Jumat, 12 Oktober 2018

Pacar Untuk Si Jomlo

Membaca berita tentang fenomena pacar sewaan yang sedang hangat di media akhir-akhir ini, sedikit banyak membuatku mengelus dada. Prihatin.

Dulu aku meyakini, urusan pacar adalah level sakral. Tidak bisa dibaurkan dengan aneka rupa kepentingan yang materiil. Namun nyatanya "keyakinanku" ini pun akhirnya tumbang di tangan para pebisnis pacar sewaan.

Anjriiit!

Bisnis sewa pacar ini membuat nilai seorang pacar turun drastis ke level yang sangat rendah. Dari “Pendamping hati” menjadi sebuah “komoditas” jual beli. (Quoteku). Dan yang pasti, bisnis ini tak lagi menjadikan pacaran tidak lagi sakral.  Pacar jadi tak ubahnya seperti Play Station, yang bisa disewa kapan pun setiap jam-nya (Bedanya, tak boleh mencolokkan stik dengan sembarangan).

Tapi, Fenomena ini memang kiranya sudah diramalkan. Dunia yang sedang start-up,  membuat segala sesuatu sangat mungkin untuk dibisniskan. Tak terkecuali pacar. Wajar toh, lha wong kita ini hidup di zaman di mana sebutir beras pun sudah bisa dipalsukan. Maka jangan heran jika pacar pun sekarang bisa disewakan. Tentu ini tak terlepas dari teori ekonomi supply and demand, di mana ada permintaan, di situ ada penawaran.

Tentu kita mahfum, karena zaman sekarang, pacar semakin sulit didapatkan maka tak aneh jika kemudian pacar menjadi barang sewa yang bisa dikomersilkan.

Bisnis pacar sewaan ini jelas bisa berjalan dengan baik, karena para pelaku bisnis ini sadar betul bahwa mereka menjalankan bisnis ini di atas prinsip perniagaan yang tepat. Mereka menyadari benar bahwa segala sesuatu yang terlalu mahal untuk bisa dibeli, biasanya selalu menyisakan celah untuk bisa disewakan. Uang memang yidak membwli cinta, tapi kalau untuk mwnyewanya masih bisa.

Mereka juga faham benar, bahwa para pria fan wanita jomlo yang sudah muak dengan ejekan teman-temanya... mereka akan berusaha mencari celah yang longgar. Rasa malu dan jengkel membuat mereka royal dan rrla merogoh kocek yang dalam... hanya untuk membuktikan bahwa mereka bisa, dan mampu mendapatkan seekor pacar, eh, seorang pacar. Yah, walaupun statusnya hanya nyewa.

Faktor-faktor itulah yang kemudian membuat bisnis pacar sewaan ini tumbuh begitu suburnya.

Menurut salah satu pengusaha pacar sewaan, omset bisnis ini sangat-sangat menggiurkan. Dalam satu hari, mereka bisa mendapatkan penghasilan kotor hingga dua juta rupiah, di mana nilai profit sharing-nya bisa mencapai 40-50 persen. Siapa yang tidak tergoda dengan jumlah sebesar itu?

Dengan omset segitu besar, tentu banyak orang yang tertarik untuk menggeluti bisnis pacar sewaan ini (bukan menggeluti pacar sewaanya). Tak terkecuali denganku. Jujur, aku sendiri sebenarnya pernah punya niatan untuk membuka bisnis jasa pacar sewaan ini. Untuk awal,  aku hanya sebagai inventaris, tapi nantinya... aku sendiri juga bakal turun tangan dengan menjadi pacar sewaan tersebut. Tapi kelihatannya itu bakal sulit. Mencari orang yang mau menjadikanku sebagai pacar secara gratis saja,  susahnya minta ampun...  apalagi mereka disuruh menyewa.

Untunglah, aku masih cukup sadar dan tahu diri, sehingga niatanku untuk membuka bisnis pacar sewaan hanya sekadar bayangan saja.

Karena bagaimanapun, bisnis ini jelas merusak semangat militan para jomlo ,dalam perburuan seorang pacar. Semangat membara seorang jomlo yang senantiasa berusaha keras mempraktekan alur metodis sebuah perburuan, yang diawali dengan penaksiran dan diakhiri dengan penembakan.

Tentu kita harus sadar, bahwa yang istimewa dari seorang pacar bukanlah kecantikan, kebaikan, atau perhatiannya. Lebih dari itu, yang paling istimewa dari seorang pacar sejatinya adalah... sensasi pada saat berjuang mendapatkannya. It’s all about the process, not the result. Dan bisnis sewa pacar ini telah merusak kerangka proses ini.

"Anjriiit!"

Aku berharap, para Jomlo yamg membaca tulisan ini sadar, dan tidak terpengaruh dengan promosi masiv bisnis sewa pacar yang ramai beredar di berbagai media sosial. Percayalah, lebih baik "menyendiri dalam kejujuran" daripada "punya pacar tapi penuh kepalsuan"

Sudah Jomlo, pendusta pula, apa yang bisa Sapean harapkan?

Dan untuk para  pebisnis pacar sewaan, ayolah, tak bisakah kalian mencari bisnis lain yang lebih menghormati kesakralan sebuah hubungan? Yakinlah, masih banyak kok ceruk usaha lain yang omsetnya tak kalah mengiurkan selain bisnis sewa pacar, misalnya membuka bisnis Kontak Jodoh, atau membuka Wifi Cafe, atau sepertiku nulis novel, terbitkan, berharap menjadi best seller... kaya deh.

Sedangkan untuk para pria atau wanita yang mau-maunya dijadikan sebagai obyek pacar sewaan. Segera sadarlah, kalian itu bukan pemain sinetron, yang bisa dengan begitu mudahnya diskenariokan di entertainment partikelir. Kalian itu terhormat, maka bersikaplah layaknya seperti insan yang terhormat. Ingatlah Uang tidak bisa membeli segalanya.


