Minggu, 07 Oktober 2018

Tsunami Telah Merenggut Anak Kita

Wanita itu berlari di tebaran pantai yang basah. Angin meriapkan rambut putihnya yang basah. Memandang batas cakarawala dengan hati yang gundah. Yang dinantikannya hari ini akan datangkah?

"Kanda! Nahkoda bertuah!" teriaknya dalam selaksa pasrah.

Debur ombak menyentuh ujung jemarinya tak terasa. Sudah dilaluinya sepanjang hari sepanjang masa. Namun tak jua terlihat bayang bahtera kekasih kerinduannya, tempat dimana dia akan menyampaikan berita.

"Kanda! Nahkoda bertuah, datanglah!"

Anak yang dikandungnya dulu kini pernah tumbuh dewasa. Seperti dirinya pun merindukan pengukir raganya. Tetapi gempa tsunami telah melenyapkan nyawanya.Tergeletak mayatnya nun jauh di ujung desa.

"Kanda! Nahkoda bertuah, pulanglah!"

Kekasih tetap datang ke pinggir pantai ingin memberi tahu. Kepada dia yang telah berlayar berpuluh tahun lamanya. Tubuh rentanya masih tetap setia menunggu di ujung dermaga, Tunaikan janji indah yang akan mengikat jiwanya menyatu selamanya.

Rindu yang tiada terbantah. Menghajar raga yang telah renta. Berteriak kepada luasnya samudra. Pada kekasih hatinya yang ada di balik cakrawala. Berjanji mencarikan harta untuk meminangnya.Menjadibisri sang nahkoda bertuah sang bajak samudera.

"Kanda! Nahkoda bertuah, maafkanlah!"

Kerangka tua itu pun rapuh. Ambruk tak bernyawa di tepian segara. Dibelai angin senja yang meraung dengan dahsyatnya.Dilingkupi temaram jingga yang marah. Rindu menguburnya bersama kesetiaan. Ombak berontak. Deburnya menyeret raga tua nan tiada berdaya. Menghantarkannya ke dasar samudera. Menyatukannya dengan belulang  kekesih yang dinantikannya. Dia telah binasa.

Sabtu, 06 Oktober 2018

Wanita Beraroma Surga

[04:15 06/10/2018] Annisatul Jannah: Mas shubuhan yuuk...
[12:10 06/10/2018] Annisstul Jannah: Mas sholat Dhuhur dulu yaaa...
[15:25 06/10/2018] Annisatul Jannah: Mas ganteng sudah sholat Ashar belum?
[17:45 06/10/2018] Annisatul Jannah: Maghriban dulu Mas...
[19:10 06/10/2018] Annisatul Jannah: Mas waktunya sholat Isya yaa...

Notifikasi WA ku selalu berbunyi, saat menjelang waktu menjalankan sholat wajib. Dan... Wanita nun di seberang lautan sana, tiada bosannya selalu mengingatkanku. Wanita bergamis, berhijab syar'i yang kukenal di komunitas ODOP (One Day One Post) ini.

Namanya Annisatul Jannah ( wanita penghuni surga), sangat sesuai dengan namanya. Wanita 35 tahun itu adalah seorang janda, memiliki 2 orang anak yang duduk di Sekolah Dasar dan Sekolah Taman Kanak-kanak. Dia adalah Pekerja Sosial dalam bidang kesehatan, juga sebagai relawan pada beberapa Badan Amal di kotanya. Seorang blogger, editor, job writter, seorang author, bookstagrammer, dan beberapa jabatan penting di Komunitas Kepenulisan Nasional lainnya.

Sebagai seorang single parent,  dia adalah Ummi yang baik... bagi kedua buah hatinya. Hampir apapun dia lakukan sendiri... mulai dari memasak, mempersiapkan anak-anaknya bersekolah, mengantarkannya kw sekolah, menjemputnya sepulang sekolah, semua dia lakukan dengan penuh kasih sayang... seorang diri.

Menanamkan ilmu agama semenjak dini adalah program pwmbelajarannya, tidak heran... kedua anaknya adalah penghafal Al-Qur'an atau hafizah di sekolahnya. Tetapi dia juga seorang ummi yang sangat disiplin, mendidik kedua anaknya dengan cara Islami. Mengajarkanya ilmu berbagi kepada sesama, mengajarkan rasa rendah diri, mengajarkan mereka menghormati orang tua... bahkan mereka diajarkan berkomunikasi secara Islami. Dimulai dari mengucapkan salam assalamu'alaikuum, dan membalas salam waalaikumusalaam, bertasbih, bertahmid, bershalawat hampir setiap harinya.

Sebagai seorang yang memiliki sifat liar, sungguh sangat "mengherankan" aku tertarik dengan wanita itu. Wanita bergamis dan berhijab, pada masa lalu... aku suka sekali mencemooh penampilan seperti itu, sebagai dandanan "sok Islam". Tetapi... entah mengapa aku tertarik, untuk mengenalnya lebih dalam lagi Mengapa aku merasa, wanota ini memang dipertemukan denganku... karena Alloh ingin agar akhlakku diperbaiki. Wallaahu a'laam bi sawaf.

