Jumat, 14 Juni 2019

Alasan Mengikuti NAD

Kenapa ingin ikutan Nulis Aja Dulu? Alasan khusus sesungguhnya tidak ada, tetapi memang tertarik ikutan saja. Dengan harapan, dapat mengenal lebih banyak teman-teman baru penulis-penulis potensial disini. Alasanku ikut grup sudah tersampaikan, nah sekarang kenalan boleh dong?.

Namaku: Winarto Sabdo
Umur: 47 tahun
Alamat: Nganjuk, Jawa Timur
Status: Nanti diperiksa lagi deh, maaf KTP ilang.

Nah, sebagai tantangan awal motivasi ikut Nulis Aja Dulu ini langkah bagus. Memberikan tema tulisan setiap hari, yang harus dituliskan oleh para peserta dalam 30 hari. Sebagai seorang penulis, sebenarnya sangat gampang menemukan ide untuk tema tulisan. Dan menjadi sebuah tantangan, ketika tema diberikan oleh orang lain. Juga pastinya akan menjadi boring, karena ada ketentuan mengenainya.

Bagiku, yang hampir menjalani hidup sebagai pengangguran. Atau tidak berpenghasilan tetap, atau pengandal transferan dari tulisan yang dikirimkan ke koran atau mahalah. Tantangan 30 hari menulis ini masih bisa kuikuti, walaupun sebenarnya saat ini juga dalam program Ramadhan Write Challange (tantangan menulis selama bulan puasa). Dan beberapa lagi, juga masih aktif di kegiatan WAG Group Literasi lainnya.

Eh rasanya sudah mencapai 300 kata ini ya (maaf aku tidak punya aplikasi penghitung kata), semoga bisa sedikit menguak tentang kepribadianku.

-Selesai-

Day1

https://www.instagram.com/p/BxHI3EaA67U/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=k8isk8vuqxw4

Marijan bin Sastro Kateno

Wasih terdiam duduk di sebuah bangunan bata pembatas jembatan, dari sungai yang melingkari desa kecilnya itu. Mata kecilnya menatap ke jalanan aspal di depannya, dimana berbagai macam kendaraan bergantian melaluinya. Bukan tanpa sebab bocah kelas lima SD itu melakukan semuanya, dia sedang menunggu kedatangan ibunya dari kota Surabaya tempatnya bekerja.

Setahun sekali dia pulang sebelum puasa, sebulan berkumpul dengannya dan juga Mbahdok (neneknya), untuk menjalani puasa bersama. Mereka akan sahur dan berbuka bersama, Wasih sangat menyukai masakan orangtua yang tinggal satu-satunya itu. Kue-kue dari kota yang banyak macamnya, dalam wadah kaleng yang beraneka rupa bentuknya. Hanya setahun sekali dia dapat merasakan makanan-makanan yang lezat-lezat itu, sekembali ibunya dari bekerja di kota Surabaya.

Sehari-hari Mbahdok hanya akan memasak; sayur bening, sayur asem, atau lalapan daun mengkudu. Terkadang, Mbah juga memberinya kulup daun pepaya yang sangat pahit rasanya, meskipun begitu Wasih tidak merasa terpaksa memakan semuanya. Karena Mbahdok menasehatinya, setiap makanan itu anugrah. Rasa pahit pada sayuran atau lalapan, itu semua adalah obat bagi kesehatan.

Puasa baru akan dimulai nanti malam, Pak Guru Agama Islam berkata: malam ini sudah melaksanakan Tarawih, dan sahur yang pertama untuk puasa pertama pada pagi harinya. Tapi hati Wasih mulai gelisah, tidak seperti biasa ibunya belum datang menjelang puasa pertama seperti ini. Biasanya, seminggu sebelumnya dia sudah ada di rumah.

Bunyi klakson mobil yang hendak masuk ke jalanan menuju desanya nyaring terdengar, membuat bocah kecil yang dikuasai lamunan itu tersentak kaget. Dengan tergesa tubuh kecilnya melompat kesisi jalan, memberi kesempatan mobil itu untuk melaluinya. Tetapi mobil itu malah tidak bergerak, Wasih menduga siapapun yang di dalamnya sedang membicarakan dirinya. Wasih hanya menduga, karena pandangannya bisa menembus keburaman kaca kendaraan itu.

Seorang yang berkerudung mengenakan kacamata sedang berbicara dengan sopir mobil itu, sesekali dia menunjuk kepada dirinya. Hal ini membuat hati hati gadis kecil itu mulai meragukan keberaniannya, jangan-jangan mereka ingin berbuat jahat padanya.