Rabu, 10 Oktober 2018

Mbah Setu Dan Sebatang Handphone

Namanya adalah Mbah Setu, usianya sekitar 75 tahun. Dia tinggal di tengah hutan, bersama istri tercintanya Mbah Sakem yang berusia 70 tahun. Atas kebaikan hati para Penjaga Hutan di wilayah itu, Mbah Setu dan keluarganya boleh bertempat tinggal, dan diperkenankan menggarap lahan di sela-sela tanaman hutan. Itu pun dengan syarat, dia harus mau ikut membantu... memelihara pohon Jati muda, yang ditanam okeh pihak PERHUTANI.

Pohon jati yang dirawatnya itu sudah seukuran bedug, dan tinggi besar menjulang ke angkasa. Karena dia sudah berdiam di situ, sejak dia diusir oleh warga desanya 40 tahun lalu... karena dicurigai memiliki Ilmu santet. Dia dan istri tercintanya memilih tinggal di sana, di tengah hutan dan jauh dari desa tempat kelahirannya. Makan dari hasil panenan, yang mereka tanam di sela pepohonan. Mbah Setu dan istrinya adalah sosok yang ulet, mereka tidak merasa berkekurangan... meski pun mereka sudah terisolasi puluhan tahun lamanya. Mereka membuat nasi jagung dari tanaman jagungnya, dengan peralatan uang sederhana... hasil karyanya sendiri. Dan membuat lauk dari tanaman yang ada, bermacam sayuran yang ditanamnya.

Sering dia menukarkan hasil kebunnya dengan bumbu dapur, kepada petugas Polisi Hutan yang sengaja mengunjunginya. Tetapi memang, kedatangan petugas itu tidak bisa ditentukan. Kadang sebulan, kadang dua bulan sekali, bahkan jika musim penghujan... hampir tak seorangpun dari petugas itu yang mengunjunginya. Sepanjang musim itu mereka terpaksa makan apa saja yang ada. Tetapi sungguh, mereka adalah keluarga yang berbahagia. Mbah Setu memanggil istrinya Bune (Ibunya), sedang Mbah Sakem memanggil suaninya Pakne (Bsosknya). Walaupun, mereka tidak dikaruniai seorang anak pun. Mereka memposisikan diri sebagai Bapak dan Ibu siapapun.
***
Suatu hari Mbah Setu agak terlalu jauh meninggalkan gubugnya, menyusuri jalan setapak... yang sebenarnya adalah bekas tapak kakinya, berpuluh tahun melintasiya. Dia berjalan ke arah luar hutan, mengarah ke jalan beraspal... jalan yang membelah hutan tempat tinggalnya, yang menghubungkan Kabupatennya dan Kabupaten tetangga. Sebelum sampai di jalanan aspal langkahnya terhenti, dia melihat kira-kira 20 meter di depannya... terlihat beberapa orang Pria. Seorang Polisi, seorang Polisi Hutan, seorang mengenakan kopyah hitam mungkin seorang petinggi... karena kedua orang polisi itu, bersikap sangat hormat dan santun kepadanya. Terlihat juga beberapa orang mengenakan helm proyek, ada yang berwarna kuning, putih, juga berwarna biru. Sementara, di pinggir aspal jalan raya... terparkir 4 kendaraan, satu diantaranya mobil patroli Polisi. Mbah Setu mengamati mereka tanpa mereka menyadarinya, dia bersembunyi di rerimbunan alang di bawah sebuah pohon Mahoni. Siapa mereka? Mau apa mereka berkumpul di tepi hutan sepagi ini? Pertanyaan berkecamuk di dada lekaki tua itu.

Beberapa saat setelah yang berkumpul itu masuk ke dalam mobil masing-masing, dan meninggalkan pjnggiran hutan itu... dia pun kembali berjalan.

Diseberang jalan aspal itu adalah tujuan perjalanannya pagi ini, ke tempat dimana dia dapat menemukan tanaman Gadung (sejenis umbi dari tumbuhan merambat, yang beracun dimakan jika tidak benar cara mengolahnya). Bulan-bulan begini tanaman itu sudah waktunya di panen, dia memanennya setahun yang lalu. Ada seorang Polisi Hutan yang selalu dengan senang sekali membarternya, setelah Mbah Sakem mengolahnya menjadi bahan siap makan. Bayangan bakal mendapat bumbu dapur yang banyak, menari-nari dalam angannya. Terbayang juga senyuman di wajah istrinya, waktu membungkuskan bekalnya tadi.

"Semoga mendapat gadung yang banyak ya, Pakne" kata istrinya sambil tersenyum.

Nasi jagung, dengan lauk kulup gambas (rebusan labu muda), dan sambel terasi kesukaannya. Pasti hari ini dia akan mendapat hasil yang banyak, karena istrinya mendo'akanya selalu.

Langkahnya sudah hampir mendekati jalanan aspal itu, ketika tiba-tiba matanya melihat sebuah benda tergeletak di rerumputan, Dengan tergesa dia menghampiri benda tersebut, diamatinya dengan kebingungan... benda yang baru kali ini dia melihatnya. Benda itu dipungutnya, hatinya masih begitu takjub melihat keindahan benda itu. Dia menduga, pastilah benda itu milik salah seorang tadi yang tercecer. Perasaannya bimbang, antara meninggalkan benda itu... atau membawanya pulang. Tetapi hatinya memutuskan untuk membawanya pulang, kelak jika ada petugas yang mengunjungi gubugnya... dia akan meyerahkanya.

Mbah Setu tidak tahu, benda yang ditemukannya itu adalah sebuah Handphone. Setelah mengantongi benda tersebut (handphone), dia kembali berniat meneruskan  langkahnya. Ketika tiba-tiba benda di kantongnya itu bergetar dan bersuara nyaring,

"Pak! Ada telpon Pak!... Pak! Ada telpon Pak!" (bunyi nada panggil/ringtone)

Mbah Setu sangat terkejut, sampai jatuh berguling di rerumputan. Dengan cepat dia merogoh kantongnya, dan membuang handphone yang masih bersuara itu.

"Pak! Ada telpon Pak!"

