Jumat, 18 Januari 2019

Mamba Lovely!

Trail itu melaju kencang di perempatan yang sedang ramai, tanpa rem menembus lalu-lalang kendaraan yang ada akhirnya harus mengerem mendadak. Diantara caci maki para sopir, dan sumpah serapah pengemudi angkutan. Lalu membuat atraksi standing (mengangkat roda depannya) dengan lihai, para pedagang kaki lima di sekitaran jalanan itu memberi aplause dengan sangat meriah dan antusias. Mereka selalu terhibur saat pengendara itu melewatinya, sementara orang lain yang baru menyaksikannya cuma bisa melongo keheranan.

Meninggalkan perempatan yang akhirnya normal kembali itu, sepeda motor itu berbelok ke arah kanan. Di jalanan yang lengang itu kembali aksi standing dia perlihatkan, bahkan sekarang dengan mengangkat kedua tangannyanlepas dari stang sepeda motor. Di sebuah pintu gerbang sebuah kampus, sepeda motor itu memperlambat lajunya. Hanya sampai depan pos scurity, setelahnya dia jumping lagi hingga ke tempat parkir kampus. Dua orang scurity yang sudah hafal atraksi itu hanya menggeleng-gelengkan kepala, tetapi beberapa mahasiswa yang sudah lama menunggunya di tempat parkir itu bersorak-sorak gembira.

Mesin motor sudah dimatikannya, dengan lihai dia mengait satandard motor dengan kaki kirinya. Beberapa orang mahasiswi menghambur ke samping pengendara itu, dengan sabar menantinya membuka helm teropongnya.
Dan ketika helm itu sudah terlepas dari kepalanya, munculah seraut wajah cantik jelita dengan rambut panjangnya yang terurai indah. Aisyah 'Mamba' Dewi Masithah, mahasiswi semester akhir Fakultas Psikologi. Sudah bisa ditebak darimana dia mendapatkan gelar Mamba (sejenis ular paling mematikan di dunia) itu, karena Aisyah adalah gadis pandai yang tidak mudah disentuh.

"Seperti biasa... telat lagi lu, Is!" kata Neni, yang langsung membantu membuka jaket kulit sahabatnya itu.

"Kelas baru mulai jam 09.00 kan?" jawab Aisyah, sambil mulai berjalan merangkul bahu dua sahabatnya Neni dan Tria.

"Iya, sih. Tapi kita sudah janji hunting materi di perpus, kan?" sergah Tria yang mungil dan berkacamata itu.

"Masalah itu, serahkan padaku. Aku sudah japri Kang Memet, dia sudah bersedia menyiapkan materi-materi yang kita butuhkan." jawab Aisyah enteng.

"Kang Memet yang jualan buku, itu?" tanya Neni setengah tidak mempercayai ucapan sahabatnya itu.

"Iya, lah! Siapa lagi? Emang ada Kang Memet lain yang kamu kenal, ha?"

"Hahahaha!" mereka tertawa bersama-sama, sebelum tawa mereka terhenti mendadak karena mendengar raungan sepeda motor di dekatnya. Mereka segera menepi dengan terkejut, lalu bersama-sama memelototu sang pengendara tengil itu.

"Gadis gila!" teriak Tria, yang paling terkejut diantara mereka. Neni menyepak kaki Agnes sang pengendara, dan Aisyah memukul lembut helmnya.

Ketika helm dibuka, tampaklah seraut wajah oriental dengan mata sipitnya. Dia nyengir kepada ketiga sahabatnya itu, sebelum, akhirnya memarkir sepeda motornya disamping ketiga trail milik mereka. Trail berwarna merah dengan kapasitas mesin 250cc milik Aisyah, yang kuning milik Tria, warna biru milik Neni, dan milik Agnes berwarna hijau.

"Komang belum datang?" tanyanya.

"Kita akan mengunjunginya sepulang kuliah, dia sedang kurang enak badan." jawab Neni pelan.

"Baiklah." kata Agnes, yang sudah berjalan diantara ketiganya.

Aisyah, Agnes, Komang, Neni, dan Tria, adalah lima sekawan motor trail. Hanya mereka berlima saja, berulang kali mereka menolak bergabungnya pemotor lain. Karena mereka tidak sedang membentuk club sepeda motor. Tetapi ini adalah bentuk kekariban antara mereka, mereka sudah bersahabat sejak bangku SMP. Mereka sudah terbentuk sejak saat itu, mereka masuk SMA yang sama, bahkan kuliah pun mereka di tempat yang sama, dengan jurusan yang sama pula.

****

Usai kuliah, mereka berempat langsung membuat kebisingan di tempat parkir. Mesin sepeda motor mereka bleyer-bleyer sedemikian rupa. Seperti biasanya, semua mobil dan motor menyimpang dengan sendirinya. Mereka takut berurusan dengan kelompok para gadis ini, beberapa kejadian sebelumnya mengajari mereka untuk mengalah.

Keempat motor itu meninggalkan halaman parkir kampus, dengan meninggalkan polusi asap putih yang tebal penuh timbal. Menuju jalan raya aksi mereka syngguh sangatlah gila, berzigzag diantara rapatnya mobil dengan kecepatan tinggi. Lalu masuk jalan tol untuk sepeda motor, disinilah kegilaan mereka menjadi hiburan bagi pengendara motor yang lain.

Mereka membentuk formasi dalam posisi standing, bermacam-macam gaya dan keahlian berkendara mereka tunjukkan. Ketika tiba-tiba mereka melihat sebuah sepeda motor yang tergeletak di sisi jalan tol itu, di dekatnya tampak seorang wanita yang sedang kebingungngan. Keempat pengendara itu pun segera menepikan sepeda motornya, lalu mengadakan komunikasi dengan wanita itu. Neni menenangkan wanita yang gemetaran itu, Tria memberdirikan sepeda motor yang tergeletak di pinggir jalan itu. Agnes membeeinya minum dengan botol air mineral, sembari mengajaknya berkomunikasi.