Kaca kiri depan mobil itu terbuka, seorang wanita berkerudung merah turun darinya. Berjalan menuju tempat Wasih, yang mulai berdiri dengan gemetaran. Ketika tinggal dua, atau tinggal tiga langkah lagi dari wanita berkacamata hitam itu, Wasih sudah bersiap-siap melarikan dirinya sekuat tenaga. Namun sebuah suara yang teramat dirindukannya itu terdengar, dari wanita yang berkerudung merah.

"Wasih! Kesini, nak." kata wanita itu, yang bersuara sangat mirip dengan suara ibunya.

Wasih tidak menjawab, rasa bingung dan ketakutan, masih menguasai raga dan perasaannya. Tetapi dalam hatinya berangsur mengakui, wanita ini tidak mungkin berniat ingin mencelakainya. Dia ingin menjawab sapaan itu, tetapi tiba-tiba menjadi gagap, sehingga lupa caranya berkata-kata.

'Wasih, kamu tidak mengenali Ibu?" wanita itu tiba-tiba sudah berjongkok didepan tubuh gemetarnya, memegang lembut kedua bahunya. Tetapi Wasih belum juga mengenali siapa wanita itu, dan seseorang pria tiba-tiba ikut berjongkok di dekat tubuh gemetarnya.

"Kamu belum melepaskan kacamatamu, Mah!" katanya, sembari memukulkan lembut sikunya ke tubuh wanita yang tampak sangat terkejut dengan teguran itu.

"Astaghfirullah, aku lupa Pah." bersamaan dengan itu dia menggeser kacamatanya, menyesak di rambut di atas keningnya.

Wasih meskipun meragukan daya ingatnya, tetapi nalurinya sebagai anak segera tahu siapa wanita itu.

"Ibu!" jerit gadis kecil itu dengan segenap perasaan, yang segera memeluk leher wanita itu sekuat-kuatnya. Emosi yang teramat sulit diterjemahkan anak sekecil Wasih, membuatnya pingsan dalam dekap kerinduannya. Diiring jerit ibu yang memeluknya dengan erat, dan wajah ketakutan pria yang menyertainya itu.

*****
Entah berapa lama Wasih pingsan, saat dia terjaga sudah berada di bilik kecilnya. Disampingnya, ibu tercinta tampak sembab di kedua matanya. Selama Wasih pingsan, dia selalu menangis tiada hentinya.

"Ibu?" Wasih membuka suaranya, "Siapa Bapak yang bersama Ibu tadi?"

Ibunya tetsenyum, tangan kirinya menyibakkan helai rambut dari kening anaknya. Dia mencium lembut kening bocah itu, sehingga dua tetes airmata menetesi wajah anakmya.

"Dia sekarang yang akan menjadi Ayahmu. Ibu dan Om Tio sudah menikah di Surabaya, mulai sekarang dia adalah Ayahmu."

Wasih tersenyum, meskipun dia tidak mengerti ucapan ibunya. Dia hanya ingat satu hal, setahun lalu Ibunya sudah berjanji membawakannya sebotol sirop untuk berbuka puasa.

"Ibu tidak lupa membawakan kami sirop kan, Bu?"

"Tidak sayang, ibu selalu mengingat permintaanmu," Ibunya justru memandang aneh kepada Wasti, "Malah ibu yang curiga, kamu yang sudah lupa dengan nama sirop pesananmu itu?"

"Tidak, Bu. Aku selalu mengingat-ingatnya setiap hari, namanya sama dengan nama almarhum Kakek."

"Apa namanya, sayang?"

"Sirop Marijan bin Sastro Kateno, Bu."

Jawaban Wasti ternyata membuat ibunya terbahak-bahak, sehingga ayah baru, dan Mbahdok sampai berlarian masuk ke dalam kamarnya.

"Ada apa, Mah? Kenapa kamu tertawa sekeras itu?' tanya ayah barunya kaget, sambil mengguncang bahu ibunya dengan keras.

" Tidak ada apa-apa, Pah. Mamah hanya kaget, mendengar Wasih salah menyebutkan merek sirop yang diinginkannya." terang Ibu pada suaminya.

"Emang, Wasih ingin sirop apa?" tanya Om Tio, sambil memegang tangan gadis kecil itu.

"Sirop Marijan bin Sastro Kateno, Om." jawab Wasih ragu.

"Itu nama Mbah Kung (kakek), kenapa dijadikan nama sirop?" protes Mbahdok, yang disambut gelak tawa mereka semua. 

Jadi selama ini, Wasih menghafalkan nama almarhum Kakeknya, agar ingat dengan merek sirop, yang diinginkannya sejak setahun yang lalu itu. Nama kakeknya adalah Marijan bin Sastrokateno.