Dia memasang kuda-kuda, sambil mengamati dengan seksama yang bersuara itu. Tiba-tiba suara dari benda itu berhenti, juga sudah tidak terlihat bernyala lagi. Tetapi Mbah Setu belum beranjak dari tempatnya memasang kuda-kuda, matanya pun masih menatap tajam handphone itu. Nafasnya terengah, karena rasa terkejutnya belum hilang. Lelaki tua itu masih menunggu, kali ini dia sudah duduk bersila... sambil mulutnya berkomat-kamit, membaca mantra. Beberapa menit tidak terjadi apapun pada benda itu, diapun berdiri... berjalan mendekatinya. Dengan sikap waspada, dia coba mengulik benda itu dengan sebatang ranting kering. Tidak terjadi apapun, tetapi dia ragu apakah akan memungutnya kembali.  Baru saja tangannya terulur untuk mengambil, tiba-tiba benda itu bersinar lagi... bergetar dan bersuara lagi,

"Pak! Ada telpon Pak!"

"Pak! Ada telpon Pak!"

"Pak! Ada telpon Pak!"

Demgan reflex Mbah Setu melompat ke belakang, menjauhi benda bersuara itu. Kembali memasang kuda-kuda pencak silatnya... seraya menoleh ke kanan kiri, dengan kewaspadaan seorang Jawara sejati.

"Siapa Kamu! Tunjukkan wujud aslimu!" teriaknya sambil mengelilingi benda tersebut, tidak ada yang menjawab tantagannya. Perlahan nyalinya menciut, dia merasa mantra pengusir hantunya tidak mempan lagi. Dia mulai berjalan beringsut, menuju ke samping sebuah pohon jati yang besar. Lalu dia duduk di rerumputan, masih dengan memandangi benda tersebut.
Tak terasa, keringat mulai mengucur diseluruh tubuh tuanya. Bermenit-menit benda itu tidak mengeluarkan suaranya lagi, seribu tanda tanya berkecamuk di hatinya. Mungkin benda itu berisi jin atau setan. Mungkin benda itu tak ingin disentuhnya. Mungkin benda itu tak sudi dimasukkan kantongnya yang bau itu. Mungkin benda itu sedang memanggil pemiliknya, karena yang dia fahami dari suara itu hanya kata "Pak" saja. Mungkin benda itu adalah anak dari benda serupa, yang mungkin lebih besar dari benda itu sendiri.

Sepuluh menit berlalu, tidak ada tanda-tanda benda setelapak tangan itu akan memanggil "Bapaknya" lagi. Mungkin dia sudah tertidur, karena kekelahan memanggil-manggil bapaknya. Setelah merasa benda itu sudah aman, Mbah Setu pun memberanikan diri mendekatinya. Dengan sigap dia melompat, dan menerkam benda itu dengan sekuat tenaga. Tanpa berfikir panjang lagi, diikatnya benda itu ke ujung ranting yang dibawanya dengan erat. Kudian dengan hati-hati mulai berjalan, dia memegang ranting itu seperti seorang pemancing. Berjalan menuju ke rumahnya, karena semangatnya untuk mencari gadung tiba-tiba lenyap.

Sepanjang jalan menuju rumahnya, hatinya dipenuhi kebimbangan. Apakah suatu keputusan yang tepat, membawa benda asing ini ke gubugnya. Bagaimana jika istrinya nanti ketakutan? Bagaimana jika jin yang ada di dalam benda itu merasuki istrinya? Bagaimana jika keputusannya membawa benda itu pulang, adalah seperti membawa pulang permasalahan saja?. Berulang kali pertanyaan itu berkecamuk di hatinya, hingga tak terasa langkahnya sudah memasuki halaman rumahnya. Istrinya yang sedang memetik sayur, terkejut dengan tingkah suaminya itu.

"Pakne! Ada apa?! Mengapa berjalan seperti itu???"  terdengar ada kecemasan di dakam teriakan itu, Mbah Setu memasang jari telunjuknya diletakkan di bibirnya... memberi isyarat istrinya untuk tidak bersuara. Dengan lambaian satu tangannya, dia memanggil istrinya untuk mendekat. Yang dipanggil pun datang mengendap-endap, mengikuti instruksi isyarat tangan suaminya. Berdua dengan saling berpegangan tangan, mereka pun masuk ke dalam gubugnya. Meletakkan ranting dan yang terikat handphone itu di meja. Kemudian Mbah Setu mengajak Mbah Sakem menjauh, sambil berbisik dengan suara tertahan,

"Ambilkan air minum, Bune,"

"Kamu kenapa, Pakne? Tubuhmu sampai gemetaran dan berkeringat begini?" tanya istrinya sambil mengangsurkan sebuah kendi pada suaminya, "Dan mana hasil pencarianmu hari ini?"

"Aku tidak bisa mencari gadung setelah menemukan benda ini, tenagaku habis terkuras untuk mendiamkan benda ini"

"Ini benda apa, Pakne? Kelihatannya sangat bagus... boleh aku menyentuhnya?"

"Jangan Kamu sentuh benda itu, dia itu hidup... bisa bersuara dan memanggil bapaknya"

Mbah Sakem menjadi semakin penasaran, dia tidak mendengarkan nasehat suaminya. Tiba-tiba saja dia sudah berdiri di samping meja, melepaskan ikatan benda itu dari ranting. Ketika tiba-tiba benda itu menyala, bergetar dan berputar  di atas meja... dan bersuara dengan kerasnya.

"Pak! Ada telpon Pak!"

Mbah Sakem menjerit ketakutan, berlari memeluk tubuh suaminya dengan gemetar.

"Pergi! Jangan ganggu keluarga Kami!" teriak Mbah Setu dengan marah

"Pak! Ada telpon Pak!"

Mbah Sakem semakin keras saja jeritanya, kain lusuhnya basah karena dia terkencing-kencing karena takutnya. Mbah Setu meraih sebatang kayu pengganjal pintu gubugnya, bermaksud akan memukulkannya pada benda itu.

"Diamlah! Atau Aku akan menghancurkanmu dengan kayu ini!"

"Pak! Ada telpon Pak!" benda itu tetap beesuara, seakan berjalan mendekati pinggir meja karena getarannya. Mbah Setu semakin marah, benda itu mengindahkan peringatannya. Maka dengan bersikap menyerang, dia bermaksud menghancurkan benda laknat itu.

