Kamis, 25 Oktober 2018

Apakah Kalian Barisan Orang Suci Yang Mewakili Tuhan?

siapa lagi yang kau pandang dengan tatapan jijik hari ini?
sekumpulan orang yang sedang mencari nafkah...
dengan berkesenian... yang kau anggap budaya setan?
lalu menghakimi jalan hidup yang mereka pilih... mendeskreditkan langkah keimanan mereka palsu...

kalian siapa?
sebarisan orang suci yang mewakiki Tuhan Yang Maha Esa?
sehingga berhak mengatakan kalian penghuni surga... mereka penghuni neraka?
jika mengenal surga neraka pun dari katanya... mana boleh merasa sudah melihatnya?

belajarkah dari ilmu pengetahuan... bukan dari sastra
alam tercipta dari tahun yang tidak terhingga...
kehidupan terlahir dari masa yang tidak terkira...
jauh sebelum agama mengenalkan adam dan hawa konon asak muasal manusia (?)

damai di bumi tercapai dari peperangan... dari ketidak akuran... dari selaksa perbedaan
bukan keyakinan yang mempersatukan kebersamaan... persatuan..  kerukunan... tetapi keanekaragaman...

engkau memilih jalan kebenaranmu... mereka memilih kebenaran mereka...
biarkan... karena itu yang seharusnya... itu yang semestinya... itu yang selayaknya...
jadi berhentilah...
menganggap dirimu dan keyakinanmu sebagai kebenaran mutlak...
mereka salah...
kebenaran tidak bisa ditentukan oleh satu ajaran saja... tetapi oleh hukum yang disepakati dari ketidak setaraan

sungguh kalian tidak berhak... mengatasnamakan kaum yang paling sempurna...
kalian tidak berhak menganggap kaum lain sebagai golongan dari iblis laknat...
belajarlah dari merwka yang engkau cibirkan dan mereka diam...
mereka bukan biang dari yang kalian anggap sebagai pencemaran iman...
tapi kalianlah yang ingin menghancurkan kebersamaan... mengatasnamakan keimanan...

Politik Di Samping Kopi Dan Goreng Pisang (Essai)

Di Indonesia, akhir-akhir ini terjadi semacam gerakan pemaksaan kehendak dalam ranah agama. Berbeda sedikit: haram, kafir, bid’ah. Korbannya dari mulai para ulama yang dikafirkan, sampai para penjual makanan yang dipaksa tutup di bulan Ramadan dengan cara-cara kekerasan.

Sebetulnya gerakan fasistik seperti ini, tidak hanya didominasi oleh gerakan keagamaan. Tetapi juga oleh gerakan kiri, atau mudahnya gerakan orang-orang yang ingin membebaskan rakyat dari belenggu penindasan. Mereka bisa jatuh dalam mental seakan paling benar, paling keren, paling berhak mengaku kiri. Sementara yang lain tersesat, korup, kolaboratis, parlementaris, gradualis, dan macam-macam tuduhan yang lain.

Padahal jika dilacak benar, orang yang gemar menuduh seperti itu, belum tentu punya perilaku politik yang baik, belum tentu punya tabiat moral yang bisa dipertanggung jawabkan. Dulu, Lenin punya istilah untuk orang-orang seperti itu yakni ‘kiri kekanak-kanakan’. Tapi supaya punya konteks kekinian dan keindonesiaan, saya memberi istilah berbeda: kiri taman kanak-kanak.

Supaya mudah dimengerti, dan mudah untuk memindai, berikut ini ciri-ciri orang... atau lembaga yang punya watak kiri taman kanak-kanak, seperti:

Dia yang Benar, yang Lain Sesat

Dalam hal mengambil pilihan isu, strategi perjuangan, dan bentuk organisasi, orang atau lembaga yang kena penyakit "kiri taman kanak-kanak" ini merasa paling benar sendiri. Padahal pilihan isu, strategi, dan bentuk organisasi selain berdasarkan atas analisis situasi, juga berdasarkan atas kapasitas, letak, dan domain lembaga tersebut.

Di era seperti ini, di zaman kapitalis mutakhir, ada ratusan isu yang harus direspons. Semua orang atau lembaga bisa fokus pada isu masing-masing, sesuai dengan konteks lokal dan kelembagaan: perempuan, buruh, ekologi, pertanian, pemberantasan buta huruf, ekonomi mikro, pemberdayaan masyarakat adat, penyadaran sejarah, dll. Banyak sekali. Seseorang atau sebuah lembaga tidak bisa memaksa atau menyalahkan isu yang diambil oleh orang atau lembaga lain.

