Minggu, 21 Oktober 2018

Antara Truk Box dan Sandal Joger (Essai)

"Truk aja punya gandengan, masa kamu yidaak? Sandal aja ada pasangannya, masa kamu tidak?”

Sumpah, itu adalah stereotipe sindiran basi untuk kaum bujangan yang pernah sangat popular dan kebetulan sering kudengar (karena memang sering ditujukan kepadaku). Sangat menyebalkan. Seolah-olah harga diriku ini jauh lebih rendah daripada truk atau sandal. Kalau difikirkan dengan seksama, sepertinya memang iya sih.

Tukang sindir yang sering menggunakan sindiran truk dan sandal ini seolah-olah ingin mengatakan kepada si tersindir: “Ini lho, Aku bisa punya pacar, kapan sampean punya pacar?”. Sepintas terdengar sangat motivatif, tapi di satu sisi, juga terdengar sangat pamer. Mentang mentang sudah punya gandengan yang segedhe truk, main sindir seenak udelnya.

Ya, aku tahu... bahwa sindiran ini hanya bermaksud sebagai bahan ledekan saja, namun jika itu kemudian ditanyakan terus-menerus, aku sebagai salah satu obyek yang sering disindir pun tentu lama-lama akan muak juga. Baper juga lah, masa tiap hari diledikin.

Seorang kawan pernah berkata kepadaku, bahwa tidak punya pasangan itu secara umum terbagi atas dua sebab, pertama karena "kepepet" dengan keadaan, alias karena memang susah dapat pacar, dan yang kedua karena "pilihan"... karena yang bersangkutan merasa nyaman dengan kesendiriannya.

Nah, menurutku, apapun sebab kebujangan seseorang, rasanya kok ya tetap ridak etis untuk disindir terus-menerus, apalagi dengan sindiran yang dengan konteks membandingkan seseorang dengan truk atau sandal.

Slow please sedikit, tak usah terlalu mengurusi status hubungan orang lain. Biarkan masing-masing pribadi menjalani kehidupan asmaranya tanpa intervensi yang tak perlu. Kalau tak bisa membantu, minimal jangan menganggu. Kalau tidak bisa bantu mencarikan, minimal jangan memanas-manasi kawan yang masih bujangan.

Lagipula, bukankah kesuksesan tak sepenuhnya dipengaruhi oleh punya atau tidaknya pasangan.

Oke, truk memang gandengan... tapi mungkin kita lupa, bahwa ada yang namanya truk box, truk yang lebih gesit dan efektive jika tanpa gandengan.

Oke, Sandal memang ada pasangannya... tapi mungkin kita lupa, bahwa di jagad persandalan, ada yang namanya Sandal Joger. Sandal yang sok keren dan terkesan dipaksakan. Sandal yang tidak berorientasi pada keserasian, melainkan pada keunikan dan sekedar gaya-gayaan. Buat apa punya pasangan, jika tidak serasi dus cuma buat ngeceng doang.

Ones again please, biarkan masing-masing orang untuk memilih, ingin jadi truk model apa, dan ingin jadi sandal jenis apa. Itu bukan urusan kita.

Jumat, 19 Oktober 2018

Vidia

Angin berhembus pelan, mengusap pepohonan, menggugurkan dedaunan. Hawa dingin menusuk kulit, merasuk kedalam jiwa, membekukan hati. Udara begitu sejuk, melingkupi SMP Negeri Kotamobango Timur. Dalam sebuah ruang kelas VIII... Vidia hanya duduk diam, memandangi teman-temannya dari balik jendela. Bola matanya berkeliaran kesana kemari mengikuti kemana teman-temannya pergi. Perasaannya bercampur antara gundah dan bahagia. Dia melirik cowok yang duduk di sudut belakang ruang kelas, sambil malu-malu Vidia pun tersenyum. Cowok itu membalas tatapan dan senyumnya, Vidia pun berpaling... pipinya bersemu merah, mata beningnya berbinar-binar. Diambilnya secarik kertas, di tulisnya sajak-sajak puisi seindah mungkin. Sebelum ia menyimpan kertas itu, ia kembali melirik cowok itu. Navy... cowok teman sekelasnya itu, beberapa hari ini mengusik jiwanya.

Vidia sudah mulai tumbuh menuju gadis dewasa, meski kini baru 13 tahun. Dia mulai senang bercermin... memperhatikan penampilannya, sebelum pergi kesekolah. Tetkadang... ia melenggang kesana kemari di depan cermin dengan seragamnya, memastikan penampilannya sudah layak pergi ke sekolah.