"Hiiiiiaaaaaattt... !!!"
Tetapi terdengar suara keras dari luar gubugnya, yang menahannya dari gerakan menghancurkan benda itu,

"Assalamu' alaikuum... !"

Mbah Setu menoleh ke arah sumber suara, melalui pintu gubugnya yang terbuka. Dia melihat beberapa orang berdiri di sana, ada Pak Winarto si Polisi Hutan, satu orang Polisi, dan satu lagi lelaki gemuk berkopyah yang dilihatnya di pingguran hutan tadi pagi. Tergopoh suami istri itu pun keluar, menemui para tamunya.

"Walaikumusalaam!" jewab Mbah Setu dan Mbah Sakem hampir bersamaan, "Ada apa gerangan Bapak-bapak ini berkunjung ke gubug Kami?" imbuhnya lagi. Pak Winarto berjalan mendekati tubuh lelaki tua itu , seraya berkata kepadanya,

"Mbah, ini Pak Camat... dan ini Pak Kapolsek. Pak Camat baru saja tadi pagi kehilangan handphone, tepat di dekat jalan setapak... di dekat jakan raya, yang biasanya Mbah Setu lewati untuk memanen gadung," Pak Winarto memandang wajah lelaki, yang tampak kurang memahami perkataannya itu, sepertinya dia tidak memahami kata-katanya

"Apa Pak? Hapon?" tanya kakek itu kebingungan.

"Apa Sampeyan menemukan. benda seperti ini, Mbah?" berkata begitu Polisi Hutan itu, mengeluarkan sebatang gawai dari kantong celananya. Demi melihat benda itu, suami istri itu pun menjerir bersamaan. Seperti biasa, Mbah Setu langsung memasang kuda-kudanya. Tiga orang tamu itu tidak kalah terkejutnya, mereka pun mundur satu langkah bersamaan. Seperti ada sesuatu yang teringat, Pak Win segara mendatangi Mbah Setu berdiri... tentu setelah dia kantongi kembali gawainya.

"Bagaimana, Mbah. Apa Sampeyan menemukan benda itu?" tanyanya dengan lembut, seraya menepuk pundak pendekar renta itu.

"Tidak seperti itu, Pak. Tetapi mirip seperti itu," jawab Mbah Setu sambil menutup kuda-kudanya. Pak Camat ikut neringsut mendekati mereks, dan mulsi berkata juga si kakek nenek.

"Itu handphone Saya, Mbah. Didalamnya... tersimpan data-data penting, dan nomer-nomer penting para Pejabat Negara," katanya kemudian. Mbah Sakem yang lebih faham duluan dari suaminya, segera menunjuk ke arah meja di dalam gubugnya. Dengan tergesa Pak Winarto segera masuk, untuk mengambil benda dimaksud.Ketika benda itu sampai ke tangan pemiliknya, tiga orang itu pun bersama mengucap Alhamdulillah.

"Untung Mbah menemukan hape Saya ini. kalau orang lain yang menemukan... pasti sudah lienyap entah kemana. Terima kasih ya ,Mbah..." berkata seperti itu,  Pak Camat sambil memberikan lima lembar uang ratusan ribu. Mbah Setu menerima uang itu keheranan, sudah 40 tahun dia dan istrinya tidak melihat uang. Dan memang, selama itu pula dia dan istrinya... tidak pernah lagi memegang uang, apalagi mempergunakannya. Apalagi dia tahu, uang yang diberikan Pak Camat itu adalah tanda terima kasih... karena dia telah menemukan benda milik Pak Camat. Mbah Setu mengembalikan uang itu, tetapi Pak Camat tidak mau menerimanya. Maka, terjadilah saling angsur-mengangsur uang diantara mereka berdua.

Pak Winarto segera menengahinya, Pak Camat diajaknya menjauh dari Mbah Setu... kemudian dia berkata sesuatu kepadanya. Pejabat Pemerintah itu mengangguk-angguk, kemudian mendatangi lelaki tua dan isrrinya itu. Mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam, sekalian berpamitan kepadanya.

Setelah mereka pergi dengan membawa si hapon itu, barulah mereka merasa lega. Si Kakek langsung menggoda istri tercintanya.

"Owalaaah... Kamu ngompol, hanya karena si hapon ya, Bune?" ledeknya, yang merasa langsung memukul bahu suaminya dengan lembut. Berdua mereka kemudian masuk ke dalam gubug, sayup-sayup masih terdengar suara si kakek, "Buatkan Aku kopi ya, Bune".

Seminggu setelah kejadian itu, keluarga Mbah Setu dikejutkan dengan kedatangan beberapa orang berseragam. Mereka adalah beberapa orang SATPOL PP Kecamatan, yang masing-masing menangguk barang di pundak mereka. Ada Pak Winarto diantara mereka, yang menerangkan tentang kedatangan mereka.

"Ini semua adalah utusan Pak Camat, Mbah. Beliau mengirimkan sembako ini... sebagai ucapan rasa terima kasihnya" terangnya, "Beras 1 kwintal, mibyak goreng 50 liter, gula 20 kilogram, ada juga perlengkapan bumbu dapur... juga Beliau mengirimkan salamnya"

Mbah Setu hanya bisa ternganga dalam puji syukurnya , tidak menyangka Alloh memberinya rejeki yang banyak melalui Pak Camat. Ini gara-gara si hapon yang memberinya berkah, semoga semua ini barokah. Mbah Setu dan istri pun sangat berterima kasih, mereka melakukan sujud syukur bersama-sama di tanah. Alhamdulillaah.

*Naskah ini sudah dikirimkan ke redaksi@mojok.co (tabloid online berhonor), pada tanggal 2 Desember 2018.

Link: www.mojok.co (denhan keterangan pernah dipublish di komonitas ODOP)

#KelasFiksi

#ODOPBatch6

#TantanganKirim.ArtikelKeMediaMassa

Jalilul Akbar

Aku berdiri di depan cermin, memandang wajahku. Aku tidak pernah lupa wajah itu, yang berpuluh tahun menjadi kebanggaanku. Meski tidak setampan aktor sinetron, tetapi cukuplah bisa membuat para wanita terpesona... saat masih suka membaca mantra dulu.
Ya... Aku memang pernah mengalami Degradasi mental, dan merasakan Distorsi yang parah kala itu. Sehingga membutuhkan pembangkit semangat dan Motivasi, melalui sebuah do'a.