Aku yang seorang long hair fetisher (penyuka wanita berambut panjang), kenapa tiba-tiba menyukai wanita yang bahkan "berambut" atau tidak... karena selalu teetutupi jilbabnya. Sifatku yang pemberontak dan liar, tiba-tiba sebegitu gampang menuruti kata-katanya. Inikah yang disebut hidayah, atau aku menyukainya karena kecocokan kami berkomunikasi. Yang pasti rasa sayangku padanya, tulus... juga kepada kedua orang anaknya.

Tiada terduga... hanya butuh waktu seminggu bagiku, untuk merasa memiliki kepastian untuk menyayanginya. Dengan tidak membuang kesempatan, aku pun segera mengungkapkan perasaanku padanya. Aku mengatakan padanya, betapa aku sangat menyayanginya. Alhamdulillah... diapun menyayangiku, tapi dia tidak ingin proses ini disebut pacaran. Dia hanya mengenal kata ta'aruf, hanya itu yang dia inginkan sebagai seorang muslimat.

Ah... sekarang hari-hariku mulai berubah, sejak kupersilahkannya dia memasuki hati sanubariku. Hari-hari penuh keimanan merasuki jiwa ragaku, seakan telah ditiupkan roh islami ke dalam sanubariku. Semakin rajin kini sholatku, lima waktu sepenuhnya menjadi prioritasku. Sungguh hatiku telah terkunci untuk menerima wanita laun di dalamnya, karena aku telah mwmiliki... seorang wanita shalihah yang beraroma surga.

Lentera Padam

ini sunyi... menggerogoti nalar, menghentikan akal sehatku
terdiam di sudut kamar, diantara gelap yang menyelubungi segenap raga
tidak memahami hakekat hidup ini, mendendangkan irama caci maki

berkeluh pada malam, mengapa hitam tidak menjadu putih
sementara gemericik air pergi meninggalkan buih... mendidih
tak terasa air mata mengalir tiada penghalangya
inikah derita... atau hanya percobaanNya
rasanya meremuk redamkan segala asa

ini kegagalan... sesuatu yang kuperjuangkan lah sirna, bersama mimpi indah
harapan yang pergi tak dapat kugenggam lagi
meninggalkan kesuraman tiada berujung
lentera padam pada setengah dari langkah kaki

Kamis, 04 Oktober 2018

Kamar 212

Hotel ODOPERS, adalah salah satu penginapan terbaik di kelasnya. Terletak tepat di tengah kota... di sekelilingnya adalah destinasi wisata kuliner, juga tempat hiburan lainnya. Hotel ini terkenal karena pelayanannya yang bagus, dengan motto Tamu Adalah Raja sangat dijunjung tinggi oleh semua karyawannya. Bahkan, meja kerja Manager hotel bersebelahan meja dengan meja Resepsionis. Sehingga, para tamu hotel tidak akan kesulitan... jika sewaktu-waktu ingin menemuinya, sekedar complaint atau ingin meminta fasilitas tambahan. Pendek kata, hotel ini selalu menjadi rujukan wisata yang tetkenal.

Suatu hari... pada malam Jum'at Kliwon, datanglah seorang calon tamu hotel... seorang kakek berjenggot putih panjang, bersorban putih seperti jubah yang dikenakannya. Mendatangi meja resepsionis, mampak raut wajahnya sangat serius bertanya,

"Apakah hotel ini ada kamar 212?"
Resepsionis itu terkejut sekali, karena selama ini... belum pernah ada yang menanyakan kamar itu, apalagi yang ingin menempatinya.

"Ada Tuan...,"

"Panggil Mbah Enggot saja," kakek itu melihat kebimgungan di mata gadis resepsionis itu, sang manager juga melihatnya... dia pun segera mendekati pembicaraan mereka

"Ada yang bisa kami bantu, Tuan...," katanya dengan sikdp yang sangat santun.

"Panggil saya, Mbah Enggot. Saya mau memesan kamar 212, untuk singgah semalam ini... bagaimana?"

"Bisa saja Mbah Enggot, tetapi biar Room Boy membersihkannya dahulu," kata sang manager, seraya memberi isyarat pada resepsionis... untuk memanggil room boy,

"Kamar itu hanya sepekan sekali dibersihkan, karena jarang ditempati. Sambil menunggu kamar dibersihkan, mari saya hidangkan kopi di meja itu, Mbah" kata sang manager, sambil menunjukkan tempat yang dimaksud. Merekapun duduk berhadap-hadapan, tercium aroma khas minyak zafaron. Membuat semua yang mencium aromamua, langsung dilingkupibperasaan mistis yang kuat

"Sebelum saya tempati kamar itu, bolehkah saya minta beberapa barang?" kata Mbah Enggot.