Demikian juga dalam berbagai strategi advokasi. Ada beragam cara. Semua sesuai dengan konteks, level, dan proses yang telah dijalani. Ada kiat-kiat bernegosiasi dengan situasi. Tidak perlu dikafir-kafirkan, disalah-salahkan. Yang paling tahu strategi yang tengah dijalani sebuah lembaga adalah lembaga itu sendiri. Tidak usah sok tahu. Sebab risiko dan apapun yang bakal terjadi, dialah yang akan menanggungnya.

Main Fitnah, Suka Desas-Desus, Hobi Ngerumpi

Karena punya pemahaman bahwa lembaga lain adalah salah dan lembaganya yang paling benar, maka metode propaganda yang dilakukan biasanya lewat fitnah, desas-desus, dan rumpian kosong. Hobi sekali ngomongin kejelekan lembaga lain. Konsisten sekali memfitnah teman sendiri. Adol jare kulak jare. Mendengar dari orang, tidak diverifikasi, diolah sendiri, digoreng, diedarkan ke mana-mana sebagai sajian gosip.

Padahal di dalam strategi besar sebuah perang, ada adagium: perkecil musuhmu, perbanyak kawanmu. Lembaga yang berpotensi untuk diajak berkolaborasi mestinya diapresiasi. Bersinergi. Kalau ada masalah: didatangi. Tabayyun. Kalau ada waktu senggang: bersilaturahmi. Bukannya malah dijelek-jelekkan dan difitnah. Kalau seperti itu yang terjadi, maka yang terjadi justru: memperkecil kawan, memperbanyak lawan. Bodoh pakai kuadrat.

Selalu Meninggalkan Sampah Persoalan

Dengan tabiat politik seperti itu, maka wajar jika di mana-mana orang atau lembaga yang punya watak "kiri taman kanak-kanak", akan selalu menyisakan persoalan. Pohon yang kuat tumbuh di atas tanah yang subur. Lembaga yang baik dibangun dengan pondasi moral yang kokoh. Maka sebetulnya mudah melihat, menerka, memindai, lembaga atau orang yang punya sifat seperti itu. Bagaimana rekaman jejaknya di masa lalu. Siapa saja yang jadi korban. Pernah menipu siapa saja. Sampah apa saja yang ditinggalkan. Dan lain-lain. Truk sampah akan mudah meninggalkan jejak. Mudah mengenalinya. Gampang mencium baunya.

Tidak akan Besar

Lha ya bagaimana bisa berkembang besar kalau perilakunya seperti itu. Sehingga apa yang mereka lakukan seperti percobaan membangun rumah pasir. Dibangun, ambruk. Dibangun lagi, ambruk lagi. Ya pasti ambruk. Letak dan caranya sudah keliru sejak awal. Mereka merekrut orang-orang baru karena orang-orang lama sudah ditendanginya. Orang-orang baru itu pun kelak akan ditendangnya. Satu-satunya cara agar bisa besar adalah masuk ke sarang lebah dan kalajengking.

Besar Suara daripada Daya

Karena dayanya lemah, salah satu hal yang paling mudah untuk memompa eksistensinya adalah bersuara besar. Pokoknya teriak. Lantang. Sampai serak. Lalu lemas. Besok kalau suara sudah pulih, teriak lagi, bersuara lagi, lantang. Lemas. Begitu seterusnya.

Lalu orang-orang yang sering mendengar teriakan itu, akan saling berbisik dan melantunkan doa. Supaya, golongan kiri taman kanak-kanak itu cepat insyaf. Kalau tidak insyaf juga, kita cukup menertawakannya. Atau ditoleh sesekali, keanehan mereka jadikan hiburan. Dijadikan tontonan di kala senggang, bersanding kopi dan goreng pisang.

Rabu, 24 Oktober 2018

Ki Demang Wonowoso (Bagian I)

Ki Wonowoso tampak berjalan kesana-kemari, mondar-mandir di teras depan rumahnya. Hal ini, menimbulkan rasa heran di hati istrinya. Dari arah dapur Nyai Wonowoso mendekati suaminya, sambil membawa minuman hangat di wadah bambu.

"Kenapa kelihatannya gelisah sekali, Ki? Seperti, sedang menunggu kedatangan seseorang saja?" tanyanya sembari duduk di dipan bambu, setelah meletakkan minuman yang di bawanya tadi. Yang ditanya pun segera menghentikan kegiatannya, kemudian duduk di samping tubuh istrinya. Mengambil wadah bambu yang berisi minuman, perlahan menyeruputnya dengan nikmat. Kopi bumbung (gelas dari bambu) memang beraroma khas, perpasuan aroma kopi dan bau bambu yang  tiada duanya.

"Kemarin, aku menyuruh Suro Dhaplang pergi menemui Nyai Dhadhap Alas. Mestinya, semalam dia sudah kembali. Aku sedang menunggunya, untuk mendengar khabar darinya" kata lelaki tua itu, sambil sesekali menyeruput minumannya. Dan tiba-tiba saja, pandangannya terantuk pada bayangan seseorang yang dikenalnya. Orang yang ditunggunya dengan penuh kegelisahan, Suro Dhaplang.