Tahun 1985, saat pertama kalinya aku... merasakan perasaan berbeda kepada lawan jenisku, mulai "menyukai"  penampilan mereka. Tentu jauh dikatakan  sebagai "cinta" dalam arti sesungguhnya, atuu pun kalau itu benar cinta... itu pasti hanyalah "cinta monyet" saja. Jatuh cinta... tetapi tidak tahu artinya cinta itu apa, hanya perasaan suka melihat rupa dan penampilan saja. Aku kelas 1 SMP saat itu.

Aku "jatuh cinta monyet" pertama kali... adalah dengan mantan teman sekelasku di 1F,  sebelum akhirnya aku dipindahkan ke kelas 1C. Namanya Lilik Mawartini, berasal dari tetangga desaku. Lewat teman akrabku Boim, (bukan nama sesungguhnya) aku selalu menitipkan salam... karena mereka bertetangga. Berbalas salam pun terjadi, cukuplah membuat hati semakin berbunga-bunga. Walau pun akhirnya jadi gemas pada Boim, karena ternyata... dia telah "merekayasa" persalaman ini. Lilik tidak pernah membalas salam-salamku padanya, bahkan dia jadi membenciku... setelah pertama kali menitipkan salam. Aku mengiriminya "surat cinta" pada saat itu, kutitipkan pada Boim teman setiaku. Isinya... aku hanya ingat sebagian kata-katanya, yang sangat kuingat adalah "Aku suka sama kamu. Bolehkah Aku mengenalmu lebih dalam lagi? Tidak pernah ada balasan, bahkan dia tidak menegurku sejak saat itu. Dan itulah kegagalan pertamaku, kekecewaan pertamaku, kegalauan pertamaku, kenestapaan pertamaku... kepatah hatian pertamaku. Biarpun sempat membuatku kehilangan semangat bersekolahku, tapi tidak sampai menghilangkan nafsu makanku. Tetapi... memang kuakui, jiwa Love Destroyer ku berawal dari kegagalan ini. Aku jatuh cinta lagi pada lain orang, pada adik kelas... saat Aku sudah menjadi anak kelas 2. Darminarty Dawang namanya, gadis kecil mungil yang lucu. Dan gagal lagi cintaku. Saat itu sebenarnya ada yang diam-diam menyukaiku, teman sekelasku di 2A... namanya Menik Rahayu. Gadis bertubuh gendut, yang sehari-harinya begitu dekat denganku.

Kelas 3... perasaan sukaku pada lawan jenis, mulai ada meningkat. Mulai tidak pede dengan teman satu sekolah, yang notabene setiap hari melihatku. Akupun mulai Explore cewek dari lain sekolah, ketika itu... hanya ada SMP PGRI dan Madrasah Tsanawiyah. Yang terakhir ini tidak Aku dekati... takut dibacain Ayat Kursy bisa angus gue. Maka, bertambahlah kenalanku dari sana. Jumini... yang akhirnya juga ditikung, oleh temanku Agus (almarhum), Samiati yang lucu, Nanik si anak Guru, dan si tomboy Lukan.... mereka semua tidak pernah membalas suratku, tidak semuanya sih. Samiati membalas suratku, mengajak bertemu di rumahnya yang disamping hutan itu. Hari Minggu aku menepati janji, dengan sepeda tua peninggalan Kompeni... aku datangi dia. Dan dia terkejut melihatku, karena dia menyangka orang lain yang akan menemuinya, bukan aku. Sedih kan? Kecewa kan? Patah hati lagi kan?
Tentu ini bukan pengalaman yang pantas dibagikan, apa menariknya? Seorang pelajar SMP yang jatuh cinta? Bisa menjadi motivasi generasi berikutnya? Menggembosi iya!

Oleh karena perasaan tidak percaya diri, dan karena kekurang yakinanku dengan kemampuanku. Akhirnya aku curhat sama kakak kelasku, saar itu dia sudah SMA... Imam namanya. Dia tertawa, menertawaiku... masih SMP kok sudah ngebet pacaran katanya. Tetapi aku tidak pedulj, semangat sekolahku hilang jika tidak punya pacar. Akhirnya... diberilah aku sebuah amalan, harus dibaca di waktu tertentu dan dengan hitungan tertentu. Nama amalannya Jalilul Akbaar, begini bunyinya:

Bissmillaahirrohmaanirrohiim
Walau anna qur'anan suiyirot bikil jibaalu aukutiat bihil ardhlu aukulima bihil mautabalillahil amru jami'aah

Allohuma inni ash aluka anthushkhiro lil qolba fulanah binti fulan alaa mahabbati wa mawwaddati nasrun minallohi wal fatqu qoriib wa basyiril mu'miniin

Dan entah karena manjurnya do'a itu, atau karena keinginan yang kuat. Alhamdulillah ilmu itu berhasil, setiap cewek yang kuinginkan... pasti klepek-klepek mbalas cintaku. Sampai lulus SMA yahun 1991, aku masih memakai do'a itu... tak terhitung jumlah mantan kekasihku. Tetapi akhirnya aku nerhenti memakainya, setelah menikahi Yashinta Prabawati istri pertamaku. Sesungguhnya, cinta itu datang dari Alloh... manusia berusaha, Tuhanlah yang menentukanya.

Selasa, 09 Oktober 2018

Nafas Terakhir

“Ya Allah sungguh perih penyakit yang kau titipkan pada hamba-Mu yang lemah ini” desahku pelan sambil tetap meneruskan mengetik dimeja kerjaku, sebisa mungkin kutahan rasa sakit ini dan terlihat baik di depan teman-teman kerjaku, agar tak ada yang mengetahui bahwa aku sedang berjuang melawan rasa sakit ini.

Namaku Sabian, saat ini aku bekerja disalah satu perusahaaan penerbit buku... sebagai salah satu penulis yang dianggap berbakat. Tiba-tiba telepon disampingku berdering, itu Manager yang memanggilku agar segera ke ruangannya.
Namun langkah kakiku, entah mengapa terasa berat dan sulit untuk digerakkan.

