Selasa, 15 Januari 2019

Tresno Jalaran Soko Kulino (bagian II)

"Setelah sampai di kamar yang remang-remang itu, tiba-tiba suamiku memegang kedua tanganku. Dengan lembut dia berkata, *Kita langsung tidur saja ya, Dik. Aku sudah sangat mengantuk, suasananya juga masih rame*. Aku mengangguk, dalam seribu rasa heran. Karena yang terjadi tidak sesuai dengan cerita Ibuku, dimana suamiku akan mengajakku bermesraan"

"Tidak jadi malam pertamanya, Las?" tanya Pakdhe To sedikit kurang jelas, karena dimulutnya penuh dengan kunyahan pisang goreng.

"Ya tidak lah, suamiku tertidur cepat. Aku yang akhirnya kancilen (tidak bisa tidur), karena siang harinya Ibuku membuatkanku ramuan betah melek (tahan terjaga)" jawab Mbah Las sambil tersenyum-senyum.

"Hahahaha!"

"Jadi, kapan malam pertamanya terjadi Las?" tanya Mbah Pin, yang sudah sangat kesulitan menikmati sebuah pisang goreng karena giginya yang ompong.

"Tidak pernah terjadi malam pertama, selama dua tahun kami membina rumah tangga."

"Hah?!"

"Kenapa?!"

Bersahutan Mbah Pin dan Mbah Dun menyatakan kekagetannya, kedua orang itu sampai berdiri dari kursinya karena tidak yakin dengan pendengarannya.

"Apa yang terjadi, Mbah Las?" tanyaku ikut penasaran juga.

"Dua tahun setelah pernikahanku, saat itu umurku sudah 15 tahun. Setiap hari, kedua orangtuaku, juga kakek nenekku selalu menanyakan kapan punya anak. Hal itu kusampaikan pada suamiku, barulah semua terungkap. Ternyata, suamiku itu tidak bisa menjadi seorang laki-laki sejati... burungnua tidak bisa berdiri!" cerita Mbah Las dengan mimik agak sedih.

"Apa?!" bagaikan koor, Pakdhe Jo, Mbah Dun, dan Mbah Pin tercengang bersamaan.

"Jadi, waktu Kasiadi (suami kedua Mbah Las) menikahimu, kamu masih perawan?" tanya Mbah Pin masih dengan mimik yang belum percaya.

"Yaiya, lah. Orang dua tahun cuma dielus, dan digerayangi saja!" jawab Mbah Las bernada nakal. Justru aku yang hampir trrpelanting jatuh dari kursi, mendengar jawaban 'nakal' nenek-nenek berumur 62 tahunan itu.

"Biyayakan! (sembrono!)" melihatku hampir jatuh, Pakdhe To yang sebelumnya asyik mendengarkan cerita itu terkejut Dia memakiku, sambil memegangi punggungku yang hampir menyentuh lantai tanah warung itu.

"Lalu, bagaimana kelanjutannya... sampai kamu bercerai dengan suami pertamamu itu, Las?" tanya Mbah Dun.

"Aku ceritakan pengakuan suamikunitu kepada Ibu dan Bapakku, mereka bersepakat untuk segera menceraikan kami. Seminggu setelah perceraian itu, Kang Wasidi nama suamiku itu gantung diri di kebun belakang rumahnya. Aku pingsan saat mendengar khabar itu, sampai sakit berkepanjangan.

Bapak dan Kakekku segera mencari Dukun yang katanya sangat sakti saat itu, mereka memanggil sang dukunnitu datang ke rumah. Dua malam, dia bersama Bapak dan Kakekku menunggui aku siang dan malam.

Suatu malam, sang dukun katanya mendapat petunjuk tentang penyakitku. Dia diperintahkan untuk memberitahu Bapakku, agar segera menikahkan aku lagi dengan orang asing yang pertama melewati rumah kami. Dengan begitu, semoga sakitku mendapat kesembuhan. Karena kata sang dukun, arwah kang Wasidi masih menganggapku sebagai istrinya.

Rumah kami jauh dari jalan desa, menunggu orang asing yang melewati depan rumah seperti menunggu kambing beranak kembar lima. Mbah Dukun selama lima hari lima malam, dengan ditemani Bapak dan Kakekku secara bergiliran mengawasi jalan depan rumah.

Di hari ketujuh, lewatlah... atau tepatnya terpontang-pantinglah seorang pemuda asing. Bagai sedang dikejar setan dia berlari, menuju rumah kami. Rumah kami terletak di pinggiran hutan, agak tetpisah dengan rumah tetangga.