"Saya sowan,Ki Demang!" seru Suro Dhaplang, ketika langkah kakinya semakin dekat. Kedua telapak tangannya terkatup di depan dadanya, menghaturkan sembah dan salam. Ki Demang Wonowoso segera berdiri, menyambut anak buahnya itu.

"Duduklah!" serunya, sambil memberi isyarat pada istrinya untuk pergi dari tempat itu.

"Aku ke dalam dulu, Plang. Tunggu, akan kubuatkan minuman untukmu" kata Nyai Wonowoso, sambil berlalu dari tempat itu. Suro Dhaplang pun mengangguk, tak lupa menghaturkan sembah dan salamnya.

"Bagaimana khabar Nyai Dhadhap Alas? Apa, sudah kau sampaikan pesanku padanya?" tanya Ki Wonowoso.

"Nyai Dhadhap Alas baik-baik saja, Ki. Murid-muridnya semakin banyak, mereka datang dari sekitaran Gunung Pananggungan, dari Pasuruhan (Pasuruan), bahkan ada beberapa orang Putro Sentono (putra pejabat) dari Majapahit, Ki. Beliau menitipkan salam, untuk Ki Demang dan keluarga" jawab Suro Dhaplang takzim, dia menunduk hormat... ketika Nyai Wonosobo datang, mengantarkan minuman kepadanya.

" Minumlah dulu minumannya, selagi hangat. Bagaimana khabar istrimu Sendani? Sudah lama dia tidak pernah kau ajak datang kemari, Plang?" tanya Nyai Wonowoso. Yang ditanya pun tersenyum, menyeruput minuman yang disuguhkan..  sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Nyai Demang Wonowoso.

"Dia baik-baik saja, Nyai. Tetapi, saat ini dia sedang berada di rumah orang tuanya... berkunjung saja, sekalian mengirimkan sedikit hasil panenan kami, Nyai"

"Sudah... pergilah ke dapur sana, Nyai. Ada hal penting, yang harus aku bicarakan dengannya" mendengar kata-kata suaminya, perempuan 45 tahun itu pun segera melangkah pergi tanpa sepatah kata. Dia sudah hafal, jika suaminya berkata seperti itu... pastilah, memang ada sesuatu yang penting yang ingin mereka bicarakan.

"Lalu, bagaimana tentang permohonan bantuanku padanya?" tanya Ki Wonowoso, wajahnya tampak sangat serius sekali.

"Sudah saya sampaikan padanya, Ki. Dia sangat bersemangat, membantu Ki Demang dan Desa Wonowoso ini. Sebenarnya pun, saya turun dari Padepokan bersama 2 orang muridnya... Adhi Noroyono, dan putri Nyai Dhadhap Alas yang bernama Titisari" wajah orang tua itu tampak sangat terkejut, mendengar jawaban bawahannya itu. Dia segera berdiri, matanya berkeliling mencari yang dimaksud oleh Suro Dhaplang itu. Melihat hal ini, Suro Dhaplang pun segera memberi isyarat pada Ki Lurah, untuk segera duduk kembali.

"Mereka berdua masih mendapatkan tugas dari Nyai Dhadhap Alas, untuk menyampaikan pesan kepada Ki Anjar Sawahan, juga kepada Ki Danyang Buto. Mungkin, nanti malam mereka baru sampai di desa kita, Ki"

"Dhanyang Buto?!" lelaki tua itu sangat terkejut, mendengar nama yang sangat dibencinya itu.

Sebenarnya, antara Nyai Dhadhap Alas, Ki Anjar Sawahan, Ki Dhanyang Buto, dan dirinya... adalah empat sekawan, yang tanpa sengaja dipertenukan oleh keadaan. Duapuluh tahun yang lalu, ketika terjadi pemberontakan di Katumenggungan Barebek... saat itulah, mereka bertemu untuk yang pertama kalinya. Saat itu KRT.Hiro Sentono yang menjabat Tumenggung, sedang menghadapi pemberontakan dari adik tirinya Demang Arjoso, yanf dibantu oleh Tumenggung Pepajeng Dari Bojonegoro.

Tumenggung Hiro Sentono, meminta bala bantuan dari beberapa Padepokan (perguruan) yang ada di sekitar Katumenggungan Barebek, selain dari ratusan bala bantuan dari Keraton Mataraman Madiun. Dari lereng Gunung Wilis, Padepokan Sawahan mengirimkan Sosrowojo... yang sekarang beegelar Ki Anjar Sawahan, bersama dengan seratus murid terbaiknya . Dari lereng Gunung Penanggungan Pasuruhan,  padepokan Dhadhap Alas... mengirimkan Endang Sukesi, yang sekarang menjadi guru besar di Padepokan Dhadhap Alas, bersama sepuluh irang pasukan pemanah. Dari Gunung Renteng, padepokan Dhanyang Buto mengirimkan murid terbaiknya... Waroko, yang sekarang bergelar Ki Dhanyang Buto disertai sepuluh orang pasukan Buto Geni (penguasa api) . Sementara dari padepokan Gunung Pandan, mengirimkan dirinya... Sujiwo, bersama limapuluh ahli kanuragan.