“Masyaallah Bian, Wajahmu kok pucat sekali?" kata Alex teman kerjaku dengan wajah cemas.

“Aku baik-baik aja kok, Lex. Sukron ya” jawabku sambil terus mencoba berjalan.Namun, rasa sakir itu tiba-tiba datang lagi... rasa sakitnya hampir membuatku menjerit kesakitan. Tidak tertahan lagi, aku terjatuh di lantai... semua menjadi gelap.

Perlahan-lahan kubuka mataku, seberkas cahaya pun masuk melalui kornea mataku. Suasana ruangan ini sudah tak asing lagi, ya ini rumah sakit... kulihat Alex dengan wajah yang masih berkeringat. Kemungkinan, dia yang membawaku kesini. Aku memanggilnya, dan memintanya untuk tidak mengatakan perihal penyakitku kepada siapapun. Termasuk istri serta anakku, dan Alex hanya mengangguk setuju.

Dengan langkah gontai aku mengetuk pintu rumahku. Kutarik nafas dalam-dalam dan bersiap-siap, mendapat omelan Istriku lagi. Namun malam itu sepertinya berbeda, suasana rumah tampak ramai, hingga untuk ketiga kalinya aku mengetuk pintu... barulah dibukakan oleh Tessa anakku. Diapun menyambutku dengan tersenyum, kemudian dia mencium tanganku. Akupun mengucapkan salam lalu masuk, pas diruang tamu istriku langsung bangkit ketika melihatku. Dia begitu tenang tak ada sedikitpun tanda bahwa dia akan mengomeliku.
“Kok telat pulang, Mas?” tanyanya lembut
“Baru selesai ngerangkum novel ke-5,  Sayang, Makanya aku telat” ucapku berbohong. Istriku masih terlihat tenang dan tersenyum, 'Lain kali, kasih kabar dulu dong, Mas. Oh iya, ini ada Mega sahabat lamaku. Dia datang ke sini berwisata,  dan menyempatkan bertemu denganku," ucap Istriku. Akhirnya terjawabkenapa dia setenang itu, aku pun berpaling dan kaget melihat wanita itu. Ya dia Mega Alusianita, sosok masa laluku yang sampai saat ini belum bisa kulupakan. Diapun sama kagetnya melihatku, buru-buru Aku menunduk dan mengatupkan kedua tanganku, demi menyapanya

“Selamat malam, Mas Bian” kata Mega sambil mengulurkan tangannya, kamipun berjabatan tangan dengan erat.

“Kalian sudah saling kenal rupanya, kenal di mana? Kok kalian gak pernah cerita padaku?" tanya istriku Dina terkejut, "Eh, kamu tampak pucat ada apa, Mas?”tegur Dina setelah sesaat menatap wajahku.

“Aku baik-baik aja, Sayang” kurasakan sesuatu yang hendak meleleh, kusentuh hidungku dan kaget... karena aku kembali mimisan. Kututup hitungku lalu pergi kekamar, menuju kamar mandi. Setelah kubuka pakaianku, langsung menyiram kepalaku yang terasa panas. Kudengar pintu kamar mandi diketuk dan itu adalah Tessa. Setelah yakin darah tak keluar lagi, aku mengenakan baju mandi yang tergantung dipintu kamar mandi. Ketika kubuka pintu kamar mandi, Tessa telah menyambut di depanku.

“Kenapa Yah? Apa Ayah sakit?”seraya meraba keningku,"Ya Allah, Ayah. Badan Ayah panas sekali. Ma! Mama!" teriaknya kemudian. Berlari kecil Dina menghampiri kami.

"Ada apa, Tes?"

"Ayah sakit Ma, badannya panas sekali" Dina pun menpelkan tangannya di dahiku.

"Iya Mas, badanmu panas sekali"

“Mungkin karena kecapekan kerja saja, Sayang”

“Ya sudah, kamu istirahat saja ya, Mas. aku temani Mega dulu”

Aku mengganti pakaian mandi, dengan piyama. Menunaikan salat isya dalam doa tak henti-hentinya, memohon agar Allah tetap memberiku ketegaran...  dan kesabaran. Selesai sholat, aku pun beranjak ke meja tulisku dan meraih buku diaryku. Kutulis semua curahan hatiku... tetapi tidak tentang Mega. Bertahun-tahun sudah aku berusaha melupakannya, namun sangat sulit. Akupun sadar, saat ini tak boleh berharap padanya, karena sudah ada Dina disampingku.

Semalaman aku tertidur dengan, gelisah. Kepalaku terasa mau pecah, sakitnya luar biasa. Tetapi Dina juga tertidur dengan nyenyaknya, mungkin terlalu letih dengan aktifitasnya. Setelah sarapan. bersama, aku pamit pada Dina... untuk kembali bekerja, karena novelku yang akan segera diterbitkan. Aku belum selesai mengetik, ucapan terima kasihku. Novel yang kuberi judul Suami Beraroma Surga.

Sampai di kantor, Alex buru-buru menyambutku.

"Bian... kenapa tidak istirahat dulu saja di rumah, kamu sudah benar-benar sehat?"

" Iya, Lex. Hari ini kan ada meeting... mengenai peluncuran novel terbaruku, masa aku tidak menghadirinya?"

"Iya, tapi muka kamu pucat sekali..."

"Tidak apa Lex, terima kasih perhatianmu"

Kami pun segera menuju ruang meeting, sepanjang perjalanan aku sudah mulai tidak nyaman dengan kondisiku. Alhamdulullah, novelku mendapat bintang lima dari editor... ini permulaan yang bagus untuk perjalanan novelku. Selesai meeting, aku kembali ke ruang kerjaku bersama Alex... dia tahu aku sedang bersedih karena penyakitku ini. Tiba-tiba Aku terjatuh menabrak pintu ruang kerjaku. Ya Allah sakit itu kembali terasa, tubuhku mengigil kedinginan. Sayup-sayup kudengar Alex berteriak panik, mataku berkunang-kunang dan semuanya gelap.

Pasti aku pingsan lagi, dan pasti Alex dengan ambulan perusahaan juga yang membawaku kesini. Aku coba menertawakan kondisiku ini, aku sudah ingin membuka mataku... ketika tiba-tiba kudengar, pintu ruang tempatku dirawat ini terbuka.