Rupanya, pemuda itu sedang dikejar puluhan monyet liar. Ya jelas monyetnua mengejar, karena pemuda itu mengambil paksa seekor bayi monyet yang didekapnya di dada. Mbah Dukun segera tanggap, lari pemuda itu dihentikan
, kemudian mengambil anak monyet yang digendongnya itu... diletakkannya di dahan rwndah sebuah pohon rendah. Kawanan monyet itu pun segera pergi, setelah berhasil membawa sang bayi monyetnya.

Dan tentang si pemuda itu, dua jam lamanya dia gemetaran tak bisa berkata-kata. Ketakutan dan kepanikannya yang luar biasa, membuatnya hampir menjadi gila. Untunglah, Mbah Dukun yang sakti itu segera menyuwuk (menjampe) pemuda itu hingga kembali sadar.

Ibu dan Nenekku menghampiri pemuda gunggungan (over) itu, membawakanya nasi yang dibungkus daun jati dan lauk di dalam cuwo (baskom dari tanah liat). Dengan tanpa sungkannya, nasi dan lauk itu pun dilahapnya dengan tandas.

Pemuda pencari rumput, yang berasal dari desa ini ternyata mau dinikahkan denganku. Siang itu ju
ga kami dinikahkan, dan ajaibnua... sakitku pun sembuh seketika!" cerita Mbah Las dengan panjang lebar.

"Pemuda itu adalah, Kasiadi?" tanya Pakdhe To.

"Iya, dia memberiku lima orang anak lelaki selama hidupnya. Waskito, Warsito, Wardoyo, Wariono, dan Wassiyo. Semuanya aku yang memberibnama, mengambil nama awalan nama Kang Wasidi almarhum"

"Wah, Mbah Las hebat!" pujiku kagum pada wanita itu, atas daya ingatnya yang kuar biasa. Kisahnya sangat menghebohkan, jika sampai tetdengar oleh para produser sinetron atau FTV.a puring fan gelas kotor Mereka akan datang berduyun-duyun ke desaku ini, mewawancarai Mbah Las. Atau membeli kisah nyatanya itu, untuk dibuat film atau sinetron

"Sudah ah ceritanya, aku mau ke belakang mencuci gelas dan piring kotor!"

"Jangan ke belakang dulu, aku juga mau pulang. Ini, semua yang makan dan minum di warung ini aku bayari semuanya!" kata Mbah Dun yang kesehariannya adalah seorang blantik (penjual ternak).

"Alhamdulillaah!"

Sepulang dari warung itu, kepalaku semakin dipenuhi dengan banyak pertanyaan. Orang pada jaman dulu ternyata benar membikin satu kata petuah. Tresno Jalaran Soko Kulino. Tresno yang tidak didasari nafsu duniawi, tetapu justru adalah sebagai penjaga hati. Cinta kepada orangtuanya, juga cinta pada sang penciptanya. Cinta yang tidak mementingkan diri sendiri, antara ketaatan dan kepatuhan yang dahsyat.

Shubhanallaahul adziim.

Tamat.

Minggu, 13 Januari 2019

Tresno Jalaran Soko Kulino (bagian I)

Sebenarnya, ini bukan artikel fiksi. Karena aku melakukan riset dan observasi mendalam tentang tulisan ini. Mendatangi tempat-tempat yang jauh dari keramaian dan hingar bingarnya kota, ke pelosok-pelosok hutan, lembah dan, pegunungan. Rencananya sih begitu, tapi tidak jadi aku lakukan. Karena kesibukanku yang lain, menjadi pelukis tembok amatiran sdang menghadapi deadline.

Tulisan ini berawal, dari obrolan di 'Warung Mak Yah' yang sedang viral di beberapa media pemberitaan nasional. Warung kopi di sudut kota Nganjuk itu menjadi viral, karena pelayan cantiknya adalah mantan pemain sinetron dan FTV. Rencanaku memang mendengar obrolan di warung itu, tapi kuurungkan, karena tidak ada kendaraan tumpangan menuju kesana.

Nah, yang kudengar adalah obrolan di warung 'Mbah Las' yang terletak tepat di belakang rumahku. Bukan warung mantan artis sinetron, atau pemeran FTV. Tapi kisah hidupnya, jika disinetronkan pasti akan banyak menguras air mata. Karena itu, dianjurkan untuk tidak sambil memotong bawang merah saat melihat sinetron.

Di warung Mbah Las pagi itu, terlihat agak banyak pembelinya. Jam segitu, memang waktunyan orang memanjakan diri. Para buruh tani sedang sepi job, karena musim panen baru saja selesai. Para pencari kayu bakar tidak berani pergi ke hutan, karena himbauan tentang bahaya banjir dan tanah longsor. Nah hal terbaik yang bisa mereka lakukan adalah, bertemu kawan-kawan lama di warung yang sederhana ini. Ngobrol kesana-kemari, diakhiri dengan gelak canda tawa ria mereka. Itu adalah obat awet muda, kata mereka.