#Day2
#RWCOdop2019
#onedayonepost

Day4

"Sudah siap, Mbor?" tanya Robert Paijan mantap, setelah merasa yakin panggilan dari gawainya tersambung ke gawai kekasihnya.

"Sudah dari tadi, Kang." Jawab Debora Wakinem, yang dipanggil Kombor olehnya tadi.

Pemuda itu segera menutup percakapan, kemudian memasukkan kembali gawai kevilnya ke dalam saku bajunya. Lelaki 25 tahunan itu beranjak menuju sebuah cermin yang tergantung di dinding kayu ruang tamunya, menelisik setiap detil penampilannya. Setelah puas mematut diri, jebolan kelas 11 SMA El Panas itu segera pergi ke istal. Memilih seekor dari kuda tunggangannya, seekor peranakan sadel arab yang sangat gagah. Tetapi, begitu keluar dari istal ibunya sudah siap menghadang langkahnya.

"He, bocah gemblung. Kamu mau pergi kemana, sebentar lagi Maghrib!" tanya Mak Michele Paijah, sambil berkacak pinggang di hadapan putra tunggalnya itu.

'Mau pergi ngabuburit, Mak. Nanti sebelum Maghrib, aku janji sudah ada di rumah." jawab Robert Paijan, yang langsung saja melompat ke punggung kucanya yang tidak berpelana itu.

"Baiklah, awas jika kumandang adzan Maghrib terdengar, dan kamu belum siap di meja makan!"

"Baiklah, Mak. Aku janji hanya pergi sebentar saja, assalamu'alaikum!"

"Waalaikumusalaam!"

Dan kuda berwarna hitam itupun melesat, berlari meninggalkan halaman rumah dengan cepatnya. Mengarah ke barat, ke arah kota Talang City ibukota kecamatan El Panas. Pada setiap tiba bulan puasa, kota itu menjadi sangat ramai. Karena munculnya pedagang takjil dadakan, dan masakan untuk kepentingan berbuka puasa.Dan sesungguhnya, keramaian itu juga dikarenakan orang yang sedang ngabuburit. Menunggu saat adxan Maghrib berkumandang, sambil melupakan rasa lapar mereka dengan kegembiraan.

El Kilat, nama kuda blasteran arab dan sunda itu dipacu dengan sangat kencang. Melewati halaman Masjid Al Maghribiha yang megah itu, terus dipacu ke arah matahari yang akan tenggelam. Tetapi di tengah jalan, Robert Paijan menghentikan El Kilat dengan tiba-tiba. Dari kejauhan, dia melihat kuda Deborah Wakinem sedang berlari ke arahnya. Tetapi dia tidak melihat sang pemilik mengendarainya, sampai La Nyinyir si kuda putih itu berhenti berlari di samping El Kilat kuda hitamnya. Robert Paijan memandang asal si Nyinyir datang, berharap melihat bayangan Debora Wakinem... tapi tidak ditemukannya kekasihnya disana. Dan dia mulai merasa khawatir, jangan-jangan telah terjadi sesuatu yang buruk pada diri kekasihnya itu.

Tanpa berfikir panjang lagi, Paijan segera membelokkan kudanya berlari menuju arah La Nyinyir datang. Sepanjang jalan fikirannya melayang, apa yang terjadi dengan Debora Wakinem kekasihnya?.

Di pinggiran kota El Panas City, daerah yang juga tempat tinggal Deborah, Robert Paijan menghentikan langkah kudanya. Dia terpaku melihat pemandangan yang tidak pernah ada di benaknya selama ini, dia melihat Deborah Wakinem duduk sepelana dengan Steven Parjo. Yang membuat dadanya merasa sesak seketika adalah, dia melihat kedua tangan Wakinem memeluk erat pinggang anak Marshal Mukiyo penguasa El Panas City.

"Aku melihat La Nyinyir berlari sendiri ke tengah kota, aku membawanya kembali untukmu!" teriak Robert Paijan kepada Debora Wakinem, mereka berdua segera turun dari kudanya.

"Hai Paijan, apa kabar kawan?" sapa Parjo akrab, tetapi Paijan menghiraukannya. Pandangannya tertuju ke arah Deborah, yang seakan tidak mengenalinya lagi. Sikapnya seperti orang yang baru pertama kali berjumpa, kaku dan tidak ada senyuman.

"Kamu jangan salah faham dulu, Jan. Gadis yang kamu lihat bersamaku itu bukan Wakinem, tapi dia adalah Anaconda Wakijah... saudari kembar kekasihmu Deborah Wakinem. La Nyinyir baru saja menjatuhkannya dari punggungnya, untung aku melihat kejadian itu dan segera menolongnya."