Pemberontakan yang berlangsung tiga minggu lamanya pun, dapat diredam dan dihancurkan. Para pemberontak kocar-kacir, melarikan diri ke hutan-hutan. Demang Arjoso yang memberontak dapat diringkus, kemudian diganjar hukuman mati di alun-alun Barebek. Istri dan anak Demang Arjoso, dikembalijan ke rumah orang tuanya di Bojonegoro.

Kenapa Demang Wonowoso begitu membenci Waroko, alias Ki Dhanyang Buto... itu karena kisah percintaannya di masa lalu. Ketika masa pemberontakan, Sujiwo jatuh cinta kepada seorang Abdi Dalem (dayang) Katumenggungan yang bernama Warsini. Mereka saling mencintai, dan bermaksud membangun rumah tangga seusai pemberontakan.
Tetapi, diam-diam Waroko juga mencintai Warsini. Dia mencari cara,  untuk menghancurkan hubungan Sujiwo dan Warsini. Hingga suaru ketika, Waroko menghembuskan khabar kepada Warsini. Dia memfitnah Sujiwo memiliki hubungan asmara dengan Endang Sukesi, Warsini pun marah dan memutuskan hubungan mereka. Akhirnya Waroko dapat memiliki hati dan jiwa Warsini. Tetapi wanita itu meninggal, ketika melahirkan anak pertamanya. Setelah 29 tahun mencoba menjaga jarak, kenapa Endang Sukesi ingin mempertemukan mereka kembali? (Bersambung)

Ki Jambak Rikmodowo

Jelaslah ini bukan nama yang sebenarnya, karena dari artinya sungguh sangat menakutkan. Ki Jambak Rikmodowo, itu artinya orang tua yang menjambak rambut panjang.Rambut siapa yang dijambaknya? Karena orangnya sendiri tidak berambut panjang. Kalau maksudnya itu menjambak rambut panjang orang lain, bukankah itu suatu perkara? Siapa, yang mau dijambak rambut panjangnya oleh orang tua itu? Pasti orangnya akan marah, bisa-bisa kena pasal kriminal penganiayaan.

Pasti bukan itu maksudnya, kan kita juga mengenal sebuah nama legendaris Ki Hajar Dewantara. Dan seperti kita tahu, beliau bukan orang yang suka menghajar orang lain. Tetapi, beliau dikenal sebagai pengajar yang juga seorang Pahlawan Nasional.

Ki Jambak Rikmodowo, sebenarnya adalah nama samaran sang penulis. Dia juga sering menggunakan nama samaran Ki Bawuk Mangunhasmoro, atau Otraniw Sam, Chuck Win (Cak Win), Must Win (Mas Win), dan Fuck Win (Pak Win). Dan nama samaran yang terakhir inilah, yang sering bermasalah dengan tim redaksi. Karena dianggap tidak patut, dan atau tidak layak untuk di publikasikan. Hadhuh, padahal naskah yang dikirim sangat diinginkan mereka. Untuk pengiriman naskah anak-anak atau tinlit di majalah dia memakai nama samaran Winaruto. Agak narcis sih orangnya, padahal tampangnya tidak necis sama sekali.

Nah kembali kepada nama Ki Jambak Rikmodowo, ini ternyata ada kaitanya dengan fetish yang disandangnya. Ya, penulis adalah seorang long hair fetisher (penggemar rambut panjang) dan juga seorang long hair lover (penyuka/pecinta rambut panjang). Menggemari dan mencintai rambut panjang, rambut panjang wanita tentunya. Karena dia malah eneg kalau melihat pria berambut panjang. Sempat muncul satu pertanyaan membingungkan. Penulis itu suka rambut panjang wanita, atau suka wanita berambut panjang? Sepertinya, alternative pertama yang tepat untuk menjawab kepribadiannya. But he love woman with long hair,  tetapi dia mencintai wanita yang memiliki rambut panjang. Cinta yang bagaimana?

Sebenarnya lebih tepat disebut "pengagum" darpada "pecinta", selama tidak didasarkan pada pengertian nafsu. Tetapi bukankah akan selalu terkait, antara cinta, kagum, dan nafsu? Entahlah, mungkin tidak patut alasan itu di share dalam tulisan ini. Hubungannya dengan Jambak Rikmodowo akhirnya terpecahkan, penulis itu suka gemas kalau lihat rambut panjang wanita. Pengen ngelus, pengen nyiumin, pengen menjambak manja gimana gitu lah.