"Silahkan, Mbah. Ingin selimut tambahan, atau bantal tambahan... atau makanan dan minuman, akan saya siapkan,"

"Tidak... saya hanya minta disiapkan sebuah pisau warma hitam, dua tali 3 meteran, dan sebuah sisir plastik".
Meskipun merasa sangat penasaran dengan permintaan itu, sang manager tetap memerintahkan agar memenuhinya.

Kamar 212 adalah kamar khusus, walaupun dalam pembuatannya tidak sengaja dikeramatkan. Tetapi, memang ada dua kejadian aneh yang terjadi di kamar itu. Pertama setahun lalu, ketika tiba-tiba seorang tukang ojek... yang biasa mangkal di depan hotel, ditemukan terkunci di kamar itu. Tubuhnya ditemukan telanjang bulat, dengan bekas cupangan di sekujur tubuhnya. Yang terakhir adalah 4 bulan lalu, tamu di kamar 214 dan 216 yang meminta tukar kamar... karena tidak tahan dengan kegaduhan di kamar 212, padahal kamar itu tidak berpenghuni.

Apakah Mbah Enggot ini orang suruhan pemilik hotel, untuk mrngatasi kamar yang misterius ini. Manager hotel itu hanya mengira-ngira, dan tidak berani menanyakannya. Setelah barang-barang yang diminta Mbah Enggot datang, orang tua itu pun diantarkan menuju kamar tujuan.

Karena rasa penasaran yang teramat sangat, maka manager hotel itupun memutuskan untuk tidur di kamar 214, yang kebetulan tidak ditempati tamu hotel malam itu. Sepanjang menunggu peristiwa yang akan terjadi, dia mendengarkan musik dari Mp3 Set Player yang ada di ruangan itu. Sementara tasa kantuk mulai menghinggapinya, diseruputnya kopi tetakhir dari gelasnya.

Pukul 01:00 keanehan mulai terjadi, terdengar suara-suara dari kamar 212. Sepertinya Mbah Emggot sedang berdebat sengit dengan seseorang... terdengar seperti suara perempuan yang marah.

Sang manager yang tak ketakutan sedikit pun itu, melangkah hati-hati... mendekati arah tembok, yang memisahkan kamar 212 dan 214 yang ditempatinya. Suara dari ruanhan tempat Mbah Enggot berada terdengar keras, tetapi dia tidak mengerti bahasa yang terdengar. Sepertinya mereka bercakap menggunakan bahasa Jawa, sedangkan dia berasal dari Sulawesi Utara.

Pertengkaran itu berubah menjadi perkelahian tampaknya, terdengar suara barang yang dibanting, kaca yang pecah, dan beberapa benturan di tembok. Sepertinya sudah terjadi pergulatan yang sangat seru, barulah bulu kuduknya meremang.

Tiba-tiba suasana menjadi sepi, sang manager semakin menempelkan telinganya di tembok, Tidak terdengar lagi suara keributan apapun, terganti oleh dengus nafas yang memburu. Seperti suara nafas laki-laki, tetapi juga terdengar lenguhan suara perempuan. Diselingi rintihan kecil, kadang juga terdengar jerit yang tertahan.

"Siapa yang bersama Mbah Enggot itu?" tanya sang manager dalam hati, dan tidak ada satu jawaban pun. Lama dia menunggui akhirnya kantuk membuatnya tertidur, hingga suara ketukan di pintu membangunkannya.

"Pak Manager!" diapun bergegas bangun dan membuka pintu kamar, dua orang room boy tampak berdiri di depan pintu.

"Ada apa?" tanyanya, sambil menggosok kelopak matanya yang masih mengantuk.

"Sudah jam 9 pagi, Pak. Bapak tidak ingin pindah ke kamar sendiri?" jawab seorang darinya.

"Apa?... sudah jam 9?" tiba-tiba ingatannya tentang kejadian semalam terbayang, ia berlari menuju depan pintu kamar 212.

"Apa Mbah Enggot masih ada di dalam?" bertanya dia dengan mengecilkan suaranya, sambil menunjuk nomor di pintu.

"Oh... dia sudah pergi, Pak. Pagi-pagi sekali dia perginya. Semua karyawan diberinya tip, masing-masing 200 ribu Pak,"

"Jadi kamar ini kosong? Apa kalian sudah masuk ke dalam?"

"Belum Pak, resepsionis menyuruh kami membangunkan bapak dulu"

"Kalau begitu, ayo kita masuk bersama!!

Manager sudah membayangkan, betapa berantakannya kamar itu. Karena semalam, dia mendengar jelas suara keributan dari kamar ini. Begitu masuk ke dalamnya, betaoa terkejutnya... ruangan itu tampak rapi sekali, seakan tidak ada yang menyentuh apapun sebelumnya. Tudak ada ceceran darah, serpihan kaca, tembok yang retak... bahkan sepreinya masih seperti belum disentuh, karena masih tergeletak kartu ucapan selamat beristirahat dari fihak hotel. Sungguh aneh.