Vidia hanyalah gadis belia biasa, sama seperti gadis seusianya. Seperti yang lainnya, dia juga tengah menghadapi krisis pubertas. Dia sudah mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Kadang ia malu-malu melirik Navy, yang entah dari mana mulai masuk ke dalam hati dan pikirannya. Kadang ia merindukan cowok itu menghampirinya, sekedar menanyakan pekerjaan rumah.  Kadang ia ingin menyentuhnya,  sekedar berjabat tangan mungkin. Kadang ia ingin duduk bersama teman-temannya, mulai membicatakan tentang "keistimewaan"cowok itu. Tetapi kuat-kuat di tepisnya keinginan itu. dia membiarkan jiwanya bergemuruh, hanya satu yang diingatnya. “Tuhan sudah mempersiapkan orang yang tepat untuknya”. Vidia pun tersenyum dalam hati, karena sesungguhnya dia juga belum memahami kata-kata ini. Dia hanya menyadari hatinya sedang jatuh cinta, hatinya sedang berbunga-bunga. Dan mereka mengetahuinya, Vidia sedang jatuh hati dengan Navy sang Genius Man. Navy sang pemain basket. Navy si anggota band "Kotimbo" milik sekolahnya. Tetapi dia selalu menyembunyikan perasaannya itu, meskipun dia juga merasa Navy juga tertarik padanya.

Vidia sering harus menolak ajakan teman-temannya, untuk sekedar jalan bersama sepulang sekolah. Hatinya masih begitu malu, dia belum terbiasa dengan perasaannya. Meskipun dia tahu... Navy ada di antara mereka, tetapi dia belum bisa melakukannya. Dan ketika esok.paginya mereka bercerita, tentang pengalaman jalan mereka... Vidia hanya bisa tersenyum saja.

****

Hari itu hujan rintik-rintik membasahi desa tempat Vidia tinggal. Entah dari mana asalnya, Vidia tiba-tiba merasa gundah. Dia berulang-ulang memeriksa isi tasnya, memastikan perlengkapan sekolahnya tidak ada yang tertinggal. Ia bolak-balik memeriksa PR-nya, dan tugas prekeryanya. Semua sudah yang seharusnya, tapi dia tiba-tiba merasa tidak siap berangkat ke sekolahnua. Dia merasakan sesuatu akan terjadi, tetapi dia tidak yakin apa itu. Maka dengan terpaksa, dia kalahkan perasaannya.

Vidia melangkahkan kakinya, meninggalkan rumahnya yang hangat, menempuh perjalanan ke sekolahnya yang berjarak sekitar 2 Km, hujan mengguyur tubuh kecilnya, langkahnya kadang-kadang gontai, dia kadang-kadang kesulitan menahan payung berwarna ungu yang melindunginya dari hujan. Angin sesekali bertiup agak kencang, nyaris menerbangkan payung yang dipegangnya. Tetapi, bahkan angin kencang dan rintik hujan pun tak mampu menghentikan langkah kakinya. Sampailah  dia disekolah, tak ada yang berbeda, tak ada yang berubah, semuanya sama. Tak ada yang menakutkan hari itu.  Navy juga ada di tempatnya, disudut belakang. Sesekali di liriknya
cowok yang tampan itu. Dari bangku di sudut kelas, Navy melemparkan senyum untuknya. Dan seperti biasanya, pipi Vidia pun merona merah.

Ketika jam pelajaran berakhir, Vidia dan tiga orang temannya tidak segera pulang. Mereka hari ini bertugas membereskan kelas, salah satu kegiatan rutin di kelasnya,  juga kelas-kelas lainnya. Ika dan Rahma teman piketnya itu sedang sibuk menata meja kursi Guru, dan menghapus papan tulis. Sedang dia dan Hanifah bertugas membereskan korden, dan bangku siswa. Saat akan menutup korden kaca kelas, tiba-tiba dia melihat Navy duduk du kuar kelas... tepat memandang ke arahnya, dia pun tersipu malu. Dalam hatinya bertanya-tanya, mengapa si tampan itu belum pulang juga? Kemudian Vidia melihat Ika tergesa keluar kelas, setengah berlari menghampiri tempat Navy berada. Vidia terus memandangi dua temannya itu bercakap, selertunya membicarakan sesuatu yang serius. Sejurus kemudian Ika telah kembali masuk ke dalam kelas, Vidia juga menyaksikan Navy yang mulai beranjak pergi melintasi halaman sekolah.

"Ada apa dengan Navy, Ka?" Vidia mendengar suara Rahma bertanya, "Bela-belain sampai nunggu kita piket segala?"

"Sebenernya, Navy itu mau ngomong sama Vidia. Eh malah aku yang di japri, disuruh menyampaikan pada dia!" mendengar namanya disebut Ika, Vidia pun menoleh ke arahnya.

"Dia ngomong apa, Ka?" tanyanya.

"Hari ini adalah hari terakhir Navy bersekolah disini, karena besok akan pindah bersekolah ke Jawa" semua nampak terkejut mendengar jawaban Ika, terlebih Vidia yang mengagumi teman sekelasnya itu.

" Benarkah?!" tanyanya dengan perasaan sesak di dadanya, hampir saja dia tak dapat membendung air matanya. Dia memalingkan wajah dari teman-temannya, sambil menyeka air mata yang sudah mengembang di pelupuknya. Tak urung, perbuatannya itu diketahui juga oleh teman-temannya. Rahma merangkul bahunya, seraya bertanya.

"Kamu menangis ya, Vid?"