Sementara Aisyah tetap berada di atas trail menunggu aba-aba, karena mereka yakin wanita itu adalah korban kejahatan orang tidak bertanggung jawab. Agnes kemudian bertanya kepada wanita sekira umur 30 tahunan itu, setelah dia yakin kondisi wanita itu sudah stabil.

"Apa yang terjadi, Mbak? Ceritakan kepada kami, semoga bisa membantu semampunya."

"Saya habis dirampok, tas saya dibawa kabur oleh dua orang perampok, setelah berhasil menjatuhkan sepeda motor dan saya."

" Mengendarai apa mereka, Mbak? Apa warna tas yang mereka rampok?" tanya Agnes lagi. Dan wanita itu sedang mencoba mengingat-ingat ciri-ciri pelaku, sepanjang yang dianlihat sebelum ketakutan menguasainya tadi.

"Dua orang mengendarai RX mengenakan jaket kulit hitam, keduanya tidak mengenakan helm, sedangkan tas saya berwarna coklat."

"RX, Jaket kulit hitam, tanpa helm, tas coklat, Is!" begitu selesai kata-kata Agnes, Aisyah sudah menggeber motor trailnya menembus keramaian tol khusus sepeda motor itu. Dalam perjalanan dia mengadakan kontak dengan Polsekta setempat, dan melaporkan kemana arah pengejarannya. Polisi yang mendapat laporannya, segera mengadakan pencegatan sistematis di semua ujung jalan keluar tol itu.

Lima menit pengejaran, Aisyah melihat tersangka sedang menepi dibangunan bekas Rest Area yang sudah tidak terpakai. Rupanya mereka sedang asyik membongkar hasil jarahannya, sehingga tidak menyadari kedatangan Aisyah. Sebelum turun dari motornya, Aisyah sempat mengirimkan sandi keoada Polsekta tentang keberadaan tersangka itu. Perlahan Aisyah turun dari motornya, melepas helmnya dan berjalan perlahan ke arah dua perampok yang lengah itu. Ketika mereka menyadarinya itu sudah terlambat, Aisyah sudah mencabut kunci kontak sepeda motor pelaku.

"Heh, siapa Kau! Berani-beraninya mengambil kunvi kontak motor kami, ada apa sebenarnya butet?!" logak Batak yang kental terdengar dari salah seorang perampok itu.

"Jangan cem-macem ya, Sampeyan!" satu lagi berlogat Madura.

"Kembalikan tas wanita yang kalian rampok tadi! Jika tidak, kalian akan menyesal berurusan dengan 'Si Mamba'!" gertak Aisyah dengan serius.

Oh, Sampeyan yang bergelar Mamba. Bo-abo...  sangat kebetulan saya sedang mencari sampeyan, aaya mau balas perlakuan sampeyan pada anak buah saya!"

"Jangan banyak, bacot! Serahkan segera tas itu, atau kalian menunggu babak belur dulu?!"

"Kurang ajar, rasakan ini!" teriak si Batak sambil melompat menyerang dengan pukulan lurus ke arah wajah Aisyah, pukulan itu meleset karena dengan lihai gadis itu menghindar. Belum sempat berbalik untuk menyerang lagi, satu tendangan telak dari Aisyah bersarang di ulu hati si Batak. Laki-laki brewok itu mengerang keras, sebelum tubuh gempalnya jatuh di rerumputan.

"Terima ini!" tiba-tiba si Madura nenyerang Ais dengan pisau lipat, hampir saja itu merobek lehernya seandainya dia tidak menangkis dengan jurus pencak silatnya. Pisau itu pun terlepas karena pukulan ke arah sendi bahu yang kuat, bahkan seketika tangan si Madura terkulai tak berdaya karena terpukul keras urat syarafnya. Kesempatan itu tidak disia-siakannya, dengan satu pukulan lagi ke arah rahang si perampok membuatnya terkapar tidak bisa bangun lagi. Aisyah segera mengamankan tas berwarna coklat itu, memasukkan semua yang sudah dikeluarkan oleh para begal itu.

Sebentar kemudian berdatanganlah Polisi bersenjata laras panjang, Komandan mereka menghampiri Aisyiah... dia adalah Wasito, seorang Kanit URC di Polsekta yang juga kekasih hatinya.

"Kamu sudah menyelesaikan kasus ini seorang diri lagi,Ais. Lama-lama, aku akan menjadi Polisi yang memakan 'gaji buta." kata Wasis sambil menepuk pundak kekasihnya,"Kenapa kamu tidak masuk menjadi Polisi saja, sayang?'

" Kita sudah membicarakannya, kan? Aku tidak mau bertengkar di depan semua anak buahmu, Ndan." jawab Aisyah sembari menyerahkan tas coklat barang bukti itu, karena dia melihat ketiga temannya sudah ada di lokasi itu juga.

"Aku tunggu traktiranmu, nanti malam di cafe biasanya!" kata Aisyah, yang segera diikuti suara teman-temannya.

"Kami juga, Komandan!"

Wasito memberi hormat, kemufian mengacungkan jari jempilnya ke arah para 'Gafis Pengendara' itu. Dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kekasih dan teman-temannya itu meninggalkan lokasi dengan kebisingan yang luar biasa.

"Dasar, Mamba Lovely!" teriaknya tidak berbalas.

(Tamat)

Maria! Jeritan Terakhir.

