Jumat, 18 Januari 2019

Mamba Lovely!

Trail itu melaju kencang di perempatan yang sedang ramai, tanpa rem menembus lalu-lalang kendaraan yang ada akhirnya harus mengerem mendadak. Diantara caci maki para sopir, dan sumpah serapah pengemudi angkutan. Lalu membuat atraksi standing (mengangkat roda depannya) dengan lihai, para pedagang kaki lima di sekitaran jalanan itu memberi aplause dengan sangat meriah dan antusias. Mereka selalu terhibur saat pengendara itu melewatinya, sementara orang lain yang baru menyaksikannya cuma bisa melongo keheranan.

Meninggalkan perempatan yang akhirnya normal kembali itu, sepeda motor itu berbelok ke arah kanan. Di jalanan yang lengang itu kembali aksi standing dia perlihatkan, bahkan sekarang dengan mengangkat kedua tangannyanlepas dari stang sepeda motor. Di sebuah pintu gerbang sebuah kampus, sepeda motor itu memperlambat lajunya. Hanya sampai depan pos scurity, setelahnya dia jumping lagi hingga ke tempat parkir kampus. Dua orang scurity yang sudah hafal atraksi itu hanya menggeleng-gelengkan kepala, tetapi beberapa mahasiswa yang sudah lama menunggunya di tempat parkir itu bersorak-sorak gembira.

Mesin motor sudah dimatikannya, dengan lihai dia mengait satandard motor dengan kaki kirinya. Beberapa orang mahasiswi menghambur ke samping pengendara itu, dengan sabar menantinya membuka helm teropongnya.
Dan ketika helm itu sudah terlepas dari kepalanya, munculah seraut wajah cantik jelita dengan rambut panjangnya yang terurai indah. Aisyah 'Mamba' Dewi Masithah, mahasiswi semester akhir Fakultas Psikologi. Sudah bisa ditebak darimana dia mendapatkan gelar Mamba (sejenis ular paling mematikan di dunia) itu, karena Aisyah adalah gadis pandai yang tidak mudah disentuh.

"Seperti biasa... telat lagi lu, Is!" kata Neni, yang langsung membantu membuka jaket kulit sahabatnya itu.

"Kelas baru mulai jam 09.00 kan?" jawab Aisyah, sambil mulai berjalan merangkul bahu dua sahabatnya Neni dan Tria.

"Iya, sih. Tapi kita sudah janji hunting materi di perpus, kan?" sergah Tria yang mungil dan berkacamata itu.

"Masalah itu, serahkan padaku. Aku sudah japri Kang Memet, dia sudah bersedia menyiapkan materi-materi yang kita butuhkan." jawab Aisyah enteng.

"Kang Memet yang jualan buku, itu?" tanya Neni setengah tidak mempercayai ucapan sahabatnya itu.

"Iya, lah! Siapa lagi? Emang ada Kang Memet lain yang kamu kenal, ha?"

"Hahahaha!" mereka tertawa bersama-sama, sebelum tawa mereka terhenti mendadak karena mendengar raungan sepeda motor di dekatnya. Mereka segera menepi dengan terkejut, lalu bersama-sama memelototu sang pengendara tengil itu.

"Gadis gila!" teriak Tria, yang paling terkejut diantara mereka. Neni menyepak kaki Agnes sang pengendara, dan Aisyah memukul lembut helmnya.

Ketika helm dibuka, tampaklah seraut wajah oriental dengan mata sipitnya. Dia nyengir kepada ketiga sahabatnya itu, sebelum, akhirnya memarkir sepeda motornya disamping ketiga trail milik mereka. Trail berwarna merah dengan kapasitas mesin 250cc milik Aisyah, yang kuning milik Tria, warna biru milik Neni, dan milik Agnes berwarna hijau.

"Komang belum datang?" tanyanya.

"Kita akan mengunjunginya sepulang kuliah, dia sedang kurang enak badan." jawab Neni pelan.

"Baiklah." kata Agnes, yang sudah berjalan diantara ketiganya.

Aisyah, Agnes, Komang, Neni, dan Tria, adalah lima sekawan motor trail. Hanya mereka berlima saja, berulang kali mereka menolak bergabungnya pemotor lain. Karena mereka tidak sedang membentuk club sepeda motor. Tetapi ini adalah bentuk kekariban antara mereka, mereka sudah bersahabat sejak bangku SMP. Mereka sudah terbentuk sejak saat itu, mereka masuk SMA yang sama, bahkan kuliah pun mereka di tempat yang sama, dengan jurusan yang sama pula.

****

Usai kuliah, mereka berempat langsung membuat kebisingan di tempat parkir. Mesin sepeda motor mereka bleyer-bleyer sedemikian rupa. Seperti biasanya, semua mobil dan motor menyimpang dengan sendirinya. Mereka takut berurusan dengan kelompok para gadis ini, beberapa kejadian sebelumnya mengajari mereka untuk mengalah.

Keempat motor itu meninggalkan halaman parkir kampus, dengan meninggalkan polusi asap putih yang tebal penuh timbal. Menuju jalan raya aksi mereka syngguh sangatlah gila, berzigzag diantara rapatnya mobil dengan kecepatan tinggi. Lalu masuk jalan tol untuk sepeda motor, disinilah kegilaan mereka menjadi hiburan bagi pengendara motor yang lain.

Mereka membentuk formasi dalam posisi standing, bermacam-macam gaya dan keahlian berkendara mereka tunjukkan. Ketika tiba-tiba mereka melihat sebuah sepeda motor yang tergeletak di sisi jalan tol itu, di dekatnya tampak seorang wanita yang sedang kebingungngan. Keempat pengendara itu pun segera menepikan sepeda motornya, lalu mengadakan komunikasi dengan wanita itu. Neni menenangkan wanita yang gemetaran itu, Tria memberdirikan sepeda motor yang tergeletak di pinggir jalan itu. Agnes membeeinya minum dengan botol air mineral, sembari mengajaknya berkomunikasi.