"Ah tidak... tadi mataku terkena debu, saat melepas ikatan korden itu" jawab Vidia tersenyum kecut.

"Dan, Navy mengajak kita semua ini ke cafe selepas piket. Dia akan berpamitan dengan kita di sana, mungkin" kata Ika lagi, "Kamu ikut, Vid?"

Vidia tersentak, di situasi yang tidak seperti ini  pasti ditolaknya. Tapi ini adalah demi pertemuan terakhir dengan pujaan hatinya, dia mengangguk dengan mantap, "Ya, aku ikut!" jawabnya pasti.
Mereka pun segera mengakhir piket mereka, kemudian peegi menuju cafe dimaksud.

Sepanjang jalan Vidia hanya melamun, hari-hari yang membosankan tanpa Navy lagi. Sanpai-sampai dia tidak mebdengarkan, aoa yang mereja percakapkan seoanjang jalan itu. Tahu-tahu sampailah mereka ke cafe di ujung jalan itu. Vidia melihat Navy sudah di sana, masih dwngan seragamnya. Gadis muda itu segwra menghampirinya, tidak ikut ketiga sahabatnya memwsan makanan minuman. Duduk di depan tempat kursi yang diduduki Navy, oemuda tanggung utu pun tetsenyum.padanya. Senyum yang selalu membuatnya melayang, tetapi tidak kali ini.

"Benar, kamu akan pindah sekolah Vy?" tanyanya langsung, yang ditanya tampak terkejut dan menjadi salah tingkah. Vidia jadi merasa heran, ini bukan Navy yang di kenalnya selama ini. Sementara itu... ketiga temannya sudah selesai memesan untuk mereka semua, kemudian duduk di kursi sekitar Vidia.

"Sebenarnya, ini rencana kami untuk bisa mengajakmu jalan bersama, Vid. Navy sudah menolak rencana ini, tapi kami yakinkan dia untuk menyetujuinya. Kami hanya ingin sekali saja, bisa mengajakmu keluar. Navy tidak akan kemana-mana besok, juga besoknya lagi, bahkan setahun kemudian pun, dai tidak akan pindah kemana-mana" kata Ika sambil mwnggenggam tangan Vidia, yang sudah berkaca-kaca.

"Jadi, kalian lakukan semua ini demi aku?" tanyanya lirih.

"Iya, Vid. Karena kami juga tahu, kamu dan Navy saling menyukai... kenapa tidak janjian saja di tempat ini?" kata Rahma disambut tawa berderai mereka semua. Tawa ABG jaman Now.

Kemarau Hati


ketika aku berada jauh dari haribaanmu
akankah kau merindukan aku?
jika saja aku raga ini tidak sedang bersamamu
terfikirkah olehmu untuk lari meninggalkan aku?

saat kita menjalin asa yang sama
pernahkah jenuh menggelitiki hatimu?
aku tak tau dan tak ingin tau...
bisa saja kau pernah ragu padaku
mungkin juga bimbang pernah bersemayam di kalbumu

karna hati adalah lautan luas yang tak terselami
yang tak tertebak dalamnya sanubari
terkadang sulit memahami segala nas ini
menjadi keniscayaan nan hakiki

dan ketika kejenuhan itu datang menghampirimu
mengusik kemarau di hatimu
mendatangkan awan hitam di anganmu
percayalah akan kekuatan hasratnya mengurapimu
dengan berjuta rinduku menguasaimu

ingatlah pada mimpi yang selalu kita bina
ingatlah harapan yang selalu kita jaga
ingatlah mimpi yang selalu kita damba
kita berjanji untuk mewujudkannya
dengan segenap kekuatan cinta yang kita punya

Rabu, 17 Oktober 2018

Notifikasi

Bunyi Notifikasi grup WA teman SMP, tertulis:
[08:01 27/10/2018] SMP Betha: Hari Minggu tanggal 21 Oktober, ngumpul Yuk di rumah Betharia.

Bunyi Notifikasi grup WA grup Long Hair Lover, tertulis:
[08:02 17/10/2018] LH Revan: Hari Minggu, 21 Oktober 2018 ada sesi pemotretan di Tretes, dengan 2 orang model. Yang bisa hadir silakan wapri.

Bunyi Notifikasi grup WA Supranaturalist, tertulis:
[08:03 17/10/2018] SP GagakRimang: Assalamu'alaikuum... untuk semua anggota, harap berkumpul di kediaman Bpk. I Wayan Jumena Wahid (Mojokerto) Hari/Tanggal: Minggu, 21 Oktober 2018 Jam 08.00 sampai selesai. Dalam rangka Pemantapan Rencana Kegiatan "Bhakti Husada" di Trowulan Mojokerto bulan November 2018. Pengurus inti diharapkan untuk Hadir semua.

Bunyi Notifikasi grup WA Serat Jiwa (Perguruan Tenaga Dalam), tertulis:
[08:04 17/10/2018] ISJPonco: Kepada: Segenap Keluarga Besar Perguruan Pencak Silat Tenaga Dalam Inti Serat Jiwa. Dimohon untuk kehadiranya,
Pada Hari : Minggu
Tanggal : 21 Oktober 2018
Tempat : Aloon-aloon Utara Jogjakarta
Acara : Penyucian Massal
Khusus Program Guru. Harap mengkonfirmasai kehadiran.