Ketika aku mulai duduk diantara mereka, aku tertarik dengan tema pembicaraan yang sedang berlangsung. Membahas masalah perkawinan atau pernikahan, yang mereka alami pada jaman dahulu kala. Antara tahun 1940.

"Aku dulu, dinikahkan orang tuaku dengan istri pertamaku, saat usiaku masih 17 tahun" kata Mbah Pin yang berusia sekitar 75 tahun membuka pembicaraan.

"Emangnya siapa istri pertamamu, Kang?" tanya Pakdhe To yang merasa tertarik, dengan cerita Mbah Pin.

"Orang desa sebelah, masih 13 tahun umurnya. Aku ingat, dia menangis meraung-raung waktu ijab kabul dilaksanakan. Sampai harus digendong kesana kemari, sama Bapak mertuaku."

"Hahaha!" kami semua yang mendengarnya, tertawa terpingkal-pingkal karenanya

"Tapi, Mbah. Masa umur 13 tahun sudah dinikahkan?" tanyaku penasaran, apa benar begitu? Usia 13 tahun jaman sekarang, palingan baru kelas 6 SD.

"Iya, Le. Bahkan usia segitu, ada yang sudah menjanda dua kali" jawab Mbah Dun dengan wajah serius dan menatapku,"Kalau tidak segera dinikahkan, nanti siapa yang membantu orangtua mereka membesarkan adik-adik mereka? Biasanya,  hanya anak sulung yang dinikahkan seusia itu, kalau anak kedua atau ketiga biasanya agak lebih tua sedikit."

Kulihat Mbah Pin menganggukkan kepala, tanda menyetujui perkataan Mbah Din. Pakdhe To dan Mbah Las pun seakan mengiyakan.

"Anak seusia itu, apa paham masalh rumah tangga Mbah?" tanyaku pada Mbah Pin, kakek tua itu tersenyum setelah meneguk sedikit air kopinya dar cangkir.

"Kamu jangan salah, pada jaman itu anak-anak tidak bersekolah. Waktu mereka hampir sebagian besar berada di sekeliling rumah, ibu atau neneknya mengajarkan memasak, menganyam tikar, mencuci baju, dan membersihkan rumah, untuk anak perempuan. Sedangkan untuk anak laki-laki, adalah tugas bapak atau kakek, mengajarkan membuat kerajinan,. memelihara ternak, mencari pakan ternak, berladang atau bekerja di sawah" Mbah Pin menjelaskan secara panjang lebar, sambil menerawang kembali masa lalu.

"Aku dulu sudah jadi pangon (memelihara ternak orang lain, dengan upah bagi hasil) sejak umur 9 tahun, umur 13 tahun sudah punya Sapi sendiri. Waktu dinikahkan, Sapiku sudah 3 ekor. Karena itu, walaupun menikah muda aku tidak membebani orangtua." imbuhnya lagi.

"Tidak seperti anak jaman sekarang, dari menikah sampai beranak pinak tetap 'merepotkan' orangtuanya!" kata Mbah Din sambil melirik pada Pakdhe To, yang dilirik pun jadi salah tingkah.

"Jadi, Mbah Pin, Mbah Dun, Mbah Las, dan Pakdhe To, dulu menikah tanpa pacaran?" tanyaku penasaran, disambut gelak tawa mereka bersama-sama.

"Hahahaha!"

"Orang Jawa itu romantisnya lain, Le. Tidak seperti tampak di sinetron-sinetron itu, mrngobral janji, mengobral kata cinta" jawab Mbah Dun pelan,"Tanyakan saja Mbah Kas, dia dulu juga menikah di usia dini. Sampai sekarang tetap hidup rukun, sampai bercucu bercicit."

"Iya, Le. Aku dulu menikah dengan Mbah Kas ( suami Mbah Las), ketika itu umurku 14 tahun. Ibuku hanya bilang aku akan dinikahi  seorang pemuda dari sebelah desa, siapa pemuda itu juga aku tidak tahu."

"Kamu, tidak meraung-raung waktu dinikahkan?" goda Mbah Dun.

"Tidak, lah. Karena setiap malam sebelum tidur, ibuku selalu bercerita tentang seputar pernikahan dan mengelola rumah tangga. Untungnya, suamiku juga tinggal di rumahku setelah pernikahan. Jadi aku bisa langsung bertanya pada ibu, saat kesulitan melakukan sesuatu."