35 hari kemudian, tepak di hari Jum"at Kliwon jua... Mbah Enggot kembali datang. Memesan kamar yang sama, kamar 212. Meminta disiapkan barang yang sama, pisau hitam, tali 3 meteran, dan sisir plastik. Manager pun kembali memata-matainya, kali ini di lamar 216. Terjadi peristiwa yang sama, di jam yang sama. Keesokanya pun, dia tertidur kelelahan lagi. Tidak berhasil bertemu Mbah Enggot, karena dia telah pergi pagi-pagi sekali.

Akhirnya, di kedatangan Mbah Enggot yang ketiga... sang manager merubah cara, dia tidak lagi menempati kamar di sekeliling kamar yang disewa Mbah Enggot. Tetapi memilih tidak tidur semalaman, duduk di meja lobby bersama anak buahnya. Tidak terdengar apapun dari kamar 212, sampai akhirnya... jam 04:00 terlihat Mbah Enggot, keluar dari kamar itu. Menuju mwja resepsionis, meletakkan kantung plastik warna hitam... dan berpesan,

" Bagikan sisa pembayaran ini, pada seluruh karyawan di sini,"
sebelum kakek itu meninggalkan hotel, pak manager sempat menghentikan langkah lelaki tua itu.

"Maaf, Mbah... dari ketiga kalinya Anda menginap di hotel ini, sesungguhnya saya sangat ingin bertanya,

"Tanyakan saja!" jawab Mbah Enggot dengan suara beratnya.

"Sebenarnya, apa yang Mbah lakukan di dalam kamar 212 itu?" mendengar pertanyaan itu, Mbah Enggot pun tersenyum.

"Kamu pingin tahu?"

"Iya, Mbah... sangat ingin tahu"

"Baiklah... tapi berjanjilah, untuk tidak pernah menceritakan ini pada orang lain"

"Saya setuju, Mbah"

Lalu Mbah Enggot membisikkan sesuatu di telinga pak manager, yang dibisiki menhangguk-angguk memahaminya. Setelah itu Mbah Enggot pergi meninggalkan hotel, diantarkan tukang ojek langganannya.

Sang manager memang sangat amanah, dan sangat teguh memegang janjinya. Dia tidak pernah mau membocorkan, apa yang terjadi di kamar 212 itu kepada siapapun. Sampai akhirnya sang manager meninggal 10 tahun kemudian, tetapi rahasia tentang kamar 212... itu di bawanya juga ke alam baqa. Selesai.

Senin, 01 Oktober 2018

Penemuan Beras Cair

Ditengah viral penemuan Beras Jagung oleh Mahasiswa IPB Bogor, yang akhirnya tidak jelas kelanjutannya. Juga tentang penemuan Beras Brokoli, oleh Pelajar SMK di Gresik... yang juga tidak terdengar lagi jluntrungnya (kemana arahnya). Tiba-tiba, dunia digegerkan dengan penemuan Beras Cair, oleh seorang ibu rumah tangga dari Nganjuk. Khabar menggegerkan ini, menjadi trending topic di semua media nasional 01/10/2018, diantara kabar duka... Gempa dan Tsunami di Palu.

Kementrian Pertanian dan Perikanan Nasional (KEMENKAN ), melalui Juru Bicaranya Ir.Ribut Waidi,Spt menyebutkan dalam press conference :
"Ini sudah di konfirmasikan oleh Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Nganjuk, dan menjadi kebanggaan kita bersama. Sungguh kami tidak menyangka, penemuan ini sudah menjadi trending topic dunia. Dan PBB... melalui Badan Pangan Dunia ( FAO ) sudah mengirimkan tanggapanya, mereka akan berkunjung ke Kabupaten Nganjuk dalam waktu dekat"

Ketika ditanya tentang siapa penemu Beras Cair itu, Ir.Ribut Waidi,Spt menjawab secara diplomatis :
"Secara khusus saya belum berkenalan dengan beliau, tetapi menurut Kadis Pertanian dan Perikanan Kabupaten Nganjuk... penemunya adalah seorang Ibu bernama Mak Siatun,"

Kemudian ditanyakan kepadanya tentang kronologi, dan hak paten penemuan itu.
"Mengenai kronologinya saya kurang tahu, tetapi untuk pematenannya... Kami sudah menghubungi Lembaga Hak Paten dan Cap Nasional ( LHPcN ) untuk segera mengurusnya"

Berita penemuan Beras Cair ini, sangat wajar jika menggemparkan dunia pertanian Internasional. Ditengah merosotnya hasil panen dunia, terutama komoditi beras. PBB... melalui Badan Pangan Dunia ( FAO ) tentu sangat berharap, pada hasil penemuan yang menggembirakan ini. Bekerja sama dengan Badan Dunia lainnya, yaitu UNICEF, UNESCO, IMF, ILO, IGGI, mereka sepakat untuk mengembangkan Beras Cair ini. Mulai hari ini (01/10/2018) mereka mengadakan pertemuan tingkat tinggi di Munich Jerman... yang dihadiri 199 negara, dari 205 negara yang berminat mengembangkan Beras Cair ini.

