Nadiaku, tidak pernah lagi menikahi siapapun setelah kematian istriku itu.

Kini, setelah empatpuluh tahun dari kejadian yang kuceritakan ini. Aku terbaring lemah di ranjang rumah sakit, terbujur sendiri di ruangan pasien khusus. Naufal yang menempatkanku disini, dia adalah dokter sekaligus pemilik rumah sakit ini. Aku masih sering beetemu Nadia di alam mimpi, saat-saat aku ingin bercerita tentang Naufal dia selalu datang.

Malam ini aku ingin bercerita kepadanya, baru saja istri Naufal melahirkan anak ketiganya. Seorang bayi perempuan yang cantik, yang mata dan alisnya sangat mirip dengan alis dan mata almarhumah neneknya. Dan atas permintaanku juga, aku menitipkan nama Nadia pada cucu perempuanku itu. Semoga malam ini dia datang ke dalam mimpiku, karena aku sudah sangat merindukannya. Andai anakku tidak kumandangkan adzan saat itu.

Tamat.

Sebuah Tanya Dari Surga

aku melemparkan sebuah tanya di penghujung malam
sebelum lelap menguasai jiwa dan raga letih rapuh merana
terkecipak dalam rentetan do'a serta sebait sastra pengharapan
dimanakah kini tuan bersinggasana?

rafika firaka kafira yang berwajah cantik sempurna
menjual diri serta sekalian harganya
menunduk lesu dalam hatinya yang mengutuk malam
yang memaksanya berdosa
menjalani hidup hingar bingar semu fatamorgana

senja barulah lenyap saat aku menyapa sang dara
mengharap dengan hikmat akan cinta kasih dari relung sanubarinya
sang puteri menatapku lekat bagai memeluk sekujur ragaku
bebaskan aku dari lembah nista nan hina dina ini selamanya katanya

beranjak malam dia hampir mematahkan hati dan perasaan di dada
dikala seorang tuan tua beraga renta menawar tubuh indahnya
seratus ribu untuk menuntaskan nafsu syahwat menggelora
sang puja menepis hasrat setan memadu cinta

aku meninggalkannya dan berjanji membawanya pergi
langit menyaksikan tetesan air matanl, dan bumi mendengar isak tangisnya
sebuah pernikahan akan membebaskannya dari belenggu maksiat nyata
tetapi pagi ini dia ditemukan sudah tidak bernyawa

setangkai pisau menghujam,
memutuskan jalan gelap yang dijalaninya
dihabisi tuan beraga renta yang menaruh murka padanya
sudah seminggu ini aku selalu mengingat kata tanyanya
apakah engkau hendak menikahi wanita berkalang noda dan dosa ini?

Seakan Menjadi Turis (Bagian 1)

Pernah tidak kalian menemukan (baca: baru mengetahui), sebuah tempat yang sebenarnya sangat dekat dengan tempat kalian... tetapi selama ini ...