"Pertama bertemu Mbah Kas, apa langsung tumbuh perasaan cinta Mbah?" tanyaku padanya.

"Cinta? Hahaha! Aku malah sebel sama Mbah Kas muda, katanya baru berumur 17 tapi kok berewokan? Hahaha! Aku sampai protes sama ibuku, karena menyangka aku dinikahkan dengan bapak-bapak!"

"Hahahaha!" semua tertawa dengan riuhnya, hanya Mbah Kas yang kulihat tersipu-sipu.

"Lhah! Jadi kalian semua dulu menikah, tanpa dilandasi 'cinta' sama sekali?" tanyaku kepada semua yang ada, mereka tampak tidak menunjukkan wajah kaget dengan pertanyaanku itu.

"Jawab pertanyaan Cah Gemblung ini, Dun!" kata Mbah Pin pada sahabat masa kecilnya itu, yang ditunjuk mengangguk setuju.

"Begini... justru pernikahan orang Jawa di masalalu itu,  sarat dengan cinta dan kasih sayang. Apa buktinya?
1. Mereka menikah karena dijodohkan, bukan karena pilihan sendiri. Mereka menerima perjodohan itu dengan sabar dan patuh, karena mereka cinta dan sayang kepada kedua orangtuanya.
2. Mereka menerima jodoh yang belum mereka kenal sebelumnya, tinggal serumah sebagdi suami istri. Itu adalah bentuk pengabdian yang istikhomah, yang didasari cinta kepada ajaran budaya dan agama.
3. Mereka yang dijodohkan utu, sejatinya sedang membina rasa cinta dan kasih sayang bersama. Karena, orang Jawa berprinsip Tresno Jalaran Soko Kulino (cinta tumbuh karena kebiasaan). Bagaimama, sudah paham kamu?" kata Mbah Dun, diakhiri dengan pertanyaan untukku.

"Sudah faham sebagian, Mbah. Yang Ttersno Jalaran Soko Kulino saja yang belum faham, aku"

"Dasar bocah Gemblung, kalau yang ini biar Mbah Kas saja yang menjawab. Langsung kepada pelakonnya sendiri, yang memulai berumah tangga dimulai dengan 'sebel' itu."

"Hahahaha!"

Mbah Kas yang ketiban sampur (tiba-tiba mendapat giliran) jadi mendumel, saat itu baru saja dia menyelesaikan menggoreng pisang.

"Baiklah, aku ceritakan sambil istirahat. Ini goreng pisangnya, silakan habiskan... tapi jangan lupa bayar!"

"Hahahaha!"

Kami pun segera mencomot satu persatu pisang goreng yang masih panas itu, mencuilnya sedikit demi sedikit ke dalam mukut.

"Tinggal sekamar dengan lawan jenis yang baru kita kenal, itu butuh nyali yang sangat luar biasa. Sebelumnya, kami mengobrol di ruangan tengah dengan seluruh keluarga. Bapakku, Ibuku, Nenek Kakekku, Suamiku, dan aku memangku adik terkecilku.

Kami mengobrol tentang apa saja, bercanda bersama, tertawa bersama, sambil menikmati hidangan singkong rebus dan kopi pahit. Jam demi jam tidak ada yang meninggalkan ruangan itu, terlalu sayang melewatkan kebersamaan yang asyik itu. Sampai akhirnya, ibuku mengusir aku dan suamiku untuk segera pergi ke kamar tidur. Tentu saja, itulah ketegangan kedua yang aku rasakan setelah ketegangan waktu ijab kabul kemarin.

Aku dan suamiku pun tidak bida menolak lagi, beriring-iringan kami berjalan menuju tempat tidur. Aku berjalan di depan sumiku, yang tampak juga masih malu-malu.

(bersambung)

Jumat, 11 Januari 2019

Antara Pak Hamish Daud, Dita, Sovia, Dan Chat Godaan.

"Sov, kamu tahu bapak-bapak lebbay yang suka menggoda para wanita di WAG¹ kita?" tanya Dita pada Sovia sahabatnya, sambil membetulkan letak kacamatanya yang melorot karena gerakan.

"Iya, Pak Hamish Daud. Emang kenapa?" jawab gadis beralis tebal yang tengah asyik memelototi, deretan bilangan rupiah di Menu Book Cafe itu.

"Semalam dia menggodaku!"

"Diajak nikah?"

"Tidak!"

"Diajak mabar?"³

"Kagak!"

"Diajak nonton?"

"Bukan!"

Sovia dengan ekspresi 'sangat tidak faham' menghentikan kegiatan mengasyikannya, lalu menoleh pada gadis mungil yang sedang mempermainkan gawainya itu.