Ini adalah kebanggaan tersendiri bagi warga Nganjuk, setelah berita penangkapan Bupatinya oleh KPK, beberapa waktu lalu... yang mempermalukan, seluruh warga kabupaten kecil yang surplus komoditi Bawang Merahnya. Dan memiliki kesenian Tayub, dan Jardut/Jaranan Dangdut. (Kuda kepang Dangdut)

Sementara itu di desa Talang, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk... Yang disinyalir sebagai tempat penemuan itu tampak lengang. Tidak terlihat seperti, tempat yang tengah menjadi sorotan Dunia Internasional. Penduduk desa, melakukan aktivitas seperti biasanya. Ini sungguh sangat mengherankan, bahkan para pendudukya seakan tidak peduli dengan kehebohan Internasional itu.

Karena rasa penasaran yang teramat sangat, saya pun mendatangi desa tersebut. Dan berhasil menemui salah seorang narasumber. Pak Winarto (48) penduduk asli desa Talang, tempat ditemukanya Beras Cair itu. Saat dimintai keteranganya, dia sedang berada di warung Bu Cempluk (26), bersama dengan temanya Pak Tamiran (45).

Menurut keterangannya, beras cair yang menggemparkan itu... sudah ada sejak puluhan, atau ratusan tahun yang lalu. Sudah dikonsumsi sejak lama, oleh penduduk desa Talang dan sekitarnya. Pernyataan ini sungguh sangat mengejutkan, bagaimana infomedia kecolongan berita besar seperti ini.

"Itu sudah lama ada, Mas... mungkin sejak Jaman Majapahit, sudah ada," katanya, sambil meminta dukungan temannya dengan anggukan kepalanya.

"Tidak tahu juga kenapa baru terkenal, sekarang" lanjut Pak Tamiran.

"Kemarin juga banyak Wartawan kesini, Mas. Menanyakan, tentang kebenaran info penemuan Beras Cair itu," imbuh Bu Cempluk.

Saat saya tanya, apakah Beras Cair ini sudah memiliki hak paten... begini jawabnya :

"Kalau hak paten belum, Mas. Karena... tidak diketahui juga, siapa penemunya ratusan tahun lalu. Tapi, kalau Registrasi dari DEPERINDAG dan status HALAL dari MUI sudah ada," katanya, sambil menyodorkan sebuah botol jamu yang bertuliskan :

Beras Kencur
"Wani Piro"
Reg.no.123/indag/jt/1999
Dppom No.456/mui/1999
Terbuat dari gula asli.pilihan
100% HALAL

"Hwahahahaha!"
Serius banget bacanya???

#tertipu_deh_lo

Perempuan Banjar Paseban The Series (Bagian 5)

Selepas menjalankan Sholat Isya di kamarnya, Fathim segera berjalan menuju teras depan. Sudah tampak di sana Ki Jogoboyo, Nyi Jogoboyo, dan Pawestri. ki Jogoboyo duduk bersila menghadap meja, tampak dua cangkir porselen dan semangkuk besar singkong rebus di atas meja. Nyi Jogoboyo sedang menganyam sebuah tikar, sementara Pawestri tampak sedang merangkai manik-manik. Ruangan itu hanya bercahayakan sebuah ublik, pelita dari minyak kelapa yang berapi kemerahan.

Menyadari kedatangannya, Ki Jogoboyo melambaikan tangan padanya.

"Duduklah di sini, Nduk. Katanya, kamu akan menanyakan sesuatu padaku," lelaki  50 tahun itu menatapnya wajahnya sambil tersenyum, senyum yang mirip seperti senyum almarhum papanya.

"Aku sudah menyeduhkanmu teh hangat, Nduk. Itu, di cangkir sebelah Bapa-mu" berkata Nyi Jogoboyo sambil telunjuknya mengarah ke meja kayu itu. Fathim mengangguk berterima kasih, kemudian beranjak duduk di samping meja kecil itu.

"Baju-baju sampean juga sudah aku ambil dari jemuran... sudah kulipat juga, kutaruh di samping tas, Mbakyu" kata Pawestri di sela lincah tangan kecilnya merangkai manik.

"Astaghfirulloh... aku sampai melupakan kewajibanku, terima kasih ya Cah Ayu," jawab Fathim yang tiba-tiba memerah mukanya, bagai sudah terkuak satu lagi sifat burukya. Dia melihat lelaki itu tersenyum simpul, membuatnya menjadi semakin malu saja.

"Sudahlah, mulai saja pertanyaanmu Nduk" katanya, Fathim pun mengangguk.