Apakah Ki Jambak ini akhirnya menjadi  anti trondhol? (bhs.jawa: berambut pendek). Tentu saja tidak, buktinya dia jatuh cinta kepada wanita berambut pendek. Kalau ini jelas menyalahi fetish-nya dong, masa pengagum wanita berambut panjang malah jatuh cinta pada wanita berambut pendek? Apakah ini sebuah karma? Tentu saja tidak, karena cinta yang ini bukan sekedar nafsu semata. Ada segumpal hati disana, yang membuatnya harus dan wajib mencintai wanita ini. Yaitu "ahlak mulia" seorang muslimah.

Tidakkah seorang wanita berambut panjang, juga bisa saja berahlak karimah? Ah, mana bisa disebut ahlukul karimah, kalau setiap hari dia pamerin rambut panjangnya. Tidak berhijab seperti kekasih penulis ini, dari satu hal itu saja sudah bisa dibedakan mana yang ahlakul karimah.

Bagaimana, apakah sudah dapat menarik benang merah dari uraian singkat nan sederhana di atas? Hubungan nama Ki Jambak Rikmodowo, dengan kegemarannya pada rambut panjang? Sangat simple dan gampang dimengerti kan? Nah, sekarang mari kita mencoba mengurai benang merah dari nama samaran penulis berikutnya, yaitu Ki Bawuk Mangunhasmoro.

(BERSAMBUNG)

Selasa, 23 Oktober 2018

Anniversary Testpack

Cempluk membuka pintu kamarnya dengan tergesa, lalu menutupnya dengan keras setelah dia di dalamnya. Membanting tubuhnya di atas kasur, dan menangis terisak dengan wajah terbenam di bantal. Beberapa pintu kamar, di sekitar kamar itu terbuka hampir bersamaan. Beberapa kepala tersembul dari dalamnya, saling berpandangan satu dengan lainnya.

"Ada apa?" tanya Cipluk penghuni kamar 19, dia bertanya kepada Ciput... penghuni kamar nomor 19, yang bersebelahan dengan kamar 21, kamarnya Cempluk. Ciput keluar dari kamarnya... perlagan mendekati kamar Cempluk, kemudian dengan hati-hati mengetuk pintu kamar itu.

"Pluk... Cempluk... Kamu kenapa, Pluk?" agak terbata dia memanggil, karena dari balik pintu dia mendengar isakan, "Pluk... Buka dong pintunya sebentar... Kamu baik-baik saja, kan?"

"Iya Put, aku baik-baik saja... tinggalkan aku sendiri, Put. Aku hanya ingin sendiri saja, Put" terdengar jawaban Cempluk dari dalam kamarnya, suaranya tetdengar serak dan berat. Ciput pun tanpa sadar mengangguk, sambil meninggalkan pesan pada Cempluk sebelum.pergi ke kamarnya lagi, "Kalau butuh apapun, kamu ketuk saja kamarku ya Pluk" meskipun tak terdengar jawaban dari sananya.

Cempluk, Ciput, Cipluk, dan beberapa orang lagi... adalah penghuni kamar kontrakan (kosan) itu. Kosan khusus putri, yang dititip kelolakan oleh pemiliknya... kepada seorang lelaki, mereka memanggilnya Pak Siman. Pengelola, dan juga pengawas kos-kosan, yang berpagar besi setinggi dua meteran itu. Sedangkan pemilik kos-kosan itu ada di Jakarta, seorang wanita... yang konon adalah, kekasih gelap duda 47 tahun itu.

Cempluk masih terisak, tetapi kali ini dia sudah telentang memandang langit-langir kamarnya. Terdengar nada notifikasi whatsapp dari gawainya, dia membacanya... kemudian membalasnya. Lalu matanya melihar ke arah testpact, yang tergeletak di meja riasnya. Alat itu menunjukkan, bahwa dirinya hamil. Itu yang membuatnya menangis tadi, terbayang betapa akan murkanya kedua orang tuanya... jika mereka mengetahui, anak semata wayang mereka hamil tanpa suami.

Ya... Cempluk memang hamil, dan satu-satunya lelaki yang seharusnya bertanggung jawab atas kejadian ini adalah... Winarto Sabdo, lelaki bangsat yang tiba-tiba entah kemana. Menghilang tanpa jejak, tanpa pesan, seperti lenyap ditelan bumi... sebelum sempat Cempluk mengabarkan tentang kehamilannya ini, lelaki itu tidak dapat dihubunginya lagi. Nomor gawainya tidak aktif, WA, Facebook, Line, G+, dan beberapa akun media sosialnya, semua tidak aktif. Apakah dia melarikan diri darinya? Berencana membebankan aib ini pada dirinya sendiri? Lalu mana bukti dari janji manisnya, saat merayunya melepaskan kesuciaanya di kamar hotel itu? Dimana sumpahnya yang selalu dia ucapkan, untuk akan bertanggung jawab kepadanya, bersedia menikahinya... setiap kali dia mengajak mengulangi, mereguk nikmatnya surga duniawi.