"Mengapa engkau lebih memilih gadis culun itu, dibandingkan aku?!" teriak Manda kesal, sambil berkacak pinggang membelakangi pintu masuk ruangan itu. Gadis itu tiba-tiba saja menerobos pintu rumahku, dan langsung mengomel tidak jelas padaku. Bahkan aku belum mempersilakannya duduk.

"Kenapa sih, Nda? Masalah itu tidak sesederhana yang kamu kira, dan kamu pun tidak akan bisa memahaminya." jawabku sambil berdiri dari sofa, mencoba menenangkannya dengan membuat isyarat memintanya untuk duduk. Tapi dia tidak menghiraukannya, melanjutkan omelannya yang sedikit demi sedikit sudah mulai akj fahami.

"Apa karena aku berjlbab, seperti yang kamu katakan pada Amira? Aku bisa melepas jilbab ini!" seru Manda sambil menyentak jilbabnya lepas dari kepalanya, sehingga gelung rambutnya yang besar terlihat olehku. Selama ini aku hanya mendengar dari Amira teman Manda, tentang betapa panjang dan indahnya rambut gadis yang berprofesi sebagai perawat itu. Aku memang seorang Long Hair Lover (penyuka rambut panjang wanita).

Sesaat aku terkesima melihat gelung manda yang besar, rambutnya yang tergulung rapi itu tampak hitam mengkilap. Melihat aku terpesona dengan rambut indahnya, Manda malah melepas gulungan gelungnya. Dia mengurai rambut panjangnya yang sepantat itu dengan lembut, menyisirnya dengan jari. Menggoyang-goyangkan kepalanya, sehingga rambutnya yang indah itu meriap-riap sungguh menakjubkan.

"Manda, jangan begitu! Malu, jika ada yang melihatnya!" seruku padanya.

"Apa? Malu? Aku sudah kehilangan rasa maluku, sejak kamu memutuskan untuk mencitai perempuan 'Anak Pastor' itu!" sergahnya cepat,"Apa aku tidak tampak menggairahkan karena hijabku ini, dibanding dia yang setiap hari mengenakan hotpant dan rok mini? Aku bisa lebih jalang dari dia!"

"Hush, ngaco kamu! Tentu saja bukan karena itu pertimbanganku memilihnya, ada hal lain yang mendasar..."

Belum sempat kuselesaikan kalimatku, ketika tiba-tiba Manda sudah melompat dan duduk di pangkuanku. Tak sempat menghindar juga, ketika bibir merahnya mulai melumat bibirku. Gelagapan aku menghadapi lumatan yang beetubi-tubi itu, gadis ini sudah menjadi gila.

"Manda! Apa yang kamu lakukan?!" ujarku sembari mencoba mendorong tubuhnya, tidak berhasil. Malah dengan beringasnya dia mencumbui sekujur wajahku, hampir membuatku kesulitan bernafas. Hanya aroma wangi dari rambutnya yang membuatku menerima perlakuannya, aku mulai membalas ciuman gadis itu. Mengelus, meremas, kadang kujambak-jambak rambut panjangnya dengan lembut. Sensasinya pun semakin melenakanku, mataku terpejam menikmati fantasi kenikmatan yang tercipta dengan indahnya. Sehingga aku tidak menyadari, Manda sudah melepaskan pakaian atasnya.

Aku membuka mataku dan terkejut, saat tangan Manda yang lembut membimbing tanganku menuju payudaranya yang ranum. Sungguh, aku pernah membayangkan 'melakukan' ini bersama manda sebelumnya. Bahkan, membayangkan 'seandainya' tidur dengannya.

****

Manda Larashati adalah anggota 'Teater Pingsan' yang ku pimpin, sejak SMA dia sudah aktif mengikuti semua kegiatan teater kami. Bahkan, dialah primadona di teater kami. Dia adalah penghafal naskah yang luar biasa, dalam sebuah lakon Violet Is Blue (karya Mark Twain) yang digelar di Kedutaan Jepang. Dia mendapatkan gelar QOT (Queen of Theatres) dari sebuah majalah seni, dan diundang tampil di Kota Hiroshima juga Nagasaki.

Hubunganku dengannya sungguh teramat dekat, dia sering datang ke rumah, sekedar mengajak berbincang, atau membawakanku makanan. Maklum, sebagai seorang duda aku jarang sekali memperhatikan hal pokok ini. Anggota lain mengira kami berpacaran, tetapi aku hanua menganggapnya sebagai teman dan mitra kerja semata.

Hingga suatu saat Maria Magdalena bergabung di teater kami, sebagai anggota terbaru... selalu kuluangkan waktu ekstra untuk menambah pengetahuannya. Sering kami berdiskusi di sanggar hingga larut malam, bahkan satu saat kami menginap disana. Ketika itu hujan turun begitu derasnya, sejak pukul 19.00 hingga jam 22.30 tidak juga mereda. Sialnya lagi, Maria tinggal di Kabupaten tetangga Kabupatenku. Aku melarangnya untuk pulang selarut itu, dalam kondisi hujan pula. Kami pun meneruskan diskusi tentang keteateran di atas karpet sambil tiduran, aku meminjamkan jaketku untuk sekedar menghangatkannya dari dinginnya malam itu. Dan kami terjaga pukul 09.00 keesokan harinya, itu pun terbangun karena Manda yang datang ke sanggar membawa banner menjerit melihat kami tidur berpelukkan.

Sejak saat itu hubungan Manda dan Maria merenggang, bukan lagi merenggang... tapi terlihat Manda sangat membenci Maria Magdalena. Dia semakin gencar mendekati aku, bahkan dia rela menjnggui kami latihan walaupun dia tifakbada sesi. Sementara itu... sebuah curhatan Maria tentang keluarganya yang 'broken home' memberiku kesempatan untuk mengutarakan rasa cintaku padanya. Fia pun menerima cintaku, dan dia ingin aku swgera meminangnya. Aku pun menyanggupinya, rencanakh bulan ini juga aku akan meminta pada orangtuanya.