"Ki, sebenarnya Banjar Paseban itu apa?" tanyanya, "Komunitaskah? Atau sebuah Koloni?"

"Banjar Paseban hakekatnya adalah sebuah wilayah, yang didiami oleh Kaum Paseban... hampir menyerupai koloni, karena di sini juga terdapat sistem pemerintahan. Tetapi, kami juga merupakan Desa Khusus di Kecamatan ini. Kami  memiliki Struktur Kepemerintahan Desa, punya Kepala Desa, Sekretaris Desa, juga aparatur Desa lainnya... kamu sudah bertemu mereka sebelum kemari" kata Ki Jogoboyo membuka percakapan, sambil menyuruhku dengan tangannya memungut hidangan di meja... seperti yang dilakukannya. Aku pun mengambil sepotong singkong rebus, dan menyuapkan ke mulutku.

"Kaum Paseban itu adalah sekumpulan orang, yang mengasingkan diri dari dunia luar. Mereka dulu datang ke wilayah ini dengan berbagai tujuan, yang terbanyak memang karena ekonomi... saat pembangunan Banjar Paseban ini, kami datangkan ratusan orang untuk pengerjaanya. Setelah selesai pengerjaan, mereka malah memilih menetap disini membawa serta keluarga mereka. Yang bertujuan untuk lebih mendekat pada Yang Maha Esa juga banyak" imbuhnya,
"Dahulu mereka pun datang dengan berbagai agama, berbagai keyakinan dan kepercayaan. Sebelum pada akhirnya, mereka memutuskan untuk mengikuti kepercayaan kami Sabdo Jati"

"Seberapa luas wilayah ini, Ki? Kemarin, kakang Kebo Kenongo sudah bercerita sedikit saja padaku" Fathimah dengan wajah yang bersungguh-sungguh menanyakan itu.

"Secara keseluruhan... sekitar 10.000 hektar, seukuran empat desa di luar sana. Dulunya tempat ini adalah kebun teh yang sudah tidak produktif, dan hutan yang mengelilinginya dulu adalah sisa Bedhol Deso. Banjar Paseban dibagi menjadi lima Perdukuhan... Dukuh Pamijil di sebelah timur, Dukuh Pamudha di sebelah selatan, Dukuh Pawredha di sebelah barat, Dukuh Pralaya di sebelah utara, dan Dukuh Paseba di pucuk bukit ini. Nama perdukuhan itu juga menyimbolkan siklus kehidupan manusia, ketika masih di dalam kandungan, kelahiran, menjadi pemuda, menjadi tua, dan meninggal. Di Dukuh Paseba para Panuntun berdiam, dan juga... disanalah kediaman Ki Panuntun Agung, juga letak Paseban.Agung" mulut lelaki tua itu dengan lancar menjawab pertanyaan, diantara kecapan mulutnya yang mengunyah makanan.

Sesekali, diseruputnya kopi pahit dari cangkir porselen di depannya. Fathim pun melakukan hal yang sama, menyeruput teh tawarnya dengan nikmat.

"Ki Jogoboyo, sebelumnya saya mohon maaf... apakah Anda benar akan menjawab, semua keingintahuan saya?" tanya Fathim, yang mulai melihat keseriusan di wajah ayah angkatnya itu.

"Iya, Nduk. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu, semua keingin tahuanmu, apapun semampuku menjawabnya... hanya jika itu menyangkut Keyakinan dan Kepercayaan kami, nanti aku antarkan kamu menghadap Ki Panuntun Agung," lelaki tua itu mulai menjumput sejenis tembakau dari tempatnya, lalu mulai melintingnya di selembar klobot (daun jagung yang dikeringkan). Dengan lihai dia melintingnya, menjadi lintingan yang mengerucut.

Seperti sudah mengerti apa yang harus dilakukan, Pawestri yang duduk di samping Fathim segera beranjak. Mengambil sebatang kayu yang terbakar ujungnya, dari beberapa kayu sisa pembakaran yang masih berasap di pawuan (perapian dari tanah liat). Kayu membara itu pun disodorkannya pada ayahnya, yang langsung menyulut lintingannya... disedotnya kuat-kuat lintingan itu, sehingga asap memenuhi rongga mulutnya... sebelum dia menghembuskannya dengan kuat ke udara. Segera saja ruangan itu sudah dipenuhi asap putih, dari sigaret yang sedang dinikmati Ki Jogoboyo. Fathim sudah ingin menutupi hidungnya dengan ujung jilbabnya, ketika terdengar suara lelaki itu menegurnya.

"Hiruplah asapnya, Nduk. Ini bukan seperti rokok yang kamu kenal di ngare (wilayah di luar banjar). Cobalah, kamu akan merasakan manfaatnya... percayalah" begitu kata salah satu Pamomong (pamong) Kaum Paseban iru. Dan Fathim pun mencobanya, ajaib... asap itu tidak berbau asap rokok. Mungkin yang dilinting itu bukan rajangan tembakau seperti rokok pada umumnya. Seakan mengetahui keheranan anak angkatnya, lelaku itupun berkata,

"Ini adalah racikan herbal dari beberapa dedaunan dan akar-akaran, yang sengaja diperuntukkan untuk lintingan ini. Kamu sudah merasakan efeknya, Nduk?"