"Emang Pak Hamish Daud godain kamu apa? Gak jelas gitu sih?" tanyanya 'berbau serius'. Yang ditanya malah menyodorkan gawainya pada Sovia, yang langsung diterimanya dengan penuh 'tanda tanya'.

"Apaan, nih?"

"Baca saja sendiri, tu di chatingan."

Sovia baru memahami kemauan sahabat penulisnya itu, dia lalu membuka percakapan chat itu dengan antusias.

[15/01/2019   19:09] Dita: *foto story*
[15/01/2019   19:20] P.Hamish: Cantikyaaa...
[15/01/2019   19:21] Dita: yeu
[15/01/2019   19:22] P.Hamish: *emoticon malu-malu*
[15/01/2019   19:23] Dita: Apa Kakek? awas ga jelas aku slepet pake kerikil yeu.
[15/01/2019   19:25 P.Hamish: *emoticon tertawa* (Selesai)

Sovia membaca chat itu berulang-ulang, sampai sebegitunya dia belum mengerti juga. Dia pandangi wajah Dita yang sedang menyantap fried noodles pesanannya, kelihatannya tidak sedang 'sakit jiwa'.

"Aku gak faham maksudmu, Dit. Meskipun kubaca berulang kali percakapan chatmu dengan Pak Hamish, tetap saja aku tidak menemukan kata godaan disana."

Dita menghentikan kecapannya, menyeruput jus jeruk di depannya. Lalu dengan wajah keheranan, dia mencoba menjelaskan.

"Ah, Sovi. Sudah jelas disitu, Pak Hamish sedang menggodaku dan sedang berusaha merayuku kan?"

"Yang mana, sih?"

"Yang ini!" jawab Dita cepat, sambil menunjuk salah satu percakapan:
[15/01/2019   19:20] P.Hamish: Cantiknyaaa...

Sovia terkejut, lalu membungkam mulutnya yang tiba-tiba tertawa dengan kerasnya. Dia tidak menyangka, akan mendapatkan jawaban seperti itu.

"Kenapa tertawa?" tanya Dita sambil mengernyitkan dahinya, kemudian menyeruput air jus jeruknya lagi.

"Pak Hamish hanya berkata 'Cantiknyaaa', dan kamu mengira dia sedang menggodamu?"

"Lalu apa kalau dia tidak sedang menggodaku, ha? Dasar, orang tua Kakek-kakek tidak tahu diri. Menggoda gadis imut sepertiku, sorry yeuh!"

"Hahaha!" Sovia tertawa dengan sangat kerasnya, sambil perlahan-lahan mengeluarkan gawai dari saku seragamnya. Sebentar menutul layar touchscreennya, lalu menyodorkannya pada Dita.

"Baca yang ini!" kata Sovia, yang wajahnya masih tampak ingin tertawa. Dita menerima gawai Sovi, lalu membacanya.

[15/01/2019   15:01] Sovia: *story foto*
[15/01/2019   19:23] P.Daud:  Cantiknyaaa...
[15/01/2019   19:25] Sovia: Terima kasih Pakdhe... (Selesai)

"Apaaah??? Dia menggodamu juga? Dasar Kakek-kakek genit!" kata Dita sambil mengangsurkan gawai itu kepada pemiliknya.

"Ish, Kamu! Pak Hamish tidak sedang merayu siapapun, Dit."

"Lalu untuk apa bilang cantiknya, kalau tidak sedang menggoda?"

"Kamu merasa cantik tidak?"

"Cantik lah, dan imut!"

" Tuh, kan. Kalau ada orang memujimu cantik, kenapa jadi sewot?"

"Gak tahu sih, Sov. Setiap Pak Hamish memujiku cantik, aku selalu merasa dia sedang berusaha menggoda dan merayuku!"

"Jangan-jangan, kamu yang jatuh cinta padanya ya?" goda Sovia sambil memukulkan bahunya ke bahu Dita.

"Ngaco, Kamu! Sama Kakek-kakek, aku mana mau. Dan lagi, si Kakek Hamish Daud itu sudah punya pacar!"

"Kok kamu tahu?"

"Dulu kami di Hope Land bersama-sama, si Kakek biang heboh. Dia suka pamerin kekasihnya di group, jadilah kita bully rame-rame." Dita tersenyum-senyum, mungkin sedang membayangkan masa-masa itu.

"Jadi, bagaimana nih? Masih menganggap Pak Hamish menggodamu?"

"Ah, lupain aja yuk. Kita makan pesanan kita, lalu sama-sama kita godain cowok di WAG kita!" kata Dita ceria, Sovia sekali lagi memukulkan bahunya ke bahu sahabat baiknya itu. Mereka pun tertawa bersama-sama, dan beberapa kali berselfie ria dengan muka lucu mereka.