"Jadi, dia bukan Wakinem?" Robert Paijan melompat turun dari punggung El Kilat, memperbaiki pandangan matanya ke arah gadis itu.

"Aku disini, Kakang!" sebuah seruan, membuatnya memalingkan wajahnya ke arah suara tersebut. Dan betapa sangat terkejut hati Paijan, disana dia melihat kekasihnya Debora Wakinem tampak begitu jelita, duduk di punggung La Nyempluk kuda yang satu lagi miliknya.

"Kombor?! Kenapa kamu tidak pernah bercerita, kalau punya saudari kembar padaku?" tanyanya, sambil meraih tangan kekasihnya itu turun dari sadel kudanya.

"Kakang tidak bertanya, lagian Wakijah juga baru sekali ini datang ke El Panas, setelah 21 tahun diasuh keluarga Pamanku Alex Saidi di kota lain." jawab Debora Wakinem.

"Sudahlah, kebetulan kalian datang. Aku pasrahkan Anaconda Wakijah kepada kalian, sementara itu aku meneruskan perjalananku ke kota." kata Parjo dengan gentlemen, Paijan menyalami dan memeluk tubuh Parjo sahabatnya di SD El Anyep dulu itu. Mengucapkan terima kasih, kemudian melambaikan tangan ke arah pemuda yang baik hati itu.

"Aku terjatuh dari punggung El Nyinyir, rupanya dia baru sadar jika bukan kamu yang mengendarainya Nem." Kata Anaconda Wakijah, ketika Debora Wakinem sedang memeriksa luka ringan di dengkul saudarinya itu.

"Tidak ada yang serius, Jah. Kamu ikut kami pergi ngabuburit, atau pulang ke rumah dengan La Nyempluk?"

"Baiklah, aku ikut kalian saja!"

"Dan untukmu, Kang! Hafalkan perbedaanku dengan Wakijah, jangan sampai keliru lagi seperti saat ini!"

"Eh iya, Mbor. Aku sudah langsung tahu dari penampilan kalian berdua, kamu lebih trendy dari Wakijah yang feminis." jawab Paijan terbata.

"Baiklah, itu masuk akal. Aku menerima jawabanmu, dan mari kita lanjutkan acara ngabuburit kita."

Ketiganya, secara berlari sedang memacu kudanya masing-masing. El Kilat merasa sangat beruntung, berlari didampingi kedua kekasih hatinya El Nyinyir dan La Nyempluk. Mungkin juga hati Robert Paijan, baru di puasa Ramadhan 1440 hijriyah ini, dia ngabuburit dengan dua orang gadis tercantik di seluruh kota El Panas Kecamatan Talang City.

#RWCOdop2019
#onedayonepost
#Day4

Day5

Keceriaan Desa Balongkenco seakan bangkit kembali, setelah seharian ini terdiam oleh suasana puasa ramadhan. Tidak seperti biasanya, pada siang hari tidak terlihat ramai penjual menjajakan dagangannya. Para petani pun hanya sebentar menengok sawahnya, mereka pergi ke sawah kemudian pulang kembali ke rumah jika dirasa semua tidak ada masalah.
Hanya para peladang di sekitaran hutan yang tetap berada di gubug mereka, menghalau rombongan Babi hutan, atau rombongan Monyet, yang akan datang menyerbu tanaman disana. Sesungguhnya mereka lebih suka berada di rumah, berkumpul dengan sanak saudara, anak istri, atau melakukan hataman di Masjid Al Kautsar satu-satunya di desa itu.

Balongkenco sudah berubah total, dahulunya desa teepencil di tepian hutan itu adalah sarang maksiat. Hampir setiap rumah mereka adalah warung remang-remang, yang menyediakan minuman beralkohol, juga wanita-wanita pemuas nafsu syahwat.

Konon, desa itu dibangun dengan dendam dan sakit hati seorang janda cantik bernama Kenconowati, yang terusir dari desanya karena fitnah perselingkuhan yang tidak pernah dilakukannya.

Bersama dengan anak perempuannya yang terpaksa juga harus menjanda karena peristiwa itu, Nyi Kenco dan Srigati anaknya pergi dari desanya. Konon sebelum pergi dari desanya dia mengucapkan sumpah, akan membuat desa itu kehilangan setiap laki-lakinya.

Nyi Kenconowati yang berparas jelita itu menunaikan sumpahnya, dari sebuah gubug bekas orang berkebun yang di tepi sebuah sungai kecil. Setiap hari dia dan anaknya selalu melakukan kegiatan hampir tanpa busana, hanya menutupi sebagian kecil auratnya dengan sobekan kain Batik Balongan yang dibaginya dengan Srigati. Mereka berladang dengan menanam ubi jalar, dan berbagai tanaman yang bisa dimakan.