Hotel Tretes Raya, Hotel Surya, Hotel La-Syuga, dan beberapa tempat lainnya menjadi saksi... ketika dia selalu bersumpah untuk menikahinya.Kamar kontrakan ini, kamar kontrakan dia. Di kebun teh Penanggungan, di rumah pohon Taman Dayu, di tempat itu selalu dia membisikkan kata rayuannya... sebelum cumbu rayu menembus samudrasmara. Lalu sekarang, dimanakah lelaki yang selalu memberinya janji-janji indah itu berada? Tidakkah hatinya bersuka ria, karena dia sedang mengandung calon keturunannya?

Fikirannya sangat kalut, antara perasaan takut pada orang tuanya, perasaan malu pada teman sejawatnya, rasa kecewa, dan sesal yang menyesak di dada... dia mulai berfikir untuk mengakhiri saja hidupnya, dia akan bunuh diri.
Disambarnya sebuah gunting, lalu dia berancang-ancang... mengarahkan gunting itu ke arah ulu hatinya. Tetapi dia urungkan gerakannya, dia pandangi gunting kecil di genggamannya. Gunting pemotong kuku ini takkan bisa melukai kulitnya, mungkin hanya menyebabkan lecet saja... dan Cempluk benci luka, benci rasa sakit dan perihnya. Tiba-tiba dia ingat sesuatu, mungkin minum racun serangga yang tidak menyakitkan. Dia mencari-cari dengan seksama, disepanjang lekuk kamar itu. Tidak ditemukan apa pun yang dicarinya, boro-boro racun serangga... lotion pengusir nyamuk saja dia tidak punya.Apa harus membeli dulu di warung ujung jalan sana? Atau minum saja cairan deodoran? Apa iya bisa mati, kalau cuma dapet pahitnya saja? Ditengah kebingungannya, dia dikejutkan oleh suara.

Bunyi dering gawainya yang sangat nyaring terdengar, membuyarkan segala rencananya mengakhiri hidup. Diambilnya gawai yang terus-menerus berdering itu, dilihatnya foto  si pemanggil... Cemplon, teman sejawatnya di kantor.

"Hallo!"
"Hallo! Ada apa menelponku, Plon?"
"Eh... Sableng lu ya... main ambil tespack orang sembarangan!"
"Maksudnya apa, Plon?"
"Tespack yang lu bawa pulang itu punya gue! Nih punya lu, tertinggal di meja kantor... dasar sableng lu!" kata yang di seberang dengan nada berang, "Gue sampai bertengkar sama suami, gara-gara tiba-tiba jadi gak hami... padahal pagi tadi indikasi-nya hamil!"
"Jadi yang hamil elu, Plon?. Bukan gue?" tanya Cempluk mulai nampak kegirangan
"Eh, Pluk! Elu hamil sama siapa?!" terdengar suara dari seberang sana, dihiraukannya...
"Hai sableng!... kembaliin tespack gue!..."

Cempluk menari-nari dalam kamarnya, hilang sudah rasa was-was di hatinya. Ternyata, dia salah membawa pylang tespack orang yang sedqng hamil... temannya yang hamil, bukan dia. Tetapi, kenapa si brengsek Winarto Sabdo itu tidak bisa di hubunginya juga? Apa dia sudah melupakannya, dan sekarang mungjin sedang mencumbu seseorang di suatu kamar hotel?. Terdengar, suara pintu kamarnya diketuk dari luar. Buru-buru, dia membenahi penampilannya yang acak-adul itu. Setelah pintu terbuka, terlihat wajah orang yang sangat dihawatirkannya itu tersenyum padanya.

"Selamat malam, sayang" selalu kata itu yang meruntuhkan ketangguhannya, dia kehilangan akal untuk mencaci-maki kekasihnya itu. Padahalnseharian tidak bisa dihubungi, dan dia muncul kemari dengan senyuman.

"Kamu habis menangis, ya? Kenapa?" tanya kekasihnya dari tempatnya berdiri,"Kamu lupa ya... hari ini kita merayakan anniversary pertama kita?" kata lelaki iru lembut, dan entah kenapa tangisnya tiba-tiba saja keluar.

"Kenapa seharian tidak bisa dihubungi, ha?!... seneng bikin aku kawatir, aku nangis karena aku bingung tau!" kata Cempluk dengan marah yang manja.