Mereka tidak menyadari, Pak Hamish Daud sedang berada di dalam cafe itu juga. Pria 47 tahun itu langsung mengirimkan pesan WA, ke akun dua gadis itu.

Melihat dari cara kalian tertawa, aku mengira... kalian sedang membicarakan chatku di story foto kalian ya? Benar yang kalian bicarakan loh, aku memang sedang memggoda dan merayu kalian. Cantiknyaaa...

Kedua gadis itu tersedak bersamaan, berdiri dari kursi beberengan, lalu celingukan mencari-cari sosok si pengirim pesan. Mereka mulai bertanya-tanya, ini cerita bagaimana juntrungnya? Pak Hamish orang Nganjuk, Dita tinggal di Depok Jawa Barat, dan Sovia rumahnya Manado. Kenapa mereka bisa kumpul di Jakarta Cafe? Mabuk mungkin ya yang nulis? Atau, jangan-jangan Pak Hamish janjian kopdar (bertemu) dengan salah satu di antara mereka? Siapa? Dita? Diah?

"Winarto Sabdo! Ayo bangun! Tidur kok di meja kerja! Sana pindah ke kamar!" Ibu membangunkanku dengan lembut, aku mengangguk dengan malas. Berdiri perlahan-lahan, hampir meninggalkan meja kerjaku. Ketika terlihat beberapa ketikkan di blogspot.com.

Alamaaak!!!
Rupanya aku tertidur saat sedang mengetik sebuah cerpen, belum sampai selesai tapi sudah kutuliskan judulnya; Antara Pak Hamish Daud, Dita, Sovia, dan Chat Godaan. Kok ceritanya berakhir seperti begini?

Rabu, 09 Januari 2019

Tuku Empal 80 Juta Akire Mblenger Klenger

Lhadalah! Tuku konok onggrok ngana wae nganti 80 juta, kanti rega sing padha lan kanggo keperluan sing padha... neng Guyangan (Lokalisasi neng Nganjuk), dhuwit semana kuwi isa tumbas empal brewok ping 1000. Xixixi... penulis dhewe ora tau ngerti, ora tau ngana kuwi, ya ngerti regane saka kanca kang dadi security ana panggonan kuwi.

Ayo digagas siji baka siji... apa kaluwihane 'dalan banyune' Vanessa Angel, dibandingna dalan banyu liyane (nggone mbok ndewor liyane). Aja ngremehake 'penulis' dhisik, babagan ngana kuwi penulis wis pengalaman. Dudu merga penulis seneng utawa sering mlebu komplek lokalisasi, tapi amerga penulis wis tau nikah ping 3. Wis duwe putu 3 uga, sanajan umur isih 47 taun.

Mbalik neng tanktop! Eh Laptop!. Ora usah nggagas uripku, ayo nggagas kang luwih wigati, pitakonane yakuwi:
Kena ngapa ana sawijine pawongan, kang gelem nuku pelayanan plus-pluse Vanesssa Angel nganti 80 juta? Apa kaluwihane?

1. Merga ayune VA?
Akeh sing luwih ayu, luwih denok deblong moblong-moblong tinimbang dheweke. Kanggone penulis, VA jik kalah ayu timbang NK (Nella Kharisma). Tapi penulis ya isih mikir jero yen dikongkon nuku NK 80 juta. Atase penulis bayaran mingguan wae kok kemalan tuku konokan, kuwi uga nek tulisane tembus neng redaksine mojok.co

2. Leladene VA kang ngedab-ngedabi.
Iki kaya apa? Kok nglayani turu wae nganti ngedab-ngedabi? Opo ujug-ujug VA isa malih dadi Wonder Woman? Sing nduwe kekuwatan super, saengga digenjot suwengi muput ora krasa? Lhah nek ngene iki tenan, kan padha kaya ngeloni gedebog?

3. Merga VA artis.
Kok penulis nembe 'ngeh' nek VA kuwi artis? Iki artine, masia bergelar artis tapi VA ora terkenal. Saliyane kasuse musuh Jeane Shalimar karo Didi Soekarno neng 'selebrutu', penulis ora kenal, ora weruh, lan ora ngerti.

4. Isa nunut terkenal.
Lha VA wae ora terkenal, yen ngeloni VA isa dadi terkenal. Opo 'perkelonane' direkam neng hape, terus disebar-sebarake nggone bocah sekolah? Ora usah ragat nganti 80 juta, kelon wae karo lonthe komplek... terus bojomu kongkon 'nggropyok' nggawa Pulisi. Dijamin, sesuk wis metu neng siaran 'Pojok Kampung' tipi JTV. Ngene paling pemberitaane.
"Uwong lanang sing lagi ngipik-ipik Balon Guyangan, digropyok bojone barek nggawa Pulisi. Bareng ditakoni Pulisi, jawape uwong lanang iku empal brewoke bojone wis gak empuk maneh!" ngana kira-kira siaran berutane. Xixixi.