Bunyi Notifikasi grup WA teman SMA, tertulis:
[08:05 17/10/2018] SMApuput: Hari Minggu ygl 21 Okt takziah ke RSUD Faizah koma. Kumpul di rumahku jam 1 siang.

Sementara sebelumnya,
[07:44 17/10/2018] x.indys: Sabtu Minggu ada acara gak?
[07:45 17/10/2018] Winarto Sabdo: Insyaalloh gak ada
[07:45 17/10/2018] x.indys: Sabtu kam 9 aku mau ke Trenggalek, ke rumah Pak Bonari. Mas Didik mengajakmu
[07:50 17/10/2018] Winarto Sabdo: Oke, siap Boss
[07:55 17/10/2018] x.indys: Bawa jaket dan pakaian ganti, kita nginep. Aku juga ajak anak-anakku.
[07:56 17/10/2018] Winarto Sabdo: Siap Boss, lagi butuh refresing ini juga. Oke siap berangkat

Kemudian apa? Aku termangu sendirian, tercenung, termenung, mengingat semua Notifikasi itu. Mengapa, setiap grup WA seakan "Sangat Membutuhkan" kehadiaranku, pada hari yang sama untuk kepentingan di hari yang sama. Aku ini hanya satu, dan dibutuhkan di empat tempat yang berbeda... pada hari yanh sama. Mana bisa aku menunaikan itu semua? Pilih yang Priority? Itu semua penting untuk kudatangi. Dan besar kemungkinan, tidak ada satupun yang akan kudatangi. Karena pemberitahuan mereka terlambat sekian menit, dari pemberitahuan yang dibuat oleh sahabatku Indys... aku pun sudah mengkonfirmasi keikut sertaanku dalam acaranya.

Terpaksa, semua harus aku korbankan. Bertemu teman sekolah, bertemu team sosial, bertemu kesukaan, bertemu guru,-guru, karrna apa? Aku sudah membuat comitment terdahulu,  untuk acara ke Trenggalek bersama Indys dan keluarganya. Tetap memilih mempertahankan pilihan, itu adalah prinsip hidupku. Ini akan mengecewakan beberapa pihak, tetapi ini juga sesuatu yang harus fupeetangging jawabkan.

Akhirnya, dengan penuh rasa penyesalan... aku membalas semua pemberitahuan itu, dengan permintaan maaf tidak bisa hadir. Dengan menyebutkan alasan, dan salam untuk para anggota lainnya. Ini juga suatu pembelajaran untuk kita semua, jangan pernah meremehkan... keberadaan juga waktu seseorang. Buatlah undangan atau pemberitahuan apapupun, jauh hari sebelum acara yang ditentukan. Apalagi jika trmpat tujuan acara sangat kauh, berpikirlah bahwa seseorang yang diundang... pasti membutuhkan waktu memutuskan, juga butuh persiapan biaya keberangkatan. Ini pengalaman pribadi, semoga berguna untuk yang lainnya.

Nganjuk, 17 Oktober 2018

Senin, 15 Oktober 2018

Jaka Tayub

senja meremang merah membara
tatkala turun bidadari dari kayangan para dewa
menuju danau kecil untuk membasuh raga
bercanda bagai sekumpulan dara

jaka tayub mendekatkan mukanya
disaat mereka mulai membuka busana
di dalamnya pun tampak begitu adanya
tak secantik kata dongeng dahulu kala

pemuda itu membuang muka
melihat yang telanjang pun tiada selera
para bidadari merasa terhina
menangis meraung bagai prahara

manusia tak butuh bidadari untuk cinta
hanya butuh nyali dan sedikit harta
ke mol atau pinggir jalan raya
tempat bidadari menjajakan cinta

tujuh bidadari sungguh malang merana
tak ada lagi pemuda mencuri selendangnya
berhamburan mereka terbang ke asalnya
membawa serta tangis dan air mata

Kliwon Dan Pengembara Tua

"Adhuh! Mulai lagi deh!" gerutuku dalam hati. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi di rumah ini, hampir setiap hari. Tdak pagi, tidak siang, tidak malam, selalu mereka bertengkar. Ada saja, masalah yang tiba-tiba bisa menyulut pertengkaran. Seperti malam itu  Narto sang suami, mengomentari bau rambut Nining istrinya yang lupa tidak dikeramasi.

"Masalah rambut belum dikeramas saja langsung jadi masalah, ini jadi gak rencana bercintanya, ha?!" Nining berseru kecewa pada suaminya.

"Aaahhh! Males... mending pergi keluar saja, aku!" berkata suaminya sambil buru-buru merapikan pakaiannya. Dan buru-buru juga keluar dengan wajah kesal, membanting pintu kamar dengan kerasnya. Hampir saja aku terpelanting jatuh, kalau saja tidak kuat peganganku di atap kamar itu.