****

Entah berapa lama aku dan Manda saling pagut-memagut, aku benar-benar terbawa nafsu yang menggelora. Kucumbui sekujur tubuh gadis cantik itu, erangan dan lenguhan manja berkali-kali kudengar dari mulutnya. Desisan dan rintihan silih berganti, mengiringi gejolak asmara yang kian membara. Ketika tiba-tiba kudengar teriakan histeris.

"Maaaas!!! Apa yang sedang kalian lakukan ini?! Tega sekali kamu menghianati aku, Mas!

Dalam keterkejutan yang teramat sangat, aku menoleh ke arah sumber teriakan itu
Dan serasa mau pingsan aku, kulihat maria berdiri gemetaran dalam tangis di dekat pinth ruang tamu itu. Manda oun dengan penuh kepanikan segera membenahi pakaiannya, baru aku menyadari... dia sudah tidak mengenakan sehelai benang pun aku.

Diantara kepanikan, rasa bersalah, rasa berdosa, dan rasa malu yang tiada terhingga, aku tak dapat berkata sepatah kata pun. Melihat Maria berlari ke luar rumah pun aku tak bisa mencegahnya, lidahku terasa kelu dan tak sanggup mengeluarkan suara sepatah pun.

Sementara itu, Manda sudah selesai mengenakan baju dan jilbabnya, tertunduk malu dalam tangis dia berkata.

" Maafkan, Mas. Aku khilaf." berkata begitu dia sambil meraih tangan kananku, dia mencium tanganku dengan lembut,"Aku pulang,Ya" aku bahkan tak memandangnya lagi ketika dia berpamitan. Samar-samar kudengar suara mobilnya mulai menjauhi rumahku, aku menghempaskan diri di sofa.

Menutup wajahku dengan kedua belah telapak tanganku, bayangan wajah Maria yang sangat kecewa terbayang di pelupuk mataku. Betapa bangsatnya aku, terlalu mudah dikuasai nafsu berahi. Ya Tuhan! Aku sudah menyakiti hati kekasihku, wanita yang telah mempercayakan hatinya padaku. Tetapi ternyata aku tidak amanah, aku menghianati kepercayaannya. Aku telah menghancurkan masa depan indahku bersamanya, menghancurkan mimpi kami tentang hari esok.

Kuambil gawaiku yang tergeletak di karpet ruang tamu, segera aku menghubungi Maria. Semoga dia mau memaafkan kebodohanku ini, aku akan mengaku salah kepadanya. Tetapi berkali-kali coba kuhubungi nomernya, selalu suara operator yang menjawabnya. Aku mengambil kesimpulan dia mematikan gawainya, dan aku berniat untuk menyusul ke rumahnya. Aku takut dia berbuat nekat, terbawa emosi dan kesedihannya yang teramat.

****

Sebuah sepeda motor berhenti di depan rumahku, utu adalah Dito anggota teaterku juga yang berjualan koran dan majalah di dekat perempatan. Dia nampak tergesa-gesa menaiki tangga rumahku, bahkan dia madih mengenakan helm ketika berlari ke ruang tamu.

"Kang Daksa! Kang Daksaaa!" dia berteiak-teriak memanggil namaku.

"Aku disini! Tidak usah berteriak begitu, Dit!" kataku tidak beranjak dari sofa ruang tamuku,"Ada apa, sih?"

Dito tampak gemetaran, antara kecemasan dan ketakutan dia alami saat itu. Bahkan di depanku, membuka helmnya saja dia tidak bisa.

"Maria, Kang... Maria..." katanya dengan suara bergetar dan terbata-bata. Terlihat sekali dia sangat grogi, waktu menyebutkan nama kekasihku itu.

"Kenapa Maria, Dit? Ada apa dengannya?!" akhirnya aku menjadi tak sabaran juga, menunggu berita yang akan disampaikannya padaku. Sementara itu hatiku mengira-ira, mungkin telah terjadi sesuatu pada Maria.

"Maria kecelakaan di perempatan sana, Kang... dia tertabrak sebuah truk kontener..."

"Apa? Kamu yakin itu Maria?!" tanyaku penasaran, sambil mengguncang-guncang kedua bahu Dito.

"Iya, Kang. Aku sudah melihatnya, nyawanya tidak tertolong..."

Dito masih bercerita, tetapi aku sudah tidak lagi dapat mendengarnya. Pandangan mataku berkunang-kunang, kepalaku terasa sangat berat. Dengan sisa tenaga yang kumiliki ku coba membayangkan wajah kekasih hatiku itu lagi, dia tampak tersenyum sambil melambaikan tangan kanannya padaku. Satu teriakan dari mulutku memanggil namanya, sebelum aku terjatuh pingsan.

"Mariiiaaaaa!!!"

(Tamat)



Kamis, 17 Januari 2019

Madol

"Filmnya bagus, kita nonton Student Show yuk!" kata Sitanala saat mengeluarkan sepedanya dari tempat parkir sekolah.

"Ke Balai Budaya (nama gedung bioskop di Nganjuk) lagi?, kapan-kapan pergi yuk ke Mustika atau Perdana." jawab Lasmianastasia dengan wajah memelas.

"Di Mustika gak ada student show, bayarnya full. Di Perdana? Pengen donor darah sama kepinding?" kelakar Agik, sambil menerima setir sepeda yang diangsurkan oleh Sita kekasihnya.

