Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Januari 2019

Seberapa Pentingkah Festival Desa?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ), daring "festifal" adalah : [ 1 ] hari atau ataupekan gembira dalam rangka memperingati peristiwa penting dan bersejarah [ 2 ] pesta rakyat. Jadi, kalau pun kita tidak menamai sebuah acara sebagai Festival Rakyat, di dalam istilah festivalitu sudah ter-akomodasi unsur "rakyat" nya. Karena festival adalah perayaan atau kemeriahan, maka... Bisa saja festival itu melenceng dari esensi nya, jika yang dikejar adalah kemeriahan semata.

Kadang juga timbul pertanyaan, rakyat yang mana yang harus diutamakan partisipasinya dalam penyelenggaraan sebuah festival. Di desaku, ini adalah keharusan bagi setiap RT... dari 15 RT yang ada. Jika akhirnya lahirlah sebuah banner besar disetiap pojok Desa, Festival Budaya Dalam Rangka Nyadran Desa Talang 2018... itu mungkin sudah melalui penggagasan, dan pembahasan oleh segenap Panitia Pelaksana.

Meskipun aku dilahirkan, dan dibesarkan di Desa Talang ini. Tetapi, sesungguhnya... Aku baru 3 tahun ini berdomisili disana, setelah hampir 25 tahun lamanya berpetualang di Kota. Mengembara dari satu kota ke kota lainnya mengumpulkan harta benda, dan tidak berhasil apapun selain menjadi Casanova. Dari ketiga tahunku berada di desa ini, aku sudah tiga kali berpartisipasi dalam festival budaya desaku. Yaitu pada Nyadran tahun 2016, tahun 2017, dan yang baru saja selesai dilaksanakan yaitu Festival Budaya Dalam Rangka Nyadran Desa Talang 2018.

Selalu memiliki kesan positiv dalam setiap keikut sertaanku, walaupun selalu terbersit kekurang puasan juga. Tahun 2016 , dalam keikut sertaanku dalam Pawai Budaya ( karnafal ), aku menempatkan diri sebagai "Penggembira"... menjadi Siluman Kerbau. Kemudian, di tahun 2017 dalam even yang sama, menjadi Bayi Bontot. Dan akhirnya... Tahun ini aku didapuk ( ditunjuk ) menjadi Mayoret, yang harafiahnya adalah pemimpin barisan Drum Band. Tetapi disini aku tak lebih dari cucuk lampah ( pemimoin terdepan ), dari 12 Ibu-ibu berkostum koki... yang bergoyang "Dua Jari", mengikuti irama lagu yang diputar keras-keras dari soung system. Berjalan mengelilingi desa, melewati jalan  depan Kantor Kecamatan, pukul 13:00 sampai berakhir acara pukul 16:00.

Apakah Festival Rakyat sudah mencapai  nasnya? Dengan berduyun-duyunya antusiaswarga desaku, serta beribu orang yang melihat di sepanjang jalan... Yang konon datang dari seantero Kecamatan, juga dengan datangnya beberapa para paparazzi disana. Sudah sehebat itukah Festival Rakyat, atau Pawai Budaya dari desaku ini ?. Karnafal tingkat RT.

Andai mereka tahu, kami mengeluarkan biaya... antara Rp100.000 sampai Rp2.000.000 untuk rias dan sewa pakaian. Biaya pribadi , yang kadang harus diganti dengan menjual kambing atau lainnya. Apa yang kami cari dalam acara ini, sebuah eksistensi atau harga diri ?. Aku tak dapat menjawabnya, karena aku tak pernah kehilangan sepeser pun... dalam tata rias, aku hanya nunut ( ikut ) bagian perias saja.

Sebagai eksistensi Pawai Budaya atas nama Festival Rakyat ini aku sangat berbangga, karena desaku adalah pioneer penyelenggaraan acara nyadran seperti ini... diseluruh Kecamatan Rejoso. Dan aku sangat bangga terlibat di dalamnya, meski pun pro dan kontra... tetap mengiringi kegiatan ini. Semoga ke depan, kegiatan ini dapat terselenggara dengan lebih baik, lebih sukses, dan lebih bermaslahat kepada rakyat. Bukan hanya sebagai ajang jor-joran ( saling pamer ) kekayaan, tetapi menjadi cara berkreatifitas yang baik dan benar.