"Dasar! Orang gila!" aku meneriaki yang mulai keluar meninggalkan rumah, sambil bersungut-sungut. Seekor temanku merayap mendekatiku, dia adalah Cicak Pengembara. Dialah satu-satunya cicak, yang hampir pernah menyinggahi setiap rumah di desa ini. Usiannya mungkin sudah tua, tetapi rasa keingin tahuaanya begitu kuat. Dia adalah rujukan, para cicak untuk mencari makan. Hampir semua tempat dia tahu, termasuk rumah penyimpan keranda di dekat makam. Aku memanggilnya Abang, karena nada bicaranya yang seperti berlogat Batak. Konon, itu karena dia punya istri seekor cicak di rumah orang Batak.

"Ada apa gerangan engkau mengumpat keras kali, hai Keliwon?" dia bertanya dengan logat bataknya yang dibuat-buat.

"Namaku Kliwon, Bang. Bukan Keliwon," kataku sembari menangkap nyamuk teler yang tidak sadar hinggap di dekatku, Nyamuk itu pasti mabuk, karena asap obat nyamuk bakar yang memenuhi semua sudut kamar itu.

"Alaaah, engkau jangan terus-menerus memperotes gaya bicaraku lah. Sama saja lah Keliwon atao Kelawon, yang penting bukan Keliwat saja kan... hahahaha!" dia malah menertawai ketidak senanganku.

"Ada apa engkau mengumpat tadi, ha?" dia mengulang pertanyaannya, kali ini dia tidak menyebutkan namaku.

"Sebel dengan suami wanita itu. Bang. Marah-marah, pakai banting-banting daun pintu segala. Hampir terpelanting jatuh aku, dibuatnya"

"Hahaha! Engkau belum juga terjatuh, sudah mengumpat macam itu. Bagaimana kalau sampai jatuh? Engkau akan memukul kepala lelaki itu? Hahaha!" jawabnya tergelak-gelak, sungguh malam ini si Abang terlihat sangat tidak menyenangkan bagiku.

"Kenapa si suami wanita itu marah-marah pula? Engkau tahu penyebabnya, kah?" tanyanya lagi, kali ini dia tampak serius sekali. Sementara itu, aku melihat wanita itu sedang memainkan handphone. Sebentar kemudian, terdengar dia sedang bercakap-cakap dengan seorang pria. Aku dapat memastikan itu adalah suara pria, karena memang cicak memiliki pendengaran yang sangat peka.

"He Keliwon! Aku sedang bertanya pada engkau, engkau malah asyik memandangi wanita berkerudung itu!" hardiknya membuyarkan pandanganku pada wanita itu.

"Iya, Bang. Si suami marah sama istrinya, karena istrinya tidak mencuci rambutnya tadi sore, si suami terganggu dengan bau rambut istrinya, Acara bercinta mereka pun gagal, si suami pergi sambil marah-marah, begitu ceritanya" aku mencoba menjelaskannya dengan singkat. Kulihat Abang baru saja menangkap nyamuk, yang terbang mrndekati moncongnya. kemudian menelannya dengan puas.

"Hanya permasalahan sepele macam begitu, mereka sudah menjadi ribut," katanya, sambil membasahi bibir kakunya dengan ludah panjangnya, "Padahal aselinya, mereka sudah tidak saling mencintai lagi satu dengan lainnya"

"Kenapa Abang berkata seperti itu? Dari mana Abang tahu, mereka sudah tidak saling mencintai lagi?" tanyaku terkejut, sambil memandangi wajahnya yang tampak seperti wajah cicak-cicak lainnya itu.

"Tidak percaya engkau? Pergilah ke rumah paling ujung sana, ke rumah janda yang bersebelahan dengan persawahan itu"

"Rumah yang terletak di ujung jalan itu? Rumah yang berjauhan dari rumah tetangga lainnya itu? Rumah Natasya Wihluman itu?" tanyaku memastikan, "Emang kenapa, Bang?"

Cicak tua itu terkekeh-kekeh, pandangannya menerawang.
"Jika engkau ada di sana pada saat ini... engkau akan tahu apa yang dilakukan suaminya di sana, dengan janda penyanyi dangdut itu. Mereka sudah lama berselingkuh dibelakang istrinya, sungguh kasihan wanita itu" berkata begitu pandangannya tertuju pada wanita berhijab di bawahnya, yang tampak sedang merapikan seprei tempat tidurnya itu.

"Kenapa kasihan padanya, Bang? Wanita itu, sebenarnya juga sudah lama selingkuh dengan lelaki lain" kataku, memandang benci pada wanita itu. Abang tampak terkejut, hampir saja dia terjatuh saking terkejutnya. Untunglah, dia menempel dengan erat di plafon kamar itu.

"Apa?! Wanita berjilbab itu juga berselingkuh?!"

"Emang gak boleh? Abang pernah bercerita tentang Ustadz Kipli, yang tidur bersama Janda Pak Haji Klamudin, ingat?" tanyaku padanya, coba membangkitkan memorinya.