Aku pun menerima sepeda dari Lasmianastasia kekasihku, dan langsung beraksi di sadelnya.

"Jadi, kemana nih tujjan kita?" tanyaku pada semuanya. Mereka saling berpandangan satu dengan lainnya, sebelum Sitanala mengambil kepurusan.

"Ke Arjuna Studio Photo dulu, ya?!"

" Foto lagi? Dua hari lalu kita baru saja berfoto bersama?" protes Lasmianastasia.

"Kemarin itu kita pakai seragam putih Abu, kita foto pakai seragam Pramuka" Sitanala tidak mau mengalah.

"Kita mejeng di depan SMAM yuk?!" kata Agik penuh semangat.

"Pengen ketemu mantan?" tukas Sitanala gusar. Agik nyengir kuda, sufah ketahuan itikad buruknya.

"Apa ngepam (mejeng juga) di bangjo (traficlight) saja?" saranku, yang kemudian disambut dengan keheningan.

"Ke Arjuna saja!" akhirnya, pilihan Sitanala juga yang menang.

Meninggalkan halaman belakang sekolah, inilah salah satu kisah perjalanan madol (main dolan) kami.

Beriring-iringan kami bersepeda ke arah timur sekolah kami, Agik berboncengan dengan Sitanala, dan aku dengan Lasmianastasia. Ini adalah petualangan kesekian kalinya, padahal di kelas sedang berlangsung mata pelajaran.

Melewati perempatan Terminal Anjuk Ladang, kami semakin nenggila. Sepeda kami parkir di antara traficlight yang menyala merah, dan kami berjoget denhan iringan cemooh dan caci maki orang yang berkendara. Kami baru bergegas menepi, setelah lampu menyala hijau. Oh senangnya, nafas kami terengah-engah nikmat.

Perjalanan kami lanjutkan menuju ke timur, masuk Jalan Panglima Sudirman. Mampir sebentar ke Bakso Pak No di depan SMA Muhammadiyah, menikmati bakso kerikil yang murah meriah dan es teh pelega dahaga. Tentu saja hanya kami pengunjung yang berseragam, karena memang ini masih jam pelajaran sekolah.

Akhirnya madol kami sampailah ke kawasan terminal, kami membikin ulah dengan membuat kebisingan dengan bel sepeda. Banyak yang menertawai kami, karena aksi seperti itu dirasa lucu. Seorang Polantas mendekati kami, dan itu adalah entah yang keberapa puluh kalinya kami alami.

"Kalian bolos, ya?" tanya Pak Polisi dengan tegas.

"Tidak, Pak! Kami sedang diutus Bu Guru menjilidkan buku." jawabku berbohong, biasanya ini akan mengakhiri percakapan regulee itu. Dan itu benar lagi, Pak Polisi itu pun ngeloyor pergi.

Bukan itu saja kehebohan kami, setelah puas beebuat keonaran di sekitaran alun-alun. Kami membuat keonaran di SMADIP sebelum pergi ke Arjuna Photo Studio, kemudian membuat keonaran di SMA Cakra.

Pukul 13.00 kami sudah sampai di Balai Budaya, terlihat sudah ramai juga dwngan kehadiran pelajar-pelajar sekolah lain. Kami menonton student show, tidak peduli apa judulnya. Kami hanya butuh kegelapan ruangan bioskop itu untuk bercumbu, menyalurkan keinginan yang memang sedang tinggi-tingginya. Cukup dengan Facesex (berciuman), dan beberapa gerangan, elusan, dan remasan sebagai variasi. Dan kami pun kehilangan kata-kata, saat keluar dari gedung bioskop itu. Masih terbawa euforia sesaat di dalam ruangan tadi, bahkan selalu saja Lasmianastasia mengunci mulutnya sepanjang perjalanan pulang. Dan kami beepisah di tempat mangkal Mikrolet di perempatan Guyangan (nama desa), aku dan Agik naik Mikrolet. Dan mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah masing-masing, dengan lemas mengayuh sepeda mereka.

Itulah sekelumit kisahku di SMABAG (SMA PGRI Bagor, Nganjuk. Tahun 1990.

Untuk mengenang kepergian sahabat terbaikku : Agus Widianto/Agik (1970-2009), dan mengantar rasa kangenku teruntuk: Sutik (Sitanala) dan Lasmiati (Lasmianastasia)

Selasa, 15 Januari 2019

Seberapa Pentingkah Festival Desa?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ), daring "festifal" adalah : [ 1 ] hari atau ataupekan gembira dalam rangka memperingati peristiwa penting dan bersejarah [ 2 ] pesta rakyat. Jadi, kalau pun kita tidak menamai sebuah acara sebagai Festival Rakyat, di dalam istilah festivalitu sudah ter-akomodasi unsur "rakyat" nya. Karena festival adalah perayaan atau kemeriahan, maka... Bisa saja festival itu melenceng dari esensi nya, jika yang dikejar adalah kemeriahan semata.

Kadang juga timbul pertanyaan, rakyat yang mana yang harus diutamakan partisipasinya dalam penyelenggaraan sebuah festival. Di desaku, ini adalah keharusan bagi setiap RT... dari 15 RT yang ada. Jika akhirnya lahirlah sebuah banner besar disetiap pojok Desa, Festival Budaya Dalam Rangka Nyadran Desa Talang 2018... itu mungkin sudah melalui penggagasan, dan pembahasan oleh segenap Panitia Pelaksana.