Rabu, 24 Oktober 2018

Ki Jambak Rikmodowo

Jelaslah ini bukan nama yang sebenarnya, karena dari artinya sungguh sangat menakutkan. Ki Jambak Rikmodowo, itu artinya orang tua yang menjambak rambut panjang.Rambut siapa yang dijambaknya? Karena orangnya sendiri tidak berambut panjang. Kalau maksudnya itu menjambak rambut panjang orang lain, bukankah itu suatu perkara? Siapa, yang mau dijambak rambut panjangnya oleh orang tua itu? Pasti orangnya akan marah, bisa-bisa kena pasal kriminal penganiayaan.

Pasti bukan itu maksudnya, kan kita juga mengenal sebuah nama legendaris Ki Hajar Dewantara. Dan seperti kita tahu, beliau bukan orang yang suka menghajar orang lain. Tetapi, beliau dikenal sebagai pengajar yang juga seorang Pahlawan Nasional.

Ki Jambak Rikmodowo, sebenarnya adalah nama samaran sang penulis. Dia juga sering menggunakan nama samaran Ki Bawuk Mangunhasmoro, atau Otraniw Sam, Chuck Win (Cak Win), Must Win (Mas Win), dan Fuck Win (Pak Win). Dan nama samaran yang terakhir inilah, yang sering bermasalah dengan tim redaksi. Karena dianggap tidak patut, dan atau tidak layak untuk di publikasikan. Hadhuh, padahal naskah yang dikirim sangat diinginkan mereka. Untuk pengiriman naskah anak-anak atau tinlit di majalah dia memakai nama samaran Winaruto. Agak narcis sih orangnya, padahal tampangnya tidak necis sama sekali.

Nah kembali kepada nama Ki Jambak Rikmodowo, ini ternyata ada kaitanya dengan fetish yang disandangnya. Ya, penulis adalah seorang long hair fetisher (penggemar rambut panjang) dan juga seorang long hair lover (penyuka/pecinta rambut panjang). Menggemari dan mencintai rambut panjang, rambut panjang wanita tentunya. Karena dia malah eneg kalau melihat pria berambut panjang. Sempat muncul satu pertanyaan membingungkan. Penulis itu suka rambut panjang wanita, atau suka wanita berambut panjang? Sepertinya, alternative pertama yang tepat untuk menjawab kepribadiannya. But he love woman with long hair,  tetapi dia mencintai wanita yang memiliki rambut panjang. Cinta yang bagaimana?

Sebenarnya lebih tepat disebut "pengagum" darpada "pecinta", selama tidak didasarkan pada pengertian nafsu. Tetapi bukankah akan selalu terkait, antara cinta, kagum, dan nafsu? Entahlah, mungkin tidak patut alasan itu di share dalam tulisan ini. Hubungannya dengan Jambak Rikmodowo akhirnya terpecahkan, penulis itu suka gemas kalau lihat rambut panjang wanita. Pengen ngelus, pengen nyiumin, pengen menjambak manja gimana gitu lah.

Apakah Ki Jambak ini akhirnya menjadi  anti trondhol? (bhs.jawa: berambut pendek). Tentu saja tidak, buktinya dia jatuh cinta kepada wanita berambut pendek. Kalau ini jelas menyalahi fetish-nya dong, masa pengagum wanita berambut panjang malah jatuh cinta pada wanita berambut pendek? Apakah ini sebuah karma? Tentu saja tidak, karena cinta yang ini bukan sekedar nafsu semata. Ada segumpal hati disana, yang membuatnya harus dan wajib mencintai wanita ini. Yaitu "ahlak mulia" seorang muslimah.

Tidakkah seorang wanita berambut panjang, juga bisa saja berahlak karimah? Ah, mana bisa disebut ahlukul karimah, kalau setiap hari dia pamerin rambut panjangnya. Tidak berhijab seperti kekasih penulis ini, dari satu hal itu saja sudah bisa dibedakan mana yang ahlakul karimah.

Bagaimana, apakah sudah dapat menarik benang merah dari uraian singkat nan sederhana di atas? Hubungan nama Ki Jambak Rikmodowo, dengan kegemarannya pada rambut panjang? Sangat simple dan gampang dimengerti kan? Nah, sekarang mari kita mencoba mengurai benang merah dari nama samaran penulis berikutnya, yaitu Ki Bawuk Mangunhasmoro.

(BERSAMBUNG)

Tehnik Membuat Paragraf Awal

Menulis cerita pendek membutuhkan teknik khusus. Kenapa? Kembali ke definisi, cerita pendek adalah cerita yang habis dibaca dalam sekali dud...