"Assalamualaikum, Nyonya" terdengar suara seorang pria, dan siapa yang dipanggilnya Nyonya?

"Waalaikumusalaam, dokter," itu suara Dina istriku, akupun ingin membuka kelopak mataku... tetapi kenapa tidak bisa kulakukan? Kucoba memanggil nama istriku, tetapi kenapa tidak terdengar suaraku? Apa yang terjadi dengan tubuhku ini?

"Sebenarnya, apa yang diderita suami Saya ini, dokter" tanya Dina, suaranya terdengar serak karena isakannya.

“Pak Bian mengidap kanker otak stadium 4, Nyonya. Penyakit ini belum ditemukan obatnya, sama dengan yang diderita Olga Syahputra dulu. Kita hanya bisa berharap pada keajaiban, atau mujizat atas kesembuhannya" kata sang dokter itu terdengar jelas di telingaku. Kangker otak? Stadium 4? Belum ada obatnya? Olga Syahputra? Sakit di kepala ini kembali terasa, tetapi kali ini bahkan berteriak pun aku tak bisa. Yaa Alloh... rintihku dalam hati. Perlahan pandanganku mengabur, bahkan kini aku tidak bisa lagi merasakan lidahnya. Kenapakah tubuhku ini? Aku terus berusaha menggerak-gerakkan tubuhku, tetapi semua hanya sia-sia saja. Selarik do'a pun aku panjatkan,

" Ya Alloh... jika ini adalah akhir kehidupanku di dunia ini, aku rela Kau ambil nyawaku ini. Tetapi Aku memohon padamu yaa Alloh... peliharalah mereka yabg kutinggalkan, lindungilah mereka, Cukupkanlah rizky mereka, anugerahkanlah selalu kebahagiaan di hati mereka. Jagalah keimanan mereka, dan kelak bila tiba saatnya... kumpulkanlah  mereka bersamaku kembali. Yaa Alloh... ampunilah dosaku, dan segala kekhilafanku. Hanya padamu Aku memohon. Aamiin"

Tiba-tiba cahaya putih melingkupi segala ruangan itu, lebih terang dari cahaya Matahari. Dari dalamnya, keluarlah beberapa sosok yang seperti manusia... wajahnya bercahaya, tersenyum padaku.

"Bangkitlah hai Sabian, ikutlah denganku... karena sudah tiba waktunya, engkau menghadap pada-Nya" katanya lembut, seraya menarik kedua tanganku untuk berdiri... terjaga dari ranjang rumah sakit itu. Aku pun mandah saja, kuikuti apa pun yang di katakannya. Tiba-tiba tubuhku melayang, sehingga Aku bisa melihat pemandangan di bawahnya. Kulihat dokter dan perawat, mencopoti semua selang yang masih menempel di tubuhku. Kulihat Dina istriku, dan Tessa anakku menangis berpelukan. Aku tak mendengar tangis mereka, tetapi dapat kurasakan kesedihan di hati mereka. Maafkan Aku sayang... hanya itu yang bisa aku ucapakan, sebelum semua menjadi hening dan hilang.

Aku Mengenalnya

siapakah dia yang hatinya begitu lembut
kesedihan sesama adalah tangisnya
kesusahan sesama adalah isaknya
kedukaan sesama adalah sedunya
dia terdepan saat bicara kemanusiaan

sesungguhnya dia hanya manusia biasa
yang merasakan lelah di raganya
yang merasakan letih di jiwanya
yang merasakan lesu di sanubarinya
tetapi dia berjuang atas nama kesejahteraan

ya aku mengenal dia
seorang ibu atas dua putrinya
kepala rumah tangga atas keluarganya
ia memimpin jiwanya untuk terus merdeka
membantu yang membutuhkan pengabdiannya
annisatul jannah dialah orangnya...

Anugerah Tsunami

Gegap gempita. Bergulung-gulung menghantam segala. Gelombang pasang dahsat menyapu daratan. Suaranya bagai dentum meriam. Menghajar segala penghadang. Luluh lantak segala bangunan larut dalam air. Seperti bubuk kopi di sore hari. Gedung menjulang dirubuhkan. Pohon menentang ditumbangkan. Tak ada yang mampu menghentikan. Amarah alam murkanya Tuhan.

Jeritan manusia terdengar bagai takbir berkumandang. Raungan hewan yang tak berdaya dalam ikatan. Meronta menggelinjang. Ratapan menggema tiada ada putusnya. Semua memohon pertolongan Tuhan. Memohon diselamatkan dari kedasyatan. Sebelum akhirnya semua ditumpaskan. Membungkam semua raungan dan tangis mereka. Hilang nyawanya. Bergelimpang di semua medan. Banyak yang tidak sempat menutup mata. Saat nyawa tercabut dari tubuhnya.

Mayat tak bertuan kini jadi bergelimpangan. Tersangkut pucuk dahan. Di rumpun bambu yang rebah menyerah. Terkubur lumpur yang dalam. Tertimpa dinding perlindungan. Menyisakan sepi. Tak ada lagi yang memanggil nama Tuhan. Mereka mati tanpa persiapan. Petani yang tertimbun sawahnya. Nelayan yang terbungkus jaringnya. Ustadz yang memeluk kitab sucinya. Janda yang mati sambil mendekap anaknya. Bahkan si yatim kecil yang tak bernyawa, tergeletak di jalan raya. Ketika alam yang marah mereda. Berganti murung dan nestapa. Senja merah merana dalam duka nestapa. Gulitapun merangkul mereka. Gelap tanpa setitik pun cahaya.

Sehari tak terjamah. Bangkai manusia itu berubah. Darah yang mengering menghitam. Paru-paru yang meledak mengeluarkan airnya. Membengkak dibakar terik matahari. Ribuan jumlahnya tua dan muda. Miskin atau kaya. Mereka tumpas oleh tsunami yang melanda.