Meskipun aku dilahirkan, dan dibesarkan di Desa Talang ini. Tetapi, sesungguhnya... Aku baru 3 tahun ini berdomisili disana, setelah hampir 25 tahun lamanya berpetualang di Kota. Mengembara dari satu kota ke kota lainnya mengumpulkan harta benda, dan tidak berhasil apapun selain menjadi Casanova. Dari ketiga tahunku berada di desa ini, aku sudah tiga kali berpartisipasi dalam festival budaya desaku. Yaitu pada Nyadran tahun 2016, tahun 2017, dan yang baru saja selesai dilaksanakan yaitu Festival Budaya Dalam Rangka Nyadran Desa Talang 2018.

Selalu memiliki kesan positiv dalam setiap keikut sertaanku, walaupun selalu terbersit kekurang puasan juga. Tahun 2016 , dalam keikut sertaanku dalam Pawai Budaya ( karnafal ), aku menempatkan diri sebagai "Penggembira"... menjadi Siluman Kerbau. Kemudian, di tahun 2017 dalam even yang sama, menjadi Bayi Bontot. Dan akhirnya... Tahun ini aku didapuk ( ditunjuk ) menjadi Mayoret, yang harafiahnya adalah pemimpin barisan Drum Band. Tetapi disini aku tak lebih dari cucuk lampah ( pemimoin terdepan ), dari 12 Ibu-ibu berkostum koki... yang bergoyang "Dua Jari", mengikuti irama lagu yang diputar keras-keras dari soung system. Berjalan mengelilingi desa, melewati jalan  depan Kantor Kecamatan, pukul 13:00 sampai berakhir acara pukul 16:00.

Apakah Festival Rakyat sudah mencapai  nasnya? Dengan berduyun-duyunya antusiaswarga desaku, serta beribu orang yang melihat di sepanjang jalan... Yang konon datang dari seantero Kecamatan, juga dengan datangnya beberapa para paparazzi disana. Sudah sehebat itukah Festival Rakyat, atau Pawai Budaya dari desaku ini ?. Karnafal tingkat RT.

Andai mereka tahu, kami mengeluarkan biaya... antara Rp100.000 sampai Rp2.000.000 untuk rias dan sewa pakaian. Biaya pribadi , yang kadang harus diganti dengan menjual kambing atau lainnya. Apa yang kami cari dalam acara ini, sebuah eksistensi atau harga diri ?. Aku tak dapat menjawabnya, karena aku tak pernah kehilangan sepeser pun... dalam tata rias, aku hanya nunut ( ikut ) bagian perias saja.

Sebagai eksistensi Pawai Budaya atas nama Festival Rakyat ini aku sangat berbangga, karena desaku adalah pioneer penyelenggaraan acara nyadran seperti ini... diseluruh Kecamatan Rejoso. Dan aku sangat bangga terlibat di dalamnya, meski pun pro dan kontra... tetap mengiringi kegiatan ini. Semoga ke depan, kegiatan ini dapat terselenggara dengan lebih baik, lebih sukses, dan lebih bermaslahat kepada rakyat. Bukan hanya sebagai ajang jor-joran ( saling pamer ) kekayaan, tetapi menjadi cara berkreatifitas yang baik dan benar.

Gawai Kehilangan Sinyal Di Pantai Pelang

Debur ombak biru hijau berkejaran lenyap di pasir Pantai Pelang ini
Seperti menghantar rindu yang tak pernah tunai
Semangat yang seperti gelombang menampar tebing tinggi
Melayang kecewa sang burung camar memanggil badai

Sayang aku menggambar wajahmu di awang awan
Rindunya mengambang tiada tersampaikan
Saat teriakan tak terdengar memanggil namamu
Angin kemana gerangan tuan?

Bagaimana mengabarkanya lagi?
Di tempat ini gawai hilang kemampuan diri
Hanya bisa membaca catatan kosong kemarin hari
Tanpa mampu lagi berhasrat berbagi

Sayang aku memohon kasih memahami
Segala kendala bukanlah sesuatu yang kuingini
Biarkan rindu tetap bersemayam di relung sanubari
Sampai kita berjumpa lagi

Tancapan Paku

Gelegar jiwa meronta menumpah amarah
Tidak pada sesiapa di sekitar ruang dan masa
Selain paku berkarat yang terinjak terompahnya menembus kulit kakinya
Yang sebelumnya tergeletak sunyi di tengah jalan

Bangsaaaaaaaat!
Memaki dia kepada pelaku pembuang paku
Pegawai pembangunan rumah yang mungkin lalai
Atau pemulung yang menjatuhkannya tanpa sengaja
Mereka tetaplah menjadi penyebab paku tergeletak

Darah mengucur deras dari telapak kaki yang terluka dalam
Membuatnya berjalan terpincang menahan sakit
Menuju ke arah toko kecil penjual iodium
an iti adalah perjalanan yang sia-sia
Yang dicarinya tidak ada
Yaa Tuhaan!

Darah semakin deras memompa layaknya
Aspal panas itu berhias kuasan darah memerah menghitam
Terpincang menuju seratus toko laimmya
Dia berjuang denhan tiada hasilnya
Jancuk Jaran!

Mungkin sudah dua liter darahnya tercecer di bebatuan
Di aspalan dan rerumputan
Kepalannya seakan sedang bertopi tabung elpiji dan pusing itu
Terseok tertatih dengan sakit yang tiada terkira
Dan terjerembab dalam ketidak kuasaan lagi
Pingsan!

Bapakku Adalah Mertuaku

Partijan melihat lagi penampilanya di kaca, rambutnya tampak mengkilat karena pomade (minyak rambut) yang di oleskannya. Kemeja batik pemberian anak perempuanya 3 tahun lalu, dikenakanya dengan bangga. Sudah 47 tahun, tapi masih terlihat seperti 17 tahun pujinya sendiri sambil memandang bayang wajahnya di cermin.