Beberapa lelaki yang pergi mencari kayu bakar ke hutan, menyebarluaskan berita tentang kehidupan Nyi Kenco yang berkain balongan itu ke desa-desa sekitarnya. Sehingga sedikit demi sedikit para pria hidung belang mendatanginya, mengajaknya berasyik masyuk dengan imbalan yang telah disepakati. Kurang dari setahun, desa yang akhirnya dinamai Balongkenco (kain balongan yang dipakai Nyi Kencono) itu menjadi semakin besar. Para janda yang sakit hati karena ditinggalkan para suaminya demi wanita lain, berduyun-duyun datang berkeluh kesah kepada Nyi Balongkenco. Atas bantuan para lelaki hidung belang, mereka dibuatkan rumah kecil untuk tempat tinggal. Sehingga semakin banyak para janda yang datang ke desa itu, semakin habislah lelaki dari desa asal Nyi Balong Kenco. Setelah yakin sumpahnya terlaksana, wanita itupun meninggalkan desa dan anaknya. Pergi bertapa di lereng Gunung Lengki di sebelah utara desa, dan hilang rimba dan kabar beritanya.

*****

Balongkenco dimasa kini, setelah kedatangan seorang Ustadzah Aminah. Seorang janda konglomerat dari Surabaya, yang sangat miris hati dan jiwanya, setelah membaca kisah desa di tepian hutan itu dari surat kabar. Dia membeli sebuah pekarangan yang luas di desa itu, membangun sebuah Masjid yang sangat megah di samping rumahnya yang mewah. Dan setahun yang lalu dia memutuskan meninggali rumah barunya itu, mulai memperkenalkan ajaran Islam yang sesungguhnya di Balongkenco.

Niat tulusnya itu bukannya tanpa ada hambatan, terror dan tentangan datang silih berganti menerpanya. Terutama dari Lurah Winarno, yang merupakan juragan mebel dari kayu ilegal, dan pemasok minuman beralkohol di desa itu.

Bahkan di suatu malam yang gulita, rumah Aminah didobrak segerombolan pria. Yang kemungkinan adalah anakbuah dari Lurah Win, yang kalah berdebat di halaman masjid saat itu. Aminah yang sedang melaksanakan sholat tahajjud mereka gelandang keluar, membawanya ke tengah hutan. Disana mereka menelanjangi wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang 55 tahun, dan mereka berniat memerkosanya di tengah hutan itu. Tetapi sungguh kuasa Allah SWT berlaku malam itu, keajaiban yang akan membuat bulukuduk merinding jika diceritakan.

Aminah yang sedari diculik dari rumahnya tidak berkata atau menjerit meminta pertolongan, hanya beristighfar dengan penuh kekusyukan. Disaat para lelaki mabuk itu ingin melaksanakan niat jahatnya, barulah Aminah berkata.

"Minta ijinlah dahulu kepada Allah SWT, jika kalian ingin menikmati ciptaan-Nya. Bacalah bismillah sebelum kalian memulainya, dan serukan alhamdulillah saat kalian menyelesaikannya. Ingatlah, Gusti kuwi ora sare (Tuhan itu tidak tidur) Dia tahu apa yang sedang kalian lakukan."

Sungguh ajaib, sepuluh orang yang berniat jahat kepadanya itu langsung gemetar seluruh badannya. Hilang nafsu birahinya, terduduk lemas bagai tiada bertulang. Sebentar kemudian mereka menangisi kekhilafan mereka, dan kesemuanya tersungkur dalam sujud permintaan ampun kepada wanita yang hampir mereka celakai itu. Setelah mengenakan kembali pakaiannya, Aminah membimbing kesepuluhnya membaca dua kalimat Syahadat.

Sekembalinya ke desa, kini Aminah memiliki 10 orang yang sangat ditakuti di desa itu. Mereka rela tidur di teras rumah janda itu, untuk mengamankan ustadzah itu dari dendam orang-orang yang membencinya. Inilah sepenggal kisah tentang Desa Balongkenco, sampai saat ini kisah ini masih diceritakan dari mulut ke mulut.

Inilah hari pertama penduduk desa Balongkenco melaksanakan puasa bulan ramadhan, suasananya berubah dari setahun yang lalu, apalagi sungguh sangat bertolak belakang dengan kisah terciptanya desa ini.

Tarawih pertama di puasa pertama desa Balongkenco, hampir semua rumah tertutup rapat. Jika rumah tersebut tidak tertutup, pasti ada seorang kakek atau nenek yang tidak sanggup lagi melaksanakan sholat tarawih karena usianya.