Sementara Aisyah tetap berada di atas trail menunggu aba-aba, karena mereka yakin wanita itu adalah korban kejahatan orang tidak bertanggung jawab. Agnes kemudian bertanya kepada wanita sekira umur 30 tahunan itu, setelah dia yakin kondisi wanita itu sudah stabil.

"Apa yang terjadi, Mbak? Ceritakan kepada kami, semoga bisa membantu semampunya."

"Saya habis dirampok, tas saya dibawa kabur oleh dua orang perampok, setelah berhasil menjatuhkan sepeda motor dan saya."

" Mengendarai apa mereka, Mbak? Apa warna tas yang mereka rampok?" tanya Agnes lagi. Dan wanita itu sedang mencoba mengingat-ingat ciri-ciri pelaku, sepanjang yang dianlihat sebelum ketakutan menguasainya tadi.

"Dua orang mengendarai RX mengenakan jaket kulit hitam, keduanya tidak mengenakan helm, sedangkan tas saya berwarna coklat."

"RX, Jaket kulit hitam, tanpa helm, tas coklat, Is!" begitu selesai kata-kata Agnes, Aisyah sudah menggeber motor trailnya menembus keramaian tol khusus sepeda motor itu. Dalam perjalanan dia mengadakan kontak dengan Polsekta setempat, dan melaporkan kemana arah pengejarannya. Polisi yang mendapat laporannya, segera mengadakan pencegatan sistematis di semua ujung jalan keluar tol itu.

Lima menit pengejaran, Aisyah melihat tersangka sedang menepi dibangunan bekas Rest Area yang sudah tidak terpakai. Rupanya mereka sedang asyik membongkar hasil jarahannya, sehingga tidak menyadari kedatangan Aisyah. Sebelum turun dari motornya, Aisyah sempat mengirimkan sandi keoada Polsekta tentang keberadaan tersangka itu. Perlahan Aisyah turun dari motornya, melepas helmnya dan berjalan perlahan ke arah dua perampok yang lengah itu. Ketika mereka menyadarinya itu sudah terlambat, Aisyah sudah mencabut kunci kontak sepeda motor pelaku.

"Heh, siapa Kau! Berani-beraninya mengambil kunvi kontak motor kami, ada apa sebenarnya butet?!" logak Batak yang kental terdengar dari salah seorang perampok itu.

"Jangan cem-macem ya, Sampeyan!" satu lagi berlogat Madura.

"Kembalikan tas wanita yang kalian rampok tadi! Jika tidak, kalian akan menyesal berurusan dengan 'Si Mamba'!" gertak Aisyah dengan serius.

Oh, Sampeyan yang bergelar Mamba. Bo-abo...  sangat kebetulan saya sedang mencari sampeyan, aaya mau balas perlakuan sampeyan pada anak buah saya!"

"Jangan banyak, bacot! Serahkan segera tas itu, atau kalian menunggu babak belur dulu?!"

"Kurang ajar, rasakan ini!" teriak si Batak sambil melompat menyerang dengan pukulan lurus ke arah wajah Aisyah, pukulan itu meleset karena dengan lihai gadis itu menghindar. Belum sempat berbalik untuk menyerang lagi, satu tendangan telak dari Aisyah bersarang di ulu hati si Batak. Laki-laki brewok itu mengerang keras, sebelum tubuh gempalnya jatuh di rerumputan.

"Terima ini!" tiba-tiba si Madura nenyerang Ais dengan pisau lipat, hampir saja itu merobek lehernya seandainya dia tidak menangkis dengan jurus pencak silatnya. Pisau itu pun terlepas karena pukulan ke arah sendi bahu yang kuat, bahkan seketika tangan si Madura terkulai tak berdaya karena terpukul keras urat syarafnya. Kesempatan itu tidak disia-siakannya, dengan satu pukulan lagi ke arah rahang si perampok membuatnya terkapar tidak bisa bangun lagi. Aisyah segera mengamankan tas berwarna coklat itu, memasukkan semua yang sudah dikeluarkan oleh para begal itu.

Sebentar kemudian berdatanganlah Polisi bersenjata laras panjang, Komandan mereka menghampiri Aisyiah... dia adalah Wasito, seorang Kanit URC di Polsekta yang juga kekasih hatinya.

"Kamu sudah menyelesaikan kasus ini seorang diri lagi,Ais. Lama-lama, aku akan menjadi Polisi yang memakan 'gaji buta." kata Wasis sambil menepuk pundak kekasihnya,"Kenapa kamu tidak masuk menjadi Polisi saja, sayang?'

" Kita sudah membicarakannya, kan? Aku tidak mau bertengkar di depan semua anak buahmu, Ndan." jawab Aisyah sembari menyerahkan tas coklat barang bukti itu, karena dia melihat ketiga temannya sudah ada di lokasi itu juga.

"Aku tunggu traktiranmu, nanti malam di cafe biasanya!" kata Aisyah, yang segera diikuti suara teman-temannya.

"Kami juga, Komandan!"

Wasito memberi hormat, kemufian mengacungkan jari jempilnya ke arah para 'Gafis Pengendara' itu. Dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kekasih dan teman-temannya itu meninggalkan lokasi dengan kebisingan yang luar biasa.

"Dasar, Mamba Lovely!" teriaknya tidak berbalas.

(Tamat)

Tidak ada komentar:

Tehnik Membuat Paragraf Awal

Menulis cerita pendek membutuhkan teknik khusus. Kenapa? Kembali ke definisi, cerita pendek adalah cerita yang habis dibaca dalam sekali dud...