Ya... Partini anak bungsunya, sudah 5 tahun ini bekerja di Surabaya. Dia tidak memberi tahu apa pekerjaanya di Surabaya, tetapi... setiap bulan dia mengirimkan uang kepada Partijan. Setiap menjelang Idul Fitri Partini pasti pulang, membawa banyak oleh-oleh untuknya. Termasuk baju batik yang dipakainya ini, sangat pas di tubuhnya. Anak bungsunya itu, memang sangat sayang dan perhatian padanya.

Tidak seperti Partinah anak sulungnya, dia pergi ke Kalimantan 8 tahun lalu. Jangankan pulang untuk berhari raya denganya, memberi khabar keberadaannya pun tidak pernah. Meskipun kecewa dengan kelakuan anaknya itu, tetapi do'a-do'a terbaik selalu dia panjatkan. Semoga Partinah selalu diberi kesehatan, keselamatan, dan semua kebaikan di kehidupannya.

Partijan kembali berkaca, seulas senyum tersungging dari bibirnya. Malam ini, dia akan berkunjung ke rumah Wakinah. Janda beranak 2, yang sudah sebulan ini didekatinya.

Dia, sudah melamar wanita itu menjadi istrinya. Partijan memang sudah lama menduda, setelah kematian istrinya 10 tahun yang lalu. Wakinah pun, sudah menjanda 7 tahun lamanya.

Cinta diantara mereka tumbuh karena seringnya mereka bertemu di pasar Kecamatan, tempat mereka mencari nafkah sehari-hari.
Partijan menjual palawija, Wakinah menjual bumbu dapur. Partijan sengaja membuang biji timbangannya, agar selalu bisa meminjam biji timbangan milik Wakinah.

Awalnya Wakinah sangat benci dengan kelakuan Partijan itu, dianggapnya lelaki itu tidak mau keluar modal. Masa sih laba ratusan ribu sehari, beli biji timbangan yang puluhan ribu saja tidak bisa? Bathinnya.

Ternyata taktik Partijan manjur juga, setiap hari dapat selalu ber-interaksi (bertemu pandang) dengan janda cantik 37 tahun pujaanya itu. Hingga suatu saat, ketika mereka sama-sama membereskan dagangannya Partijan menembak (menyatakan perasaan)Wakinah, dengan gentleman (gagah berani).

"Nah... Boleh aku berterus terang, tentang perasaanku padamu?" kata Partijan, dengan suara yang dimirip-miripkan suara penyiar radio. Wakinah terkejut dengan kata-kata lelaki itu, ia pun menghentikan aktifitas-nya.

"Tumben mau ngomong serius, biasanya juga sekali ngomong cuma mau pinjam biji timbangan" jawab yang ditanya malu-malu.

"Ini serius Nah, tentang hubungan kita!" lelaki itu kini memandangi, wajah wanita yang didambakanya itu dengan mesra. Yang dipandangi jadi memerah mukanya, menunduk sambil pura-pura memberesi dagangannya.

"Apa sih Kang, jangan membuat hatiku deg-degan begini," hati Wakinah berdebar, jantungnya deg-degan.

"Maukah kamu menikah denganku, Nah?" tiba-tiba saja Partijan sudah berada didekatnya, wanita itu terpelanting jatuh... Karena mengira, Partijan ingin mencium pipinya.

Dengan sigap, Partijan membantu Wakinah berdiri. Moment (suasana) itu tak disia-siakan pedagang lainnya, yang langsung menggoda mereka berdua.

"Haduh sabar Pak Jan, belum muhrim sudah mau nyosor saja!" mereka semua sudah mengetahui, betapa Partijan sangat mencintai Wakinah.

"Bu Inah, kasian tu Pak Jan... Sudah tidak sabar, menunggu malam pertama!"

"Hahahaha!" maka, menggemuruhlah tawa para pedagang di pasar itu.

"Makanya cepat diresmikan, Pak Jan... Bu Inah... Biar bisa cari nafkah berdua, gak saling pinjam biji timbangan lagi,"

"Hahahaha!" terdengar tawa sahabat-sahabatnya, mereka menjadi salah tingkah dibuatnya.

****

"Bagaimana, Nah?"

"Aku tanya anakku dulu ya, Kang. Seminggu lagi, datanglah ke rumahku... Jangan terlalu malam datangnya, selepas Maghrib saja"

Partijan mengangguk setuju, apa artinya seminggu penantian... toh, setiap hari dia masih dapat bertemu wanita yang disayanginya itu.

Ternyata... Perkiraan Partijan tidak tepat, sejak kejadian itu Wakinah tidak berjualan lagi. Bukan karena marah denganya, tapi Wakinah sedang pergi memberitahu anaknya yang di Blitar, perihal rencana pernikahan dengannya. Seorang lagi anaknya bekerja di Kalimantan, khabarnya sudah menikah disana.

***

Dan ini sudah seminggu, dia akan mengunjungi Wakinah sore ini juga. Masih kurang percaya diri, dia berkaca lagi di kaca spion sepeda motornya. Masih tetap ganteng, seperti saat dia mengaca di kamar tadi.

Setelah mengunci pintu rumahnya, dia pun bergegas mengendarai sepeda motor menuju rumah Wakinah. Setengah jam lamanya... Waktu yang dibutuhkan kendaraan itu, untuk sampai ke desa sang tujuan 10 kilometer jaraknya.

Sampai disana, pWakinah menyambutnya di depan pintu. Penampilanya membuat Partijan pangling, rambut panjangnya digelung, memakai kebayak warna kuning pastel... Dibalut dengan legging hitam, dan riasan tipis di wajah ayunya itu... membuat Partijan terantuk tiang kayu, di teras rumah Wakinah. Wanita itu pun tak dapat menahan gelak tawanya, diiringi permintaan maaf pada calon suaminya.