"Gawaiku ada padamu, sayang. Di kunjungan terakhir kemarin kesini, bukannya dia tertinggal disini? Jangan-jangan tidak kamu charge ya? Wah... lowbatt dong, sayang?!"
"Ya ampuuun... aku baru mengingarnya! Benar, aku lupa tidak mengisi dayanya... mana seharian tadi aku coba menghubunginya, dan aku marah karena gawaumu tudak aktif," Cempluk menutup wajah ayunya, dengan kedua telapak tangannya sendiri, "Maafkan, sayang... aku telah berprasangka buruk padamu!"

Winarto Sabdo segera merengkuh tubuh kekasihnya itu, ke dalam pelukan dan dekapan mesranya. Membelai rambut panjang kekasihnya dengan mesra, seraya membisikkan sebuah kalimat di telinganya:

"Happy Anniversary, sayang" dan tangis bahagianya oun pecah berderai, tangis kebahagiaan, tangis kebanggaan, tangis kesuka citaan. Dalam hatinya pun, tulus mengucapkan satu kata "Happy Anniversary Cinta"

Cindelaras

Pada jaman dahulu, tersebutlah sebuah kerajaan besar di kawasan Kabupaten Kediri pada saat ini. Nama kerajaan itu adalah Jenggala, dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Putra. Ia didampingi oleh seorang Permaisuri yang baik hati, serta seorang Selir yang memiliki sifat iri dan dengki.

Raja Putra dan kedua istrinya, hidup di dalam istana yang sangat megah dan damai. Hingga suatu hari, selir raja merencanakan sesuatu yang buruk pada permaisuri raja. Hal tersebut dilakukan karena selir Raden Putra ingin menjadi permaisuri.

Selir baginda lalu berkomplot dengan seorang Tabib istana, untuk melaksanakan rencana tersebut. Selir baginda berpura-pura sakit parah. Tabib istana lalu segera dipanggil sang Raja. Setelah memeriksa selir tersebut, sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri.

"Orang itu, tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri," kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patih untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya.


Sang Patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke tengah hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuh sang permaisuri. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. "Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh," kata patih.

Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja merasa puas, ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.
Setelah beberapa bulan berada di hutan, sang permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberinya nama Cindelaras.

Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor Rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam. Cindelaras kemudian mengambil telur itu dan bermaksud menetaskannya. Setelah 3 minggu, telur itu menetas menjadi seekor anak ayam yang sangat lucu. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin.

Kian hari anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang gagah dan kuat. Tetapi ada satu yang aneh dari ayam tersebut. Bunyi kokok ayam itu berbeda dengan ayam lainnya. "Kukuruyuk... tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah Alas (di tengah utan), atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...", kokok ayam itu
Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya itu dan segera memperlihatkan pada ibunya.

Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. 

Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam.

"Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku," tantangnya. 

"Baiklah," jawab Cindelaras.

Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan.


Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat hingga sampai ke Istana. Raden Putra akhirnya pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana. 

"Hamba menghadap paduka," kata Cindelaras dengan santun.

"Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata," pikir baginda.

Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras


Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. 

"Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?" Tanya Baginda Raden Putra.

Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...," ayam jantan itu berkokok berulang-ulang.

Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. "Benarkah itu?" tanya baginda keheranan.

"Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda."


Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri.

 "Aku telah melakukan kesalahan," kata Baginda Raden Putra. "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku," lanjut Baginda dengan murka.

Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali.

Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

Pesan: Janganlah memfinah orang lain, demi untuk menjatuhkan martabatnya. Karena sesungguhnya, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.

ilustrasi: winartosabdo46.blogspot.com

Senin, 22 Oktober 2018

Life Herba Style

Bulan Oktober ini, cuaca di Kabupaten Nganjuk bisa dikatakan cukup extreme. Teriknya matahari begitu terasa menyengat kulit, karena memang musim kemarau tengah berlangsung. Karena saking panasnya cuaca, sehingga berkembang anekdot lucu di kalangan anak-anak. Jika dulu ada beberapa anak berkumpul, kemudian kita bertanya, "Sedang menunggu siapa?" mereka akan kompak menjawab, "Penjual mainan!". Tetapi sekarang... jika ada anak-anak dan ibu-ibu berkumpul, lalu kita bertanya pada mereka, "Sedang menunggu siapa?" mereka dengan penuh semangat akan menjawab, "Penjual ice cream!" karena, memang hanya makanan itu yang paling cocok dimakan/dinikmati, dalam cuaca yang sangat gerah ini.

Sementera itu, menukil dari kata-kata dalam puisi saya Kita Kumpulan Pejuang (yang ada di dalam artikel blog ini), saya "waktu takkan mau menunggumu...". Ini berkaitan dengan aktifitas kita sebagai pekerja/pejuang nafkah keluarga. Seharusnya cuaca tidak menjadi kendala dalam mengais rejeki. Mau panas atau hujan, kita harus tetap tegar mencari penghidupan yang halal. Dan tentu saja, ini membutuhkan stamina yang senantiasa kuat, dan juga vitalitas prima setiap harinya.