Di rumah Hajjah Aminah, para ibu, juga para remaja putri berkumpul, mempersiapkan takjil seusai melaksanakan sholat tarawih. Dan puluhan anak kecil bermain riang disekitarnya, dengan tangan dan mulut yang penuh dengan makanan dan minuman.

Subhanallah, tarawih pertama membuat masjid itu tidak mampu menampung jama'ah yang hadir. Sehingga sampai meluber ke halaman masjid, karena banyak juga warga dari desa sekitar yang bertarawih di Masjid Al Kautsar Balongkenco.

-Tamat-

#RWCOdop2019
#onedayonepost
#Day5

Day6

Nissa terjaga dari tidurnya, suara air yang mengucur dari belakang rumahnya telah membangunkannya dari tidur. Sejenak dia mencoba mengingat dengan nalarnya, darimana suara air yang bergemericik itu berasal. Tubuhnya terlonjak kaget, demi menyadari darimana suara air mengucur itu berasal.

"Astaghfirullah, air padasan (gerabah tempat menyimpan air untuk berwudu)!" gumannya dalam hati, kemudian dengan cepat melontarkan dirinya dari tempat tidur.

Dengan langkah berhati-hati dia berjalan meninggalkan kamar tidurnya, dia tidak ingin membangunkan nenek yang tidur di kamar sebelahnya. Berjingkit-jingkit berjalan melewati pintu kamar neneknya, berhenti sebentar untuk memastikan orang tua itu tidak terjaga karena pergerakannya. Alhamdulillah, orang tua itu terlihat lelap dalam tidurnya. Nissa memang hanya tinggal berdua dengan neneknya, setelah semenjak bayi dia ditinggalkan kedua orang tuanya menghadap Sang Pencipta. Nenek adalah satu-satunya gantungan hidupnya, pengganti kedua orangtuanya.

Melewati kamar nenek, Nissa masih mengendap-endap mendekati pintu belakang rumahnya. Menggeser pengganjal pintunya, dan langsung keluar menuju pekarangan belakang rumah. Suasana masih teramat gelap, bahkan dia tidak mampu mengira itu jam berapa. Dengan meraba dinding bambu di sebelah kanan pintu rumah, Nissa menemukan senter kecil yang selalu diletakkan di tempat itu. Benda itu pun dinyalakannya, sehingga alam sekitar yang terjangkau cahayanya terlihat jelas. Suara gemericik air itu sudah tidak lagi terdengar, tetap saja gadis 9 tahun itu ingin mencari tahu penyebabnya. Dengan bantuan cahaya dari lampu senter kecilnya, perlahan dia berjalan menuju tempat padasan itu berada.

Ketika sampai di tempat yang ditujunya, dia sungguh sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Padasan itu sudah dalam keadaan kosong, semua airnya mengucur terbuang karena lepas penyumpat lubangnya. Padahal seperti biasanya, air yang ada seharusnya masih cukup untuknya berwudu, juga nenek, ketika Shubuh datang.

Ini bukan berita bagus, karena berarti dia dan neneknya tidak akan bisa mengambil air wudu ketika waktu Shubuh datang. Mengisinya kembali? Itu yang sedang difikirkannya, karena dia harus mengambil air dari pancuran di pinggiran desa.

Nissa tidak ingin nenek kesulitan mengambil air Wudu, ketika hendak melaksanakan ibadah sholat. Tetapi untuk mengambil air di pancuran selarut ini, bukan ide yang bagus untuk anak kelas III SD itu. Sesaat bocah itu berfikir dalam sunyi, membiarkan angannya melayang. Andai saja orangtuanya masih ada, tentu masalah seperti ini tidak terjadi pada dia dan neneknya.

Hampir saja gadis kecil itu menangis, karena merasa tidak akan mampu menyelesaikan permasalahannya. Tiba-tiba sorot cahaya senter dari arah samping rumahnya, menyoroti sekujur tubuhnya. Gadis itu terkejut, tetapi tidak bisa melihat siapa yang sedang menyorotkan senter kepadanya. Hingga sebuah suara, terdengar memanggil namanya.

"Nissa?! Kamu sedang apa malam-malam begini ada diluar rumah, ha?" suara itu dikenalinya, suara Pak Wali Min tetangga depan rumahnya.

Nissa tidak menjawab, tetapi justru berlari mendekati Pak Guru di sekolahnya.

"Saya akan pergi ke pancuran mengambil air, Pak." jawab gadis kecil itu, setelah sampai didepan orang itu.