"Aih mengacau engkau ini, Ustadz Kipli itu kan sudah menikahi Sirri Ibu Hajah Maksiati... jadi lain ceritanya, lah. Yang aku lihat dari wanita ini adalah kesholehahannya, dia rajin beribadah, rajin mengaji, dia juga berhijab, menutup auratnya dari pandangan yang bukan mahramnya" tiba-tiba saja kata-kata Abang, sudah seperti Ustadz Kipli yang sedang berkotbah di mushola desa. Jangan-jangan,  si Abang ini adakah Cicak Islam yang menyamar? tanyaku dalam hati.

"Abang lihatlah sendiri, sebentar lagi... seorang lelaki yang ditelponnya tadi akan datang. Mengendap-endap di luar jendela, mengetuk jendela tiga kali, itu isyaratnya. Lalu wanita itu akan membukakan jendelanya, mempersilahkan kekasihnya itu masuk ke dalam kamarnya"

"Ah benarkah itu? Engkau jangan berkata tifak benar kepadaku, he Keliwon!"

"Mari merayap di balik bayangan lemari itu, Abang akan dapat dengan jelas mendengar percakapan mereka" kataku sembari berjalan merayap ke arah sudut kamar, Abang mengikuti rayapanku.

Seperti dugaanku, dari luar kamar aku mendengar langkah kaki, berhenti tepat di samping jendela kamar. Terdengar tiga kali ketukan, dan wanita berjilbab merah itu segera mematikan lampu kamar. Membuka kedua daun jendela kamarnya, dan membantu seseorang masuk ke dalamnya. Setelah itu dia menutup kembali pintu jendelanya, merapikan gordennya, kemudian menyalakan lampu kamar. Dan memabg benar, dua adalah kekasih gelap wanita itu 

Dua orang berlainan jenis itupun berpelukan, seakan memendam rindu yang begitu dahsyatnya.

"Mas Leo kenapa lama sih, Nining kan sudah kangen" rengek wanita itu di pelukan kekasihnya.

"Maaf sayang, seperti biasa... aku menguntit kepergian suamimu dulu, memastikan kemana dia pergi. Setelah dia masuk ke rumah Natasya, dan setelah aku dengar mereka bercumbu rayu. Aku segera bergegas kemari sayang, sepertinya suamimu bakal menginap lagi di rumah janda itu sayang" kata Leo nampak gembira, sambil membelai wajah wanita pujaannya itu.

"Jadi, kita bisa bercinta sepuasnya malam ini, ya sayang?" sambut Nining yang bergelayut manja di tubuh kekasihnya.

"Iya sayang, kita akan menikmati malam yang panjang ini sepuas-puasnya" jawab Leo, dengan tanpa menghentikan aktifitas tanganya... di sekujur tubuh kekasihnya yang menggelinjang-gelinjang itu.

Abang hanya terdiam di balik bayang-bayang lemari tua itu, tampak wajahnya sangat kecewa. Dia menyadari, ternyata selama ini dia tidak berhasil menilai karakter dari wanita berhijab itu. Wanita yang tampak lugu, pemalu, tidak suka bergunjing, tidak suka berghibah, ternyata justru malah suka berzinah. Aku mendekatinya, mengibaskan ekorku ke punggungnya.

"Sudahlah, Abang. Hal semacam ini sudah menjadi kehendak yang Maha Pencipta, kamu jangan kecewa dengan penilaianmu yang keliru. Bagi kami, segenap anggota Persatuan Cicak Seluruh Indonesia, khususnya di Anak Ranting Desa Talang ini... Abang tetap selalu jadi Cicak Panutan, cicak terbaik yang pernah Tuhan ciptakan. Sekarang pulanglah, istri Abang yang setia Ibu Makmahan sudah menanti kedatanganmu. Terima kasih, sudah menjadi teman ngobrol yang menyenangkan malam ini" kataku memberinya semangat kembali padanya. Cicak tua itupun mengangguk, tersenyum padaku. Merayap pergi dalam kegelapan malam. Meninggalkanku dalam  selarik do'a
"Yaa Tuhan, lindungilah aku dari godaan Manusia dan Cicak. Aamiin."

(Tamat)





Sabtu, 13 Oktober 2018

Parman Di Kamar Warsini

Painah berlari dengan kencang, menyusuri jalan setapak di pinnggiran desa itu. Dia berlari seperti orang kesetanan, mulutnya tertutup rapat... nafasnya tersengal, matanya menatap tajam penuh kemarahan ke arah bukit. Bagai orang kehilangan akal dia berlari, gelungnya terlepas... rambut panjangnya teturai tidak beraturan, terbawa getaran tubuhnya yang sedang berlari. Wakijan dan Suparno yang berpapasan dengannya mencoba bertanya, namun dihiraukannya. Painah terus berlari menuju ke arah bukit, beberapa kali tampak tubuhnya hampir terjengkang ke rerumputan... tapi dia terus berlari.Dua orang yang penasaran itu pun, segera mengejar laju Painah di belakangnya.

"Kenapa, Painah berlari seperti orang kesurupan begitu Kang?" tanya Suparno yang berlari di samping Wakijan

"Aku pun kurang tahu, No"

"Jangan-jangan, dia memang sedang kesurupan Kang!"