"Iya , Ki. Tiba-tiba nafasku menjadi longgar, di dada terasa segar... keringat mulai keluar dai pori-poriku, badan serasa ringan. Jangan-jangan sampean sedang menghisap ganja ya, Ki?" terperanjat Fathim demi merasakan sensasi asap yang dihirupnya itu. Lebih terperanjat lagi adalah orang tua itu.

"Hahahahahaa!" Ki Jogoboyo tertawa dengan kerasnya, semua yang ada di ruangan itu nampak terkejut. Nyi Jogoboyo yang sejak awal hanya diam pun ikut terkejut, dia menghentikan jemarinya yang sedang menganyam sebuah tikar. Dengan mata agak melotot, dia memandang suaminya itu.

"Kakang! Kenapa tertawa seperti itu? Nanti terdengar Nyi Kunti, dia akan kesini... menanyakan yang tidak-tidak!" kata Nyi Jogoboyo, sambil memandang tajam wajah suaminya.

"Eh maaf, Nyi. Anakmu ini menuduhku menghisap ganja... (hahahaha)!" Ki Jogoboyo tertawa lagi, kali ini dia sambil membungkam mulutnya sendiri  Pawestri dan Nyi Jogoboyo pun tersenyum-senyum memandanginya. Hanya Fathim yang seakan tidak tergoda, dengan kelucuan yang baru saja terjadi itu. Dia penasaran sekali dengan kata-kata ibu angkatnya tadi.

"Siapa Nyi Kunti itu, Ki?" tanyanya dengan serius, dan suasana pun tiba-tiba menjadi senyap. Semua menatap ke arah Fathim, seakan ingin memastikan... benarkah itu yang ingin dia ketahuinya.

"Baiklah... aku akan mengajak Fathim berjalan-jalan sebentar, Nyi. Ajaklah Pawestri tidur bersamamu dulu " mereka mengangguk sambil tersenyum, tanpa membantah sedikit pun. Nyi Jogoboyo membereskan anyaman tikarnya, Pawestri pun tak kalah gesit merapikan ruangan itu. Bergantian mereka mendatangi Fathim, memeluknya dengan erat dan mencium pipinya. Itu adalah kebiasaan di Banjar Paseban, memeluk dan mencium pipi setiap menjelang perpisahan. Fathim pun sudah merasa nyaman, dengan kebiasaan itu.

"Semoga tidak terjadi apa-apa pada dirimu ya, Nduk" bisik Nyi Jogoboyo di telinga Fathim, sambil mencium kedua pipinya. Dia memeluk tubuh wanita, yang sudah dianggapnya seperti pengganti mamanya itu, "Insyaalloh, Nyi" jawabya lembut.

"Semoga selalu diberikan keselamatan ya,, Mbakyu" bisik Pawestri diantara pelukkannya, dia memeluk tubuh gadis kecil itu dengan lebih erat... melayangkan beberapa kali ciuman, di pipinya dengan penuh kasih sayang. Dia memang sudah sangat akrab dengan gadis 15 tahun itu, menganggapnya seperti adiknya sendiri.

Sementara itu, Ki Jogoboyo telah beranjak dari tempat duduknya. Berjalan keluar, menghentikan langkah kakinya di bawah pohon nangka. Dia menoleh ke belakang, melihat ke arah anak angkatnya yang sedang memasang sepatunya.
"Cepatlah sedikit, Nduk," katanya, "Malam ini, kita akan berjalan agak jauh" berlari kecil Fathim menghampiri tempat ayah angkatnya, "Mari, Ki. Sebenarnya kita akan kemana, larut malam begini?" tanyanya sembari berjalan mengiringi langkah lelaki tua itu. Yang ditanya malah menyedot lintingan, sedotan tetakhir... karena setelah itu dia membuangnya ke tanah, dan menginjak dengan terompahnya.

"Kamu kan ingin tahu siapa Nyi Kunti, kita akan mendiami kediamannya di Dukuh Palaya... di dekat pekuburan.
Langkah mereka mengarah ke Timur, hampir melewati paregolan njawi ketika lelaki itu bersuit dengan nyaringnya. Tampak seseorang berlari tergesa menuju arah mereka. Malam itu bulan sedang bersinar tetang, sehingga Fathim bisa melihat laki-laki itu mendekat.

"Rahayu, Ki!" serunya sambil memeluk dan mencium tangan Ki Jogoboyo.

"Rahayu, Ngger Gagak Riwis. Dengan siapa engkau di paregolan?"