"Kenapa kamu mau mengambil air selarut ini, Nis?"

"Padasanku sumbatnya lepas, Pak. Jadi semua air didalamnya habis terbuang, ketika kami terlelap tidur."

Pak Wali segera memahami apa yang terjadi, di kegelapan dia tersenyum melihat tekad bocah perempuan kurus itu.

"Kamu tidak perlu pergi jauh-jauh ke pancuran, Nis. Di rumah Pak Wali kan sudah pasang PDAM, aku akan membawakanmu beberapa timba untuk mengisi padasanmu itu." kata Pak Guru, sambil menepuk bahu bocah yang masih ternganga tidak percaya itu.

"Benarkah itu, Pak?"

"Tentu saja benar, kemarikan timbamu itu. Sementara itu, tolong kamu terangi jalannya saat aku membawakanmu air."

"Baiklah, terima kasih Pak!" seru Nissa kegirangan, padahal dia tadi sudah mau menangis sebelum kedatangan Pak Wali. Dia takut mengambil air ke pancuran, selain itu tempatnya jauh, sedangkan dia harus mengatur cahaya senter dan membawa timba yang berat berisi air. Sekarang dia bisa tersenyum lega, karena pertolongan Alloh sudah berlaku padanya. Hanya sebaris rasa syukur terucap dari bibir mungilnya, diantara langkah riang mengikuti langkah Pak Wali mengangkut air mengisi padasannya.

"Terima kasih ya Alloh, telah Kau kirimkan seorang baik hati untuk mengisi padasanku. Aamiin!"

-Tamat-

#RWCOdop2019
#onedayonepost
#Day6

Day7

Seusai menjalankan ibadah shalat Ashar, Eny Siswanti segera bergegas menuju dapurnya. Inilah waktunya, untuk mempersiapkan hidangan berbuka puasa. Atas kesepakatan dengan suaminya Winarto Sabdo semalam, dia akan menghidangkan satu menu makanan tradisional. Sayur asem daun ubi jalar dan kacang panjang, dengan taburan taoge yang banyak didalamnya. Juga sambal terasi pereng/kehitaman (karena proses penggorengan), yang sudah lama tidak dihidangkannya.

Semua bahan memasak telah tersedia, yang sebelumnya dia simpan semua di lemari pendingin. Satu bahan yang belum ditemukannya adalah terasi mentah, yang baru tadi pagi dibelinya pada tukang sayur langganannya. Dimana dia menyimpannya? Mungkinkah benda itu tidak ikut disimpannya dalam kulkas?

Terasi itu masih terbungkus plastik seukuran sabun mandi, pagi tadi dia baru saja membelinya seharga 50ribu. Terasi Sidoarjo (salah satu kabupaten di Jawa Timur, yang terkenal dengan produksi terasi andalannya) yang paling terkenal keasliannya, dan rasanya yang melegenda. Hampir sepuluh menit dia mengobrak-abrik seisi dapurnya, tapi benda itu tidak juga ditemukannya.

Tiba-tiba tercium aroma terasi yang digoreng sampai di dapurnya, dari arah dapur rumah Bu Hasanatun tetangganya. Hidung Eny tidak akan tertipu, karena dia sudah sangat hafal aroma  khas dari terasi Sidoarjo ini. Ketika digoreng, aroma yang keluar darinya sangat berbeda dengan jenis terasi apapun.

"Apakah yang digoreng Bu Hasanatun itu, adalah terasi miliknya yang hilang?" tanya hati Eny, sambil terduduk lemas di sebuah kursi disisi meja makannya.

"Apakah seseorang dari keluarga Bu Hasanatun menyatroni dapurnya, kemudian mengambil terasi itu dari lemari pendinginnya?" sebuah tanya berkecamuk di fikirannya, membuatnya menutup muka dalam-dalam.

Bu Hasanatun adalah tetangga yang tinggal di sebelah rumahnya, seorang janda dengan lima orang anak kecil. Yang tertua duduk di kelas VI SD, dan yang terakhir masih belum disekolahkan walaupun umurnya sudah waktunya. Wanita 40 tahun itu sehari-harinya bekerja sebagai pemulung sampah, sambil menggendong si bungsu mengorek tempat sampah di sekitaran pemukiman itu.

"Astaghfirullaahalaziim!" Eny mengakhiri fikiran buruknya itu, setan telah membelokkan prasangkanya menuduh dan menjelekkan tetangga baiknya itu.

Selama ini, justru hanya kepada Bu Hasanatunlah dia selalu meminta pertolongan saat membutuhkan. Kepada tetangga lain dia tidak mungkin mengharapkan bantuan, karena seperti juga rumahnya... rumah tetangganya juga berpintu gerbang sangat tinggi, pun setiap hari tertutup rapat dan tergembok rapat.