Ini adalah anugerah. Teriak kami di pucuk daun pohon yang tersisa. Keberhasilan dari do'a kami sepanjang hari. Yang terusir teraniaya. Dicemooh kaum mereka. Dicaci dihardik. Menyemprot kami dengan pestisida. Mengusir kami dari kehidupan mereka. Padahal kami makan dari sisa makanan mereka. Yang mereka buang dengan jijiknya. Di tempat sampah kami menunggu rizki. Beribu-ribuan keluarga kami. Berjuta-juta lagi banyaknya. Tidak pernah mengganggu kebahagiaan mereka. Tetapi kami harus menghindarinya. Atau mati dalam tepukannya. Kami adalah biang penyakit bagi mereka. Mereka menutupi semua makanannya, agar kami tidak bisa hinggap di atasnya.

"Hei Kamu! Pergilah  kesana!" teriak Lalat tua menunjuk ke sebuah mayat, "makanlah dari mulut mereka yang ternganga!"

"Dia yang perintahkan agar membasmi kaum kita!"

"Kita busukkan mulutnya!"

Berbondong kami terbang kesana, merubung mulut mayat dokter yang menganga.

"Hei Kamu! Terbanglah kesana!" teriak Lalat tua mengarah ke mayat wanita muda,

"Busukkanlah kemaluannya!"

Dia adalah mayat wanita tuna susila. Yang menjual harga dirinya demi harta.

Kami masih menatap mereka. Sayap kami basah oleh hujan semalam. Lapar yang kami tahan. Semoga terlampiaskan.Tidak hanya pada dua mayat tempat kami akan berpesta. Ada ribuan lagi tempat kami bersuka cita. Memakan luka di tubuh mereka yang membusuk. Berdarah bernanah. Yang mulai mengeluarkan bau anyir. Yang mengundang kami bersuka ria. Saatnya kami melampiaskan hasrat kami. Bercinta diudara. Bercumbu dengan sesama.

Tuhan menganugerahkan kami makanan yang banyak. Kami akan telurkan ribuan generasi. Ribuan larva anak-anak kami. Dan jutaan generasi muda. Dalam luka yang busuk. Luka yang menganga. Dalam darah yang menghitam. Dalam aroma anyir yang memenuhi udara. Kami berjaya dalam bencana. Kami bertambah kuat dalam prahara. Mereka yang tersisa tidak akan berdaya. Dan kelelahan mengusir kami kami semua. Terima kasih Tuhan, telah Kau hadiahkan pada kami mayat-mayat yang membusuk ini. Aamiin.

Senin, 08 Oktober 2018

Obat Stress

Entah siapa yang menemukan kreatifitas ini, membuat paduan kata yang membelitkan lidah.Jika dia sudah meninggal pasti saat ini sedang dihajar makaikat, atau kalau masih hidup dia pasti sering dihajar orang juga.

Coba bayangkan... dia menciptakan tiga paduan kata Tongkat Kontak Tongkol, yang bahkan tidak pernah terfikirkan oleh seorang Profesor bahasa sekalipun. Apa yang tidak pernah mereka bayangkan, adalah seni mengucap cepat berulang-ulang itu, bisa meledakkan tawa sedemikian dahsyatnya... karena ending-nya yang pasti belibet.

Ini hanya ilmu... tidak bermaksud ingin menyebarkan aliran sesat, atau mempropagandakan jargon politik. Aku hanya ingin membuktikan kata-kataku sendiri, bahwa tiga kata ini sesungguhnya sangat sakti mandraguna. Tidak berbahaya, dijamin tidak berbau SARA. Boleh diucapkan oleh pemeluk Agama apapun, atau Kepercayaan apapun. Tidak usah membayar, karena ini hanya ilmu tahu sama tahu saja... tidak pakai tempe.

Anda tidak percaya jika kata "Tongkat Kontak Tongkol" ternyata sakti mandraguna? Aku kasih contoh kasusnya, di bawah ini :
1. Istri Pak RT sedang mogok bicara sama suaminya, suaminya curhat padaku.Aku minta dia, mengucapkan tiga kata itu dengan lembut di belakang (bukan di depan) istrinya. Sepuluh menit setelah pulang dari rumahku, sudah terdengar canda tawa ria dari rumahnya.

2. Seorang anak kecil yang sedang bersedih, karena di abaikan Ibunya yang sedang reunian sama teman-temannya... aku suruh membaca tiga kata ini, dengan keras dan berulang-ulang. Alhamdulillah, sang ibu langsung memeluk anaknya, sambil membungkam mulutnya.

Dari kedua contoh di atas, aku dapat menarik kesimpulan... jika ternyata ketiga kata itu, dapat menyelesaikan masalah apapun dengan cepat. Aman diucapkan, asal sesuai dengan petunjuk yang kuberikan. Dan apakah kata-kata ini bisa menjadi solusi, untuk segala mavam persoalan hidup? Aku katakan bisa, semua permasalahan yang berkaitan dengan kesedihan bathin. Untuk yang sedang galau, sedih ditinggal kekasihnya, lagi banyak utang, depresi karena ekonomi, intinya... apapun yang berhubungan dengan kesedihan, tiga kata ini akan menyelesaikannya. Masih kurang percaya, silakan coba sendiri seperti imstruksi ku di bawah ini ;

Untuk semuanya saja yang sedang bersedih, dan kehilangan tawa gembiranya.
Silakan ikuti petunjuk pelaksanaannya :

~ Berdirilah selitar 40 atau 50 centimeter dari kaca cermin

~ Tatap wajah Anda dibayangan cermin, tunjukkan wajah melas Anda

~ Tarik nafas lalu hembuskan melalui hidung sebanyak 3 kali

~ Membaca Basmalah bagi yang muslim, jangan membaca novel

~ Lalu ucapkan dengan keras dan cepat berulang-ulang :

Tongkat
Kontak
Tongkol

Jika ini tidak bisa memancing tawa dan gelak Anda, pergilah ke psikiater secepatnya... karena itu menandakan Anda sudah ling-lung parah.


Hahahaha.


#TantanganODOP5

#onedayonepost

#OdopBatch6

#fiksikomedi

Tehnik Membuat Paragraf Awal

Menulis cerita pendek membutuhkan teknik khusus. Kenapa? Kembali ke definisi, cerita pendek adalah cerita yang habis dibaca dalam sekali dud...