"Bersama Kakang Wregul Kandhas, dan Adhi Kebo Kenongo Ki" jawab yang ditanya. Fathim tiba-tiba merasakan debar aneh didanya, ketika orang itu menyebut nama penjaganya itu.

"Panggil Kebo Kenongo kesini!" perintah Ki Jogoboyo, orang utu pun bergegas pergi setelah sebelumnya menghaturkan sembah.

Kakang Kebo Kenongo, sosok pria yang seharian ini menghiasi angannya. Yang semalaman, membuatnya sulit memejamkan mata. Lelaki tampan yang selalu, bayangan wajahnya mengikuti kemanab un langkahnya. Dia sedang melamun, hingga tudak menyadari kedatangan lelaki yang dipujanya itu.

"Rahayu, Ki!" lelaki itu memeluk erat tubuh gurunya itu, mencium tanganya dengan oenuh hormat. Memerah wajah Fathim, karena tiba-tiba terdengar suara lelaki utu menyapa dirinya.

"Rahayu, Mbakyu!" berkata begitu, Kebo Kenongo sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di dada.

"Alhamdulillah... rahayu, Kakang" jawabnya hampir tak terdengar telinganya sendiri. Tiba-tiba saja tubuhnya gemetar, tak mampu memandang wajah lelaki itu.

"Ada apa, Bapa Guru memanggilku?" tanya Kebo Kenongo denhan sikap hormatnya.

"Malam ini kami akan ke Dukuh Pralaya, berangkatlah terlebih dahulu kesana. Sampaikan salamku untuk Gagak Rikatan, minta dia menyiapkan Uba Rampe" kata gurunya, Kebo Kenongo tampak sangat terkejut dengan kata-kata gurunya.
(BERSAMBUNG)

Perempuan Banjar Paseban The Series (Bagian 4)

Seorang pemuda tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya, wajahnya bersinar bagai rembulan. Kulitnya putih bersih, rambut ikalnya terikat indah denga iket¹ yang dikenakannya. Pemuda itu, sungguh sangat tampan sekali. Wajahnya sekilas mirip aktor Agus Kuncoro sewaktu muda, teyapi badannya seperti Ade Ray sang Binaragawan. Tak henti-henti Fathim mengagumi, sosok yang baru beberapa detik dilihatnya itu. Dan hatinya sudah berdebar-debar sedemikian rupa, pertanda apakah ini. Sengaja dia tidak mau mengakui kata hatinya, sesungguhnya dia telah jatuh cinta pada pemuda itu... sejak beberapa detik yang lalu. Belum puas rasanya dia memuji-muji ketampanannya, bersyukur atas nikmat rejeki bertemu dengannya. Ketika sebuah suara yang berwibawa, membuatnya tersentak dari lamunan.

"Maaf, Mbakyu. Apakah Anda tamu dari Surabaya, yang akan mengunjungi Banjar Paseban?" sungguh halus tutur katanya, betapa indahnya jika itu kata-kata rayuan uang terucap dari bibirnya. Yaa Alloh, betapa tampan dan gagahnya mahluk ciptaanmu ini. Kembali Fathim tersentak dari lamunannya, ketika pemuda itu kembali menegurnya.

" Mbakyu sedang melamun? Tadi ketika aku berbicara, apakaj Mbakyu mendenharkannya?" oh suara yang indah, apakah ini tanda-tandanya dia terserang hypotermia? Atau Imsonia? atau apa kek namanya, nagi Fathim jika mengagumi pria setampan itu disebut penyakit pun... dia akan dengan senang hati menerimanya. Dam Fathim hampir saja terpelanting jatuh, karena tiba-tiba saja... wajah pemuda itu sudah ada di depan hidungnya, memandang aneh padanya. Dia pun jadi kebingungan, tidal berkata sekecap kata pun.

"Mbakyu tidak apa-apa?" tetdengar susra pemuda itu sangat hawatir padanya, padahal jika diamati... wajah Fathim tidak terlihat pucat, sejingga tidak perlu dihawatirkan. Tapi wajahnya justru merona merah, seperti sudah bersembunyi tetapi ketahuan. Dengan terbata, dia mencobaenjawab kehawatiran pemuda itu.

" Oh tidak, aku tidak apa-apa kok... emh kamu tadi bolang apa?" tanyanya tanpa malu-malu. Mungkin pemuda itu akan mengira dia budeg, karena memang dia tidak memperhatikan bicaranya tadi... hanya memperhatikan wajah tampannya.

"Aku tanya, apakah sampean² adalah tamu dari Surabaya yang akan mengunjungi Banjar Pasenan?" pemuda itu mengulangi pertanyaannya.

"Iya... iya betul! Itu aku, namaku Fathim Anissa. Wartawati Super Press, dari Surabaya"

Tehnik Membuat Paragraf Awal

Menulis cerita pendek membutuhkan teknik khusus. Kenapa? Kembali ke definisi, cerita pendek adalah cerita yang habis dibaca dalam sekali dud...