Untuk itulah, menjalankan gaya hidup sehat sangat dibutuhkan... tetutama untuk menjaga daya tahan tubuh kita. Olah raga setiap pagi misalnya, meskipun hanya beberapa menit saja, terbukti berpengaruh besar terhadap kesehatan. Saya biasanya melakukan joging, 10 sampai 15 menit setiap hari... minimal sampai tubuh mengeluarkan keringat. Apakah cukup dengan kegiatan itu saja? Tentu tidak. Menghadirkan menu makanan sehat yang seimbang juga perlu diperhatikan. Seperti halnya, menambah konsumsi sayur dan buah-buahan dalam pola makan kita.

Selain itu, pentingnya mengkonsumsi makanan/minuman herbal, yang bisa menambah vitalitas dan stamina  kita. Untuk minuman herbal yang praktis dan kaya manfaat, saya sudah pastikan untuk memilih varian produk dari www.herbadrinknatural.com . Seperti siang ini dengan cuaca yang sangat terik, saya sudah menyediakan Herbadrink Lidah Buaya di dalam kulkas. Herbadrink Lidah Buaya ini sangat aman dikonsumsi untuk seluruh keluarga. Bahkan untuk anda yang sedang menjalankan program diet, tidak perlu hawatir lagi dengan kandungan kalori di dalamnya. Karena Herbadrink Lidah Buaya tidak mengandung tambahan gula alias sugar free. Walaupun tanpa penambahan gula, rasa manis dari Herbadrink Lidah Buaya begitu segar terasa. Penggunaan pemanis buatan berupa sukrosa yang aman, sudah digunakan pada makanan dan minuman... di lebih dari 80 negara, termasuk Indonesia dan sudah mendapatkan lisensi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga sertifikasi halal dari MUI.
Herbadrink Lidah Buaya Sugar Free merupakan ramuan herbal yang dibuat berdasarkan resep tradisional Indonesia dan diproses melalui tehnologi modern. Diolah dari bahan-bahan alam pilihan, sehingga berkhasiat untuk membantu memelihara kesehatan, fungsi pencernaan, dan membantu melancarkan buang air besar, tanpa efek samping yang mengganggu.
Untuk menambah manfaat dan kenikmatan rasanya, saya campurkan irisan lemon dan sereh dengan Herbadrink Lidah Buaya. Kemudian saya diamkan dulu di dalam kulkas, selama ± 2 jam atau bisa juga didiamkan semalaman. Buat Teman-teman yang tertarik untuk mencobanya, berikut saya sertakan resep sederhana dari Herbadrink.

Bahan:

2 Sachet Herbadrink Lidah Buaya Sugar Free

1 Buah Lemon Iris (Saya menggunakan lemon lokal/jeruk nipis)  diiris dengan ukuran kecil

1 Batang Sereh (panjang ± 20 Cm)

300ml Air (seukuran gelas belimbing)

Cara Membuat:

Teman-teman cukup mencampurkan semua bahan, kemudian aduk rata, kemudian simpan ke dalam lemari es selama  ± 2 jam, atau bisa juga disimpan semalaman.
Rasanya begitu segar, dengan aroma herbal yang khas dari Herbadrink. Khasiatnya, mampu membuat badan menjadi fresh dan menenangkan fikiran.

Oh ya, selain Herbadrink Lidah Buaya Sugar Free, saya juga mengkonsumsi Herbadrink Sari Jahe dan Herbadrink Sari Temu Lawak. Kandungan bahan alaminya, benar-benar aman, dan memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh kita. Saya sudah merasakan, manfaatnya mengkonsumsi semua produk Herbadrink.
Teman-teman bisa mencobanya, dan membuktikan khasiat alaminya, dengan tanpa harus merasa was-was. Semua produk Herbalink aman dikonsumsi, dan bersertifikasi halal.

Karena kesehatan merupakan harta yang paling berharga, jadi mari bersama-sama menjaga kesehatan. Mulailah merubah gaya hidup kita, menjadi gaya hidup yang lebih sehat.
Salam sehat untuk kita semua. Terimakasih yang sudah berkunjung di blog saya ini, dan semoga artikel ini, bisa menjadi rujukan, serta memberikan manfaat yang seluas-luasnya.

#LifeHerbaStyle
Gambar diambil dari:
www.konimexstore.com
www.herbadrinknatural.com

Diikut sertakan dalam Blog Competion, yang diadakan oleh www.herbadrinknatural.com


Tehnik Membuat Paragraf Awal

Menulis cerita pendek membutuhkan teknik khusus. Kenapa? Kembali ke definisi, cerita pendek adalah cerita yang habis dibaca dalam sekali dud...