"Hush! Jaga bicaramu, No! Kita jangan suudzon dengan perkara yang nelum kita ketahuinkebenarannya. Kita ikuti saja kemana tujuannya, jika nanti membahayakan... baru kita bertindak" kata Wakijan di sela larinya, Suparno pun mengangguk setuju. Mereka melanjutkan larinya, mengikuti lari Painah yang hampir tak terkejar lagi.

D isepanjang jalan setapak itu, semakin banyak orang yang penasaran dengan kelakuan Painah yang aneh itu. Maka semakin banyaklah orang yang ikut mengejarnya, bahkan sebagian orang mengikutinya dengan sepeda pancal.

Meskipun mereka tidak memperoleh jawaban dari Painah, tetapi mereka tahu kemana arah tujuannya. Jalan setapak ini, adalah jalan satu-satunya menuju rumah Warsini, janda cantik yang kesehariannya menjadi tledek tayub ( penari pada kesenian tradisional gamelan yang khas dari kabupaten Nganjuk ). Mereka juga tahu Parman dulu adalah bekas suami Warsini, dia menceraikan Warsini setelah mendapat kepastian dari dokter... bahwa wanita itu, dinyatakan tidak akan bisa mempunyai keturunan. Mandul. Dan hari ini Parman dimintai tolong, untuk membetulkan genteng rumah Warsini, yang beberapa buah melorot tertiup angin semalam. Sepertinya Painah sudah melarang suaminya kesana, karena dia masih cemburu dengan mantan istri suaminya itu. Painah dan Parman memang baru saja menikah sebulan yang lalu, setelah 3 tahun Paiman hidup menduda. Tetapi... tujuan dari tingkah Painah saat ini, mereka yang sedang mengikuti lari Painah... tidak ada yang tahu.

Ini sebenarnya bermula ketika, Painah sedang mencuci beras dan sayuran di belik (pancuran air yang muncul dari sela bebatuan) di ujung desanya. Sedanh asyik mencuci sayuran, tiba-tiba datanglah Saimah istri Wakijan tetangganya, biasanya mereka berangkat ke belik berbarengan.

"Kok telat, Mah?"

"Iyo, Nah. Ke rumah Warsini dulu... dia lagi kurang enak badan katanya, aku disuruhnya memasak sebentar" kata Saimah tanpa memandang wajah sahabatnya itu. Mendengar nama wanita yang dibencinya itu disebut, memerahlah wajah Painah. Dia ingat suaminya sedang berada di rumah janda itu, apa benar suaminya sedang membetulkan genteng si janda gatel iru? Tanya hatinya, yang tiba-tiba berfikiran yang tidak-tidak tentang suaminya.

"Kamu lihat Kang Parman disana, Mah?" tanyanya, pada sahabatnya yang sedang sibuk mencuci sayurannya itu. Dengan tanpa menoleh, Saimah menjawabnya.

"Iya lihat..."

"Ngapain dia?"

Sebenarnya Saimah tidak begitu "ngeh" dengan pertanyaan sahabatnya itu, dia mengira Painah sedang bertanya tentang Warsini.Maka dengan pelan dia menjawabnya.

"Pareman di kamar, sejak ku tinggal pulang tadi"

"Apa Parman di kamar?!" tanya Painah dengan suara bergetar, dia sedang membayangkan suaminya itu sedang di kamar mantan istrinya itu.

"Iya... pareman di kamar..."

Saimah tidak melanjutkan kata-katanya, karena dia melihat Painah sudah berlari sambil meraung-raung, meninggalkanya yang kebingungan.

Laju lari Painah semakin dekat ke tujuan, rumah Warsini sudah tampak di depan mata. Pintu depannya terbuka, sehingga Painah dengan mudah dapat memasukinya. Dia berteriak-teriak memanggil nama suaminya. Tiga pintu kamar yang tertutup berhasil didobraknya, tinggal satu kamar lagi. 

Sementara itu, orang banyak sudah sampai pula kebrumah iru. Melihat Painah yang berteriak histeris, beberapa orang segera menenangkannya.

"Keluar kau wanita sundal! Perebut suami orang! Kang Parman! Kang Parman!" teriak Painah di depan sebuah pintu kamar yang tertutup, di tidak berhasil mendobrak pintu itu karena terkunci, dan karena orang-orang telah memegangi tubuh kecilnya.

"Ada apa, Nah?!" tanya Wakijan sambil tetap memegangi tubuh wanita yang meronta-ronta itu. 


"Parman di kamar! Parman di kamar!" teriaknya sambil menunjuk ke arah pintu kamar yang tertutup.

"Parman di kamar? di kamar ini? Siapa yang bilang?" tanya Suparno yang membantu Wakijan memegangi tubuh wanita itu.

"Saimah yang bilang Kang... dia pagi tadi kesini... dia melihat Kang Parman di kamar bersama Warsini..." jawab Painah di sela tangisnya.