Partijan pun dipersilakan masuk ke rumah, dimana di dalam terlihat seorang wanita lagi sedang menggendong bayinya.

"Itu Susanti, Kang. Dia itu menantuku istri Suwondo yang di Blitar itu, suaminya belum bisa ikut kemari karena masih sibuk dengan tanamannya," wanita yang menggendong bayi itu, menghampiri Partijan, mengajaknya berjabat tangan, seraya mencium tangannya.

"Duduklah, Kang. Inilah gubugku, banyak lubangnya. Maklum, rumah janda," kata Wakinah memancing suasana, tetapi yang dipancing malah bertanya,

"Bagaimana, Nah. Tanggapan anak-anakmu, dengan rencana pernikahan kita?" tanya Partijan, sambil matanya menatap wajah ayu di depanya itu.

Yang ditatap membalasnya dengan senyuman, senyum termanis yang pernah ia sunggingkan kepada seorang lali-laki. Seakan ingin memberitahu dunia, malam ini hatinya sedang berbunga-bunha.

"Mereka setuju semua, Kang,  Suwandi anak sulungku yang di Kalimantan, bahkan berencana pulang pada saat tanggal perkawinan kita. Bagaimana dengan anak-anakmu, Kang? Apa mereka mau, memiliki Ibu tiri seperti aku ini?"

"Partini anak bungsuku, bahkan memintaku mempercepat perkawinan kita... Menurutnya, tidak baik kalau terlalu lama runtang-runtung (berduaan), sedangkan  Anakku yang di Kalimantan, aku sudah kehilangan jejaknya sejak delapan tahun lalu"

Percakapan itu semakin hangat dan mesra, mereka sudah seperti layaknya suami istri saja. Sebelum jam sembilan malam, Partijan sudah pamit pulang. Wakinah mengantarkannya keluar, karena itulah dia mendapat ciuman di kedua pipinya. Kali ini, dia hanya mandah dan tersenyum bahagia.

***

Hari pernikahan pun terlaksana dengan lancar, pernikahan yang sederhana. Mereka mengucapkan ijab kabul di KUA, disaksikan anak, menantu, dan cucunya. Hanya yang dari Kalimantdatang, karena keterlambatan penerbangan dari sananya. Jika tidak terhalang lagi, baru keesokan hari mereka sampai di sini. Melalui handphone, mereka mengabarkan itu. Dan, semua memakluminya.

Malam itu Partijan mulai tidur di rumah istrinya, wanita yang sangat diidamkanya. Sepanjang malam mereka bercanda ria, tergelak bersama...  Diakhiri dengan cumbuan mesra, menikmati indahnya malam peetama.

Pukul enam pagi. Dua orang pengantin baru itu, dikejutkan suara ketukan di pintu. Dari suaranya, Wakinah hafal itu adalah suara Suwandi anaknya yang di kalimantan, mungkin bersama istri dan cucunya. Diapun bergegas merapikan pakaiannya, dan berlari menuju pintu rumahnya. Pintupun terbuka, satu pelukan dan ciuman anak sulungnya itu diterimanya.

"Maaf baru datang, Bu" kata Suwandi, "Ini istri dan anakku. Maaf, kami tidak sempat menjemput ibu saat kami menikah," sang istri pun ikut memeluk, dan mencium kedua pipi mertuanya.

"Ini anakmu, Ndi? Aduhai cantiknya, seperti ibunya," berkata begitu, Wakinah mengambil anak 2 tahun yang masih terlelap itu dalam pelukannya, diciuminya berkali-kali.

Partijan, bukanya tidak mendengar keributan kecil itu. Tapi tubuhnya terasa masih pegal-pegal, efek dari permainan semalam. Tapi, kemudian terdengar suara istrinya memanggilnya lanyang.

"Paaak... Ini anak, menantu, dan cucumu datang! Kesini cepat!"

"Iya, sebentar" jawab Partijan dengan ekspresi gemas, karena gagal rencananya untuk tidur lagi.

Dengan malas dia melangkah keluar, melempar senyum pada istrinya, pada anak tirinya, dan pada...??? Partijan hampir saja terpelanting jatuh, ketika matanya bertemu pandang dengan wanita istri Suwandi itu. Seperti tidak percaya dengan pandanganya, dia mengucek-ucek matanya

"Partinah?!" wanita itu tak kalah terkejutnya mendengar suara yang sangat dikenalnya, menatap wajah yang dirindukannya, dia segera menghambur dalam pelukan Partijan.

"Bapaaak!!!" maka, pecahlah tangis kedua orang yang berpelukan itu, Wakinah dan Suwandi pun memandang dengan seribu tanya di wajahnya.

"Siapa wanita ini, Kang?" tanya Wakinah lembut sambil menggamit lengan suaminya,

"Dia adalah Partinah anakku, yang 8 tahun ini bekerja di Kalimantan itu!"

"Jadi, ini Bapakmu sayang?" tanya Suwandi pada istrinya, Partinah pun mengangguk pasti.

Ibu dan anak itu saling berpandangan, tak terlukiskan rasa keterkejutan itu.

"Jadi? Bapakku, adalah Mertuaku???" tanya Suwandi datar, semuanya mengangguk bersamaan...

"Kok seperti judul sinetron Indosiar, ya?!" tanya Wakinah disambut tawa yang berderai air mata...

"Hahahaha!"

"Subhanallaah!"

Tehnik Membuat Paragraf Awal

Menulis cerita pendek membutuhkan teknik khusus. Kenapa? Kembali ke definisi, cerita pendek adalah cerita yang habis dibaca dalam sekali dud...