Tapi yo ora maido, yen lagi karep tur bondone cumepak. Pepinginan apa wae, ibarate ya nggur kari ngengon. Pengen apa wae mesti keturutan, nanging apese kok ya pengine njanjal empal brewoke artis. Utawa genahe karep, pengen kelon karo artis. Lha ora ngerti yen 'perzinahan' kuwi ana ukume, ngglethek akire dijecrek digawa neng pulisi. Disiarno neng tipi, ya jelas ngisin-ngisini.

Selasa, 08 Januari 2019

Adhipati Suloyojiwo

Rakyat mulai kasak-kusuk dengan cara pemerintahan Adhipati Suloyojiwo (sakit jiwa), setelah setahun memerintah di Kadhipaten (kabuparen) Guwosrono. Kegemarannya pada perempuan cantik, membuat sistem pemerintahan menjadi amburadul. Dia mengangkat beberapa Demang (camat) baru, di wilayah Kademangan (kecamatan) yang sudah dulu ada. Semua itu adalah demi melancarkan aksi bejatnya, meminta upeti wanita cantik kepada para Demang bawahannya.

Adipati Suloyojiwo, sesungguhnya bukan nama sebenarnya. Tapi rakyatnya yang memberikan nama itu, imbas dari rasa ketertindasaan, keputusasaan, dan kebencian yang berlarut.

Namanya adalah Pangeran Sujiwotejo, putra kedua dari Adhipati sebelumnya Gusti Kanjeng Adhipati Pangeran Jiwotomo. Dia menggantikan kedudukan Ayahandanya, setelah Sang Adhipati ditemukan meninggal mendadak di tempat tidurnya. Rakyat menduga, beliau sengaja diracun... bukan meninggal karena sakit, seperti yang diumumkan oleh fihak Kadhipaten.

Penobatan Suloyojiwo sebenarnya sudah menuai konflik dan perdebatan, di kalangan Petinggi Kadhipaten Guwosrono. Karena sesungguhnya ada yang lebih berhak menduduki jabatan itu, yaitu putra sulung Adhipati terdahulu, atau anak tertuanya yang bernama Pangeran Jiwosutro. Semua pembesar, dan penasehat Kadhipaten sebenarnya sudah memberi saran baik kepadanya, tetapi Patih Gerahpolo, yang juga paman sang pangeran, justru mendukungnya.

Saat itu sang Pangeran Jiwosutro sudah menjabat menjadi Demang Kasangon, untuk persiapan memggantikan Ayahandanya. Tetapi hal ini, sama sekali tidak menjadi bahan pertimbangan Patih Gerahpolo untuk mendukungnya mwnjadi Adhipagi pengganti.

Sifat baik budi, dan kesederhanaan dari Pangeran Jiwosutro, sungguh sangat bertentangan dengan watak adiknya. Sang kakak lebih bersifat sabar dan bijaksana, sederhana, tetapi sangat berwibawa di mata seluruh rakyat Kadhipaten Guwosrono. Apalagi rakyat Kademangan Kesangon, sangat mencintainya sepenuh jiwa raga.

Sedang sang adik berwatak sombong, serakah, suka berkata jorok, juga kasar perangainya. Yang paling parah, kegemarannya mengganggu wanita cantik. Sudah berpuluh-puluh wanita cantik, yang dilecehkan kehormatannya, yang diperkosa, dirampas kehormatannya. Bahkan,  beberapa orang gadis memilih mengakhiri hidupnya. Karena merasa ketakutan, akan menjadi korban sang Adhipati mesum itu.

Hingga suatu ketika, dia mencoba memaksa istri Demang Besantri untuk melayani nafsu bejatnya. Saat itu Sang Demang diperintahkannya untuk menarik pajak hasil bumi dari rakyat, sehingga dia leluasa pergi ke Kademangan menggoda istrinya.

Istri Demang yang bernama Sundari itu memang berparas sangat cantik, kulitnya putih bersih, dan bentuk badannya sangat menggoda.  Suloyojiwo sangat tergila-gila pada paras ayunya, tetapi justru Demang Besantri yang berhasil mempersuntingnya. Setelah menjadi Adhipati, Suloyojiwo kembali merayu Sundari untuk menjadi istrinya.Tetapi Sundari menolak keinginan sang Adhipati, mulai dengan cara halus sampai mencoba melarikan diri ke dalam kamar, ketika Suloyojiwo berusaha memaksakan kehendakknya. Tetapi Suloyojiwo tetap mengejarnya hingga ke dalam kamar, untunglah Sundari berhasil melarikan diri melalui jendela kamarnya.