"Eh... bukanya Warsini sedang di Kinik Desa? Katanya dia sedang sakit, ketika aku pulang... dia baru saja antri" terdengar suara dari kerumunan, tetnyata Paijo yang berkata. Seketika tangis Painah terhenti, ketika dia melihat suaminya turun dari tangga. Parman terpaksa turun, karena mendengar keributan di dalam rumah itu. Painah segera memeluk tubuh suaminya, yang dipenuhi keringar bercucuran itu.

"Kang Parman, kamu tidak di kamar bersama Warsini kan?" tanyanya sambil berurai air mata, betapa dia sangat mencintai lelaki itu. Dia akan bunuh diri saja, jika benar suaminya masih berhubungan dengan wanita itu.

"Kamu ini kenapa, Nah? Siapa yang bilang aku sedang di kamar Warsini?" tanya suaminya, sambil membelai rambut istrinya itu dengan lembut. Sebelum sempat menjawab pertanyaan suaminya, Painah melihat sahabatnya Saimah menerobos kerumunan. Dengan gampang dia langsung menunjuk hidung wanita itu, seketika ramailah orang mencemohnya. Wakijan dengan segera melindungi istri tercintanya, dari cemoohan orang-orang.

"Dengarkan dulu penjelasan istriku! Jangan main cemooh saja!" seru Wakijan pada semua, yang langsung terdiam dalam seribu bahasa. Saimah pun menceritakan, tentang percakapannya dengan Painah tadi waktu bertemu di belik.Tudak ada yang ditambahi, atau pun sengaja ditutup-tutupinya. Dia menegaskan lagi jawabannya, yang kemungkinan telah membuat Painah salah faham.

"Aku bilang pareman di kamar, karena kusangka dia sedang menanyakan tentang Warsini" kata Saimah dengan percaya diri

"Pareman???" hampir bersamaan mereka terkejut, "Pareman artinya sedang memakai param???"

"Iya, aku menjawabnya begitu. Karena memang, aku sedang melihat Warsini mamakai param di dalam kamar. Mungkin terdengar di telinga Painah... Parman di kamar" dengan gamblang Saimah bercerita.

"Oooohhh! Jadi seperti itu???"
serentak mereka yang disitu sudah memahaminya. Tampak Painah yang tersipu, membenamkan wajahnya di dada suaminya.

Sementara Warsini yang pulang dari berobat di Klinik Desa terkejut, karena dirumahnya terlihat banyak berkerumun. Dia mengira telah terjadi sesuatu pada Parman, karena dia menitipkan rumahnya pada pria itu... ketika dia pergi ke klinik tadi.

"Ada apa, ramai-ramai di rumahku ini?" tanyanya kebingungan.
Suparno segera dengan cermat, menceritakan semua yang sudah terjadi di rumah itu. Gaya bahasanya yang kocak, sering membuat yang lain terbahak-bahak.

"Seperti itulah kejadianya, Tuan Putri" Suparno mengakhiri penjelasannya, sambil membungkukkan badanya. Semua pun tergelak dengan ceria.

Warsini mendekati Painah, yang sudah tidak lagi dalam pelukan suaminya. Memegang tangannya sambil berkata,

"Dik Painah, aku dan Kang Parman tidak lagi mempunyai hubungan apa-apa. Aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri, seperti saudara layaknya," kata Warsini dengan lembut, "Bahkan, sangat kebetulan sekali kalian ramai-ramai ada di rumahku ini. Karena ada seseorang yang akan kuperkenalkan, pada kalian semua" katanya seraya tanganya melambai pada seseorang pria, yang tadi mengantarkannya berobat. Pria itupun berjalan ke arah Warsini, penampilannya sungguh menawan, tampan, gagah, dan mengenakan baju yang rapi. Semua wanita yang hadir disitu berdecak kagum, melihat penampilan orang itu.

"Kenalkan semuanya, ini adalah Mas Winarto kekasihku... bulan depan dia akan menikahiku" kata Warsini dengan bangganya.

Tiba-tiba terdengar suara orang terjatuh ke lantai, bunyinya berdebuk mengagetkan semua yang ada.

"Partijan pingsan!" terdengar seseorang di belakang berteriak, seorang lagi berusaha membangunkan dengan menepuk-nepuk pipinya, "Jan! Bangun Jan!"

"Kenapa dia pingsan?" tanya Warsini panik.

"Dia pingsan karena mendengar, kamu akan menikah dengan Mas Winarto!" teriak seseorang dari belakang.

"Kenapa bisa begitu?" tanya Warsini lagi.

"Yaiya lah, dia kan naksir kamu setengah mati! Semoga setelah bangun dia tidak bunuh diri!" kata yang lainnya, disambut gelak tawa semua yang ada. Wakakakakak.

Akhirnya Warsini membuat syukuran dadakan di rumahnya, Painah dan lainnya turut membantu mempersiapkan,makanan dan minumannya. Semua kembali ceria, kembalj bahagia.

Tehnik Membuat Paragraf Awal

Menulis cerita pendek membutuhkan teknik khusus. Kenapa? Kembali ke definisi, cerita pendek adalah cerita yang habis dibaca dalam sekali dud...