Terdengar pintu gerbangnya dibuka, sebentar kemudian terdengar suara mobil Winarto Sabdo suaminya memasuki garasi rumah. Eny masih terduduk gemetaran, karena telah berfikiran buruk kepada tetangga terbaiknya.

"Assalamu'alaikuum!" terdengar suaminya mengucapkan salam, ketika membuka pintu depan untuk masuk ke dalam rumah.

"Waalaikumusalaam!" jawab Eny, yang masih terduduk gemetar di dapurnya.

Winarto merasa aneh, karena tidak seperti biasa istri tercintanya itu tidak menyambut kedatangannya. Mencium tangannya, serta melepaskan jas dan dasinya. Merasa ada sesuatu yang tidak biasa, lelaki 45 tahun yang menjadi direktur Bank Sami'an itupun bergegas ke dapur. Mendapati istri tercintanya tengah terduduk lemas di meja makan, dia segera menghampirinya dengan was-was.

"Sayang, kamu kenapa?!" tanyanya.

Eny segera mencium tangan kanan suaminya, kemudian memintanya duduk berhadapan dengannya. Kemudia wanita cantik itu menceritakan, perihal kehilangan terasinya hingga prasangka buruk kepada tetangganya.

"Astaghfirullah, Sayang. Tadi sebelum berangkat ke kantor, aku melihat seekor kucing membawa bungkusan plastik warna merah. Dia keluar dari dapur rumah kita, tapi menjatuhkan benda itu di belakang roda  elakang mobilku. Ketika benda itu dijatuhkan, aku segera memungutnya." cerita suaminya.

"Plastik merah seukuran sabun mandi, Mas?" tanya Eny tampak terkejut.

"Iya, Sayang. Baunya seperti terasi, kupikir kucing itu mengambilnya dari tempat sampah dapur kita. Mungkin daging busuk, yang sengaja kau buang karena tidak layak makan. Aku ambil tissu dari dalam mobil, kemudian bermaksud melemparkannya ke tempat sampah depan rumah kita," Winarto menghentikan ceritanya, sambil mencoba melonggarkan ikatan dasi yang membelenggu lehernya, "Ketika kulemparkan, aku tidak menyadari Bu Hasanatun ada di sekitar tempat itu. Dan segera berbalik arah menuju garasi kembali, tetapi Bu Hasanatun segera mengikutiku dan memanggilku."

"Apa yang terjadi kemudian, Mas?"

"Dia bertanya padaku, apakah benda dalam bjngkusan plastik merah itu dibuang? Aku mengiyakannya, dan mengijinkan dia memanfaatkannya, Karena katanya, benda itu sangat berguna untuk keluarganya."

Tiba-tiba tangis Eny pecah berderai, dengan gemetar dia memeluk tubuh suaminya dengan gemetaran.

"Aku berdosa telah berprasangka buruk kepada Bu Hasanatun, Mas! Aku telah menyangka, salah satu dari keluarganya mengambil bungkusan terasi itu di rumah kita! Antarkan aku untuk meminta maaf kepadanya, Mas!" raung dan tangis penyesalan yang dalam, dihamburkannya dalam pelukan lelaki pujaannya itu.

"Baiklah, sebentar lagi waktunya berbuka. Kita pergi ke rumah Bu Hasanatun untuk meminta maaf, sekalian kita ajak seluruh keluarga mereka untuk berbuka di luar bersama. Dan karena kamu sudah batal karena menangis, sekarang minumlah segelas air untuk meredamkan emosimu itu."

Eny tersenyum malu kepada sauaminya, memukul pelan pundak lelaki itu sebelum pergi ke kamar mandi.

Pukul lima sore, Eny dan suaminya sudah berada di rumah Bu Hasanatun. Setelah prosesi permohonan maaf yang mengharu biru, berpeluk-pelukan bagai suasana hariraya. Mereka lalu pergi ke kota, menuju sebuah rumah makan padang yang sangat terkenal. Semua bebas memilih menu makanan yang tersedia, boleh memesan minuman apapun yang disuka. Sungguh, suasana seperti begini bagaikan suasana surga yang penuh bahagia. Semua bersukacita, bersukaria, tidak ada dendam, hanya jiwa-jiwa yang bersyukur atas karunia-Nya.

-Tamat-

#RWCOdop2019
#onedayonepost
#Day7

Tehnik Membuat Paragraf Awal

Menulis cerita pendek membutuhkan teknik khusus. Kenapa? Kembali ke definisi, cerita pendek adalah cerita yang habis dibaca dalam sekali dud...