Suloyojiwo memerintahkan semua prajuritnya untuk mengejar wanita itu, yang kondisinya sudah setengah telanjang. Beberapa orang prajurit melihatnya berlari menuju ke tengah hutan, mereka mengejarnya beramai-ramai.

Sundari, sejatinya bukan wanita sembarangan. Dia adalah putri, dan juga murid dari Ki Dhawuk Getih, seorang Maha Guru Padhepokan Ilmu Kanuragan yang sangat sakti. Tetapi, Sundari sudah berprastya kepada suaminya untuk tidak menggunakan kesaktiannya di wewengkon (wilayah) Guwosrono.

Di dalam pelariannya ke tengah hutan, Sundari berpapasan dengan seorang nenek pencari kayu bakar. Melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan, nenek itu segera menyadari apa yang sedang terjadi. Dia menyembunyikan Sundari di bawah sebatang pohon nangka, dengan kesaktiannya dia membuat tubuh Sundari tidak terlihat oleh musuh.

Sebentar kemudian, para prajurit yang mengejarnya sampai ke tempat nenek sakti tersebut.

"Hei, Nenek tua! Apakah kamu melihat seorang wanita di sekitar sini, atau berlari melewati tempat ini?!" seorang prajurit dengan kasar bertanya, nenek itu menggelengkan kepala tanpa meningu lawan bicaranya.

."Periksa sekitaran tempat ini, usik dedaunan kering! Daun yang tengkurap, tengadahkan!" seorang prajurit tua memberi perintah. Sembilan prajurit lainnya mengiyakan, dan segera berpencar ke segala arah.

Sementara itu, Si Nenek mendekati prajurit tua yang memberi perintah tadi.

"Sebenarnya, apa yang sudah terjadi Ndoro (tuan) Prajurit? Kenapa kalian mengejar-ngejar seorang wanita di tengah hutan ini?" tanyanya, sambil tak henti memunguti ranting kering disekitarnya. Prajurit tua itu menoleh ke arah sang nenek, kemudian duduk di sebuah akar pohon yang besar.

"Wanita yang kamu maksud itu bernama Sundari, Nyai. Dia adalah calon istri Kanjeng Adhipati Sujiwotejo, atau tepatnya Kanjeng menginginkan dia menjadi istrinya. Tetapi, wanita itu menolak dimuliakan. Dia memilih melarikan diri ke hutan. (bersambung)

Senin, 07 Januari 2019

Asmara Pujangga

Anastasia Bona Rhapsodyna Siman

Keanggunannya mempesona jiwa

Kecantikannya sempurna

Istimewa

Suami tercinta hanyalah biasa

Siman penulis tua

Bertabur keagungan

Cinta

Duapuluh dua tahun usianya

Ketika jatuh cinta

Padanya pujangga

Sederhana

Puisinya menghipnotis ghairah kasih

Sajaknya membelai nurani

Tiada tertahankan

Asmaranya

Lelaki tua itu tiada berdaya

membendung hasrat dahana

Gelora rindu

Menggebu

Anastasia meratap menyekap berahi

Siman menjauh sia-sia

Janjipun terikrar

Menyatu

Malam dingin gelap senyap

Dua hati bercumbu

Gubuk asmara

Bersaksi

Pujangga tua memangku bulan

Membelai bintang gemintang

Mencumbu mayapada

Sejati

Anastasia menangis dalam dekapan

Telah mempersembahkan kehormatannya

Menggenggam damba

Hidupnya

Siman teramat menyayangi bunganya

Anastasia adalah semangatnya

Selalu bersama

Selamanya

Rabu, 02 Januari 2019

Cinta Dusta

kepada jiwa yang kelam
engkau memasrahkan hati
kasih sayang
cintamu

kini hanya menuai derita
dalam hatimu meratap
menggugat kesetiaan
semu

pergi dia menjauhi cakrawala
membawa serta deritamu
dalam kekecewaan
meratap

kini hanya tetesan airmata
menyesal tiada terkira
menyerahkan segalanya
sia-sia

cinta lah menghancurkan raga
isakan tangis duka
menggerogoti lara
binasa

Tehnik Membuat Paragraf Awal

Menulis cerita pendek membutuhkan teknik khusus. Kenapa? Kembali ke definisi, cerita pendek adalah cerita yang habis dibaca dalam sekali dud...